SDGs #11 Komunitas Kota

Kolaborasi Wayang Kulit, Inklusivitas, dan Paperless Practice Melalui Aleadyota Dukung Sustainable Learning Commitment dalam Pembelajaran Akuntansi

Continuum Learning That Echoes Beyond the Classroom

Pembelajaran kadang terlalu cepat dianggap selesai hanya karena bel sudah berbunyi. Padahal, ada kemungkinan bahwa sesuatu yang lebih penting justru baru dimulai ketika murid membawa pulang cara berpikir, keberanian, atau kebiasaan yang mereka temukan selama belajar. Gagasan itulah yang perlahan tumbuh dalam perjalanan Praktik Kependidikan (PK) UNY 2026 di SMK Negeri 7 Yogyakarta. Amar Taqwim, biasa disapa Amar, mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta, menjalani PK sejak 20 Juli hingga 25 September 2026. Dalam perjalanan tersebut, mahasiswa terlibat dalam pembelajaran di X AK 2 pada Dasar-dasar Akuntansi dan Keuangan Lembaga, Elemen Ekonomi Bisnis dan Administrasi Umum, serta XI AK 2 pada Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan, Elemen Kegiatan Produksi. Dua kelas dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda ini perlahan memperlihatkan bahwa pembelajaran akuntansi ternyata tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana murid diberi ruang untuk belajar.

Di awal praktik mengajar, keterlibatan murid masih terasa cukup rendah, baik secara behavioral, kognitif, maupun emosional. Hanya satu atau dua murid yang aktif bertanya, sementara sebagian lainnya sebenarnya sudah mengetahui jawaban, tetapi belum cukup percaya diri untuk menyampaikan pendapat atau gagasan. Dari pengalaman tersebut, mahasiswa mulai melihat bahwa pembelajaran berkualitas tidak cukup hanya dengan menyampaikan materi dan memastikan materi selesai dibahas. Murid perlu diberi ruang untuk mengalami pembelajaran itu sendiri, termasuk ruang untuk salah, mencoba, bertanya, dan menemukan cara mereka sendiri untuk memahami sesuatu.

Penerapan Problem Based Learning maupun Project Based Learning, diskusi, pertanyaan pemantik, Lembar Kerja Murid, serta aktivitas yang membuat murid terlibat langsung perlahan mengubah suasana kelas. Semakin banyak murid dilibatkan, semakin terbuka pula ruang bagi mereka untuk memahami pembelajaran. Dari sana, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education) tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh dari ruang kelas. Ia hadir dalam hal-hal sederhana ketika murid tidak hanya mendengarkan, tetapi mulai berpikir, bertanya, berdiskusi, mencoba, dan berani menyampaikan gagasan.

Namun, pendidikan berkualitas rasanya akan menjadi kurang lengkap jika belum mampu menjangkau murid dengan kebutuhan yang berbeda. Pengalaman berhadapan dengan murid yang membutuhkan dukungan belajar lebih menjadi salah satu titik yang mengubah cara pandang mahasiswa sebagai calon guru. Dalam pembelajaran akuntansi, materi seperti Persamaan Dasar Akuntansi tetaplah Aset = Liabilitas + Ekuitas. Materi tersebut tidak selalu memiliki versi yang lebih sederhana. Dari sana mahasiswa mulai memahami bahwa inklusivitas tidak selalu berarti mengubah materinya, tetapi dapat berarti mengubah cara mengajarnya agar setiap murid tetap memiliki kesempatan untuk memahami materi tanpa merasa sedang dibedakan.

Perbedaan kebutuhan belajar juga membuat mahasiswa semakin memahami bahwa kesetaraan dan keadilan tidak selalu berarti memperlakukan semua murid dengan cara yang sama. Memperlakukan semua murid secara sama belum tentu membuat semua murid mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Ada murid yang mungkin hanya membutuhkan pertanyaan pemantik, ada yang lebih nyaman menyampaikan jawaban melalui aktivitas kelompok, dan ada pula yang membutuhkan pendekatan yang lebih personal. Hal-hal tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung SDG 4.5 tentang kesetaraan akses pendidikan bagi kelompok rentan (Equal Access to Education for Vulnerable Groups), bukan dengan memberi label atau perlakuan yang membedakan, tetapi dengan memastikan bahwa perbedaan tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk kehilangan kesempatan belajar.

Menariknya, upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup kemudian membawa wayang kulit ke ruang kelas akuntansi. Bagi mahasiswa, pelestarian budaya tidak harus selalu dimulai dengan menjadi dalang atau penonton pertunjukan wayang. Minimal, generasi sekarang perlu mengenalinya terlebih dahulu. Wayang kulit memiliki banyak tokoh, karakter, dan properti yang justru sangat cocok digunakan dalam materi yang memiliki banyak pihak, persoalan, dan alur cerita, seperti perilaku konsumen dan produsen, model pelaku ekonomi, hingga berbagai konsep dalam akuntansi.

Ketika wayang pertama kali hadir di kelas, murid jelas kaget. Ada rasa penasaran terhadap tokoh-tokohnya, bahkan satu jam pelajaran pernah digunakan hanya untuk membangun orientasi masalah melalui cerita wayang dan murid tetap antusias mengikutinya. Setelahnya, muncul pertanyaan sederhana yang justru terasa berarti, “Pak Amar besok masih pake wayang kan?”. Pertanyaan tersebut mungkin terdengar kecil, tetapi bagi mahasiswa, ia menunjukkan bahwa pengalaman belajar tidak berhenti ketika materi selesai dibahas. Murid bahkan diminta memegang wayang ketika menjawab, seolah-olah tokoh tersebut yang sedang menyampaikan jawabannya. Salah satu murid yang sebelumnya terlihat kurang terlibat mulai menunjukkan antusiasme yang jauh lebih terbuka. Bagi mahasiswa, momen kecil seperti ini cukup untuk menunjukkan bahwa wayang bukan sekadar pemanis kelas. Ia menjadi bagian dari proses murid membangun konsep sekaligus ruang kecil untuk mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi yang mungkin sebelumnya tidak terlalu mengenalnya. Pengalaman tersebut mempertemukan pembelajaran dengan SDG 11.4 tentang perlindungan dan pelestarian warisan budaya dan alam dunia (Protect and Safeguard the World’s Cultural and Natural Heritage).

Di titik ini, wayang kulit, inklusivitas, dan pembelajaran berkualitas mulai terlihat bukan sebagai hal yang berdiri sendiri. Ketiganya bertemu pada satu pertanyaan yang lebih sederhana, tetapi justru lebih sulit dijawab. Setelah sebuah pembelajaran selesai, apa yang sebenarnya ingin ditinggalkan? Bukan hanya nilai, bukan hanya jawaban yang benar, dan bukan pula sekadar materi yang berhasil disampaikan. Ada nilai, kebiasaan, dan cara pandang yang diharapkan memiliki kesempatan untuk terus dibawa oleh murid. Kesadaran tersebut kemudian bertemu dengan cara mahasiswa memandang penggunaan sumber daya dalam pembelajaran.

Hal serupa terjadi ketika mahasiswa mencoba meminimalkan penggunaan kertas. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, presensi, LKM, dan lembar nilai dibuat berbasis digital. Bukan berarti pembelajaran benar-benar zero paper. Murid tetap memiliki hak untuk membawa buku dan mencatat ketika diperlukan. Yang diminimalkan adalah penggunaan kertas pada bagian yang berada dalam kendali mahasiswa. Praktik tersebut bukan sekadar berpindah dari kertas ke layar, tetapi juga menjadi latihan untuk bertanya apakah sesuatu benar-benar perlu digunakan atau hanya digunakan karena sudah terbiasa. Selain lebih praktis dalam pengerjaan, pengumpulan, dan penilaian, ruang digital juga memberi kesempatan bagi murid untuk lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas. Gagasan tersebut menjadi bagian dari SDG 12.5 tentang pengurangan timbulan sampah melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali (Reduce Waste Generation).

Dari berbagai pengalaman tersebut, mahasiswa mulai melihat bahwa keberlanjutan dalam pembelajaran bukan hanya tentang membuat satu kegiatan terlihat baik pada saat dilaksanakan. Ada komitmen yang lebih panjang untuk menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, memberi ruang bagi perbedaan, mengenalkan kembali budaya, serta menggunakan sumber daya secara lebih bertanggung jawab. Praktik-praktik tersebut mungkin sederhana dan belum tentu semuanya akan terus dilakukan setelah mahasiswa meninggalkan sekolah. Namun, justru di situlah makna Sustainable Learning Commitment terasa. Yang diharapkan berlanjut bukan selalu bentuk kegiatannya, melainkan nilai yang ditinggalkan dan kemungkinan bagi orang lain untuk meneruskannya dalam bentuk yang mereka anggap paling sesuai.

Dari berbagai pengalaman tersebut lahirlah ALEADYOTA sebagai gagasan yang merangkum harapan tersebut. ALEADYOTA menggambarkan cahaya kecil yang lembut dan sederhana, bukan cahaya besar yang menerangi semuanya, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa masih ada terang di tengah ruang yang luas. Begitu pula praktik kependidikan ini. Ia mungkin sederhana, mungkin juga tidak semuanya akan terus berlangsung setelah mahasiswa pergi. Namun, pembelajaran tidak selalu harus meninggalkan sesuatu yang besar. Barangkali cukup meninggalkan keberanian untuk bertanya, kesadaran untuk menjaga budaya, kebiasaan untuk menggunakan sesuatu secara bijak, dan keyakinan bahwa setiap murid berhak mendapatkan ruang untuk belajar.

Continuum Learning That Echoes Beyond the Classroom akhirnya bukan sekadar slogan. Ia menjadi harapan bahwa pembelajaran dapat memiliki kehidupan setelah jam pelajaran berakhir. Wayang mungkin terus menjadi sesuatu yang ingin dikenal. Keberanian untuk berbicara mungkin tumbuh pada pembelajaran berikutnya. Cara memandang perbedaan mungkin terbawa ke ruang lain. Kebiasaan menggunakan sesuatu seperlunya mungkin menjadi pilihan yang terus dilakukan. Tidak ada yang dapat memastikan sejauh mana semuanya akan bertahan, tetapi pendidikan memang tidak selalu bekerja dengan kepastian seperti itu.

Barangkali pendidikan memang tidak harus mengubah dunia sekaligus. Cukup meninggalkan sesuatu yang membuat orang lain ingin melanjutkannya, lalu membiarkan apa yang dimulai di ruang kelas menemukan jalannya untuk terus hidup di luar sana. (amm)

Usung Tema "Mahawira Amerta Nira", Mahasiswa UNY dan Siswa SMK Negeri 1 Kokap Raih Terbaik 1 Karnaval Semarak Merdeka Se-Kulon Progo 2026

Melestarikan budaya daerah tidak selalu harus melalui kegiatan formal di ruang kelas. Terkadang, hal itu bisa dimulai dari panggung sederhana seperti pawai karnaval, di mana identitas lokal ditampilkan lewat kostum dan kreativitas anak muda. Hal inilah yang ditunjukkan oleh SMK Negeri 1 Kokap dalam Karnaval Se-Kabupaten Kulon Progo yang digelar pada Sabtu (22/08/26) lalu dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia. Karnaval tahunan ini diikuti oleh berbagai instansi pendidikan se-Kabupaten Kulon Progo, salah satunya SMK Negeri 1 Kokap yang tampil dengan mengusung tema "Mahawira Amerta Nira" dengan sub-tagline "Manisnya Warisan Menoreh". Persembahan dan karya ini mengangkat semangat kerja keras, gotong royong, dan ketulusan, sekaligus menjadi bentuk penghormatan bagi para penderes atau penjaga warisan tradisional yang mengolah tetes-tetes nira di kawasan Perbukitan Menoreh.

Kegiatan ini turut melibatkan Muhammad Ainurrofik Syahrul Haq, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang sedang menjalani Praktik Kependidikan (PK) di SMK Negeri 1 Kokap. Dalam karnaval ini, ia dipercaya menjadi salah satu maskot yang mewakili SMK Negeri 1 Kokap sepanjang rute pawai. Bersama para siswa dan warga sekolah lainnya, Muhammad Ainurrofik Syahrul Haq ikut menyiapkan kostum yang digunakan dalam pawai, sebagian di antaranya dibuat secara mandiri dari bahan kardus bekas yang disulap menjadi kostum bernuansa gula semut. Selain kostum hasil kreasi sendiri, beberapa peserta juga mengenakan busana tradisional sewaan untuk memperkuat penggambaran sosok penderes nira dan kehidupan masyarakat Menoreh.

Bagi Muhammad Ainurrofik Syahrul Haq, kesempatan menjadi maskot karnaval menjadi bagian dari pengalaman Praktik Kependidikan yang memperlihatkan bahwa keterlibatan mahasiswa PK di sekolah tidak hanya terbatas pada kegiatan belajar-mengajar di kelas. Melalui pawai ini, ia turut ambil bagian dalam memperkenalkan sekaligus menghormati kerja keras para penjaga tradisi penderesan nira di Kulon Progo kepada masyarakat yang lebih luas di tingkat kabupaten, sekaligus mempererat kolaborasi antara mahasiswa PK dan warga sekolah.

Kerja keras dan kekompakan tim dalam mempersiapkan tema serta kostum karnaval ini membuahkan hasil membanggakan. SMK Negeri 1 Kokap berhasil meraih predikat Terbaik 1 dalam lomba karnaval tingkat Kabupaten Kulon Progo tersebut, sebuah pencapaian yang menjadi bukti bahwa kreativitas dalam mengangkat nilai kerja keras, gotong royong, dan warisan budaya lokal mampu bersaing di tingkat kabupaten. Keterlibatan mahasiswa PK UNY dalam kegiatan ini turut memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam mendukung proses pendidikan sekaligus pelestarian budaya daerah. Melalui keterlibatan secara langsung, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman di luar kegiatan mengajar, tetapi juga belajar memahami dan menghargai kearifan lokal yang hidup di lingkungan sekolah tempatnya bertugas.

Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pertama, SDGs Nomor 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, karena Karnaval ini menjadi sarana pelestarian warisan budaya dan tradisi lokal, khususnya kearifan penderesan nira yang menjadi bagian dari identitas kawasan Perbukitan Menoreh. Kedua, SDGs Nomor 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena tema "Mahawira Amerta Nira" secara langsung menjadi bentuk penghormatan bagi para penderes nira di kawasan Menoreh, yang kerja kerasnya menopang perekonomian dan mata pencaharian warga setempat melalui pengolahan gula kelapa/gula semut. Ketiga, SDGs Nomor 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, Karena Tradisi pengolahan nira menjadi gula kelapa merupakan contoh praktik pemanfaatan sumber daya alam secara turun-temurun dan berkelanjutan, yang diangkat kembali melalui karya karnaval ini. Keempat, SDGs Nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas, karena Keterlibatan mahasiswa PK UNY dan siswa dalam kegiatan ini menjadi bentuk pembelajaran di luar kelas yang mengasah kreativitas, kerja sama, dan kebanggaan terhadap budaya serta sejarah daerah.

Melalui karya "Mahawira Amerta Nira" dan predikat Terbaik I dalam Karnaval Semarak Merdeka Kabupaten Kulon Progo 2026 ini, SMK Negeri 1 Kokap bersama mahasiswa PK UNY yang terlibat menunjukkan bahwa kolaborasi dunia pendidikan dapat berperan dalam menghormati kerja keras masyarakat, melestarikan warisan budaya, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat daerah.

Delegasi FEB UNY Berpartisipasi dalam Sustainable International Community Service (SICS) 2026 di Desa Wisata Penglipuran Bali Dukung Pencapaian SDGs

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui partisipasi dalam Sustainable International Community Service (SICS) 2026 yang diselenggarakan pada 29 Juni-2 Juli 2026 di Bali. Pada kegiatan ini, Umar Yeni Suyanto, dosen FEB UNY, menjadi salah satu delegasi yang mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat internasional di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. Program ini mengusung tema "Advancing Sustainable Communities Through Global Academic Collaboration" sebagai upaya memperkuat kolaborasi akademik internasional dalam mewujudkan masyarakat yang berkelanjutan. 

SICS 2026 mempertemukan akademisi, mahasiswa, dan mitra internasional dari berbagai perguruan tinggi dalam kegiatan pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi. Di Desa Wisata Penglipuran, peserta melaksanakan International Community Service (ICS) melalui observasi lapangan, diskusi, dan pendampingan pada berbagai sektor, seperti pengembangan UMKM bambu, pengelolaan homestay dan pariwisata, pendidikan dasar, serta penguatan produk lokal Loh-Loh Cencem sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal. Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan praktik baik dalam pengembangan desa wisata yang berkelanjutan. 

Sebagai delegasi FEB UNY, Umar Yeni Suyanto aktif mengikuti rangkaian kegiatan bersama masyarakat dan mitra internasional. "Kegiatan SICS 2026 merupakan wujud komitmen FEB UNY dalam berkontribusi aktif kepada masyarakat melalui kolaborasi internasional. Program ini tidak hanya memperkuat jejaring akademik dengan berbagai perguruan tinggi dunia, tetapi juga selaras dengan visi Universitas Negeri Yogyakarta sebagai universitas yang berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, kami berharap kontribusi perguruan tinggi mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan masyarakat sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)," ujar Umar Yeni Suyanto.

Kegiatan ini mendukung implementasi SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pertukaran pengetahuan lintas negara, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemberdayaan UMKM desa wisata, SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata berkelanjutan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah desa, dan mitra internasional. Sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Yogyakarta dalam mendukung SDGs, partisipasi FEB UNY pada SICS 2026 diharapkan dapat memperluas jejaring internasional sekaligus meningkatkan kontribusi tridarma perguruan tinggi bagi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. (umr)

Tags: SDG 4 - Pendidikan Berkualitas; SDG 8 - Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; SDG 11 - Kota dan Komunitas Berkelanjutan; SDG 17 - Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Gerakan 1 Hari Tanpa Sampah Plastik oleh Mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran UNY - Dukung SDG 12 di Lingkungan Kampus

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yaitu Muhammad Rizqi Bagas Satrio, dkk. di bawah bimbingan dosen Dr. Arwan Nur Ramadhan, M.Pd. melaksanakan kegiatan “1 Hari Tanpa Sampah Plastik” pada Sabtu, 31 Mei 2026, di lingkungan UNY.

Kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui kegiatan ini, Rizqi dkk. mengajak civitas akademia untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari.

Berbagai upaya sederhana dilakukan selama kegiatan berlangsung, seperti membawa tumblr, menggunakan kotak makan pribadi, dan menghindari penggunaan kantong plastik saat beraktivitas di lingkungan kampus. Kegiatan tersebut didokumentasikan dalam bentuk video edukatif yang bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai dampak sampah plastik terhadap lingkungan serta pentingnya membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.

Berdasarkan hasil kegiatan, sasaran yang terlibat memberikan tanggapan positif terhadap gerakan yang dilaksanakan. Salah satu peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pemahaman bahwa pengurangan sampah plastik dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga dinilai mampu meningkatkan kesadaran untuk lebih bertanggung jawab dalam menggunakan dan mengelola sumber daya yang ada.

Melalui gerakan “1 Hari Tanpa Sampah Plastik”, para mahasiswa menunjukkan komitmen untuk mendukung pelestarian lingkungan, khususnya di lingkungan kampus, sekaligus mengajak masyarakat untuk menerapkan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Rizqi dkk. berharap pesan yang disampaikan melalui video dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk mulai menerapkan kebiasaan ramah lingkungan dalam aktivitas sehari-hari sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Video kegiatan: https://youtu.be/cBAHenfHpLI?si=UOVK0uchZq4THDv9

Mahasiswa PLK UNY Edukasi Generasi Cerdas Finansial di SDN 1 Kejambon Lor

Mahasiswa Program Pembelajaran Luar Kampus (PLK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sukses menyelenggarakan tiga program kerja edukatif secara kolaboratif di SDN 1 Kejambon Lor pada 24–27 April 2026. Bertajuk "Berkarya Nyata, Menabung Sejak Dini, dan Berpikir Bijak untuk Masa Depan", kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan kreativitas, kesadaran finansial, serta kemampuan berpikir kritis pada siswa kelas 1 hingga 4 melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tiga mahasiswa PLK UNY dari FEB, masing-masing membawa program kerja unggulan yang saling melengkapi, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Evi Nur Rochmah, M.Pd.: Yola Indri Rahayu dari Program Studi Pendidikan Akuntansi FEB UNY  mengusung program kerja "Berkarya Nyata"; Nur Hidayah Atiqoh dari Program Studi Pendidikan Ekonomi FEB UNY mengusung program kerja "Menabung Sejak Dini"; Nuri Afifah dari Program Studi Pendidikan Ekonomi FEB UNY  mengusung program kerja "Berpikir Bijak untuk Masa Depan". Kegiatan berlangsung pada 24–27 April 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, dengan durasi 2–3 jam per sesi. Pelaksanaan dipusatkan di SDN 1 Kejambon Lor, Sindumartani, Ngemplak, Sleman dengan sasaran siswa kelas 1 sampai 4.

Program ini hadir atas kesadaran bahwa literasi finansial dan kreativitas adalah dua bekal penting yang perlu ditanamkan sejak usia dini. Di era konsumtif seperti saat ini, anak-anak perlu dibekali pemahaman yang kuat tentang nilai uang, pentingnya menabung, dan cara berkreasi secara mandiri dan produktif. Dengan mengintegrasikan ketiga program kerja dalam satu rangkaian kegiatan, Tim PLK UNY berharap mampu memberikan dampak holistik yang berkesan bagi para siswa.

Program kerja pertama digagas oleh Yola yang mengajak siswa mengekspresikan kreativitas melalui kegiatan keterampilan tangan yang bermakna. Setiap siswa mendapat kaleng bekas sebagai badan celengan, lalu menghiasnya secara bebas menggunakan stiker hias, kertas warna, spidol warna-warni, serta lem dan gunting. Proses berkarya dipandu langsung oleh Yola dengan pendampingan kelompok dan memastikan setiap siswa mendapat perhatian yang merata.

Melalui program ini, siswa tidak sekadar membuat sebuah benda, tetapi juga menuangkan imajinasi dan kepribadian ke dalam karya nyata yang dapat dibawa pulang. Rasa bangga atas hasil tangan sendiri menjadi fondasi penting dalam menumbuhkan sikap mandiri dan produktif sejak dini. Keberhasilan program ini terlihat ketika setiap siswa mampu menceritakan makna di balik celengan yang mereka ciptakan.

Program kerja kedua menjadi inti dari edukasi finansial dalam rangkaian kegiatan ini. Atiqoh memulai sesi dengan pengenalan interaktif tentang apa itu uang dan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari, menggunakan bahasa yang sederhana, cerita pendek, serta diskusi ringan yang mengajak siswa berpikir tentang cara mengelola uang saku mereka.

Sesi berlanjut ke simulasi praktis di mana siswa diajak langsung menyisihkan uang harian dan menuliskan target tabungan pribadi mereka, mulai dari menabung untuk membeli alat tulis, buku cerita, hingga keinginan lain yang mereka impikan. Kegiatan ini diperkuat dengan games edukatif seru berupa tebak nilai uang dan simulasi belanja sederhana yang berlangsung dengan penuh semangat. Di akhir sesi, setiap siswa memiliki selembar kertas target tabungan sebagai komitmen nyata untuk mulai menabung.

Program kerja ketiga dirancang oleh Nuri untuk membangun pola pikir bijak dalam pengambilan keputusan finansial sederhana. Nuri menyampaikan bahwa setiap pilihan keuangan memiliki konsekuensi dan tujuan jangka panjang yang dikemas secara ringan dan mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. Siswa diajak bermain peran (role play) sebagai seorang "pengelola keuangan" yang harus memilih antara membeli sesuatu sekarang atau menabung terlebih dahulu. Melalui simulasi ini, anak-anak secara alami mulai memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Diskusi kelompok kemudian dilakukan untuk merangsang kemampuan berpikir kritis mereka tentang keputusan keuangan sehari-hari, dan hasilnya para siswa antusias menyampaikan pendapat dengan kata-kata mereka sendiri.

Rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar dan penuh semangat. Siswa kelas 1 hingga 4 SDN 1 Kejambon Lor menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi sepanjang kegiatan, mulai dari menyimak materi dengan tekun, aktif dalam games edukatif, hingga berkreasi menghias celengan masing-masing dengan penuh percaya diri. Suasana kelas yang ceria dan interaktif mencerminkan keberhasilan pendekatan yang digunakan oleh ketiga mahasiswa PLK.

Kolaborasi antara program Berkarya Nyata, Menabung Sejak Dini, dan Berpikir Bijak untuk Masa Depan menciptakan pengalaman belajar yang komprehensif. Anak tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tetapi juga keterampilan praktis dan produk nyata berupa celengan karya tangan mereka sendiri yang siap digunakan untuk mulai menabung. 

Dari serangkaian kegiatan ini, dihasilkan beberapa output nyata yang menjadi bukti keberhasilan program, di antaranya celengan kreatif hasil karya masing-masing siswa yang siap digunakan, peningkatan pemahaman dan kesadaran siswa tentang pentingnya menabung, dan tumbuhnya pola pikir bijak dalam mengelola uang sejak dini.

Program kerja kolaboratif tiga mahasiswa PLK UNY di SDN 1 Kejambon Lor menjadi bukti nyata bahwa pendidikan ekonomi bisa hadir dengan cara yang menyenangkan, relevan, dan berdampak. Melalui sinergi antara Yola, Atiqoh, dan Nuri, para siswa tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tetapi juga pengalaman berkarya yang akan terus mereka kenang. Semoga benih kreativitas, kebiasaan menabung, dan pola pikir bijak yang ditanamkan melalui program ini menjadi bekal berharga bagi para siswa dalam menghadapi masa depan dengan lebih cerdas, hemat, dan mandiri. (Yola)

Dukung SDGs Desa, Mahasiswa PLK Jetis Gagas Tempat Sampah Botol Plastik dan Penanaman Sayuran

Dari sebotol plastik hingga sebatang bibit sayuran, perubahan besar seringkali berawal dari langkah yang sederhana. Semangat inilah yang dibawa oleh mahasiswa Pembelajaran Luar Kampus (PLK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui program lingkungan yang dilaksanakan di Padukuhan Jetis, Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman. Dengan menggandeng warga dan ibu-ibu PKK, mahasiswa menghadirkan inovasi tempat sampah khusus botol plastik serta gerakan menanam sayuran bersama sebagai upaya membangun lingkungan yang lebih bersih. Program ini menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) serta poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Kegiatan bertema “Nguri-uri Alam, Nandur Panguripan Sesarengan Mbangun Padukuhan Ijo” ini dilaksanakan oleh mahasiswa PLK bersama masyarakat dan ibu-ibu PKK yang dilaksanakan di Padukuhan Jetis pada 21 Februari hingga 16 Mei 2026 melalui pembuatan tempat sampah khusus botol plastik serta penanaman tanaman sayuran. Program ini diselenggarakan dengan tujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan penghijauan, dan mendukung pencapaian SDGs. Pelaksanaannya dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan partisipasi aktif warga dalam pengelolaan tempat sampah dan penanaman tanaman.

Praktik nyata yang ditawarkan dalam kegiatan ini menitikberatkan pada pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi pencemaran akibat sampah plastik, serta meningkatkan produktivitas lahan sekitar rumah melalui budidaya sayuran. Ketua RT 02 Padukuhan Jetis, Zamroni, menyampaikan, “banyak anak-anak SMA habis olahraga di GOR, sampah botolnya dibuang sembarangan, Mbak,” ujarnya, Sabtu (21/05/26). Lokasi desa yang dikelilingi banyak sekolah dan adanya tempat rekreasi yang cukup ramai menjadi tantangan warga dalam menghadapi permasalahan sampah. Akan tetapi, lokasi ini memiliki potensi yang cukup besar dalam ketersediaan bahan tanam (pupuk organik), dengan didukung adanya peternakan kambing milik warga Jetis. Aris selaku ketua RT 06 juga mengungkapkan, “di sini ada kelompok peternakan mbak, tapi kotorannya hanya dikumpulkan tidak ada yang ngolah”. Berangkat dari kondisi tersebut, tim PLK memberikan solusi program pembuatan tempat sampah khusus botol plastik dan penanaman bibit sayuran di sekitar rumah warga sebagai bentuk solusi yang mengintegrasikan pengelolaan lingkungan dengan pemanfaatan potensi lokal. Melalui program ini diharapkan masyarakat dapat lebih aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan serta mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs Desa).

Program PLK UNY di Padukuhan Jetis telah membuktikan bahwa sinergi antara mahasiswa dan masyarakat mampu melahirkan perubahan yang nyata dan bermakna. Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Hilmy Pradana Sundawan, M.Ak. dengan anggota yang terdiri dari Ariel Erland Fernanda, Arinda Rahmawati, Umi Nuriyah, Wulan Angraeni, Hazmi Hasifah, Nisrina Nur Azkia, Emilda Hanum, Putri Roulita Parhusip, Setyananda Asli Rahmawati, Arga Purba dari berbagai program studi di UNY.

Melalui program ini, mahasiswa berharap mampu mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola lingkungan sekitar, mulai dari pemilahan sampah botol plastik hingga pemanfaatan lahan kosong untuk penanaman benih. Selain menjaga kebersihan dan kemandirian pangan, kegiatan ini juga berpotensi menambah penghasilan desa melalui penjualan sampah botol.

Penulis

Arinda, Wulan, Umi, Hazmi, Ariel, Ririn

Editor

Arinda, Fadhli

#PLK #UNYMengabdi #SDGs11 #SDGs12 #TempatSampahBotol #Menanam

Sinergi Akademisi dan Birokrasi, FEB UNY Gelar Kuliah Lapangan di Kabupaten Klaten

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Klaten melalui kegiatan Halal Bihalal dan Kuliah Lapangan yang melibatkan 28 mahasiswa Program Studi Magister Manajemen. Acara ini dihadiri oleh jajaran Dekanat FEB UNY, para ketua serta sekretaris departemen, dan disambut langsung oleh Bupati Klaten beserta jajarannya. Kolaborasi ini bertujuan untuk menjembatani teori akademik dengan praktik tata kelola pemerintahan dan pengembangan potensi daerah secara nyata.

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, S.I.Kom., dalam sambutannya menekankan pentingnya posisi strategis Kabupaten Klaten yang berada di antara kota besar Yogyakarta dan Solo. Beliau menegaskan bahwa keberadaan beberapa pintu keluar tol di wilayah Klaten menjadi peluang besar bagi peningkatan pendapatan daerah, namun hal tersebut memerlukan manajemen pengelolaan dan kerja sama yang solid dengan berbagai pihak. Hamenang berharap kegiatan ini dapat mempererat hubungan kelembagaan sekaligus memberikan kontribusi pemikiran dari para mahasiswa bagi kemajuan Kabupaten Klaten.

Sejalan dengan hal tersebut, Dekan FEB UNY mengungkapkan bahwa Kuliah Lapangan ini merupakan sarana bagi mahasiswa untuk mempelajari inovasi dan kebijakan publik yang telah diimplementasikan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menyerap ilmu secara teoretis di ruang kelas, tetapi juga mampu melihat dinamika lapangan sebagai bekal keilmuan dan pengembangan jejaring (networking). Setelah mengikuti sesi kelas selama satu pertemuan, para mahasiswa diajak melakukan observasi langsung ke beberapa titik strategis pengelolaan aset daerah.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, para mahasiswa meninjau langsung manajemen Obyek Mata Air Cokro (OMAC) dan Candi Plaosan. OMAC yang awalnya hanya merupakan mata air alami kini telah bertransformasi menjadi destinasi wisata air unggulan dengan berbagai fasilitas kolam untuk semua usia. Sementara itu, Candi Plaosan yang memiliki keunikan arsitektur perpaduan Hindu-Buddha dipelajari sebagai model pengelolaan cagar budaya yang mampu menarik wisatawan melalui lanskap alamnya yang estetis, sehingga sering menjadi lokasi favorit bagi para fotografer maupun sesi foto pernikahan.

Selain agenda lapangan bagi mahasiswa, dilakukan pula sesi audiensi strategis antara pimpinan fakultas dengan para Kepala Dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Klaten. Sesi yang dikoordinir oleh Wakil Dekan Bidang Riset, Kerja Sama, Sistem Informasi, dan Usaha FEB UNY, Dr. Denies Priantinah, M.Si., Ak., bersama para ketua departemen serta koordinator program studi S2 dan S3 ini, secara khusus membahas peluang bagi para staf pemerintahan untuk melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana. Inisiatif ini dipandang sebagai langkah krusial dalam meningkatkan kompetensi manajerial ASN di Klaten agar lebih adaptif terhadap tantangan birokrasi modern.

Kegiatan ini secara langsung mendukung pencapaian beberapa poin dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) diwujudkan melalui metode pembelajaran lapangan yang memberikan wawasan praktis bagi mahasiswa. Kedua, pembahasan mengenai potensi ekonomi daerah dan pengelolaan wisata berkaitan erat dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan sektor pariwisata lokal. Terakhir, kunjungan ke Candi Plaosan mencerminkan dukungan terhadap SDG 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan), khususnya dalam upaya pelestarian warisan budaya dunia sebagai penggerak ekonomi kreatif masyarakat sekitar. (fdhl)

Bupati Klaten Hamenang Wajar IsmoyoDekan FEB UNY Dr. Sutirman di Gedung DPRD Kabupaten Klaten

Tim Mahasiswa UNY Raih Silver Medal pada International Essay Competition ISS 2026 di Malaysia

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menorehkan prestasi membanggakan di tingkat internasional. Tim kolaborasi yang terdiri dari dua mahasiswa FEB serta satu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNY berhasil meraih Silver Medal dalam ajang International Essay Competition pada kegiatan 2nd International Student Summit (ISS) 2026. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada 14–15 Februari 2026 di Universitas Sains Islam Malaysia.

Kompetisi Essay Internasional ini merupakan bagian dari rangkaian acara yang digelar oleh Sentosa Foundation bekerja sama dengan International Student Association (INSAN), Universitas Sains Islam Malaysia, serta World Association of Young Scientists (WAYS). Kegiatan ini mempertemukan pelajar dan mahasiswa dari berbagai negara untuk mempresentasikan gagasan inovatif dalam menjawab isu-isu global.

Tim yang terdiri dari Nurul An Nisa dan Syaza Dyah Kartikarini dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNY, bersama satu anggota dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNY Muhammad Tohir Badrudin, berhasil mengharumkan nama institusi dengan meraih Silver Medal pada kategori lingkungan. Prestasi tersebut diraih melalui karya inovatif berjudul EcoCycle: Environmentally Friendly Bioplastic Packaging Made from Orange and Banana Peel Waste with QR Code-Based Digital Ecosystem Features.

Inovasi EcoCycle dilatarbelakangi oleh permasalahan sampah yang sulit terurai serta masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, khususnya di Yogyakarta. Gagasan ini menawarkan solusi berupa kemasan ramah lingkungan berbasis limbah kulit buah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Secara teknis, inovasi ini memanfaatkan pati dari kulit pisang sebagai bahan dasar bioplastik serta pektin dari kulit jeruk sebagai penguat struktur alami kemasan, sehingga menghasilkan produk yang lebih mudah terurai dan ramah lingkungan.

Pendekatan yang diusung dalam inovasi ini bersifat multidisipliner. Dari sisi manajemen bisnis, EcoCycle dirancang tidak hanya sebagai produk ramah lingkungan, tetapi juga memiliki potensi komersialisasi melalui model bisnis berkelanjutan berbasis ekonomi sirkular. Dari perspektif pendidikan ekonomi, inovasi ini turut mendorong peningkatan literasi masyarakat terkait pemanfaatan limbah, efisiensi sumber daya, serta pentingnya perilaku konsumsi yang bertanggung jawab. Sementara itu, dari bidang ilmu komunikasi, integrasi teknologi QR Code dimanfaatkan sebagai media edukasi interaktif yang menyampaikan informasi mengenai pengelolaan sampah, dampak lingkungan, serta ajakan untuk berpartisipasi dalam aksi peduli lingkungan.

Melalui sinergi ketiga bidang tersebut, EcoCycle tidak hanya menawarkan solusi teknis terhadap permasalahan lingkungan, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan.

Capaian Silver Medal ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional melalui karya tulis ilmiah yang kreatif, solutif, dan berkelanjutan dalam menjawab tantangan lingkungan global. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berinovasi serta berkontribusi nyata bagi masyarakat dan kelestarian lingkungan. (syz)

UNY Students Introduce Eco-Enzyme Making to Empower Women in Waste Management

Ten students from Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) participating in the Independent Community Service Program (KKN Mandiri) at Blawong 1, Trimulyo, Jetis, Bantul, organized a workshop on eco-enzyme production with local PKK women. The initiative aimed to address the pressing issue of organic waste management in the area.

The KKN team, led by Eko Putro Tri Hartanto, an undergraduate student from Accounting Education, Faculty of Economics and Business (FEB UNY), consisted of Muhammad Ali Ghufron, Thoriq Ahmad Zaidan, Angger Rangga, Syalaisha Alifia, Chela Junita, Isma Salsabila, Friska Aulia, Raissa Dian, and Fikri Zahra. The event took place in the courtyard of the Blawong 1 hamlet head’s residence, attended by around 60 members of the PKK women’s group, and officially opened by Ms. Dwi Rahayu, the Head of Blawong 1 Hamlet.

In her opening remarks, Ms. Dwi Rahayu expressed appreciation for the students’ initiative, stating that the program helped raise community awareness about turning household waste into something useful. “We’re grateful for this activity—it provides real solutions for our waste problems and motivates residents to take part in environmental preservation,” she said.

The workshop featured Ms. Tsalis Siswanti, Chair of the Eco-Enzyme Community of Bantul and a member of Eco-Enzyme Nusantara, who provided a detailed explanation about the concept, benefits, ingredients, and fermentation process of eco-enzymes. She guided participants through the dos and don’ts of the process, answering practical questions such as how to proceed when only limited organic materials are available. “If you only have three types of fruit or vegetable peels, that’s fine—just don’t seal the container tightly until it meets the proper mixture. You can leave it open for up to one week,” she advised.

According to Eko Putro Tri Hartanto, the KKN group initially planned to create biopores, but limited open land and concrete-covered yards made it impractical. “We observed that organic waste is a major problem here, but most homes lack soil areas for biopores. That’s why we decided to introduce eco-enzymes as an alternative solution,” he explained. The participants, divided into six groups, enthusiastically followed the practical session, guided directly by Ms. Tsalis. Many captured photos and videos to document the activity and share them on social media.

This collaboration between UNY students and the Blawong 1 community supports the local government’s “Bantul Waste-Free 2025” program, fostering environmental awareness through small yet impactful actions. The activity also contributes to several Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), and SDG 17 (Partnerships for the Goals) by promoting responsible waste management, sustainable community engagement, and cross-sector collaboration for environmental sustainability.

-Syalaisha Alifia Jauhari

Mahasiswa KKN Mandiri UNY Ajak Ibu-Ibu PKK Blawong 1 Olah Sampah Organik Jadi Eco-Enzyme

Sebanyak sepuluh mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tergabung dalam Kelompok KKN Mandiri Blawong 1, Trimulyo, Jetis, Bantul, menggelar kegiatan praktik pembuatan eco-enzyme bersama ibu-ibu PKK Dukuh Blawong 1. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap permasalahan sampah organik yang menjadi isu utama di wilayah tersebut.

Kelompok KKN yang diketuai oleh Eko Putro Tri Hartanto, mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Akuntansi FEB UNY, beranggotakan Muhammad Ali Ghufron, Thoriq Ahmad Zaidan, Angger Rangga, Syalaisha Alifia, Chela Junita, Isma Salsabila, Friska Aulia, Raissa Dian, dan Fikri Zahra. Kegiatan berlangsung di halaman rumah Bapak Dukuh Blawong 1, dihadiri oleh sekitar 60 anggota PKK dan dibuka dengan sambutan hangat dari Ibu Dukuh Blawong 1, Dwi Rahayu.

Dalam sambutannya, Dwi Rahayu menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa KKN UNY atas inisiatif dan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar. “Kami menyambut baik kegiatan ini karena membantu warga memahami cara sederhana mengolah sampah rumah tangga menjadi sesuatu yang bermanfaat. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya.

Kegiatan menghadirkan narasumber Tsalis Siswanti, Ketua Eco-Enzyme Kabupaten Bantul sekaligus anggota Komunitas Eco-Enzyme Nusantara. Ia memberikan penyuluhan dan praktik langsung kepada peserta mengenai pengertian eco-enzyme, manfaat, bahan-bahan dan takarannya, jenis kulit buah dan sayur yang dapat digunakan, serta hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses fermentasi. Suasana berlangsung interaktif, salah satu peserta bahkan menanyakan tentang jumlah jenis kulit buah minimal yang dapat digunakan. Tsalis menjelaskan bahwa jika hanya tersedia tiga jenis kulit buah, proses fermentasi tetap bisa dimulai, namun wadah sebaiknya tidak langsung ditutup rapat dan baru bisa ditutup setelah memenuhi kriteria bahan yang ideal, maksimal dalam waktu satu pekan.

Menurut Eko Putro Tri Hartanto, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi kelompok KKN yang menemukan bahwa sampah organik menjadi permasalahan utama di Dukuh Blawong 1. “Awalnya kami berencana membuat biopori, tetapi karena sebagian besar rumah warga tidak memiliki lahan tanah dan sudah disemen, maka kami mencari solusi lain yang lebih sesuai, yaitu pembuatan eco-enzyme,” jelasnya. Dalam praktik pembuatan eco-enzyme, peserta dibagi menjadi enam kelompok dan dibimbing langsung oleh Tsalis Siswanti. Ibu-ibu terlihat antusias, beberapa bahkan mendokumentasikan proses tersebut untuk dibagikan di media sosial.

Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik dan mendorong gerakan masyarakat untuk turut serta dalam mewujudkan program “Bantul Bebas Sampah 2025.” Kolaborasi antara mahasiswa KKN UNY dan masyarakat Blawong 1 menunjukkan bahwa perubahan besar berawal dari langkah kecil yang dilakukan bersama.

Program pembuatan eco-enzyme ini juga berkontribusi terhadap pencapaian beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dengan membangun komunitas yang peduli lingkungan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui praktik pengelolaan sampah berkelanjutan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan komunitas lingkungan dalam menciptakan solusi lokal terhadap permasalahan global.

-Syalaisha Alifia Jauhari

Pages