Nita Raih IPK Tertinggi Yudisium Agustus 2016

Sejumlah 81 orang dinyatakan lulus pada upacara Yudisium Fakultas Ekonomi (FE) UNY, Rabu (31/8) lalu. Upacara yudisium periode Agustus di FE UNY ini diikuti 41 orang S1 Kependidikan, 25  orang Non Kependidikan, dan 15 orang Program D3 yang sudah memenuhi persyaratan secara akademik dan administratif. Upacara ini juga dihadiri oleh ketua jurusan, program studi (prodi), dan kepala bagian dan sub bagian di lingkungan FE UNY.

Dalam laporannya menggantikan Wakil Dekan I, Kepala Bagian Tata Usaha FE UNY Dra. Sriningsih mengatakan bahwa sebanyak 31 orang atau 38,27% meraih predikat Dengan Pujian. “Rata-rata raihan IPK pada periode ini adalah sebesar 3,47 dengan peraih IPK tertinggi adalah Anita Nur Khasanah sebesar 3,87 dari Prodi Akuntansi S1,” jelas Sriningsih.

Anita Nur Khasanah atau kerap dipanggil Nita, merupakan lulusan SMK N 1 Pengasih, Kulonprogo. Diwawancari seusai yudisium, putri dari seorang petani dan buruh lepas ini mengungkapkan rasa syukurnya bisa berkuliah di FE UNY, terlebih dengan bantuan beasiswa Bidikmisi.

“Saya mendaftar di UNY ini pada hari terakhir pendaftaran melalui jalur SBMPTN. Orang tua tadinya tidak mendukung, karena tidak memiliki kemampuan untuk membiayai. Tapi setelah dijelaskan adanya beasiswa, orang tua optimis kembali,” kata Nita. Untuk membantu keuangannya saat kuliah, putri kedua dari tiga bersaudara pasangan Paingun dan Sugini ini bahkan sempat bekerja sebagai staf marketing di salah satu perusahaan fotografi seusai Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Nita menambahkan, kuliah tidak hanya di kelas, tetapi juga melalui organisasi. “Melalui organisasi, kita bisa memperoleh ilmu yang tidak didapatkan di kelas/kuliah. Selain itu, bekerja juga membuat saya belajar bagaimana menghadapi orang di dunia usaha,” ujar Nita yang sempat aktif di Himpunan Mahasiswa (Hima) Akuntansi.

Nita berharap, setiap mahasiswa harus mau mensyukuri keadaannya sebagai seorang penuntut ilmu. “Rajin-rajin belajar, ditambah dengan berorganisasi yang kita minati, lalu jangan lupa berdoa,” pungkas Nita (fadhli)

Cintai Apapun Keadaannya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada Agustus 2015 terdapat 7,56 juta orang penganggur dari 122,4 tenaga kerja di Indonesia. Tentu ada beberapa sebab mengapa begitu banyak jumlah pengangguran. Sebab-sebab ini bisa dikelompokkan menjadi 2, yaitu faktor mikro dan faktor makro. Demikian sebagaimana dipaparkan Arfina Puspitasari, S.Si., Marketing Manager PT Bale Ayu Indonesia dalam Pelatihan Pengembangan Diri dan Kiat Menembus Dunia Kerja di Fakultas Ekonomi (FE) UNY, Selasa (30/8) lalu.

“Faktor mikro ini terdiri dari dua poin. Pertama, lulusan yang tidak memiliki kualitas. Kedua, tidak ada faktor WOW dari lulusan tersebut. Sementara pada aspek makro, ada tiga hal. Pertama, tingkat pertumbuhan ekonomi yang terlalu rendah. Kedua, kualifikasi tenaga kerja yang terlalu tinggi. Terakhir, terlalu banyak lulusan dari ranah ilmu sosial,” urai Fina, sapaannya.

“Dalam dunia kerja, softskills jauh lebih dibutuhkan para pencari tenaga kerja. Karakter seperti keterampilan berkomunikasi, kepemimpinan, kemampuan mempengaruhi, kreativitas, dan kemampuan interpersonal jauh lebih susah dicari, sedangkan hardskills masih bisa dilatih setelah karyawan tersebut diterima,” tambah Fina.

Fina juga memberikan berbagai tips dan trik guna menghadapi sesi wawancara. Menurut Fina, busana dan etika berperilaku di kala wawancara juga merupakan aspek yang mendapatkan penilaian dari si pewawancara. “Sekedar mengenakan jam tangan juga bisa menambah penilaian Anda di mata pewawancara. Itu menandakan Anda menghargai waktu. Sedangkan bagi wanita, high heels sebaiknya dihindari untuk dipakai saat wawancara. Kalaupun memakai, tidak melebihi 3 cm,” jelasnya.

Redaktur Majalah Pewara Dinamika UNY, Roni Kurniawan Pratama, S.Pd. menambahkan dalam sesi motivasi, mencintai suatu hal yang kita lakukan akan menjadikan kualitas pekerjaan meningkat. “Apapun keadaannya, tetap cintai pekerjaan kita,” terang Roni.

“Pada masa sekarang, mencari pekerjaan bagi lulusan S1 tidak semudah di masa lalu. Oleh karena itu, butuh motivasi yang kuat. Dengan niat yang tulus, diiringi usaha dan doa yang kuat, cita-cita bisa tercapai,” tambah Roni.

Pelatihan ini diikuti lebih dari 100 lulusan FE UNY yang diwisuda pada bulan Agustus lalu. Pelatihan ini merupakan bekal terakhir yang diberikan FE UNY kepada mahasiswanya sebelum benar-benar dilepas dari kampus. Hadir dalam acara ini Wakil Dekan I, Prof. Sukirno, Ph.D., dan Kepala Divisi Humas FE UNY, Lina Nur Hidayati, M.M. (fadhlI)

Siti Badriyah: "Saatnya Memberi"

Sebanyak 243 lulusan Fakultas Ekonomi (FE) UNY yang diwisuda pada 27 Agustus lalu mengikuti acara Pelepasan Lulusan di ruang Auditorium FE UNY, Jumat (26/8) lalu. Selain para lulusan, tampak pula orang tua/wali lulusan, dosen, serta jajaran dekanat dan pimpinan di FE UNY. Acara pelepasan lulusan ini merupakan ajang silaturrahim bagi para lulusan, beserta orang tua/wali dengan pihak fakultas. Pada acara ini pula para lulusan dikembalikan oleh pihak fakultas kepada orang tua masing-masing.

Dalam laporannya menggantikan Wakil Dekan I, Wakil Dekan II Nurhadi, M.M. menyampaikan bahwa sebanyak 106 lulusan periode Agustus 2016 ini mendapatkan predikat Dengan Pujian. “Input di FE UNY memang sudah bagus. Sebagian lulusan bahkan sudah bekerja sebelum diwisuda,” tambahnya.

Sementara itu, Siti Badriyah, S.Pd. selaku lulusan terbaik periode Agustus 2016 dengan IPK 3,86 ini mengucapkan terima kasih kepada segenap tenaga pendidik dan kependidikan di FE UNY. “Berkat mereka, kita bisa menyelesaikan studi dengan lancar,” ujar Siti.

“Mari kita bulatkan tekad untuk memberi kebermanfaatan yang lebih kepada bangsa. Berjanjilah kepada diri sendiri. Bukan saatnya meminta, tetapi inilah saatnya kita memberi," tambah gadis asal Klaten ini.

Senada dengannya, Dekan Dr. Sugiharsono, M.Si menyemangati para lulusan untuk meraih kesuksesan di masa depan. “Ada banyak pilihan bagi Anda di masa mendatang. Beasiswa LPDP kini tersedia bagi yang ingin melanjutkan studi. Apapun pilihan Anda, diharapkan kontribusinya makin meningkat, baik terhadap masyarakat, lingkungan, bangsa, dan negara, atau paling tidak terhadap keluarganya sendiri,” terangnya. (fadhli)

Training of Trainers Peningkatan Pemahaman Literasi Keuangan

Jumat, (9/9) Tim Generasi Cerdas Keuangan yang dipimpin oleh dosen Fakultas Ekonomi (FE) UNY Dr. Ratna Candra Sari, M.Si. melaksanakan Training of Trainers (ToT) Peningkatan Pemahaman Literasi Keuangan di Hall Kantor Otoritas Jasa Keuangan Daerah Istimewa Yogyakarta (OJK DIY). Kegiatan ini dilaksanakan atas dasar kerjasama yang dilakukan oleh Tim dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY dalam melakukan misi meningkatkan tingkat melek keuangan di masyarakat. Kegiatan ini diikuti oleh 30 volunteer Generasi Cerdas Keuangan yang terdiri dari mahasiswa dari bermacam bidang studi, universitas, dan tingkatan, baik mahasiswa S1 maupun S2.

Volunteer Generasi Cerdas Keuangan diberikan bekal materi oleh dua pemateri, yaitu Yunian Asih A. (Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK DIY) dan Dr. Ratna Candra Sari, M.Si. Yunian Asih A menyampaikan materi mengenai OJK dan perencanaan keuangan keluarga. OJK sebagai lembaga independen yang menaungi pengawasan lembaga keuangan tentu perlu dikenali oleh masyarakat. “Sebagaimana kita tahu, masyarakat kini dikelilingi oleh berbagai penawaran produk lembaga keuangan, baik lembaga keuangan yang kredibel hingga lembaga keuangan yang abal-abal. Masyarakat perlu memahami ke mana harus melakukan pengaduan apabila terdapat kecurangan atau kejahatan yang terjadi di lembaga keuangan,” terang Yunian.

Selain itu, Yunian Asih juga menyampaikan mengenai perencanaan keuangan keluarga. Perencanaan keuangan keluarga menjadi salah satu faktor penting penentu kesejahteraan keluarga di masa kini dan masa depan. Kemampuan seorang ayah dan ibu dalam membuat perencanaan harian, bulanan, bahkan tahunan dalam hal keuangan akan memberikan ketenangan hidup dan terhindar dari financial stress.

Dr. Ratna Candra Sari, M.Si. selaku pimpinan Generasi Cerdas Keuangan memberikan materi mengenai literasi keuangan untuk anak-anak dan remaja. Anak-anak dan remaja perlu diberikan materi literasi keuangan salah satunya karena adanya faktor premature affluence, yaitu keborosan dini yang terjadi saat tersedianya sumber daya keuangan. “Anak-anak dan remaja yang notabene belum bisa menghasilkan penghasilan sendiri cenderung mudah mengalami keborosan, apalagi dengan maraknya iklan dan pergaulan. Untuk melakukan literasi keuangan ini pun perlu dilakukan segmentasi karena berbeda umur berbeda pula cara membangun literasi keuangannya,” urai Ratna.

Selain materi dari kedua pemateri tersebut, tim Generasi Cerdas Keuangan juga diberikan motivasi untuk turut berkontribusi di masyarakat yang disampaikan oleh Ari Herliyanto. Pemuda sebagai agen perubahan bangsa perlu meningkatkan daya kritis dalam menghadapi problema-problema di masyarakat, tidak hanya berteori, tetapi aksi nyata di masyarakatlah yang diperlukan.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami untuk siap turun di masyarakat. Kami juga akan mempersiapkan diri dalam melakukan literasi keuangan,” ujar Ariska, salah satu relawan Generasi Cerdas Keuangan. Harapannya, dengan adanya kegiatan ini tim Generasi Cerdas Keuangan lebih siap saat turun di lapangan untuk melakukan misi literasi keuangan dan mampu memberikan kontribusi terbaik di masyarakat. (fadhli/ilyana)

Audita Rasakan Upacara Kemerdekaan di Thailand

Membangun nasionalisme berarti membangun bangsa. Nasionalisme adalah nilai yang kuat yang dapat membuat bangsa ini menjadi lebih baik. Mahasiswa Indonesia diharapkan dapat berperan aktif dalam membangun bangsa di manapun mereka berada. Merasakan atmosfer nasionalisme perjuangan Indonesia di negara lain merupakan hal luar biasa yang mengandung pelajaran tersendiri. Itulah yang dirasakan oleh 11 mahasiswa Indonesia yang memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia di negara lain. Salah satu mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) UNY berkontribusi dalam Indonesia-Thailand Youth Collaborative Exchange Program (ITYCEP) 2016 yang diselenggarakan Gotravindo Educational Program of Indonesia, yang dilaksanakan pada tanggal 16-19 Agustus 2016 di Bangkok, Thailand. Delegasi dari FE UNY yaitu Kurnia Audita Christyorini dari Pendidikan Ekonomi angkatan 2014 Kelas Unggulan.

Setelah melalui serangkaian proses seleksi mulai dari tes administrasi dan tes wawancara dua bahasa, sampai dengan pembuatan paspor, tiket, dsb., akhirnya Kurnia Audita bersama dengan delegasi dari seluruh Indonesia dapat mengikuti ITYCEP yang semuanya mengorbankan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

Kegiatan ini memiliki susunan acara antara lain Indonesia Independent Day Ceremony, Chulalongkorn University Exploration, Analyzing Thailand Market Economic and Culture, Education Challenge, Company and Factory Visit. Mengikuti program ini adalah pengalaman yang tak terlupakan. Tepat pada hari Rabu, 17 Agustus, di mana merupakan hari kemerdekaan Indonesia, peserta ITYCEP bersama seluruh warga negara Indonesia di Thailand mengikuti upacara bendera di KBRI yang dipimpin oleh Ahmad Rusdi (Duta Besar RI untuk Thailand).

Chulalongkorn University merupakan universitas tertua dan terbesar di Thailand. Delegasi dari Indonesia beserta mahasiswa Chulalongkorn University melakukan pertukaran budaya yang dipandu oleh seorang mahasiswa doctoral Chulalongkorn University yaitu Bayu Pramesona. Para peserta berkolaborasi dan bertukar ide-ide besar dan konsep melalui kegiatan forum diskusi untuk memperkuat hubungan strategis antara mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Thailand untuk mencapai tujuan pembangunan ASEAN.

Menganalisis perekonomian dan budaya pasar di Thailand melalui Education Challenge sangat menyenangkan. Di Asiatique Market peserta mendapatkan tantangan untuk melakukan wawancara dengan masyarakat lokal dan menjual produk asli Indonesia kepada turis asing yang berkunjung di Thailand. Masyarakat lokal memiliki bahasa lokal sendiri dan umumnya tidak begitu menguasai bahasa Inggris. Masalah ini tidak menyurutkan peserta untuk melakukan wawancara. Menjual produk asli Indonesia di tengah-tengah turis asing yang berburu oleh-oleh khas asli Thailand memerlukan kemampuan promosi cukup besar. Penguasaan bahasa Inggris dan skill entrepreneurship sangat dibutuhkan. Salah satu kelompok dalam program ini berhasil menjual tas batik Jogja seharga 300 bath (Rp.120.000) dengan harga dasar tas sepuluh ribu rupiah.

Kunjungan ke berbagai company dan factory hingga mengenali proses produksi sampai pada proses quality control products menjadikan pengalaman dan ilmu yang luar biasa. Natural Honey Big Bee merupakan perusahaan peternakan lebah terbesar di Thailand. Peserta diajak untuk melihat dan menikmati secara langsung madu asli yang memiliki manfaat dan khasiat dari perusahaan Big Bee. Selain itu peserta juga mengunjungi pabrik berlian terbaik di Thailand yaitu Gems Factory. (fadhli/dita)

Dikukuhkan, Sukidjo Guru Besar UNY Ilmu Pendidikan Ekonomi

Ketertinggalan perekonomian Indonesia dibandingkan dengan Jepang, Korea Selatan dan Taiwan disebabkan terbatasnya entrepreneurship. Keberadaan entrepreneur sangat diperlukan baik untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan maupun pengangguran. Pada tahun 2015 jumlah entrepreneur di Indonesia baru 1,56% dari total penduduk, sementara itu untuk mendukung pembangunan ekonomi diperlukan entrepreneur sekurang-kurangnya 2% dari total penduduk. Oleh sebab itu, pendidikan entrepreneurship perlu disebarluaskan kepada seluruh lapisan masyarakat agar jumlah penduduk yang memiliki entrepreneurship semakin banyak, sehingga budaya kewirausahaan semakin berkembang. Demikian diungkapkan Prof. Dr. Sukidjo, M.Pd dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Pidato berjudul “Peran Pendidikan Entrepreneurship dalam Pengembangan Ekonomi Kerakyatan dan Pengentasan Kemiskinan” itu dibacakan dihadapan rapat terbuka Senat UNY di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY(24/8). Prof. Dr. Sukidjo, M.Pd merupakan guru besar UNY ke-132.

Pria kelahiran Sleman 6 September 1950 tersebut mengatakan bahwa tujuan pendidikan entrepreneurship adalah untuk menanamkan pengetahuan, nilai-nilai, jiwa, dan sikap kewirausahaan kepada peserta didik, dalam rangka menciptakan wirausaha-wirausaha baru yang handal. “Pendidikan entrepreneurship perlu ditumbuhkembangan baik di sekolah, perguruan tinggi maupun di masyarakat pada umumnya” katanya. Menurutnya, keberadaan  entrepreneur dapat difungsikan sebagai motor penggerak perekonomian nasional, oleh karena itu pendidikan kewirausahaan perlu ditingkatkan untuk membentuk manusia yang memiliki jiwa yang kreatif dan inovatif sehingga mampu dan berani memanfaatkan peluang untuk menciptakan usaha  baru. Untuk membudayakan kewirausahaan, pendidikan entrepreneurship dapat dilakukan di sekolah, perguruan tinggi, maupun di masyarakat.

Doktor bidang Pendidikan dan Evaluasi Pembelajaran Pascasarjana UNY tersebut mengemukakan, pendidikan kewirausahaan di sekolah dapat dilakukan dengan cara mengintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran dengan tujuan meningkatkan kesadaran pentingnya pembiasaan nilai-nilai kewirausahaan dalam perilaku sehari-hari dan terbentuknya karakter wirausaha. Sedangkan di perguruan tinggi dikembangkan kuliah  kewirausahaan, magang kewirausahaan, kuliah kerja nyata kewirausahaan, klinik konsultasi bisnis dan inkubator bisnis. “Pendidikan entrepreneurship di luar sekolah dilakukan oleh dinas-dinas terkait di pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan lainnya” ungkap Prof. Dr. Sukidjo, M.Pd. Cara yang dilakukan antara lain melakukan sosialisasi kepada generasi muda dan ibu-ibu rumah tangga, pelatihan dan kursus bagi karang taruna, ibu-ibu PKK, pemuda putus sekolah serta magang pada dunia usaha.

Warga Krapyak Margoagung Seyegan Sleman tersebut menyimpulkan bahwa pendidikan entrepreneurship dimaksudkan untuk mengubah mindset penduduk miskin agar memiliki kemampuan dan berani menciptakan usaha baru, mengubah budaya kemiskinan menuju budaya kewirausahaan melalui jalur pendidikan formal maupun non formal. Berbagai pelatihan sebaiknya ditindaklanjuti  dengan memberikan peralatan sebagai modal kerja untuk menciptakan usaha dalam skala usaha mikro, kecil maupun menengah. Sampai dengan tahun 2016, masih terdapat 10,86 % penduduk Indonesia yang termasuk dalam kategori miskin. “Untuk mempercepat pengentasan kemiskinan maka salah satu upaya yang dilakukan adalah membudayakan kewirausahaan melalui pendidikan entrepreneurship dan meningkatkan kerjasama kemitraan antara UMKM dengan Usaha Besar” tutup Prof. Dr. Sukidjo, M.Pd.(dedy)

Kunjungan SMA N 2 Cilacap ke FE UNY

Fakultas Ekonomi (FE) UNY menerima study visit dari SMA N 2 Cilacap, Jumat (19/8) lalu. Fakultas termuda di UNY ini menyambut lebih dari 30 siswa kelas XII jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Diterima oleh Dekan Dr. Sugiharsono, Wakil Dekan I Prof. Sukirno, Ph.D., dan Wakil Dekan II Nurhadi, MM di ruang Ramah Tamah, kunjungan berlangsung penuh antusias dengan beberapa pertanyaan dari para siswa. Triyono Aznand, S.Pd.selaku pimpinan rombongan mengatakan kunjungan ini merupakan salah satu bentuk silaturrahmi dengan harapan memacu para siswa belajar lebih keras agar bisa melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.

“Dengan berkunjung secara langsung ke UNY, kami harap anak-anak mendapatkan informasi yang dibutuhkan sehingga mereka bisa mempersiapkan diri lebih baik. Di sisi lain, kami juga bisa menjalin silaturrahmi dengan UNY, sehingga sekolah kami juga tidak dipandang sebelah mata,” ujar Triyono.

Dalam sambutannya, Sugiharsono mengenalkan sebagian karakteristik FE UNY kepada para siswa. “FE UNY adalah fakultas yang baru lahir pada 2011 lalu. Masih sangat muda. Tetapi dua program studinya termasuk di antara yang terfavorit di UNY. Oleh karena itu, setiap mahasiswa yang diterima di sini tentunya sudah sangat baik dan berkualitas. Belajarlah lebih keras, lalu bergabunglah di FE UNY,” terang Sugiharsono.

Menyambung Sugiharsono, Sukirno mengajak para siswa untuk mengembangkan kemampuannya. “Kita sudah berada di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan sebentar lagi, mungkin kita akan melihat guru-guru dari Thailand atau Malaysia di sekolah-sekolah di Indonesia. Kalau kita tidak berkembang, kita hanya akan menonton. Belajar yang rajin, lalu pergilah keluar negeri dan jadi tenaga kerja yang unggul,” ucapnya.

“Dengan adanya Bidik Misi, Anda harus berani bermimpi lalu belajar lebih keras. Bidik Misi adalah kesempatan bagi yang pintar secara akademik tetapi merasa tidak mampu. Kami akan melakukan verifikasi secara langsung kepada calon penerima beasiswa Bidik Misi. Oleh karena itu, kejujuran calon penerima juga akan menjadi faktor yang sangat penting bagi kami menentukan pantas tidaknya beasiswa tersebut diberikan,” urai Nurhadi selaku Wakil Dekan II. (fadhli)

Pelatihan Pelayanan Prima FE UNY 2016

Guna meningkatkan kinerja tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan Fakultas Ekonomi (FE) UNY, lebih dari 80 dosen dan karyawan mengikuti Pelatihan Pelayanan Prima di Hotel Serena, Bandung, Sabtu (13/8) lalu. Selain diberikan materi pelatihan pelayanan prima, dosen dan karyawan berkesempatan mengunjungi beberapa tempat rekreasi di Bandung dan sekitarnya. Dekan Dr. Sugiharsono mengungkapkan, kunjungan ini diharapkan mampu mengembalikan semangat berkarya para dosen dan karyawan sehingga produktivitas bisa digenjot.

“Tujuan hidup kita semua adalah tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Caranya terserah kepada kita untuk memilih, dan menjadi pegawai, menjadi dosen atau tendik, adalah pilihan kita saat ini. Pilihan inilah yang menjadi tempat kita memperjuangkan hidup guna mencapai tujuan akhir,” ujar Sugiharsono.

“Oleh karena itu, pegawai harus memiliki keunggulan. Sebagai pelayan mahasiswa, mereka harus mau berubah menjadi lebih baik, membuang pola pikir yang kolot dan kebiasaan yang negatif. Di samping itu, karakter yang kreatif, inovatif, aktif, peduli, semangat, menyenangkan, dan ikhlas harus dimiliki para karyawan dan dosen dalam bekerja,” lanjut Sugiharsono.

Sementara itu, Wakil Dekan I bidang Akademik Prof. Sukirno, Ph.D mengajak para dosen untuk tidak lupa dengan tugas pokok mereka. “Selain mengajar, dosen yang unggul juga lantas menguji, menilai/mengevaluasi hasil belajar, membimbing, serta meneliti dan melakukan pengabdian kepada masyarakat,” terangnya.

Sukirno juga mengajak segenap dosen dan karyawan untuk maju bersama-sama sebagai satu tim. “Jika di antara kita hanya fokus pada perbaikan diri sendiri, yang maju hanya diri kita sendiri. Tetapi jika kita maju secara serempak, peningkatan tidak hanya terlihat pada tim, tapi juga akan dirasakan secara individual,” tambah Guru Besar UNY termuda ini.

Dalam kesempatan ini, selain diisi dengan pemutaran video singkat seputar opini dan harapan mahasiswa dan karyawan terhadap kemajuan FE UNY, Drs. Budi Sulistya selaku Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) pertama FE UNY juga menyampaikan perpisahannya. Setelah mengisi posisi yang sama di Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) UNY, kursinya di FE UNY kini ditempati oleh Dra. Sri Ningsih yang sebelumnya merupakan Kabag TU LPPMP UNY. (fadhli)

Kunjungan SMK N 1 Gantar ke FE UNY

Sebanyak lebih dari 70 siswa kelas XII jurusan Akuntansi SMK N 1 Gantar Kabupaten Indramayu berkunjung ke Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) UNY pada Rabu (3/8) lalu. Tujuan dari diadakannya kunjungan ini adalah agar para siswa bisa mengetahui proses perkuliahan dan dengan demikian memiliki motivasi untuk melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi. Demikian disampaikan Endang Sukanda, S.Pd., di ruang Auditorium di depan para siswa serta beberapa dosen jurusan. Kunjungan juga disambut oleh Ketua Jurusan Pend. Akuntansi Abdullah Taman, M.Si., Akt.

Endang Sukanda menuturkan, SMK N 1 Gantar merupakan sekolah yang cukup besar dengan 5 jurusan yang tersedia. “Ada Arsitektur, Rekayasa Perangkat Lunak, Teknik Kendaraan Ringan, Akuntansi, dan Multimedia. Dalam kegiatan keseharian SMK N 1 Gantar sudah menerapkan standar ISO,” terang Endang.

“UNY sendiri sangat dikenal di Indramayu. Banyak lulusan SMA dan SMK yang melanjutkan studi ke Yogyakarta, khususnya UNY. Oleh karena itu, semoga lulusan kami, terutama yang dari Akuntansi ini, juga tetap termotivasi untuk melanjutkan studi, salah satunya ke Yogyakarta,” lanjut Endang.

Dalam kaitannya dengan Akuntansi, tiap negara memiliki standar yang berbeda-beda. “Tapi pada dasarnya, mereka mengacu pada IFRS, International Financial Reporting Standards. Demikian juga Indonesia,” ujar Abdullah Taman.

Menanggapi pertanyaan salah satu siswa, Abdullah Taman mengatakan, era MEA harus dihadapi dengan persiapan yang baik. “Anda harus terus improve yourself. Teknologi harus terus diikuti. Saya sendiri belajar kepada anak saya.  Selain itu, Bahasa Inggris juga harus terus ditingkatkan. Indonesia adalah negara yang besar, dan kita harus bisa menjadi pemain utama di era MEA. Jangan mau kalah,” urainya.

Yudisium FE UNY Juli 2016: Siti Badriyah Peraih IPK Tertinggi

Sebanyak 128 orang dinyatakan lulus secara akademik maupun administratif menyandang gelar sarjana dan diploma pada Upacara Yudisium Fakultas Ekonomi (FE) UNY Periode Juli 2016. Dari 128 peserta yudisium tersebut, 45 orang merupakan lulusan program S1 Kependidikan, 51 orang lulusan program S1 Non Kependidikan, dan 32 orang lulusan program D3. Demikian dilaporkan Wakil Dekan III Isroah, M.Si di hadapan para peserta yudisium dan ketua jurusan/program studi (prodi) serta kepala bagian dan sub bagian di lingkungan FE UNY.

“Sebanyak 46 orang peserta yudisium lulus dengan predikat Dengan Pujian. Rata-rata perolehan IPK pada yudisium periode ini mencapai 3,43. Sedangkan masa kelulusan rata-rata untuk S1 dan D3 berturut-turut adalah 3,24 tahun dan 2,94 tahun Prodi dengan jumlah lulusan terbanyak yaitu Prodi Manajemen S1 sebanyak 36 orang. Selamat!” lanjut Isroah.

Mewakili Dekan, Wakil Dekan II Nurhadi, MM memberikan sambutannya kepada para lulusan. “Dengan mengikuti upacara yudisium ini, gelar sudah sah menjadi bagian dari nama Anda. Wisuda hanya sekedar seremoni. Silakan pilih mana yang akan dijalani. Apakah akan melanjutkan studi, mencari pekerjaan, atau justru menciptakan lapangan kerja bagi orang lain,” ujarnya.

Dalam periode ini, IPK tertinggi diraih oleh Siti Badriyah dari Prodi Pendidikan Akuntansi dengan indeks 3,86. Lulusan SMK N 1 Jogonalan Klaten ini menjadi salah satu penerima beasiswa Bidik Misi semenjak semester dua kuliah. Putri sulung dari dua bersaudara pasangan Jono (47) dan Sutiyem (40) ini semasa berkuliah juga aktif di beberapa organisasi baik intra maupun ekstra kampus.

“Saya dulu aktif di (UKMF) Al Fatih dan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM). Selain itu, saya juga ikut bergabung dalam Persatuan Pengajian Anak Muslim (PPAM) Jogonalan Klaten,” terang Siti yang juga sempat menjabat sebagai Ketua Karang Taruna di desanya selama 2 tahun ini.

Ditemui seusai upacara yudisium, Siti mengaku tidak memiliki tips khusus dalam belajar. “Waktu belajar saya tidak tentu. Kapan ada waktu luang, saya luangkan untuk membaca. Kadang sebelum tidur, kadang setelah sholat tahajud,” ungkap Siti.

Siti yang kini bekerja sebagai Admin dan Keuangan di salah satu lembaga zakat swasta di Yogyakarta ini mengaku bersyukur bisa kuliah. “Jangan takut kuliah, jangan ragu melanjutkan pendidikan. Ada banyak hal yang bernilai yang bisa bermanfaat bagi kehidupan kita lebih dari sekedar gelar dan ijazah yang kita dapatkan,” pesan Siti. (fadhli)

Pages