Kolaborasi Wayang Kulit, Inklusivitas, dan Paperless Practice Melalui Aleadyota Dukung Sustainable Learning Commitment dalam Pembelajaran Akuntansi

Continuum Learning That Echoes Beyond the Classroom

Pembelajaran kadang terlalu cepat dianggap selesai hanya karena bel sudah berbunyi. Padahal, ada kemungkinan bahwa sesuatu yang lebih penting justru baru dimulai ketika murid membawa pulang cara berpikir, keberanian, atau kebiasaan yang mereka temukan selama belajar. Gagasan itulah yang perlahan tumbuh dalam perjalanan Praktik Kependidikan (PK) UNY 2026 di SMK Negeri 7 Yogyakarta. Amar Taqwim, biasa disapa Amar, mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta, menjalani PK sejak 20 Juli hingga 25 September 2026. Dalam perjalanan tersebut, mahasiswa terlibat dalam pembelajaran di X AK 2 pada Dasar-dasar Akuntansi dan Keuangan Lembaga, Elemen Ekonomi Bisnis dan Administrasi Umum, serta XI AK 2 pada Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan, Elemen Kegiatan Produksi. Dua kelas dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda ini perlahan memperlihatkan bahwa pembelajaran akuntansi ternyata tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana murid diberi ruang untuk belajar.

Di awal praktik mengajar, keterlibatan murid masih terasa cukup rendah, baik secara behavioral, kognitif, maupun emosional. Hanya satu atau dua murid yang aktif bertanya, sementara sebagian lainnya sebenarnya sudah mengetahui jawaban, tetapi belum cukup percaya diri untuk menyampaikan pendapat atau gagasan. Dari pengalaman tersebut, mahasiswa mulai melihat bahwa pembelajaran berkualitas tidak cukup hanya dengan menyampaikan materi dan memastikan materi selesai dibahas. Murid perlu diberi ruang untuk mengalami pembelajaran itu sendiri, termasuk ruang untuk salah, mencoba, bertanya, dan menemukan cara mereka sendiri untuk memahami sesuatu.

Penerapan Problem Based Learning maupun Project Based Learning, diskusi, pertanyaan pemantik, Lembar Kerja Murid, serta aktivitas yang membuat murid terlibat langsung perlahan mengubah suasana kelas. Semakin banyak murid dilibatkan, semakin terbuka pula ruang bagi mereka untuk memahami pembelajaran. Dari sana, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education) tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh dari ruang kelas. Ia hadir dalam hal-hal sederhana ketika murid tidak hanya mendengarkan, tetapi mulai berpikir, bertanya, berdiskusi, mencoba, dan berani menyampaikan gagasan.

Namun, pendidikan berkualitas rasanya akan menjadi kurang lengkap jika belum mampu menjangkau murid dengan kebutuhan yang berbeda. Pengalaman berhadapan dengan murid yang membutuhkan dukungan belajar lebih menjadi salah satu titik yang mengubah cara pandang mahasiswa sebagai calon guru. Dalam pembelajaran akuntansi, materi seperti Persamaan Dasar Akuntansi tetaplah Aset = Liabilitas + Ekuitas. Materi tersebut tidak selalu memiliki versi yang lebih sederhana. Dari sana mahasiswa mulai memahami bahwa inklusivitas tidak selalu berarti mengubah materinya, tetapi dapat berarti mengubah cara mengajarnya agar setiap murid tetap memiliki kesempatan untuk memahami materi tanpa merasa sedang dibedakan.

Perbedaan kebutuhan belajar juga membuat mahasiswa semakin memahami bahwa kesetaraan dan keadilan tidak selalu berarti memperlakukan semua murid dengan cara yang sama. Memperlakukan semua murid secara sama belum tentu membuat semua murid mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Ada murid yang mungkin hanya membutuhkan pertanyaan pemantik, ada yang lebih nyaman menyampaikan jawaban melalui aktivitas kelompok, dan ada pula yang membutuhkan pendekatan yang lebih personal. Hal-hal tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung SDG 4.5 tentang kesetaraan akses pendidikan bagi kelompok rentan (Equal Access to Education for Vulnerable Groups), bukan dengan memberi label atau perlakuan yang membedakan, tetapi dengan memastikan bahwa perbedaan tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk kehilangan kesempatan belajar.

Menariknya, upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup kemudian membawa wayang kulit ke ruang kelas akuntansi. Bagi mahasiswa, pelestarian budaya tidak harus selalu dimulai dengan menjadi dalang atau penonton pertunjukan wayang. Minimal, generasi sekarang perlu mengenalinya terlebih dahulu. Wayang kulit memiliki banyak tokoh, karakter, dan properti yang justru sangat cocok digunakan dalam materi yang memiliki banyak pihak, persoalan, dan alur cerita, seperti perilaku konsumen dan produsen, model pelaku ekonomi, hingga berbagai konsep dalam akuntansi.

Ketika wayang pertama kali hadir di kelas, murid jelas kaget. Ada rasa penasaran terhadap tokoh-tokohnya, bahkan satu jam pelajaran pernah digunakan hanya untuk membangun orientasi masalah melalui cerita wayang dan murid tetap antusias mengikutinya. Setelahnya, muncul pertanyaan sederhana yang justru terasa berarti, “Pak Amar besok masih pake wayang kan?”. Pertanyaan tersebut mungkin terdengar kecil, tetapi bagi mahasiswa, ia menunjukkan bahwa pengalaman belajar tidak berhenti ketika materi selesai dibahas. Murid bahkan diminta memegang wayang ketika menjawab, seolah-olah tokoh tersebut yang sedang menyampaikan jawabannya. Salah satu murid yang sebelumnya terlihat kurang terlibat mulai menunjukkan antusiasme yang jauh lebih terbuka. Bagi mahasiswa, momen kecil seperti ini cukup untuk menunjukkan bahwa wayang bukan sekadar pemanis kelas. Ia menjadi bagian dari proses murid membangun konsep sekaligus ruang kecil untuk mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi yang mungkin sebelumnya tidak terlalu mengenalnya. Pengalaman tersebut mempertemukan pembelajaran dengan SDG 11.4 tentang perlindungan dan pelestarian warisan budaya dan alam dunia (Protect and Safeguard the World’s Cultural and Natural Heritage).

Di titik ini, wayang kulit, inklusivitas, dan pembelajaran berkualitas mulai terlihat bukan sebagai hal yang berdiri sendiri. Ketiganya bertemu pada satu pertanyaan yang lebih sederhana, tetapi justru lebih sulit dijawab. Setelah sebuah pembelajaran selesai, apa yang sebenarnya ingin ditinggalkan? Bukan hanya nilai, bukan hanya jawaban yang benar, dan bukan pula sekadar materi yang berhasil disampaikan. Ada nilai, kebiasaan, dan cara pandang yang diharapkan memiliki kesempatan untuk terus dibawa oleh murid. Kesadaran tersebut kemudian bertemu dengan cara mahasiswa memandang penggunaan sumber daya dalam pembelajaran.

Hal serupa terjadi ketika mahasiswa mencoba meminimalkan penggunaan kertas. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, presensi, LKM, dan lembar nilai dibuat berbasis digital. Bukan berarti pembelajaran benar-benar zero paper. Murid tetap memiliki hak untuk membawa buku dan mencatat ketika diperlukan. Yang diminimalkan adalah penggunaan kertas pada bagian yang berada dalam kendali mahasiswa. Praktik tersebut bukan sekadar berpindah dari kertas ke layar, tetapi juga menjadi latihan untuk bertanya apakah sesuatu benar-benar perlu digunakan atau hanya digunakan karena sudah terbiasa. Selain lebih praktis dalam pengerjaan, pengumpulan, dan penilaian, ruang digital juga memberi kesempatan bagi murid untuk lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas. Gagasan tersebut menjadi bagian dari SDG 12.5 tentang pengurangan timbulan sampah melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali (Reduce Waste Generation).

Dari berbagai pengalaman tersebut, mahasiswa mulai melihat bahwa keberlanjutan dalam pembelajaran bukan hanya tentang membuat satu kegiatan terlihat baik pada saat dilaksanakan. Ada komitmen yang lebih panjang untuk menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, memberi ruang bagi perbedaan, mengenalkan kembali budaya, serta menggunakan sumber daya secara lebih bertanggung jawab. Praktik-praktik tersebut mungkin sederhana dan belum tentu semuanya akan terus dilakukan setelah mahasiswa meninggalkan sekolah. Namun, justru di situlah makna Sustainable Learning Commitment terasa. Yang diharapkan berlanjut bukan selalu bentuk kegiatannya, melainkan nilai yang ditinggalkan dan kemungkinan bagi orang lain untuk meneruskannya dalam bentuk yang mereka anggap paling sesuai.

Dari berbagai pengalaman tersebut lahirlah ALEADYOTA sebagai gagasan yang merangkum harapan tersebut. ALEADYOTA menggambarkan cahaya kecil yang lembut dan sederhana, bukan cahaya besar yang menerangi semuanya, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa masih ada terang di tengah ruang yang luas. Begitu pula praktik kependidikan ini. Ia mungkin sederhana, mungkin juga tidak semuanya akan terus berlangsung setelah mahasiswa pergi. Namun, pembelajaran tidak selalu harus meninggalkan sesuatu yang besar. Barangkali cukup meninggalkan keberanian untuk bertanya, kesadaran untuk menjaga budaya, kebiasaan untuk menggunakan sesuatu secara bijak, dan keyakinan bahwa setiap murid berhak mendapatkan ruang untuk belajar.

Continuum Learning That Echoes Beyond the Classroom akhirnya bukan sekadar slogan. Ia menjadi harapan bahwa pembelajaran dapat memiliki kehidupan setelah jam pelajaran berakhir. Wayang mungkin terus menjadi sesuatu yang ingin dikenal. Keberanian untuk berbicara mungkin tumbuh pada pembelajaran berikutnya. Cara memandang perbedaan mungkin terbawa ke ruang lain. Kebiasaan menggunakan sesuatu seperlunya mungkin menjadi pilihan yang terus dilakukan. Tidak ada yang dapat memastikan sejauh mana semuanya akan bertahan, tetapi pendidikan memang tidak selalu bekerja dengan kepastian seperti itu.

Barangkali pendidikan memang tidak harus mengubah dunia sekaligus. Cukup meninggalkan sesuatu yang membuat orang lain ingin melanjutkannya, lalu membiarkan apa yang dimulai di ruang kelas menemukan jalannya untuk terus hidup di luar sana. (amm)