Nurmi Susanti Anak Seorang Petani Gunungkidul Raih IPK 3,84 di FE UNY

Inilah perjuangan hidup seorang anak petani dari Petir Rongkop Gunungkidul yang bernama Nurmi Susanti Mahasiswa Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (FE UNY) berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,84 dengan masa studi 3,6 tahun. Walaupun dari kalangan keluarga ekonomi menengah ke bawah semangat belajar Nurmi tak pernah surut bahkan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD)-Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Nurmi selalu mendapatkan juara umum di sekolahannya sehingga dia mendapatkan beasiswa pendidikan gratis selama 3 tahun di SMK Muhammadiyah 1 Wonosari. Setelah lulus SMK Nurmi masuk mendaftar sebagai mahasiswa di UNY masuk melalui jalur Penerimaan Bibit Unggul (PBU), demikian disampaikan Nurmi pada reporter Humas FE UNY Selasa (4/3). Sebelumnya ia telah mengikuti upacara yudisium pada Jumat (1/3) di Auditorium FE UNY yang diikuti sebanyak 29 peserta yudisium. Acara dihadiri Dekan, Wakil Dekan I, II, III, Ketua Senat, Kajur/Kaprodi dan Kabag/Kasubag FE UNY.

Semangat Nurmi anak pasangan Niyarto-Rupinah tak pernah surut. Justru kondisi ekonomi yang serba kurang tersebut menjadi cambuk buatnya untuk semakin rajin belajar. Alhasil, selama kuliah di FE UNY Nurmi selalu mendapatkan beasiswa sehingga bisa digunakan untuk membayar SPP dan membeli buku. "Selama mengikuti perkuliahan, saya selalu memperhatikan benar apa yang disampaikan oleh dosen sehingga saya akan langsung paham dan mengerti materi yang disampaikan tidak perlu mengulang belajar lagi di rumah," ujarnya.

Lanjut Nurmi, "selain aktif di perkuliahan, saya juga aktif berorganisasi di Koperasi Mahasiswa (Kopma) UNY. Sejak tahun 2012 saya menjabat sebagai Kepala Bidang Keuangan Kopma UNY. Dengan aktif berorganisasi, banyak sekali pengalaman yang diperoleh. Tentunya dalam bidang belajar membuka usaha, menjalin hubungan dengan berbagai relasi kerja, tanggung jawab mengenai laporan keuangan, manajemen, kepemimpinan, bekerja dalam satu tim bahkan saya memperoleh trik-trik dalam melobby dengan instansi/lembaga lain."

Setelah dinyatakan lulus, Nurmi mencoba untuk mendaftarkan diri sebagai Staf di Bank BPD DIY, dengan harapan bisa diterima sehingga bisa membantu orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan hidup dan bisa membantu membiayai adiknya yang masih duduk di bangku SMP. "Sebenarnya ada niat untuk lanjut studi S2 namun karena terbentur biaya niat tersebut diurungkan dahulu tetapi tetap akan berusaha untuk mencari beasiswa," ucap gadis kelahiran 27 November 1990 ini. (Isti)

Delapan Penyakit Hati dalam Diri Manusia

“Banyak dari kita yang mengerti seberapa besar kekuatan Al Qur’an yang Allah turunkan umat muslim yang ada di muka bumi ini. Bahkan nama Al Qur’an yang kita kenal sebagai Asy Syifa (penyembuh) seringkali belum kita percaya akan kemujarabannya. Sudah kuatkah kita dalam mengimani Al Qur’an, sehingga mampu menjadikannya sebagai obat paling ampuh dalam menyembuhkan penyakit-penyakit yang ada? Namun jangan disalahartikan apa yang saya sampaikan barusan. Bukan berarti kita membenarkan tindakan yang dilakukan oleh beberapa kalangan, manakala menaruh botol berisikan air bening di depan orang-orang yang tengah membaca lantunan ayat suci Al Qur’an dan menganggap itu bakal menjadi satu-satunya obat yang mujarab dan juga penuh khasiat. Karena hal itu bukan saja akan menyeret kita dalam perilaku syirik, namun juga pembodohan umat dengan mencampuradukkan sunnah dengan cara-cara kefasikan,” demikian urai Prof. Drs. H. Dochak Latief, Sabtu, 2 Maret 2013 dalam Pengajian Dosen dan Karyawan FE UNY di Ruang Ramah Tamah Fakultas Ekonomi UNY. Pengajian ini diikuti seluruh dosen dan karyawan di Fakultas Ekonomi dan diiringi dengan penyerahan Bantuan Uang Pendidikan untuk Anak Yatim/Piatu/Fakir/Miskin dari Zakat Infaq Shodaqoh Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta sejumlah 13 orang.

“Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan yang dilalui oleh setiap orang pasti memiliki saat ia bersemangat dalam memenuhi kewajiban atas keimanan yang diikrarkannya, namun ada pula saat di mana ia akan menemui penyakit hati yang menggerogoti keimanannya sebagai seorang muslim. Karena memang sudah tabi’at keimanan menemui masa ketangguhan saat ia sedang menguat, namun tak jarang pula mengalami penurunan manakala ia melemah karena maksiat yang dilakukan baik dengan sengaja maupun tidak. Mungkin kita pun menyadari bahwa banyak sekali potensi penyakit yang akan dialami manusia, yang barangkali tak terdiagnosis bahkan oleh pengetahuan medis sekali pun,” jelasnya.

Sedikitnya ada 8 potensi penyakit yang seringkali diidap oleh manusia, barangkali juga termasuk kita. Yang pertama dan kedua adalah penyakit lemah semangat dan malas. Dan barangkali itulah yang selama ini menjangkiti kita, bahkan untuk sekedar mengawali rutinitas keseharian termasuk juga mungkin ketika kita diminta untuk datang ke pengajian ini. Yang berikutnya adalah keresahan hati serta rasa gelisah yang memunculkan ketergesa-gesaan. Bisa jadi ini diakibatkan oleh banyak hal, salah satunya ketidaksiapan kita saat menghadapi masalah yang ada. Dada ini sesak dengan ketakutan dan ketidak-tenangan karena tidak mampu menyerahkan semuanya dalam ketawakkalan kepada Allah.

Penyakit selanjutnya adalah sifat bakhil dan pengecut. Seringkali kita tak mengerti bahwa ada hak orang lain dari harta yang kita miliki, dan kebakhilan menutupi mata hati kita pada kepedulian terhadap lingkungan di mana kita berada. Dan betapa menyulitkannya saat kita bekerja sama dengan orang yang memiliki jiwa pengecut, tak ada manfaat darinya. Sedangkan dua penyakit berikutnya adalah kegemaran berhutang dan hidup di bawah bayangan orang lain. Betapa merepotkannya orang-orang semacam ini jika ada di dekat kita. Lagipula, bukankah akan lebih terhormat jika kita yang menjadi tempat berhutang dan pengayom bagi yang lain?

Untuk menjaga kita dari serangan penyakit-penyakit di atas, Prof. Dr. Dochak Latief menuturkan ada tiga benteng yang dapat digunakan oleh setiap muslim. “Pertama, yaitu dengan merutinkan qiro’atul qur’an (membaca Al Qur’an). Kedua, memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah). Ketiga, senantiasa menumbuhkan kecintaan akan masjid sehingga kita dapat benar-benar menemukan ketenangan saat berada di dalamnya. Lagi-lagi itu hanya bisa bermanfaat jika dibungkus keimanan dan kebersihan hati dalam diri seorang muslim.”

Materi ceramah siang itu diakhiri dengan penjabaran tentang sifat-sifat dari hukum Islam. Yang pertama adalah aktif, karena adanya hukum Islam bukan sekedar untuk dipelajari namun juga untuk diamalkan secara aplikatif dalam hidup seorang muslim. Sifat selanjutnya adalah kreatif, meskipun ia sudah ditetapkan dalam satu garis yang lurus namun adakalanya perlu dilakukan telaah ulang dan penyesuaian agar dapat melingkupi seluruh aspek yang ada dalam keseharian seorang muslim. Dan tentu saja tetap ada koridor yang mengatur agar ia tak “terkreasikan” dengan berlebihan dan justru mengarah pada hal-hal yang dilarang oleh agama.

Sifat ketiga adalah asimilasi. Hampir mirip dengan poin sebelumnya, sifat ini juga mempersilakan kita untuk mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan yang dianggap lumrah, selama hal tersebut tidak melanggar syariat yang telah ditetapkan. Dan sifat yang terakhir adalah toleransi, yang artinya tetap harus dijaga rasa saling pengertian terhadap pilihan sikap yang diambil masing-masing individu selama memang itu masih memiliki hujjah yang jelas dan tidak keluar dari kaidah-kaidah yang diajarkan Rasulullah Muhammad saw. Wallahu a’lam bish shawaab... (Lukman)

Pusat Kajian Ekonomi Terpadu UNY Adakan Kajian Redenominasi Rupiah

Demi menapaki sebuah tatanan ekonomi yang mampu bersaing secara global, nampaknya kebijakan demi kebijakan untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri dan maju tetap gencar direalisasikan. Berangkat dari hasil riset World Bank yang menyebutkan bahwa Indonesia termasuk negara pemilik pecahan mata uang terbesar kedua di dunia setelah Vietnam, kebijakan baru berupa redenominasi mata uang rupiah saat ini sedang maraknya disosialisasikan. Bentuk redenominasi rupiah yang tengah digagas BI adalah menghilangkan tiga angka nol terakhir. Jadi, pecahan Rp 1.000, akan menjadi Rp 1. Namun, sikap pro-kontra tetap saja tak bisa dihindari. Mulai dari persoalan sejauh mana pentingnya menyederhanakan nilai rupiah, biaya sosialisasi, kesiapan masyarakat menerima kebijakan tersebut, hingga pada kekhawatiran masyarakat yang beranggapan bahwa redenominasi akan berujung kepada sanering.

Menanggapi diskursus redenominasi, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (BEM FE UNY) terdorong untuk memfasilitasi sebuah forum intelektual di mana mahasiswa tetap memiliki peran aktif terhadap permasalahan ekonomi di Indonesia. “Justru ini menjadi bukti bahwa permulaan yang terlahir dari diri kita bisa mereduksi kultur apatisme dan menggugah kawan-kawan mahasiswa agar lebih kritis terhadap permasalahan yang ada di Indonesia,” ujar Kadept SosPol BEM FE UNY, Agus Purnomo, Jumat (1/3).

Melalui program Pusat Kajian Ekonomi Terpadu (PUKET) yang digawangi Departemen SosPol BEM FE UNY, kajian “Redenominasi dan Pengaruhnya terhadap Perekonomian Indonesia” berhasil memancing sekitar 120 mahasiswa untuk hadir di Ruang Ramah Tamah FE UNY dan secara langsung diisi oleh Causa Iman Karana (Deputi BI Yogyakarta), Prof. Dr. Moerdiyanto , M.Pd., M.M. (Guru Besar FE UNY), dan Bambang Suprayitno (Dosen Pend. Ekonomi FE UNY), Kamis (28/2).

Dalam hal ini, Causa menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir dengan kebijakan ini, karena redenominasi tidak sama dengan sanering. Redenominasi hanya mengalami perubahan pada angka nol dari rupiah sedangkan nilai dan harga masih tetap sama. Sosialisasi (Redenominasi) akan terus dilakukan, dari rencana awal pada tahun 2014 sampai Tahun 2022. (Handoko Tri Saputra)

Training of Trainer (TOT) Perpajakan Kerjasama antara Tax Education Center UNY dan Kanwil DJP Yogyakarta

Kamis siang (28/1) itu, berlangsung Training of Trainer (TOT) tentang Perpajakan hasil kerjasama antara Tax Education Center Universitas Negeri Yogyakarta dan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Yogyakarta yang bertempat di Ruang Auditorium Fakultas Ekonomi UNY. Para peserta calon trainer adalah mahasiswa-mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi dan Kelas Internasional angkatan 2010. Sebagai pemateri utama, adalah Rindang Tri Anggoro, Kasi Penyuluh pada Kanwil DJP Yogyakarta. Training of Trainer ini dimaksudkan sebagai bekal awal mahasiswa Pendidikan Akuntansi untuk menyusun program kerja menjelang KKN-PPL . “Dengan adanya TOT ini, diharapkan mahasiswa bisa lebih mendalami materi perpajakan yang selama ini mereka cerna dari perkuliahan serta bisa membuat program tentang perpajakan yang lebih bersahabat dengan publik di saat KKN-PPL,” demikian papar Dekan FE, Dr. Sugiharsono, M.Si. dalam sambutannya.

Dr. Sugiharsono, M.Si. juga menjelaskan, dengan pentingnya posisi pajak dalam biaya penyelenggaraan negara, maka diperlukan petugas-petugas pajak yang berkualitas. BUMN sudah tidak lagi bisa diandalkan sebagai pos pendapatan negara sehingga Dirjen Pajak mempunyai tugas yang makin berat untuk tetap menjamin ketersediaan anggaran negara.

Dalam penjelasannya, Rindang Tri Anggoro mengatakan bahwa pajak sudah mendapat stigma yang negatif di masyarakat; mereka tidak suka ditarik pajak. “Oleh karena itu, para petugas pajak, dan juga mahasiswa yang kelak menjadi “penyuluh” di masyarakat harus bisa menjelaskan pajak dengan konsep yang mudah dipahami masyarakat,” jelasnya. Hal ini bisa dengan memberikan contoh pemanfaatan fasilitas umum yang dinikmati semua pihak, baik yang membayar pajak dalam jumlah banyak, yang membayar sedikit, bahkan yang tidak membayar pajak sekalipun.

Demikian juga penggunaan kereta api, pembangunan rel, jalan raya, pembiayaan gaji tentara, polisi, PNS, dsb. Negara membutuhkan banyak anggaran untuk mempertahankan kelangsungan negara. Jika dahulu negara ini dipertahankan dengan harta dan darah para pejuang, maka sekarang caranya lebih mudah, yaitu dengan membayar pajak. Kalau bukan warga negara Indonesia, siapa lagi yang mempertahankan kelangsungan hidup negara? Konsep-konsep dan pemahaman yang mudah seperti inilah yang hendaknya disampaikan kepada para wajib pajak secara interaktif dan menarik.

Kantor Dirjen Pajak siap membantu para mahasiswa dalam menjalankan program pengenalan pajak kepada masyarakat. Rindang Tri Anggoro menambahkan, adapun oknum Dirjen Pajak yang diberitakan memakan uang pajak, maka sesungguhnya yang dimakan hanya dari pengusaha, sedangkan uang rakyat yang disalurkan melalui kantor pos dan bank-bank yang ditunjuk sudah pasti aman dan diberdayakan secara tepat. Sedangkan terhadap pembangunan daerah yang tidak merata, Rindang dengan lugas menjawab bahwa pajak memang masih belum cukup untuk menutup semua biaya pembangunan di daerah-daerah. “Gaji petugas pajak memang tinggi, tapi itu juga sebanding dengan mobilitas mereka ke berbagai pelosok daerah di Indonesia yang penuh risiko.” (fadhli)

Kunjungan SMA N 1 Nagrak Sukabumi ke FE UNY

Selasa siang itu (26/2) rombongan sejumlah 89 siswa dari SMA N 1 Nagrak Sukabumi beserta 3 guru dan 2 karyawan berkunjung ke Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Rombongan siswa kelas XI jurusan IPS yang dipimpin oleh M. Ruslan Munawan, S.Pd., M.M. diterima oleh Wakil Dekan I FE UNY, Prof. Dr. Moerdiyanto, M.Pd. di ruang Auditorium. Kunjungan ini diselenggarakan agar para siswa mendapat gambaran jelas tentang UNY, terkhusus Fakultas Ekonomi, sehingga mereka mendapatkan motivasi untuk memasukinya pada saatnya nanti. SMA N 1 Nagrak adalah SMA yang terletak di dekat daerah Cibadak, di Kabupaten Sukabumi, dan berdiri pada tahun 2003 sehingga berusia masih relatif muda. Namun demikian, SMA ini sudah bisa berprestasi melalui salah satu siswanya yang menjadi anggota Tim Nasional Sepakbola U-17 dan menjuarai ajang Hong Kong International Youth Football Invitation Tournament 2012 tahun lalu.

Dalam sambutan selamat datangnya, Prof. Dr. Moerdiyanto, M.Pd. yang juga bertindak mewakili Dekan mengucapkan selamat datang kepada para rombongan. Dijelaskannya di awal pertemuan ini sekilas tentang Yogyakarta dan Perguruan Tinggi di dalamnya. “Yogyakarta memiliki 3 Perguruan Tinggi Negeri yang cukup besar, yaitu Universitas Gajah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan jumlah total mahasiswa di ketiga universitas tersebut sekitar 93.000 orang,” jelasnya.

M. Ruslan Munawan, S.Pd., M.M. dalam sambutannya turut menyampaikan salam yang dititipkan Kepala Sekolah SMA N 1 Nagrak kepada seluruh civitas akademika FE UNY dan menyatakan rasa terima kasihnya karena segenap rombongan telah disambut dengan hangat dan terbuka oleh pihak Fakultas Ekonomi UNY. Ruslan berharap agar para siswanya benar-benar memanfaatkan momen silaturrahmi ini untuk mencari info sebanyak-banyaknya tentang UNY. Pada kunjungan kali ini, SMA N 1 Nagrak mengantarkan 62 siswa kelas IX jurusan IPA ke Fakultas MIPA UNY dan 89 siswa jurusan IPS ke Fakultas Ekonomi UNY.

Prof. Dr. Moerdiyanto memaparkan secara ringkas tentang Fakultas Ekonomi UNY. “Di FE UNY,” ujarnya, “ada 4 jurusan dengan 8 program studi. Keempat jurusan itu adalah jurusan Pendidikan Ekonomi, yang membawahi program studi Pendidikan Ekonomi S1 (S.Pd.); jurusan Pendidikan Akuntansi, yang membawahi program studi Pendidikan Akuntansi S1 (S.Pd.), Akuntansi (S.E.), dan Akuntansi D3 (A.Md.); jurusan Pendidikan Administrasi yang membawahi program studi Pend. Adm. Perkantoran (S.Pd.) dan Sekretari D3 (A.Md.); dan jurusan Manajemen yang membawahi program studi Manajemen (S.E.) dan Manajemen Pemasaran D3 (A.Md.)”.

“Di UNY ini, tidak hanya mahasiswa dari kalangan keluarga yang mampu yang bisa berkuliah, tetapi juga mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu tetap bisa berkuliah dengan berbagai beasiswa yang ditawarkan oleh berbagai pihak. Selain itu, jalur masuk Bidik Misi juga memungkinkan seorang mahasiswa yang berprestasi di sekolah tetapi tidak mampu secara ekonomi untuk berkuliah secara gratis hingga masa akhir studinya. Kelas internasional juga dibuka bagi yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris cukup baik dengan SPP yang tidak berbeda dari mahasiswa lainnya,” demikian jelasnya. (fadhli)

Pelepasan Lulusan FE UNY Februari 2013: Jadilah Pemain di Masa Depan!

Pelepasan Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta periode wisuda 23 Februari 2013 yang bertempat di Ruang Auditorium FE UNY berjalan lancar. Seusai maghrib, para orang tua/wali beserta calon wisudawan/wati FE UNY mulai berdatangan. Meski sempat diguyur hujan, Ruang Auditorium tetap dipenuhi sebanyak 142 lulusan beserta orang tua/wali. Selain pihak keluarga dan para lulusan, Pelepasan Lulusan FE UNY periode Februari 2013 tersebut juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Ekonomi, Dr. Sugiharsono, M.Si., Wakil Dekan I Prof. Dr. Moerdiyanto, MM., Wakil Dekan II Moh. Djazari, M.Pd., Wakil Dekan III Siswanto, M.Pd., Ketua Senat Dr. Nahiyyah Jaidi Farraz, M.Pd, dan seluruh jajaran Kajur di Fakultas Ekonomi.

Dalam sambutannya selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Siswanto, M.Pd. melaporkan bahwa lulusan cum laude berjumlah 8,5 % dari 142 lulusan FE UNY periode Februari 2013. Predikat mahasiswa peraih IPK Tertinggi dan dengan Masa Studi Tercepat untuk kategori Sarjana diperoleh Fitri Umiatun, S.Pd. dengan IPK 3,76 yang ditempuh selama 3 tahun 6 bulan. Sedangkan Yoga Karniaji Saleh Aziz, A.Md. dengan IPK 3,46 menjadi peraih IPK tertinggi kategori Diploma. Di akhir laporannya, Siswanto, M.Pd. berpesan agar para lulusan menjaga nama baik almamater. “Kami tunggu kehadiran Anda kembali di sini, untuk berbagi informasi, berbagi pengetahuan agar adik-adik Anda dan fakultas Anda ini lebih baik di masa mendatang,” pungkasnya.

Dekan FE, Dr. Sugiharsono, M.Si., menyampaikan ucapan selamatnya kepada para lulusan, serta mengingatkan mereka untuk berterima kasih kepada para pengelola dan dosen, serta orang tua. “Dengan ini, kami melepas dan mengembalikan para mahasiswa kepada orang tua masing-masing,” demikian tutupnya.

Setelah diselingi pertunjukan seni tari Bambangan Cakil oleh mahasiswa FBS, Fitri Umiatun, S.Pd. memberikan beberapa patah katanya mewakili pihak mahasiswa. “Hari ini bukanlah akhir dari mimpi dan perjuangan kita, tetapi justru awal dari segala mimpi-mimpi dan perjuangan kita. Apapun pekerjaan/profesi kita, berikanlah kontribusi terbaik kita. Kitalah yang harus menjadi pemain di masa depan, bukan sekedar penonton di masa depan.

Malam itu juga dilangsungkan penyerahan secara simbolis mahasiswa kepada pihak orang tua dengan pelepasan jaket almamater dan penyerahan kartu alumni UNY, serta penyerahan piagam penghargaan kepada tiga Mahasiswa Berprestasi FE UNY tahun 2012. (fadhli)

Kunjungan BEM FE Unswagati Cirebon Ke FE UNY

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (BEM FE UNY) pada Rabu, (20/2) mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan rekan-rekan dari BEM FE Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI), Cirebon. Sekitar pukul 10.00 bertempat di ruang ramah tamah, Gedung Dekanat FE UNY. Selama pertemuan berlangsung, banyak hal yang diperbincangkan dalam pertemuan bersama universitas yang sedang bersiap diri untuk menjadi universitas negeri ini. Rekan-rekan UNSWAGATI terlihat sangat terkesan dengan sambutan rekan-rekan dari BEM FE UNY. Mulai dari agenda kegiatan hingga pendanaan di-share-kan dalam kunjungan kemarin. Sebagai upaya untuk mengoptimalkan perbincangan, maka rombongan dibagi dalam beberapa kelompok. Pembagian kelompok menyesuaikan dengan departemen dari masing-masing BEM.

Hasil dari kunjungan kemarin dirasa sangat penting bagi BEM FE UNY maupun BEM FE UNSWAGATI. BEM FE UNY sebagai BEM FE yang masing sangat muda merasa mendapat suatu kehormatan dapat menerima kawan-kawan dari UNSWAGATI. Banyak hal yang dapat dipelajari dari mereka. Mengingat mahasiswa di sana sangat aktif untuk dapat mengadakan suatu agenda mengingat pendanan yang tersentralisasi pada rektorat. Sementara BEM FE UNSWAGATI dalam masa-masa menjelang peralihan menjadi universitas negeri, mengakui banyak hal yang dapat dipelajari dari BEM FE UNY pada khususnya dan Fakultas Ekonomi UNY pada umumnya mengenai berbagai agenda kegiatan.

BEM FE UNY terus berbenah dalam memberikan pelayanan terbaik bagi rekan-rekan mahasiswa, tidak hanya dari fakultas sendiri tapi juga bagi rekan-rekan mahasiswa lain yang mengadakan kunjungan ke FE UNY. Oleh karena itu, pertemuan kemarin menginspirasi BEM FE UNY untuk membuat suatu standardisasi penerimaan kunjungan kerja dari BEM universitas lain. Hal ini mengingat besarnya manfaat yang dapat diambil dari suatu agenda kunjungan kerja bagi pembelajaran dan optimalisasi kinerja BEM FE UNY. (Nopendi)

Pelatihan Job Hunting FE UNY Periode I Tahun 2013: Kenali Diri Sendiri, Sukses di Tangan Kita

Menjadi pribadi yang percaya diri, mengetahui secara optimal kemampuan diri sendiri, dan orang lain pun mengetahui kemampuan dirinya, adalah syarat-syarat kesuksesan. Sebaliknya, orang yang mengetahui kemampuan diri sendiri tetapi kemampuan tersebut tidak mampu diketahui orang lain, seperti orang yang tidak mampu bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan orang yang tidak mengenal kemampuan dirinya sendiri dan justru orang lain yang lebih mengetahui, maka dia merugi. Sementara itu, orang yang tidak memahami kemampuan dirinya sendiri, begitu pun orang lain tidak mengetahui kemampuannya, jelas bukan tipe manusia yang diinginkan semua orang. Petuah ini disampaikan kepada calon wisudawan Periode 23 Februari 2013 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (FE UNY) oleh Adhik Iwan Sulistiyanto, MM., dalam acara Pelatihan Pengembangan Diri dan Kiat Menembus Dunia Kerja di Ruang Auditorium FE UNY Kamis (21/2) sore.

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 mahasiswa calon wisudawan FE UNY Periode I tahun 2013, Wakil Dekan III FE UNY Siswanto, M.Pd., Ketua Panitia Lina Nur Hidayati, MM., serta bertindak selaku narasumber adalah seorang motivator nasional Adhik Iwan Sulistiyanto, MM. dan praktisi Heri Santoso, S.Psi. Dalam laporan kegiatannya, Lina menjelaskan bahwa pelatihan ini bersifat rutin dan dilaksanakan secara khusus bagi calon wisudawan/wati FE UNY sebagai pembekalan sebelum mereka benar-benar lepas dari dunia kampus, sehingga waktu pelaksanaannya pun mendekati hari wisuda. Pelatihan ini dimaksudkan agar para calon wisudawan/wati mendapatkan pengetahuan dan kiat-kiat khusus untuk sukses di dunia kerja, ataupun juga semangat bagi mereka yang berniat membuka lapangan kerja.

Dalam sambutannya, Siswanto, M.Pd. menjelaskan bahwa FE UNY sudah menyiapkan mahasiswa dengan berbagai program sejak awal masa studi mereka hingga akhir agar semua mahasiswa yang lulus bisa berkompetisi dengan lulusan dari universitas lain, dengan kata lain, ketika mahasiswa benar-benar "keluar" dari kampus, mereka telah siap menghadapi dunia kerja. Sebelum membuka acara siang itu, Siswanto juga berpesan untuk tidak terlarut dalam euforia kelulusan setelah diwisuda. Kehidupan nyata sudah menanti dengan kondisi, individu, dan permasalahan yang jauh berbeda dari yang mahasiswa temui di keseharian kampus. Untuk itulah, diperlukan juga softskill, bukan hardskill, dalam menghadapi berbagai problem kehidupan dan pekerjaan.

Pada sesi pertama, Adhik Iwan menjelaskan materi-materi pengembangan diri secara interaktif dan bersemangat. Dengan penampilan yang energik dan ditingkahi humor, Adhik menggenjot semangat calon wisudawan yang siang itu terlihat begitu antusias. Para mahasiswa yang akan diwisuda Sabtu (23/2) tersebut tidak canggung dan tampak larut untuk mengikuti setiap arahan dan ajakan pemateri sehingga waktu terasa berlalu begitu cepat. Di akhir sesi pertama, Adhik juga menjelaskan trik-trik menulis CV, surat lamaran, serta bagaimana agar sukses menghadapi wawancara kerja.

Pada sesi kedua, Heri Santoso membawakan dan mengenalkan simulasi psikotes secara runtut dan detail. Mahasiswa diajak mengalami dan merasakan langsung bagaimana soal-soal psikotes yang mungkin saja akan mereka temui ketika hendak melamar pekerjaan. Dengan lugas dan jelas, Heri Santoso memberikan contoh soal beserta penjelasan dan jawabannya kepada para mahasiswa. Walau materi kali ini lebih serius, tetapi Heri Santoso mampu mengenalkan dan memahamkan materi psikotes dengan penyampaian dan gaya yang akrab. Berkali-kali para mahasiswa tampak riuh ketika setiap soal yang mereka hadapi ternyata begitu menarik dijelaskan oleh Heri Santoso. Tepuk tangan meriah mengakhiri acara yang penuh semangat dan berakhir pukul 3.30 sore itu. (fadhli)

FE UNY Kerjasama dengan Universiti Kebangsaan Malaysia Siapkan Publikasi Jurnal Internasional

Sebagai realisasi kesepakatan bersama antara Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) khususnya Fakulti Ekonomi dan Pengurusan dengan Universitas Negeri Yogyakarta khususnya Fakultas Ekonomi untuk bersama-sama mengembangkan kerjasama dalam berbagai hal di antaranya aktivitas penelitian bersama, pertukaran informasi, pertukaran Sumber Daya Manusia (SDM) dan pertukaran pelayanan masyarakat. Untuk itu sebagai langkah awal dari kesepakatan kerjasama tersebut FE UNY mengadakan Workshop Publikasi Jurnal International pada Rabu (20/2) dengan menghadirkan pembicara Dosen dari Universiti Kebangsaan Malaysia Rika Fatimah, Ph.D dan Losina Purnastuti, Ph.D Dosen FE UNY.  Hal ini merupakan salah satu upaya FE UNY untuk mendukung UNY menjadi World Class University (WCU). Acara dibuka oleh Dekan FE UNY Dr. Sugiharsono, M.Si. dan diikuti sebanyak 40 Dosen FE UNY.

Dalam presentasinya Rika menjelaskan bagaimana cara atau kiat untuk menembus jurnal internasional. Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dikenal sebagai university research, di mana dosen diberikan beban penelitian sebanyak 60%, mengajar 20%, pelayanan kepada mahasiswa 10%  dan sisanya pengabdian pada masyarakat. Sehingga beban dosen untuk melakukan penelitian sangat tinggi. Hal tersebut diberlakukan bagi university research agar tidak dicabut haknya. Sebelum sampai ke jurnal internasional Rika memberikan beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu pertama, melakukan riset dan memiliki technical report. Langkah kedua, dari technical report paling tidak sudah bisa mendapatkan modal untuk satu publikasi dalam working paper. Bisa dalam workshop, seminar atau conference paper. Langkah ketiga, dari working paper yang sudah dipublikasikan bisa ditingkatkan menjadi chapter in book, refered journal bahkan book. Apabila sudah bisa menerbitkan buku dari hasil riset maka penelitian yang telah kita lakukan akan diakui secara internasional.

Banyak keuntungan yang diperoleh dari publikasi jurnal internasional antara lain akan diundang sebagai invited reviewer. Invited reviewer merupakan orang yang diminta untuk membaca paper seseorang untuk pertama kalinya sebelum di-publish. Sehingga sebelum paper akan publish dan dibaca banyak orang, invited reviewer akan bisa membaca ide seseorang yang dituangkan dalam sebuah penelitian. Selain itu seseorang yang telah mempublikasikan hasil risetnya juga dapat diundang untuk menjadi pembicara dalam international conference atau bahkan sit in professor di Negara lain.

Senada dengan Rika, Losina menyampaikan bagaimana kiat menembus jurnal namun sesuai dengan kriteria yang disyaratkan oleh DIKTI. Antara lain, mencari co-author, melihat GFA dan gaya penulisan, serta membuat judul yang eye-catching. Sehingga hasil riset yang dikirimkan dapat diterima dalam sebuah jurnal internasional. Losina juga menegaskan agar berhati-hati dalam mencari jurnal internasional, karena banyak sekali jurnal palsu yang menawarkan kemudahan publikasi hasil riset dengan membayar. (lina&Isti)

Mahasiswa Bidik Misi FE UNY Harus Lulus Tepat Waktu

Menjadi mahasiswa Bidik Misi adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri namun hendaknya rasa syukur itu disempurnakan dan diwujudkan dengan usaha sebaik mungkin untuk belajar dan berprestasi sembari menjaga diri dari pengaruh buruk lingkungan sekitar. Manusia seringkali tahan dengan ujian yang menyengsarakan sebagaimana angin kencang yang membuat mereka tetap erat berpegangan, tetapi justru tidak tahan menghadapi kenikmatan, seperti angin sepoi- sepoi yang menidurkan dan akhirnya melepaskan tangan dari pegangan. Itulah dua pesan penting yang disampaikan para pemateri sore itu. Dengan suasana penuh kekeluargaan dan keakraban, Rabu sore itu (13/2) Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (FE UNY) mengadakan Koordinasi Pembinaan Mahasiswa Bidik Misi di Auditorium FE. Acara tersebut dihadiri perwakilan dosen-dosen dari setiap jurusan serta lebih dari 200 mahasiswa Fakultas Ekonomi yang diterima di UNY melalui jalur Bidik Misi. Di Auditorium FE UNY yang tampak penuh sore itu, hadir Dekan FE, Dr. Sugiharsono, M.Si., Wakil Dekan I Prof. Dr. Moerdiyanto, dan Wakil Dekan III Siswanto, M.Pd. Pertemuan ini diselenggarakan untuk memberikan pendampingan dan pemantauan terhadap para mahasiswa Bidik Misi di Fakultas Ekonomi agar mereka bisa memanfaatkan kesempatan belajar sebaik mungkin serta lulus tepat waktu.

Dalam sambutannya, Sugiharsono menegaskan pentingnya acara koordinasi ini agar mahasiswa Bidik Misi tetap terkendali sepanjang waktu dan bisa menyelesaikan masa studinya tepat waktu. Lebih lanjut, disampaikannya juga bahwa mahasiswa Bidik Misi sangatlah beruntung dan patut bersyukur karena orang lain yang mungkin memiliki uang dan niat tetapi belum tentu bisa memasuki UNY. Oleh karena itu, kesempatan ini harus mereka manfaatkan untuk belajar dan memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Akan lebih baik, sambungnya, jika mereka mau mengikuti kegiatan kemahasiswaan, membawa bendera fakultas atau universitas dan berprestasi di tingkat lokal, nasional, ataupun internasional. Di akhir sambutannya, mahasiswa Bidik Misi diingatkan untuk tetap hidup hemat dan tidak gampang terpengaruh gaya hidup lingkungan sekitar.

Dalam kesempatan itu, Moerdiyanto memberikan arahan akademiknya bahwa mahasiswa Bidik Misi adalah anak emas. Melalui jalur ini, mereka yang memiliki prestasi di sekolah dipilih oleh pemerintah sehingga memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di perguruan tinggi negeri. Sedangkan siswa lain harus berjuang tapi belum tentu diterima. Di UNY, kata Guru Besar Ilmu Manajemen Bisnis UNY ini, persaingan untuk memasuki jurusan-jurusan di Fakultas Ekonomi sangatlah ketat. Di Jurusan Manajemen dan Akuntansi, lebih dari 3000 calon mahasiswa harus bersaing untuk menjadi hanya salah satu dari 100 mahasiswa yang diterima.

Selain sebagai anak emas, di UNY mahasiswa Bidik Misi juga merupakan mahasiswa emas, yaitu dengan mendapatkan perlakuan yang istimewa dari kampus yang tidak didapatkan oleh selain mereka. Sebagai contoh, karena mahasiswa Bidik Misi diprioritaskan untuk lulus tepat waktu, maka mereka mendapatkan kemudahan untuk bertemu dosen selama masa bimbingan skripsi sehingga bimbingan skripsi yang mereka dapatkan lebih intensif. Selain itu, mereka juga akan diutamakan untuk dilibatkan dalam penelitian-penelitian dan PPM (Pengabdian Pada Masyarakat) dosen untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman sosial dan akademik. Sebaliknya, dengan berbagai fasilitas itu, lanjutnya, mahasiswa Bidik Misi juga selayaknya berprestasi emas. Oleh karena itu, hasil belajar mereka akan selalu dipantau melalui MONEV (Monitoring Evaluasi) periodikal.

Dengan gayanya yang khas, Siswanto memberikan arahan tentang kemahasiswaan. Diselingi canda dan kiasan penuh makna bahwa para mahasiswa Bidik Misi juga harus aktif dalam bidang kemahasiswaan, terutama dengan terlibat dalam penulisan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Selain itu, mereka juga diharapkan bisa membantu calon mahasiswa Bidik Misi tahun mendatang dengan mendirikan Pusat Informasi dan Komunikasi (PIKOM) pada saat penerimaan mahasiswa baru.

Dengan adanya PIKOM, mahasiswa baru yang diterima melalui jalur Bidik Misi akan merasa lebih tenang dan nyaman karena mendapatkan pendampingan dari kakak angkatan yang juga diterima dari jalur yang sama. Sebagai pungkasan arahannya, Siswanto juga menitipkan pesan untuk selalu menjaga diri dari godaan dengan berkisah singkat tentang koala yang jatuh ketika berpegangan di pohon bukan karena angin kencang, tetapi karena angin sepoi-sepoi yang terasa nikmat dan meninabobokannya. (fadhli)

Pages