FEB UNY Gelar ICEBESS 2026 Secara Daring, Dorong Transformasi Berkelanjutan di Bidang Bisnis, Ekonomi, dan Pendidikan
Submitted by feb on Mon, 19/10/2026 - 10:41
YOGYAKARTA — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) sukses menyelenggarakan International Conference of Ethics on Business, Economics, and Social Science (ICEBESS) 2026 yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, Sabtu (17/10/26) lalu. Acara internasional ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Sistem Informasi UNY, Prof. Soni Nopembri, M.Pd., Ph.D., yang dalam amanatnya menekankan pentingnya penguatan etika akademis serta kolaborasi lintas negara di tengah dinamika perkembangan ekonomi dan teknologi global.
Dekan FEB UNY, Dr. Sutirman, M.Pd., menyampaikan sambutan hangat sekaligus apresiasi mendalam kepada seluruh peserta dan lima institusi mitra (co-hosts) internasional. Kolaborasi strategis ini melibatkan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Gaziantep University Turkiye, Kongu Engineering College India, serta Universitas Nusa Megarkencana Indonesia, yang bersama-sama berkomitmen memperluas jangkauan riset dan pertukaran gagasan akademis.
Konferensi ini menghadirkan Sesi Pleno (Plenary Session) yang dimoderatori dosen Pendidikan Akuntansi FEB UNY Annisa Ratna Sari, M.S.Ed., Ph.D., dengan tiga pembicara kunci internasional berbobot, diawali oleh Rektor Universitas Paramadina sekaligus pendiri INDEF, Prof. Didik J. Rachbini, M.Sc., Ph.D. Dalam pemaparannya mengenai kondisi perekonomian Indonesia, beliau menggarisbawahi pentingnya transformasi struktural berbasis peningkatan produktivitas, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial guna mengatasi ketimpangan ekonomi serta menciptakan lapangan kerja yang layak. Menurutnya, daya saing industri, inklusi sosial, dan dekarbonisasi dapat saling menguatkan, asalkan pekerja berpindah ke aktivitas berproduktivitas lebih tinggi dan upah riil meningkat. Ia memaparkan lima prioritas kebijakan, yakni reindustrialisasi, lapangan kerja inklusif, kebijakan industri hijau, reformasi kelembagaan, serta pengembangan sumber daya manusia dan kecerdasan buatan (AI). Pandangan ini diperkuat dengan studi kasus seperti Batam, transisi energi, hilirisasi nikel, UMKM digital, dan produktivitas pertanian. Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi harus diukur lebih luas dari PDB, mencakup kualitas pekerjaan, ketimpangan, emisi, dan kualitas institusi.
Pembicara berikutnya, Prof. Dr. Tajularipin Sulaiman dari Universiti Putra Malaysia, menguraikan pendekatan transformatif untuk membangun sistem pendidikan yang inklusif, relevan, dan berkelanjutan. Ia memandang keberhasilan transformasi bergantung pada kolaborasi reformasi sistemik dari atas dan inovasi guru dari bawah. Tantangannya meliputi respons kebijakan yang lambat terhadap perubahan teknologi, kesenjangan digital, kurangnya dukungan bagi inovasi pendidik, serta ukuran “keberhasilan” yang masih sempit pada ujian dan angka kelulusan. Ia menutup dengan pesan bahwa transformasi pendidikan harus bermanfaat bagi semua orang dan bertahan lintas generasi.
Sesi pleno dilengkapi oleh paparan Assoc. Prof. Dr. Angelina Nhat Hanh Le dari UEH University Vietnam mengenai peran perguruan tinggi di era STARA (Smart Technology, Artificial Intelligence, Robotics, Algorithms), yang menyoroti pentingnya menjaga esensi pembelajaran kognitif mendalam dan nilai-nilai kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. Angelina berargumen bahwa teknologi cerdas, AI, robotika, dan algoritma (STARA) dapat mengambil alih sebagian besar fungsi kualifikasi, tetapi tidak dapat membentuk manusia yang merdeka, bertanggung jawab, dan berani. Karena itu, universitas tetap penting melalui lima perannya, yaitu komunitas akademik yang otonom, kaitan penelitian dan pengajaran, pembentukan kapabilitas profesional, pengembangan agensi manusia, dan ruang publik bagi nalar kritis. Ia menegaskan pendidik harus memutuskan bagaimana AI digunakan, dengan merancang pembelajaran, menilai proses berpikir, dan menjaga manusia tetap di pusat pendidikan.
Selain sesi pleno, ICEBESS 2026 juga menggelar Sesi Paralel (Parallel Session) yang menjadi wadah diskusi ilmiah interaktif bagi akademisi dan peneliti dari berbagai belahan dunia. Lebih dari 100 makalah ilmiah (papers) dipresentasikan oleh para presenter yang berasal dari India, Malaysia, Turkiye, Vietnam, dan Indonesia, yang mencakup rumpun ilmu etika bisnis, ekonomi, akuntansi, ilmu sosial, hingga pendidikan.
Meskipun diselenggarakan secara daring, pelaksanaan konferensi melalui platform Zoom Meeting ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dan lalu lintas diskusi yang dinamis. Ruang-ruang virtual yang disediakan berhasil menjembatani interaksi akademis secara efektif, memungkinkan para peserta saling berbagi ide-ide terobosan dan solusi atas tantangan sosio-ekonomi global secara efisien.
Penyelenggaraan ICEBESS 2026 ini relevan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG Poin 4 (Pendidikan Berkualitas) yang diwujudkan melalui penguatan kapasitas intelektual dan inovasi pembelajaran, SDG Poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) lewat perumusan strategi peningkatan produktivitas serta pertumbuhan ekonomi inklusif, dan SDG Poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) yang tercermin dari kolaborasi internasional antar-perguruan tinggi berbagai negara.














