Wujudkan Pendidikan Inklusif: Kombinasi PBL dan Tutor Sebaya Sukses Tingkatkan Pemahaman Siklus Akuntansi di SMK N 1 Jogonalan

Dalam upaya mewujudkan Pendidikan Berkualitas sesuai dengan poin ke-4 Sustainable Development Goals (SDGs), Amjad Abdurrahman, mahasiswa FEB UNY yang menjalani Praktik Kependidikan (PK) menyelenggarakan program inovatif yang menggabungkan model Problem-Based Learning (PBL) dengan metode diskusi dan Peer Tutoring (Tutor Teman Sebaya). Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin (24/08/26) lalu bertempat di ruang kelas XI Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) 2, SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten. Sasaran utama dari kegiatan ini adalah 36 peserta didik kelas XI AKL 2 yang sedang menempuh mata pelajaran Siklus Akuntansi, dengan fokus pendalaman pada materi yang kerap dianggap menantang, yakni Jurnal Penyesuaian. Program ini merupakan salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa PK dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan partisipatif guna mendukung peningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah.

Tujuan utama diterapkannya kombinasi PBL dan metode diskusi kelompok ini adalah untuk membantu ke-36 peserta didik dalam memecahkan masalah kontekstual terkait tahapan Jurnal Penyesuaian. Dalam proses pelaksanaannya, mahasiswa PK bertindak sebagai fasilitator yang menyajikan suatu studi kasus (PBL), kemudian membagi kelas ke dalam beberapa kelompok diskusi. Setiap kelompok dipandu oleh satu orang siswa yang memiliki pemahaman materi lebih cepat dan komprehensif untuk berperan sebagai "tutor" bagi teman-teman sebayanya. Kegiatan ini berjalan secara interaktif dengan melibatkan kolaborasi aktif antara mahasiswa pelaksana PK yang turut meninjau jalannya diskusi dan siswa.

Penerapan model dan metode ini memberikan dampak yang sangat positif dan signifikan terhadap perkembangan kognitif maupun sosial peserta didik. Melalui pendekatan pemecahan masalah bersama teman sebaya, hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan antusiasme dan rasa percaya diri siswa dalam bertanya, mengingat mereka cenderung lebih leluasa dan tidak canggung saat berdiskusi. Secara akademis, pemahaman ke-36 siswa terhadap kerumitan materi Jurnal Penyesuaian menjadi lebih merata, yang dibuktikan dengan penyelesaian tugas latihan praktik dengan tingkat akurasi yang jauh lebih baik. Keberhasilan ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian SDGs ke-4, karena memastikan proses pendidikan berjalan secara merata, tidak ada siswa yang tertinggal dalam memahami materi (no one left behind), serta membangun budaya belajar kolaboratif.

Melalui program ini, diharapkan metode pembelajaran partisipatif tersebut dapat terus menjadi budaya belajar yang berkelanjutan di SMK N 1 Jogonalan, khususnya untuk mata pelajaran yang membutuhkan ketelitian dan logika analisis yang kuat. Sebagai tindak lanjut, model pembelajaran berbasis masalah dan pendampingan sebaya ini direkomendasikan untuk diadaptasi oleh guru mata pelajaran lain maupun pada kelas yang berbeda, guna menciptakan ekosistem sekolah yang kolaboratif, suportif, dan senantiasa berpusat pada pengembangan kompetensi peserta didik. (mjd)