SDGs #17 Kemitraan

Belajar Ekonomi Jadi Lebih Menarik, Mahasiswa PK UNY Ajak Siswa SMA Negeri 4 Yogyakarta Pahami Arus Ekonomi lewat Diorama

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan kegiatan pembelajaran Ekonomi bersama peserta didik kelas X E7 SMA Negeri 4 Yogyakarta pada Senin, 21 September 2026. Kegiatan dilaksanakan melalui pembelajaran berbasis proyek dengan membuat diorama arus kegiatan ekonomi empat sektor pada materi Pelaku Kegiatan Ekonomi. Peserta didik menjadi sasaran utama kegiatan dengan terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran dan pembuatan karya. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk praktik pembelajaran yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui pembelajaran yang aktif, kreatif, kolaboratif, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi peserta didik.

Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai peran dan hubungan antara rumah tangga konsumen, rumah tangga produsen, pemerintah, dan sektor luar negeri dalam kegiatan ekonomi. Proses pembelajaran dilakukan secara berkelompok dengan mengarahkan peserta didik untuk menyusun diorama yang menggambarkan arus kegiatan ekonomi empat sektor, meliputi arus barang dan jasa, faktor produksi, pendapatan, konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor, dan impor. Peserta didik berdiskusi, membagi tugas, menyiapkan bahan, menyusun komponen diorama, serta memberikan keterangan pada setiap bagian sesuai dengan konsep yang telah dipelajari. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa PK berperan sebagai fasilitator yang memberikan penjelasan, arahan, dan pendampingan selama proses pengerjaan. 

Pelaksanaan proyek menghasilkan karya diorama yang dapat digunakan sebagai media visual untuk memperjelas hubungan antarpelaku ekonomi. Selain menghasilkan produk pembelajaran, kegiatan ini mendorong peserta didik untuk bekerja sama, berkomunikasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, serta mengembangkan kreativitas dalam menyajikan konsep ekonomi. Pembelajaran berbasis proyek juga memberikan pengalaman belajar yang lebih aktif karena peserta didik tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi mengonstruksi pemahamannya melalui proses pembuatan produk. Hal tersebut mendukung pencapaian SDG 4, khususnya dalam pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mendukung pembelajaran yang bermakna.

Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta didik semakin mampu memahami konsep arus kegiatan ekonomi empat sektor secara utuh dan menerapkannya dalam menganalisis berbagai aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar. Kegiatan serupa juga diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai alternatif pembelajaran Ekonomi yang kontekstual, kolaboratif, kreatif, dan berorientasi pada penguatan kompetensi peserta didik. Dengan demikian, pelaksanaan PK tidak hanya mendukung proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan melalui praktik pembelajaran yang mendukung pencapaian SDGs.

Penulis: Lida Jufrotun Nguyun

Edukasi Literasi Keuangan melalui Kreasi Melukis Celengan oleh Mahasiswa KKN UNY Dukung SDG 4 di Dusun Dondong Kulon Progo

Kulon Progo, DIY - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan program kerja individu berjudul “Edukasi Literasi Keuangan: Kreasi Melukis Celengan” di Dusun Dondong, Bendungan, Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan pada 30 Agustus 2026 dengan mahasiswa KKN berperan sebagai fasilitator dan pendamping belajar. Program tersebut menyasar anak-anak usia sekolah dasar di lingkungan setempat, dengan jumlah peserta yang mengikuti kegiatan berkisar antara 10-15 anak.

Kegiatan edukasi ini dilaksanakan sebagai upaya untuk menanamkan pemahaman finansial dasar sejak dini serta membangun kebiasaan menabung pada anak-anak. Kesulitan yang sering ditemui pada anak usia sekolah dasar adalah minimnya pemahaman mengenai manajemen keuangan sederhana, seperti membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants), serta kebiasaan menghabiskan uang saku secara langsung. Oleh karena itu, kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan yang sistematis, diawali dengan penyampaian materi interaktif mengenai konsep dasar pengelolaan uang, dilanjutkan dengan sesi diskusi tanya jawab, hingga praktik kreasi melukis celengan menggunakan spidol warna. Melalui pendekatan berbasis seni dan prakarya ini, anak-anak tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak untuk memahami konsep menabung dengan cara yang menyenangkan, interaktif, dan ekspresif. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam mendukung pengembangan metode pembelajaran kreatif serta peningkatan literasi finansial dasar bagi anak-anak di tingkat masyarakat.

Pelaksanaan kegiatan memperoleh respons positif dan antusiasme yang tinggi dari para peserta dan orang tua. Penggabungan antara edukasi teori dan aktivitas melukis terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman serta motivasi anak-anak untuk mulai menyisihkan sebagian uang saku mereka. Salah satu peserta, Lutfi, siswa kelas 5 SD, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tersebut. “Penjelasan dari Kak Vee seru dan gampang dipahami. Saya juga senang sekali bisa melukis celengan sendiri dengan gambar kesukaan saya, jadi bikin makin semangat buat menabung di rumah setiap hari” ungkap Lutfi.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, celengan yang telah selesai dilukis dibawa pulang oleh masing-masing peserta untuk dijadikan media menabung mandiri di rumah. Selain itu, peserta juga dibekali lembar panduan pencatatan tabungan sederhana (saving tracker) yang berguna untuk membantu memantau perkembangan tabungan harian mereka secara konsisten. Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada saat pelaksanaan kegiatan saja, tetapi dapat terus membiasakan anak-anak mengelola keuangan secara bijak sekaligus menjadi bagian dari kontribusi nyata mahasiswa UNY dalam mendukung pencapaian SDGs 4: Pendidikan Berkualitas di tingkat masyarakat.

Belajar Menentukan Prioritas lewat Permainan Pesawat Kertas sebagai Upaya Mendukung SDGs 4 di SMA Negeri 1 Imogiri Bantul

Pada Senin, 24 Agustus 2026, telah dilaksanakan kegiatan pembelajaran Ekonomi dengan materi Skala Prioritas di kelas X-6 SMA Negeri 1 Imogiri yang beralamat di Jl. Imogiri Timur KM 4 Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Niken Ayuningsih, mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta Program Studi Pendidikan Ekonomi, sebagai pengajar. Pembelajaran menggunakan metode Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan menghubungkan materi skala prioritas dengan kondisi dan kebutuhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik diarahkan untuk memahami bahwa dalam memenuhi kebutuhan yang beragam dengan sumber daya yang terbatas, diperlukan kemampuan untuk menentukan kebutuhan yang harus didahulukan.

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara aktif dan interaktif melalui permainan “Pesawat Prioritas”. Pada awal kegiatan, peserta didik diminta menuliskan sebuah pernyataan atau situasi yang berkaitan dengan pilihan kebutuhan sehari-hari pada selembar kertas. Pernyataan tersebut berisi pilihan mengenai kebutuhan mana yang seharusnya didahulukan dalam kondisi tertentu. Setelah selesai menulis, kertas kemudian dibentuk menjadi pesawat dan diterbangkan secara bersama-sama di dalam kelas. Setiap peserta didik kemudian mengambil salah satu pesawat yang didapatkan, membuka dan membaca pernyataan yang tertulis di dalamnya, kemudian memberikan jawaban mengenai kebutuhan yang harus diprioritaskan beserta alasannya. Kegiatan ini membuat peserta didik terlibat langsung dalam proses pembelajaran sekaligus memberikan kesempatan untuk berpikir, mengambil keputusan, dan menyampaikan alasan berdasarkan situasi yang dihadapi.

Melalui permainan tersebut, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang berfokus pada pemahaman konsep secara teoritis juga pada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik belajar bahwa penentuan skala prioritas dapat dipengaruhi oleh tingkat kepentingan, kondisi, serta kebutuhan masing-masing individu. Perbedaan jawaban antarpeserta didik juga menjadi bagian dari proses pembelajaran karena mereka dapat mengetahui berbagai pertimbangan yang digunakan dalam menentukan suatu pilihan. Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Quality Education atau Pendidikan Berkualitas, terutama melalui penerapan pembelajaran yang aktif, kontekstual, partisipatif, dan bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran juga memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, serta mengambil keputusan.

Melalui kegiatan “Pesawat Prioritas”, pembelajaran Ekonomi diharapkan dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi peserta didik. Peserta didik dapat memahami konsep skala prioritas serta mampu menghubungkannya dengan berbagai pilihan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pembelajaran berbasis permainan dan konteks nyata seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai salah satu upaya menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan berpusat pada peserta didik serta mendukung terwujudnya pendidikan yang berkualitas sesuai dengan SDGs 4.

Penguatan Literasi Keuangan Siswa melalui Pembelajaran Ekonomi untuk Mendukung Pendidikan Berkualitas (SDG 4) di SMA Negeri 1 Prambanan Sleman

Mahasiswa Praktik Kependidikan melaksanakan kegiatan penguatan literasi keuangan melalui pembelajaran Ekonomi di SMA Negeri 1 Prambanan Sleman. Kegiatan dilaksanakan tanggal 11 Agustus 2026 Di lingkungan SMA Negeri 1 Prambanan Sleman. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Pelaksanaan kegiatan berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4 atau SDG 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya pendidikan yang berkualitas serta pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang dapat mendukung kehidupan peserta didik.

Kegiatan bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan peserta didik dalam mengelola keuangan secara bijak dan bertanggung jawab. Proses pelaksanaan dilakukan melalui pembelajaran Ekonomi dengan penyampaian materi, penggunaan media pembelajaran, pemberian contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta kegiatan studi kasus dan diskusi. Materi yang diberikan meliputi pengertian dan manfaat literasi keuangan, perbedaan kebutuhan dan keinginan, pengelolaan keuangan sederhana, pentingnya menabung, serta literasi keuangan digital. Peserta didik juga memperoleh pemahaman mengenai penggunaan layanan keuangan digital secara aman, termasuk pentingnya menjaga data pribadi, PIN, password, dan kode OTP. Kegiatan melibatkan mahasiswa praktikan sebagai pelaksana pembelajaran, peserta didik sebagai sasaran kegiatan, serta guru Ekonomi yang memberikan pendampingan selama proses pembelajaran.

Kegiatan memberikan dampak positif terhadap pengetahuan peserta didik mengenai pengelolaan keuangan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik memperoleh pemahaman mengenai cara membedakan kebutuhan dan keinginan, mengatur penggunaan uang, membuat perencanaan keuangan sederhana, serta mengenali risiko dalam penggunaan layanan keuangan digital. Selain memberikan manfaat secara langsung, kegiatan ini juga mendukung pembelajaran Ekonomi yang lebih kontekstual karena materi dihubungkan dengan permasalahan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Dengan adanya penguatan literasi keuangan tersebut, kegiatan turut berkontribusi terhadap pencapaian SDG 4 melalui pemberian pengetahuan dan keterampilan praktis yang dapat digunakan peserta didik dalam mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman literasi keuangan yang telah diperoleh peserta didik dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Penguatan literasi keuangan juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran, tetapi dapat terus dikembangkan melalui pembelajaran Ekonomi dengan topik dan permasalahan yang relevan. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan pembelajaran yang berkualitas sekaligus membekali peserta didik dengan keterampilan yang bermanfaat untuk kehidupan mereka di masa kini dan masa mendatang.

Pengembangan Karier dan Penghargaan Pegawai sebagai Implementasi SDGs 8 melalui Pembelajaran Kontekstual

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran melaksanakan kegiatan pembelajaran mengenai “Pengembangan Karier dan Penghargaan Pegawai”  bagi peserta didik kelas XII Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) di SMK Negeri 1 Klaten. Kegiatan ini dilaksanakan pada mata pelajaran Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan mengaitkan materi pengembangan karier dan penghargaan pegawai terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Melalui pembelajaran ini, peserta didik tidak hanya memahami konsep pengembangan karier dan penghargaan pegawai, tetapi juga diajak memahami pentingnya peningkatan kompetensi, produktivitas, motivasi, dan kesempatan berkembang dalam dunia kerja. Materi pembelajaran mencakup tahapan dan metode pengembangan karier serta jenis penghargaan finansial dan non-finansial.

Kegiatan pembelajaran diawali dengan pertanyaan pemantik mengenai alasan seorang pegawai dapat bertahan dalam suatu perusahaan meskipun memperoleh gaji yang biasa saja, sementara pegawai lain memilih mengundurkan diri meskipun memperoleh gaji yang tinggi. Pertanyaan tersebut digunakan untuk menggali pemahaman awal peserta didik mengenai pentingnya pengembangan karier dan penghargaan dalam dunia kerja. Selanjutnya, mahasiswa menyampaikan materi mengenai pengertian, tujuan, manfaat, serta tahapan pengembangan karier. Peserta didik juga mempelajari berbagai metode pengembangan karier, seperti jalur karier, mentoring, pelatihan, rotasi jabatan, promosi, dan perencanaan suksesi.

Setelah memahami materi, peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menganalisis studi kasus mengenai permasalahan pengelolaan SDM pada sebuah perusahaan. Salah satu kasus yang dibahas adalah PT Karya Utama yang mengalami tingkat turnover pegawai cukup tinggi akibat tidak adanya kejelasan jenjang karier dan kurangnya penghargaan terhadap kinerja pegawai. Setiap kelompok kemudian mendiskusikan metode pengembangan karier yang dapat diterapkan, bentuk penghargaan finansial dan non-finansial yang sesuai, serta hubungan antara penilaian kinerja, pengembangan karier, dan penghargaan pegawai. Hasil diskusi selanjutnya dipresentasikan di depan kelas dan ditanggapi oleh kelompok lainnya.

Kegiatan pembelajaran ini memberikan dampak positif terhadap pemahaman peserta didik mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya manusia yang mendukung perkembangan pegawai. Peserta didik memahami bahwa pengembangan karier dapat membantu meningkatkan kompetensi, keterampilan, motivasi, dan kepuasan kerja, sedangkan penghargaan pegawai menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap kontribusi dan kinerja pegawai. Penghargaan dapat diberikan dalam bentuk finansial, seperti gaji, bonus, insentif, dan tunjangan, maupun non-finansial, seperti pujian, sertifikat penghargaan, kesempatan pelatihan, dan promosi jabatan.

Melalui kegiatan Praktik Kependidikan ini, peserta didik diharapkan semakin memahami keterkaitan antara pembelajaran Pengelolaan SDM dengan isu pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Pemahaman mengenai pengembangan kompetensi, kesempatan karier, penghargaan terhadap kinerja, serta produktivitas kerja dapat menjadi bekal bagi peserta didik dalam menghadapi dunia kerja. Kegiatan ini juga melatih kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas melalui kegiatan diskusi, analisis kasus, dan presentasi.

Dengan adanya pembelajaran yang mengintegrasikan materi Pengelolaan SDM dengan SDGs, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga diajak memahami pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang memberikan kesempatan bagi pegawai untuk berkembang dan memperoleh penghargaan atas kontribusinya. Kegiatan serupa dapat terus dikembangkan pada materi pembelajaran lainnya agar peserta didik semakin mampu menghubungkan kompetensi yang dipelajari di sekolah dengan kebutuhan dunia kerja dan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Mahasiswa PK UNY Dukung Pendidikan Berkualitas melalui Kegiatan Administratif Perpustakaan di SMK Negeri 7 Yogyakarta

Yogyakarta — Zahrah Nida Syaakirah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), turut terlibat dalam kegiatan administratif perpustakaan selama pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) di SMK Negeri 7 Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan nonmengajar mahasiswa PK yang dilaksanakan untuk membantu pengelolaan serta pelayanan perpustakaan sebagai salah satu fasilitas pendukung pembelajaran di sekolah.

Kegiatan administratif yang dilakukan meliputi penyampulan buku, pengurutan dan penataan koleksi buku, penyiapan kartu perpustakaan, serta membantu pelayanan perpustakaan kepada peserta didik. Penyampulan buku dilakukan untuk membantu menjaga kondisi koleksi agar tetap terawat dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama. Sementara itu, pengurutan dan penataan buku dilakukan agar koleksi tersusun secara lebih teratur sehingga memudahkan peserta didik dalam mencari dan memperoleh sumber belajar yang dibutuhkan.

Selain pengelolaan koleksi, kegiatan administratif juga mencakup penyiapan dan pembagian kartu perpustakaan kepada peserta didik. Kegiatan tersebut membantu mendukung ketertiban administrasi serta kelancaran pelayanan perpustakaan. Melalui pengelolaan administrasi yang tertata, perpustakaan diharapkan dapat memberikan pelayanan yang lebih efektif kepada peserta didik sebagai pengguna layanan.

Keterlibatan dalam kegiatan administratif perpustakaan juga memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk menerapkan keterampilan yang relevan dengan bidang Pendidikan Administrasi Perkantoran, khususnya dalam aspek administrasi, pengelolaan informasi, penataan dokumen, serta pelayanan. Pelaksanaan Praktik Kependidikan dengan demikian tidak hanya memberikan pengalaman melalui kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat dalam berbagai kegiatan pendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Kegiatan administratif perpustakaan tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Perpustakaan memiliki peran sebagai salah satu sarana pendukung pendidikan yang menyediakan sumber belajar bagi peserta didik. Pengelolaan koleksi dan administrasi perpustakaan yang tertata dapat mendukung kemudahan akses terhadap sumber belajar sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih teratur dan kondusif.

Selain SDG 4, kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals). Pelaksanaan Praktik Kependidikan merupakan bentuk kemitraan antara Universitas Negeri Yogyakarta dan SMK Negeri 7 Yogyakarta dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan. Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa tidak hanya melaksanakan praktik pembelajaran, tetapi juga berpartisipasi dalam membantu kegiatan administratif dan pelayanan sekolah sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Melalui keterlibatan dalam kegiatan administratif perpustakaan di SMK Negeri 7 Yogyakarta, mahasiswa PK UNY turut berkontribusi dalam mendukung keberlangsungan layanan pendidikan di sekolah. Kegiatan sederhana seperti merawat dan menata koleksi, menyiapkan administrasi perpustakaan, serta membantu pelayanan kepada peserta didik menjadi bagian dari upaya mendukung tersedianya fasilitas pendidikan yang dapat dimanfaatkan secara optimal dalam menunjang proses pembelajaran. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan pentingnya kemitraan antara perguruan tinggi dan sekolah dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan.

Memahami Kesenjangan Ekonomi melalui Literasi Data dan Perbandingan Ketimpangan Antarnegara di SMA Negeri 6 Yogyakarta

Mahasiswa Praktik Kependidikan melaksanakan kegiatan pemahaman terkait literasi data kesenjangan ekonomi melalui pembelajaran Ekonomi di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 11 September 2026 di lingkungan SMA Negeri 6 Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya dalam memberikan pemahaman dan keterampilan kepada murid untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan murid dalam menganalisis data ekonomi, khususnya terkait kesenjangan ekonomi dan ketimpangan ekonomi antarnegara. Melalui kegiatan ini, murid diajak untuk memahami kondisi ketimpangan ekonomi berdasarkan data serta membandingkan tingkat kesenjangan ekonomi Indonesia dengan negara lain. Pelaksanaan kegiatan berkaitan dengan Sustainable Development Goals ( SDGs) tujuan ke-10, yitu Berkurangnya Kesenjangan ( Reduced Inequalities), yang menekankan pentingnya mengurangi kesenjangan di dalam dan antarnegara serta meningkatkan pemahaman Masyarakat terhadap berbagai faktor yang mengurangi ketimpangan ekonomi.

Kegiatan bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan murid dalam memahami serta menganalisis kesenjangan ekonomi melalui literasi data dan perbandingan ketimpangan antarnegara. Proses pelaksanaan dilakukan melalui pembelajaran Ekonomi dengan penyampaian materi, penggunaan media pembelajaran, pemberian contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT). Dalam pelaksanaannya, murid dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mempelajari materi mengenai pengertian kesenjangan ekonomi, faktor-faktor penyebab kesenjangan, indikator pengukuran ketimpangan ekonomi, serta kondisi kesenjangan ekonomi di Indonesia dan negara lain. Setelah memahami materi, murid mengikuti kegiatan permainan dan turnamen akademik berupa soal-soal yang berkaitan dengan literasi data dan perbandingan tingkat ketimpangan antarnegara. Melalui kegiatan tersebut, murid dilatih untuk membaca, memahami, dan membandingkan data ekonomi serta bekerja sama dalam kelompok. Kegiatan melibatkan mahasiswa praktikan sebagai pelaksana pembelajaran, murid sebagai sasaran kegiatan, serta guru Ekonomi yang memberikan pendampingan selama proses pembelajaran.

Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap pengetahuan dan kemampuan murid dalam memahami kesenjangan ekonomi melalui pemanfaatan data. Murid memperoleh pemahaman mengenai faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi, indikator yang digunakan untuk mengukur ketimpangan, serta cara membaca dan membandingkan data kondisi ekonomi Indonesia dengan negara lain. Selain memberikan manfaat secara langsung, kegiatan ini juga mendukung pembelajaran Ekonomi yang lebih kontekstual karena materi dihubungkan dengan kondisi dan permasalahan ekonomi yang terjadi dalam kehidupan nyata. Penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) turut mendorong murid untuk aktif berdiskusi, bekerja sama, serta meningkatkan kemampuan dalam menganalisis informasi dan menyelesaikan permasalahan berbasis data. Dengan adanya penguatan literasi data mengenai kesenjangan ekonomi tersebut, kegiatan turut berkontribusi terhadap pencapaian SDG 10 melalui peningkatan pemahaman murid mengenai ketimpangan ekonomi di dalam maupun antarnegara.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman mengenai kesenjangan ekonomi dan literasi data yang telah diperoleh murid dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari. Penguatan literasi data juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran, tetapi dapat terus dikembangkan melalui pembelajaran Ekonomi dengan topik dan permasalahan yang relevan dengan kondisi sosial dan ekonomi di lingkungan sekitar. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan murid dalam memahami dan menganalisis permasalahan ketimpangan ekonomi, sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya upaya mengurangi kesenjangan di dalam maupun antarnegara sebagai bentuk kontribusi terhadap pencapaian SDG 10.

Dari Biang Sabun Menjadi Produk Bernilai Ekonomi: Pengembangan Keterampilan Kewirausahaan Siswa Melalui Produksi dan Pemasaran Sabun Cuci Piring

Siswa kelas XII PM 2 SMK Abdi Negara Muntilan mengembangkan keterampilan kewirausahaan melalui praktik pembuatan sabun cuci piring dalam mata pelajaran Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan (KIK). Praktik tersebut memberikan pengalaman kepadda siswa untuk mengolah bahan dasar menjadi produk yang memiliki manfaat dan memiliki nilai jual.

Dalam prosesnya, siswa memanfaatkan biang sabun sebagai bahan dasar untuk menghasilkan sabun cuci piring. Keterlibatan secara langsung dalam prosses produksi memberikan pengalaman mengenai bagaimana suatu bahan dapat diolah menjadi produk yang siap digunakan. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi siswa untuk menerapkan kreativitas dan keterampilan yang telah diperoleh dalam pembelajaran.

Setelah proes produksi selesai, siswa melanjutkan pengembangan produk dengan menentukan nama produk dan membuat logo. Pemeberian identitas tersebut dilakukan untuk memberikan ciri khas pada produk sekaligus memperkenalkannya kepada calon konsumen. Melalui tahap ini, siswa tidak hanya berfokus pada pembuatan barang, tetapi juga mulai memahami pentingnya identitas dan tampilan dalam pengembangan suatu produk.

Produk sabun cuci piring yang telah dibuat selanjutnya akan dipasarkan kepada guru dan karyawan SMK Abdi Negara Muntilan. Pemasaran dilakukan sebagai bentuk penerapan pembelajaran kewirausahaan secara langsung, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman dalam memperkenalkan produk, berkomunikasi dengan calon konsumen, dan melakukan transaksi sederhana.

Rangkaian kegiatan tersebut memberikan pengalaman kepada siswa mengenai tahap dasar dalam pengembangan usaha, mulai dari menghasilkan produk, membangun identitas, hingga memasarkannya. Selain keterampilan produksi, siswa turut mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, kreativitas, dan tanggung jawab dalam menjalankan proes tersebut.

Melalui praktik ini, pembelajaran KIK menjadi lebih konstektual karena siswa dapat melihat secara langsung proses mengubah ide dan keterampilan menjadi produk yang dapat digunakan serta memiliki potensi ekonomi. Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa untuk mengenali peluang usaha dan mengembangkan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja maupun kegiatan kewirausahaan di masa mendatang.

Penerapan Canva AI pada Pembelajaran Perpajakan Kelas XI AKL Fase F melalui Game “Tax Mystery Box”

Kulon Progo, 31 Agustus 2026 - Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran menjadi salah satu upaya untuk menciptakan proses pendidikan yang lebih interaktif dan inovatif. Hal tersebut diterapkan oleh Figo Dehasta Imtinan, mahasiswa semester 7 Program Studi Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dalam kegiatan Praktik Kependidikan (PK) di SMK Negeri 1 Kokap, Kulon Progo.

Dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran Perpajakan kelas XI Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) Fase F, Figo menerapkan Canva AI sebagai salah satu teknologi yang digunakan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis permainan. Media tersebut dikemas dalam sebuah permainan bernama “Tax Mystery Box” yang digunakan untuk mendukung pembelajaran pada materi Syarat dan Sistem Pemungutan Pajak.

Pengembangan media pembelajaran ini berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan pembelajaran perpajakan yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Materi perpajakan yang memiliki berbagai konsep dan istilah dikemas ke dalam bentuk permainan agar peserta didik dapat mempelajari materi melalui aktivitas yang lebih interaktif.

Melalui “Tax Mystery Box”, peserta didik diajak untuk menyelesaikan berbagai pertanyaan dan tantangan yang berkaitan dengan materi Syarat dan Sistem Pemungutan Pajak. Permainan dirancang dengan memanfaatkan elemen visual dan interaktif sehingga peserta didik dapat menguji pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari.

Penggunaan media berbasis permainan juga memberikan suasana pembelajaran yang berbeda dari pembelajaran yang hanya berpusat pada penjelasan materi. Peserta didik memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, menjawab pertanyaan, serta mengingat kembali konsep-konsep perpajakan melalui tantangan yang terdapat dalam permainan.

Canva AI dimanfaatkan dalam proses pengembangan media sebagai teknologi pendukung untuk menghasilkan dan menyusun elemen visual pembelajaran. Pemanfaatan teknologi tersebut memungkinkan pengembangan media dilakukan secara lebih kreatif dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik peserta didik kelas XI AKL.

Penerapan Canva AI dalam pembelajaran juga menjadi salah satu bentuk pengenalan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan secara produktif di lingkungan pendidikan. Teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti peran pendidik, melainkan sebagai alat bantu untuk mengembangkan media yang dapat mendukung proses pembelajaran.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pengalaman Figo Dehasta Imtinan dalam melaksanakan Praktik Kependidikan sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi. Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan diterapkan secara langsung dalam proses pembelajaran di sekolah, khususnya dalam merancang media pembelajaran yang memadukan materi akuntansi dan perpajakan dengan perkembangan teknologi digital.

Penerapan “Tax Mystery Box” turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas. Pemanfaatan media pembelajaran interaktif memberikan alternatif dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif dan menarik. Kegiatan ini mendukung upaya menghadirkan pembelajaran yang berkualitas dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk membantu peserta didik memahami materi pembelajaran.

Selain SDG 4, kegiatan ini juga mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan inovasi teknologi dalam bidang pendidikan. Penggunaan Canva AI menunjukkan adanya pemanfaatan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan untuk menghasilkan inovasi media pembelajaran. Penerapan teknologi tersebut menjadi contoh bahwa inovasi digital dapat dikembangkan tidak hanya dalam bidang industri, tetapi juga dalam proses pendidikan.

Keterkaitan antara SDG 4 dan SDG 9 terlihat melalui pengembangan media “Tax Mystery Box” yang menggabungkan tujuan pendidikan dengan pemanfaatan teknologi. Inovasi media pembelajaran berbasis Canva AI diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam menciptakan proses pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

Melalui kegiatan Praktik Kependidikan di SMK Negeri 1 Kokap, pemanfaatan Canva AI dan “Tax Mystery Box” menjadi salah satu bentuk inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi dengan materi Perpajakan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman bagi mahasiswa calon pendidik untuk mengembangkan pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan relevan dengan perkembangan teknologi, serta berkontribusi terhadap pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Belajar Seru The Ledger Relay Hingga Motivasi Studi Lanjut, Mahasiswa PK UNY Wujudkan SDG 4 Dan SDG 10 di SMK N 1 Klaten



KLATEN – Praktik Kependidikan (PK) menjadi ruang bagi mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk berkontribusi langsung pada SDG 4: Pendidikan Berkualitas di SMK Negeri 1 Klaten. Kontribusi itu tidak berhenti pada praktik mengajar di kelas, tetapi berlanjut lewat kedekatan dengan siswa, tempat mereka merasa nyaman berbagi cerita, bertanya, dan menumbuhkan keberanian untuk berprestasi serta menatap pendidikan yang lebih tinggi.

Di kelas Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL), mahasiswa PK menghadirkan pembelajaran estafet buku besar bertajuk The Ledger Relay: Menumbuhkan Integritas dalam Setiap Angka. Siswa dibagi dalam kelompok, lalu setiap anggota bergantian memindahkan (memposting) transaksi dari jurnal ke akun buku besar yang tepat sebelum melanjutkan estafet ke rekan berikutnya. Kelompok yang menyelesaikan seluruh transaksi dengan cepat, teliti, dan saldo yang sesuai menjadi yang terbaik.

Nilai integritas menjadi inti kegiatan ini. Setiap angka yang dicatat harus jujur dan akurat, sebab satu kekeliruan akan memengaruhi seluruh kelompok. Siswa belajar bahwa ketelitian dan tanggung jawab atas bagian masing-masing adalah fondasi profesi akuntan.

Antusiasme siswa terlihat sejak permainan dimulai. Mereka merasa senang karena pembelajaran tidak terus-menerus berkutat pada siklus akuntansi yang monoton. "Seru tapi menegangkan," ungkap salah satu siswa kelas 12 AKL 1 mengenai pengalamannya. Ketegangan itu justru membuat siswa fokus, saling mengecek, dan bekerja sama. Pendekatan yang aktif, menyenangkan, dan bermakna ini sejalan dengan target SDG 4.

  

Suasana belajar yang cair itu ternyata tidak berhenti ketika bel pelajaran usai. Keakraban yang terbangun selama kegiatan membuat siswa lebih terbuka kepada mahasiswa PK. Di sela waktu istirahat maupun kegiatan sekolah, obrolan ringan sering bermula dari hal sederhana, mulai dari soal pelajaran, cerita pengalaman kuliah, hingga rencana setelah lulus.

Siswa merasa nyaman berbagi karena mahasiswa hadir sebagai teman berbincang yang tidak menggurui. Mereka bebas bertanya, termasuk tentang hal-hal yang selama ini terasa jauh dan sulit dibayangkan.

Dari obrolan-obrolan itulah semangat berlomba tumbuh. Mahasiswa PK memberikan motivasi agar siswa berani mencoba dan mengembangkan kompetensi lewat berbagai kompetisi. Semangat tersebut tampak pada tiga siswa AKL SMK N 1 Klaten, yaitu Muhammad Salahhudin Sidiq dan Aldi Permana dari kelas 12 AKL 1, serta Aldino Sukmo dari kelas 11 AKL 3. Ketiganya aktif mengikuti berbagai lomba, salah satunya Cerdas Cermat Akuntansi.

Bagi Sidiq, lomba adalah cara untuk menambah pengalaman sesuai karier yang ia cita-citakan. "Motivasi saya ingin terus tumbuh berkembang di bidang akuntansi dengan bertemu lawan yang levelnya di atas saya," tuturnya. Sertifikat lomba juga menjadi pemacu karena dapat memperkuat portofolionya. Sementara itu, Aldino mengaku ingin mencoba hal baru. Menurutnya, materi yang diajarkan selama pembelajaran membuat ia dan teman-temannya yakin untuk ikut serta dalam lomba.

Dalam pendampingannya, mahasiswa tidak hanya memberi semangat, tetapi juga membagikan contoh-contoh soal yang biasa digunakan dalam lomba dan membahasnya bersama. Latihan itu membantu siswa mengenali pola soal sekaligus melatih ketenangan saat menjawab. Bagi siswa, lomba bukan sekadar mengejar juara, melainkan wadah melatih penguasaan materi, kerja sama tim, dan kepercayaan diri. Keterlibatan siswa lintas kelas, dari kelas 11 hingga 12, juga menunjukkan bahwa semangat berprestasi tumbuh dan saling menular di lingkungan sekolah.

Pengalaman berlomba kemudian menjadi pintu masuk untuk membicarakan masa depan. Dalam obrolan santai, mahasiswa berbagi cerita tentang pilihan melanjutkan kuliah, jalur seleksi masuk perguruan tinggi, dan peluang beasiswa. Prestasi lomba dijelaskan sebagai modal berharga yang dapat memperkuat portofolio saat mendaftar studi lanjut maupun beasiswa.

Bagi Sidiq, pengalaman nyata yang dibagikan mahasiswa tentang jenjang pendidikan dan karier setelah SMK menjadi pegangan berharga. "Pengalaman mereka memberi saya petunjuk serta pandangan mengenai masa depan," ujarnya. Ia juga menilai mahasiswa PK berperan penting dalam memperdalam pemahaman siswa tentang akuntansi manufaktur dan akuntansi biaya, serta menyemangati mereka untuk berlomba.

Karena suasananya akrab, siswa tidak sungkan menanyakan hal-hal yang selama ini mereka ragukan. Bagi banyak siswa SMK, informasi ini penting agar kuliah dipandang sebagai pilihan yang terbuka bagi siapa saja, bukan hanya mereka yang mampu secara ekonomi. Dengan berbagi pengalaman dan informasi beasiswa, mahasiswa turut menjembatani kesenjangan akses informasi pendidikan, langkah kecil yang mendukung SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan.

Cita-cita dan prestasi tentu perlu ditopang karakter yang kuat. Karena itu, selama PK mahasiswa juga turut dalam pembiasaan harian di SMK N 1 Klaten, seperti literasi keagamaan, upacara bendera, dan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun). Kebiasaan ini menumbuhkan ketenangan, kedisiplinan, dan hubungan yang hangat antara siswa, guru, dan mahasiswa. Semangat among, yakni menuntun, mendampingi, dan memberi teladan tanpa memaksa, menjadi landasannya.

Secara keseluruhan, kehadiran mahasiswa PK UNY di SMK N 1 Klaten mencerminkan upaya menghadirkan pendidikan berkualitas melalui pembelajaran inovatif seperti The Ledger Relay, pendampingan lomba yang membangun kepercayaan diri, serta pemerataan akses informasi studi lanjut dan beasiswa. Ketiganya berjalan beriringan, didukung kedekatan yang membuat siswa nyaman berkembang secara akademik, karakter, dan cita-cita. (jihan)

Pages