Bermodalkan Kamera Pinjaman, Raih Juara III Lomba Fotografi

Berawal dari kamera SLR hasil meminjam teman, satu posisi di podium 3 besar diraih Eka Fitriyanto, mahasiswa Pendidikan Ekonomi 2010 Fakultas Ekonomi UNY dalam lomba Fotografi bertemakan “1 Langkah Kecil Menuju Hijaunya Negeriku” yang diadakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Pimpinan Komisariat Universitas Negeri Yogyakarta (IMM PK UNY). Hasil tersebut diumumkan dalam Seminar Nasional Kehutanan dengan tema yang sama pada Ahad, 17 Maret 2013 di Sportorium UMY. Foto sederhananya yang berjudul “From Children for Indonesian Greener”, dengan membekukan potret empat orang bocah yang tampak tengah menanam sebatang pohon muda di suatu hutan di daerah Wonosobo, berhasil menjadi juara III setelah diadu dengan 16 finalis lainnya yang terpilih.

Pada mulanya, Eka hanya tertarik melihat poster yang terpampang di papan info di Fakultas Ekonomi UNY. Setelah melihat blog lomba tersebut di Internet, Eka beranikan diri mengikuti bermodalkan kamera SLR Nikon yang dipinjamnya dari teman. Dijelaskannya, tidak ada kiat khusus lainnya untuk mengikuti lomba Fotografi tersebut. Bahkan ada satu peristiwa menarik dan tak terlupakan yang dia dapat sewaktu hendak mengambil gambar.

“Sewaktu perjalanan pulang dari Yogyakarta ke Wonosobo untuk proses pengambilan gambar, saya jatuh dari motor cukup keras. Saya putuskan tetap melanjutkan, walau harus berjalan ke lokasi pemotretan dengan kaki terpincang-pincang kesakitan,” ungkapnya.

Mahasiswa lajang yang lulus dari SMK N 1 Wonosobo pada 2010 ini mengaku baru kali ini mengikuti lomba Fotografi. Fotografi bukanlah hobi baginya, “Yaa, cuma suka aja, bukan hobi,” ujarnya. “Justru sebenarnya hobi saya itu menulis.”

Diakuinya pula, sebelum ini dia sudah sering ikut lomba, terutama dalam bidang Karya Tulis/Karya Ilmiah. Salah satu di antaranya, pada akhir 2012 lalu, dia meraih Juara III Lomba Artikel se-UNY yang diadakan HIMA (Himpunan Mahasiswa) Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNY dengan Tema “FILTERISASI BUDAYA GLOBAL MELALUI OPTIMALISASI PERAN PENDIDIKAN”. Selain itu, berbagai lomba karya tulis ilmiah tingkat universitas dan nasional juga pernah diikutinya. (fadhli)

Penandatanganan Kerjasama antara Fakultas Ekonomi UNY dan Sekolah-sekolah Mitra

Demi kemajuan pendidikan di Indonesia, semua penyelenggara pendidikan harus terus meningkatkan kualitas pendidikannya. Selain berusaha secara mandiri, mereka juga harus bisa bekerjasama dengan pihak lain agar beban tersebut lebih ringan dan bahkan bisa jadi berdampak lebih luas daripada hanya bekerja sendirian. Untuk itu, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta menggandeng beberapa sekolah di Yogyakarta dalam jalinan kerjasama yang saling menguntungkan. Sejauh ini, kerjasama yang terlaksana baru sebatas penempatan mahasiswa dalam program KKN-PPL terpadu di sekolah-sekolah sekitar. Namun kebutuhan dunia pendidikan saat ini menuntut bentuk kerjasama lain yang lebih luas dan lebih beragam. Untuk itulah, FE UNY bersama beberapa SMA dan SMK di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta menandatangani naskah kerjasama pada Senin, 18 Maret 2013 di Ruang Sidang Dekanat FE.

Ikut hadir dalam acara tersebut para Kajur, Kadiv, Kabag, dan Kasubbag di lingkungan FE UNY, beserta Jajaran Dekanat FE. Sementara itu, turut pula hadir sebagai undangan, Drs. Maman Surakhman, M.Pd.I. selaku Kepala Sekolah SMA N 9 Yogyakarta, Drs. Rustamaji, M.Pd. (SMK N 1 Yogyakarta), Dra. Titik Komah Nurastuti (SMK N 7 Yogyakarta), Drs. H. Maskur (SMA N 1 Depok Sleman), Drs. Tri Sugiharto (SMA N 1 Kalasan), Dra. Nuning Sulastri (SMK N 1 Tempel), Drs. Sumarman (SMA N 1 Imogiri), Drs. Tri Subandi, M.Pd. (SMK N 1 Pengasih), dan Dra. Niken Susilowati, yang datang mewakili SMA N 4 Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Dekan FE, Dr. Sugiharsono, M.Si. merasa gembira dengan adanya kerjasama ini. Hubungan yang selama ini sudah terjalin dengan pihak sekolah akan semakin meningkat kualitasnya. Sementara itu, Drs. Tri Sugiharto yang berbicara mewakili pihak sekolah juga menyampaikan betapa kegiatan ini sudah diangan-angankan sejak lama oleh sekolah. “Oleh karena itu, kami berharap kerjasama ini dapat ditingkatkan dalam banyak hal, sebagaimana tertuang di dalam naskah kerjasama,” demikian ungkapnya.

Wakil Dekan I Bidang Akademik Prof. Dr. Moerdiyanto dalam paparannya tentang kerjasama ini menyatakan bahwa di abad 21 ini paradigma institusi di dunia bercirikan Informasi (tersedia di mana saja), Komputasi (lebih cepat memakai mesin), Otomasi (menjangkau segala pekerjaan rutin), dan Komunikasi (dari mana saja, ke mana saja). Dengan kemajuan zaman, kerjasama bisa dilakukan lebih optimal, intensif, dan efektif lagi. Beberapa waktu lalu mungkin segala sesuatu dilakukan dengan manual yang memakan banyak waktu dan biaya, tetapi sekarang ada fasilitas email, chatting, dll., yang lebih memudahkan.

Acara penandatanganan berlangsung lancar dan diakhiri dengan foto bersama dan ramah tamah. (fadhli)

Sosialisasi Pembimbingan PKM bagi Dosen FE UNY

Hari Jumat (15/3) lalu, bertempat di ruang Auditorium Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, dilangsungkan acara Sosialisasi Pembimbingan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bagi dosen di FE UNY. Selain 48 dosen FE UNY, acara tersebut dihadiri oleh Wakil Dekan I FE UNY, Prof. Dr. Moerdiyanto, M.Pd., M.M., Wakil Dekan II, Muh. Djazari, M.Pd., dan Wakil Dekan III, Siswanto, M.Pd. Bertindak selaku pembicara adalah Hermanto, SP pada sesi pertama dan Prof. Dr. Moerdiyanto pada sesi kedua dengan Arum Darmawati, M.M. sebagai moderator. Acara ini ditujukan agar para dosen bisa lebih maksimal dan optimal dalam memberikan bimbingan Program Kreativitas Mahasiswa tahun 2013 ini.

Dalam sambutannya, Siswanto, M.Pd. mengingatkan bahwa para dosen harus lebih memperhatikan mahasiswanya. “Kalau bukan kita yang memperhatikan, siapa lagi?Bukanlah kata-kata seperti 'tolong Anda buatlah prestasi' kepada mahasiswa, tetapi juga harus dengan perhatian secara langsung,” jelas Siswanto, M.Pd. Program Kreativitas Mahasiswa merupakan ajang nasional tahunan bidang kemahasiswaan yang tahun ini terdiri dari lima bidang, yaitu PKM-P (Penelitian), PKM-T (Teknologi), PKM-M (Pengabdian pada Masyarakat), PKM-K (Kewirausahaan), PKM-KC (Karya Cipta).

Pada sesi pertama, Hermanto, SP menyampaikan bahwa seharusnya Pembimbingan PKM bukan hanya kemauan dari WD III yang menangani bidang kemahasiswaan, tapi juga menjadi kesadaran dari segenap civitas di fakultas. “Perguruan Tinggi seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Brawijaya, tidak lagi melihat kehebatan pada sisi akademik dengan IPK tinggi dari mahasiswa, tetapi juga pada sisi non akademik mereka,” ujar Hermanto, SP. Dengan jumlah pengusul yang terus bertambah tiap tahunnya, persaingan PKM menjadi semakin keras, dan ini menuntut kerjasama semua pihak.

Di sesi kedua, Prof. Moerdiyanto menyampakan bahwa selain melaksanakan tugas pembelajaran (DIKJAR) dan melaksanakan penelitian (RISET), dosen juga memiliki tugas pokok fungsi lainnya, yaitu memberikan pembimbingan pada mahasiswa (MENTORING) dan pengabdian sosial (PEMBERDAYAAN MASYARAKAT).

Dengan adanya Sosialisasi Pembimbingan PKM ini, dosen dan mahasiswa diharapkan bisa saling mendukung kemajuan masing-masing pihak dan juga sekaligus menguatkan posisi universitas di masyarakat. Pada ajang PIMNAS, yang merupakan puncak dari ajang PKM, tahun 2012 lalu UNY menempati posisi akhir di 5 besar. (fadhli)

Pelatihan PKM 5 Bidang FE UNY: Percikkan Kreativitasmu!

Seseorang yang sukses jauh lebih sedikit jumlahnya di dunia ini. Ini disebabkan cara yang mereka tempuh memang sulit, dan hanya sedikit yang mau mengambilnya. Kebanyakan orang hanya mau berada di zona nyaman tanpa mau mencoba berpikir out of the box. Sebagai agent of change, mahasiswa harus mau berubah (change) agar mereka bisa menciptakan kesempatan (chance). Demikian petuah semangat yang disampaikan oleh Rachmat Nurcahyo, S.S., M.A. kepada sekitar 190 mahasiswa Fakultas Ekonomi yang mengikuti acara Pelatihan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) 5 Bidang Tahun 2013, di Ruang Auditorium Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (FE UNY) Sabtu siang (9/3).

Dalam pelatihan tersebut, Rachmat Nurcahyo banyak menguraikan contoh-contoh PKM yang sukses disertai dengan analisis faktor-faktor yang membuat suatu proposal PKM diterima atau ditolak. Dimoderatori Adeng Pustikaningsih, S.E., M.Si., dosen Pendidikan Akuntansi FE UNY, Rachmat menghujani para mahasiswa dengan motivasi dan semangat agar bisa menghasilkan ide dan gagasan untuk dilibatkan dalam PKM 2013. Menurut Rachmat yang juga dosen di Fakultas Bahasa dan Seni UNY ini, saat ini dibutuhkan mental yang peka, kritis, dan kreatif dalam menghadapi suatu permasalahan di masyarakat., dan program PKM menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menyalurkan minat dan bakatnya dalam memberikan kontribusi bagi masyarakat secara kreatif. Pelatihan PKM 5 Bidang tahun 2013 ini terdiri dari PKM-P (Penelitian), PKM-K (Kewirausahaan), PKM-M (Pengabdian pada Masyarakat), PKM-T (Teknologi), dan PKM-KC (Karya Cipta) yang didanai DIKTI.

Selain Rachmat Nurcahyo, hadir pula Muhamad Ridwan, mahasiswa jurusan PGSD UNY angkatan 2009 yang berprestasi di bidang PKM dan baru saja mendapatkan medali emas di ajang PIMNAS 2012 di UMY beberapa waktu lalu. Di hadapan mahasiswa FE, Ridwan menuturkan pengalamannya memenangi PIMNAS 2012 serta berbagi trik agar suatu proposal PKM bisa diterima DIKTI. “Jangan pernah minder dan mundur pada langkah pertama, serta seringlah berdiskusi dengan teman sekelompok dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing, karena itu juga merupakan esensi dari PKM,” demikian pesan mahasiswa yang proposal PKM tahun 2013-nya ini kembali lolos untuk didanai DIKTI.

Pelatihan PKM 5 Bidang ini dibuka oleh Siswanto, M.Pd., Wakil Dekan III FE Bidang Kemahasiswaan, dan kemudian ditutup dengan diskusi per kelompok untuk memfasilitasi ide dan gagasan yang dimiliki setiap peserta. Harapannya, para peserta bisa membawa pulang motivasi tinggi untuk berkarya dengan satu buah judul yang akan disusunnya menjadi proposal PKM 2013 nanti. (fadhli)

 

Ratna Candra Sari, Doktor Termuda di FE UNY

Ratna Candra Sari merupakan dosen Jurusan Pendidikan Akuntansi yang telah berhasil menyelesaikan studi S3 dari Program Doktor Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ratna dikukuhkan sebagai Doktor ke-1904 Universitas Gadjah Mada dan Doktor ke-136 dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis dalam ujian promosi doktor di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Jumat (8/3). Dalam disertasinya yang berjudul ‘Tunneling dan Model Prediksi: Bukti Empiris pada Transaksi Pihak Berelasi’, bertindak selaku promotor, Prof. Dr. Zaki Baridwan, M.Sc., Ko-Promotor Prof. Ainun Nai’im, Ph.D., dan Dr. Sony Warsono, MAFIS. Selain pernah menjadi lulusan terbaik tahun 2005, wanita kelahiran Batang, Jawa Tengah, 36 tahun lalu ini merupakan Doktor termuda di Fakultas Ekonomi UNY.

Penelitian yang dilakukan oleh Ratna berfokus pada ekspropriasi terhadap pemegang saham nonpengendali melalui aktivitas tunneling. Penelitian tunneling saat ini masih banyak menemukan kendala dalam hal pengukuran karena aktivitas tunneling sulit dibuktikan meskipun terjadi dalam praktik bisnis. Ada 3 isu yang dikemukakan oleh Ratna dalam disertasinya. Isu pertama dalam penelitiannya terkait dengan hipotesis tunneling dan implikasi terhadap kinerja keuangan perusahaan yang di-tunnel. Transaksi pihak berelasi yang digunakan untuk tunneling akan menyebabkan kinerja perusahaan yang di-tunnel turun. Pengujian pengaruh transaksi pihak berelasi pada kinerja perusahaan diharapkan akan memberikan ukuran langsung tunneling karena mengukur secara langsung tindakan perusahaan yang menyebabkan transfer sumberdaya keluar perusahaan untuk kepentingan pemegang saham pengendali.

Isu penelitian kedua terkait dengan karakteristik perusahaan yang di-tunnel. Jensen (1986) dalam teori free cash flow menyatakan bahwa konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham terjadi ketika perusahaan memiliki free cash flow yang berlebih. Manajer memilih untuk menginvestasikan kembali free cash flow atau melakukan inefisiensi dibanding mengembalikannya pada investor, sedangkan investor menginginkan dividend and return yang tinggi atas investasinya.

Isu penelitian ketiga terkait dengan model prediksi tunneling. Karakteristik perusahaan yang menjadi obyek tunneling menjadi hal yang menarik untuk diketahui. Saat ini belum ada model untuk memprediksi perusahaan yang kemungkinan besar menjadi obyek tunneling atau tidak berdasarkan karakteristik perusahaan. Ketiadaan model prediksi menyebabkan tingginya risiko yang dihadapi khususnya oleh pemegang saham non-pengendali, karena berdasarkan bukti empiris perusahaan yang di-tunnel akan mengalami penurunan nilai.  

Berdasarkan hasil penelitiannya, Ratna mengemukakan ada 4 implikasi yang disampaikan, yaitu implikasi teori, implikasi akuntansi, implikasi kebijakan, dan implikasi praktik. Dalam implikasi teori penelitian Ratna menemukan bukti empiris bahwa transaksi pihak berelasi dapat digunakan sebagai tunnel untuk mentransfer sember daya keluar dari perusahaan untuk kepentingan pengendali dengan mengorbankan pemegang saham minoritas. Perusahaan yang di-tunnel akan mengalami penurunan kinerja keuangan dan kinerja pasar. Dalam implikasi akuntansi penelitian ini juga menunjukkan bahwa rendahnya kualitas pengungkapan mengenai transaksi berelasi. Kualitas pengungkapan menjadi hal yang penting berkaitan dengan pemberian informasi kepada pihak lain dalam menilai besarnya potensi konflik keagenan dalam perusahaan.

Penelitian ini sekaligus sebagai dukungan dikeluarkannya PSAK No.7 tahun 2010 sebagai upaya peningkatan kualitas pengungkapan transaksi pihak berelasi. Sedangkan dari implikasi kebijakan, penelitian ini menunjukkan bahwa transaksi yang merupakan kegiatan utama perusahaan yaitu transaksi perdagangan berelasi berpengaruh negatif terhadap kinerja operasi perusahaan. Sedangkan dari implikasi praktik penelitian ini membangun model prediksi tunneling untuk memprediksi perusahaan yang di-tunnel dan yang tidak. Model prediksi ini diharapkan dapat membantu investor dalam mengantisipasi adanya risiko tunneling yang mungkin terjadi melalui transaksi berelasi. (lina)  



 

Pemantapan PKM yang Lolos Didanai DIKTI 2013 di FE UNY

Penilaian atas mutu usulan, proses pelaksanaan dan presentasi di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) seluruhnya dilakukan berdasar atas level kreativitas mahasiswa dan orisinalitas. Orisinalitas dalam hal ini tidak hanya diartikan sebagai suatu temuan baru, akan tetapi ide yang akan direalisasikan murni, tidak copy paste dengan penelitian yang sebelumnya sudah ada. Dengan demikian pembimbing Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) disarankan agar berperan sebagai pendamping mahasiswa yang mengawasi pelaksanaan PKM agar sesuai dengan misi masing-masing program. Kekompakan tim memiliki nilai besar sehingga diharapkan setiap anggota mempunyai tanggung jawab dalam kerja atau mendapatkan deskripsi kerja sehingga saat ditanya oleh reviewer semua bisa menjawab tidak hanya bergantung pada satu orang. Selain itu peran pembimbing sangat diharapkan karena mempunyai poin plus dalam penilaian serta sebagai motivator ulung, demikian disampaikan Dosen dari FIP UNY sekaligus sebagai Pembimbing PKM yang lolos meraih Medali Emas di PIMNAS 2012 Y. Ch. Nany Sutarini, M.Si. dalam Pemantapan PKM Tahun 2012 FE UNY pada Jumat siang (8/3) di Ruang Auditorium FE UNY yang diikuti sebanyak 20 tim proposal PKM 5 Bidang yang didanai DIKTI Tahun 2013 beserta Dosen Pembimbing.

Lanjut Nany, PKM yang didanai oleh DIKTI diharapkan memiliki jangka panjang tidak hanya setelah terdanai selesai dan terhenti. Contoh jangka panjang yaitu PKM-T mendapatkan hak paten atau penerapan lebih lanjut pada mitra dan diperbanyak menjadi produk jual. PKM-K misalnya rencana penyebaran dan publikasi produk serta penyajian yang lebih bervariatif. Pada PKM-M, masyarakat yang dibina memiliki kemampuan mandiri serta melakukan tindak lebih lanjut terhadap program. Pada PKM-P, penelitiannya disempurnakan dan diajukan jurnal ilmiah dan lain sebagainya.

Setelah semuanya dilakukan sesuai dengan pedoman PKM yang sudah ada tentunya juga masih perlu adanya dorongan dari luar seperti doa bersama antara mahasiswa peneliti, pembimbing, dan orangtua. Tuhan ada di atas segalanya sehingga ada kekuatan faktor “X” yang kita tahu dan tidak kita duga sebelumnya.(Isti)

Nurmi Susanti Anak Seorang Petani Gunungkidul Raih IPK 3,84 di FE UNY

Inilah perjuangan hidup seorang anak petani dari Petir Rongkop Gunungkidul yang bernama Nurmi Susanti Mahasiswa Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (FE UNY) berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,84 dengan masa studi 3,6 tahun. Walaupun dari kalangan keluarga ekonomi menengah ke bawah semangat belajar Nurmi tak pernah surut bahkan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD)-Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Nurmi selalu mendapatkan juara umum di sekolahannya sehingga dia mendapatkan beasiswa pendidikan gratis selama 3 tahun di SMK Muhammadiyah 1 Wonosari. Setelah lulus SMK Nurmi masuk mendaftar sebagai mahasiswa di UNY masuk melalui jalur Penerimaan Bibit Unggul (PBU), demikian disampaikan Nurmi pada reporter Humas FE UNY Selasa (4/3). Sebelumnya ia telah mengikuti upacara yudisium pada Jumat (1/3) di Auditorium FE UNY yang diikuti sebanyak 29 peserta yudisium. Acara dihadiri Dekan, Wakil Dekan I, II, III, Ketua Senat, Kajur/Kaprodi dan Kabag/Kasubag FE UNY.

Semangat Nurmi anak pasangan Niyarto-Rupinah tak pernah surut. Justru kondisi ekonomi yang serba kurang tersebut menjadi cambuk buatnya untuk semakin rajin belajar. Alhasil, selama kuliah di FE UNY Nurmi selalu mendapatkan beasiswa sehingga bisa digunakan untuk membayar SPP dan membeli buku. "Selama mengikuti perkuliahan, saya selalu memperhatikan benar apa yang disampaikan oleh dosen sehingga saya akan langsung paham dan mengerti materi yang disampaikan tidak perlu mengulang belajar lagi di rumah," ujarnya.

Lanjut Nurmi, "selain aktif di perkuliahan, saya juga aktif berorganisasi di Koperasi Mahasiswa (Kopma) UNY. Sejak tahun 2012 saya menjabat sebagai Kepala Bidang Keuangan Kopma UNY. Dengan aktif berorganisasi, banyak sekali pengalaman yang diperoleh. Tentunya dalam bidang belajar membuka usaha, menjalin hubungan dengan berbagai relasi kerja, tanggung jawab mengenai laporan keuangan, manajemen, kepemimpinan, bekerja dalam satu tim bahkan saya memperoleh trik-trik dalam melobby dengan instansi/lembaga lain."

Setelah dinyatakan lulus, Nurmi mencoba untuk mendaftarkan diri sebagai Staf di Bank BPD DIY, dengan harapan bisa diterima sehingga bisa membantu orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan hidup dan bisa membantu membiayai adiknya yang masih duduk di bangku SMP. "Sebenarnya ada niat untuk lanjut studi S2 namun karena terbentur biaya niat tersebut diurungkan dahulu tetapi tetap akan berusaha untuk mencari beasiswa," ucap gadis kelahiran 27 November 1990 ini. (Isti)

Delapan Penyakit Hati dalam Diri Manusia

“Banyak dari kita yang mengerti seberapa besar kekuatan Al Qur’an yang Allah turunkan umat muslim yang ada di muka bumi ini. Bahkan nama Al Qur’an yang kita kenal sebagai Asy Syifa (penyembuh) seringkali belum kita percaya akan kemujarabannya. Sudah kuatkah kita dalam mengimani Al Qur’an, sehingga mampu menjadikannya sebagai obat paling ampuh dalam menyembuhkan penyakit-penyakit yang ada? Namun jangan disalahartikan apa yang saya sampaikan barusan. Bukan berarti kita membenarkan tindakan yang dilakukan oleh beberapa kalangan, manakala menaruh botol berisikan air bening di depan orang-orang yang tengah membaca lantunan ayat suci Al Qur’an dan menganggap itu bakal menjadi satu-satunya obat yang mujarab dan juga penuh khasiat. Karena hal itu bukan saja akan menyeret kita dalam perilaku syirik, namun juga pembodohan umat dengan mencampuradukkan sunnah dengan cara-cara kefasikan,” demikian urai Prof. Drs. H. Dochak Latief, Sabtu, 2 Maret 2013 dalam Pengajian Dosen dan Karyawan FE UNY di Ruang Ramah Tamah Fakultas Ekonomi UNY. Pengajian ini diikuti seluruh dosen dan karyawan di Fakultas Ekonomi dan diiringi dengan penyerahan Bantuan Uang Pendidikan untuk Anak Yatim/Piatu/Fakir/Miskin dari Zakat Infaq Shodaqoh Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta sejumlah 13 orang.

“Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan yang dilalui oleh setiap orang pasti memiliki saat ia bersemangat dalam memenuhi kewajiban atas keimanan yang diikrarkannya, namun ada pula saat di mana ia akan menemui penyakit hati yang menggerogoti keimanannya sebagai seorang muslim. Karena memang sudah tabi’at keimanan menemui masa ketangguhan saat ia sedang menguat, namun tak jarang pula mengalami penurunan manakala ia melemah karena maksiat yang dilakukan baik dengan sengaja maupun tidak. Mungkin kita pun menyadari bahwa banyak sekali potensi penyakit yang akan dialami manusia, yang barangkali tak terdiagnosis bahkan oleh pengetahuan medis sekali pun,” jelasnya.

Sedikitnya ada 8 potensi penyakit yang seringkali diidap oleh manusia, barangkali juga termasuk kita. Yang pertama dan kedua adalah penyakit lemah semangat dan malas. Dan barangkali itulah yang selama ini menjangkiti kita, bahkan untuk sekedar mengawali rutinitas keseharian termasuk juga mungkin ketika kita diminta untuk datang ke pengajian ini. Yang berikutnya adalah keresahan hati serta rasa gelisah yang memunculkan ketergesa-gesaan. Bisa jadi ini diakibatkan oleh banyak hal, salah satunya ketidaksiapan kita saat menghadapi masalah yang ada. Dada ini sesak dengan ketakutan dan ketidak-tenangan karena tidak mampu menyerahkan semuanya dalam ketawakkalan kepada Allah.

Penyakit selanjutnya adalah sifat bakhil dan pengecut. Seringkali kita tak mengerti bahwa ada hak orang lain dari harta yang kita miliki, dan kebakhilan menutupi mata hati kita pada kepedulian terhadap lingkungan di mana kita berada. Dan betapa menyulitkannya saat kita bekerja sama dengan orang yang memiliki jiwa pengecut, tak ada manfaat darinya. Sedangkan dua penyakit berikutnya adalah kegemaran berhutang dan hidup di bawah bayangan orang lain. Betapa merepotkannya orang-orang semacam ini jika ada di dekat kita. Lagipula, bukankah akan lebih terhormat jika kita yang menjadi tempat berhutang dan pengayom bagi yang lain?

Untuk menjaga kita dari serangan penyakit-penyakit di atas, Prof. Dr. Dochak Latief menuturkan ada tiga benteng yang dapat digunakan oleh setiap muslim. “Pertama, yaitu dengan merutinkan qiro’atul qur’an (membaca Al Qur’an). Kedua, memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah). Ketiga, senantiasa menumbuhkan kecintaan akan masjid sehingga kita dapat benar-benar menemukan ketenangan saat berada di dalamnya. Lagi-lagi itu hanya bisa bermanfaat jika dibungkus keimanan dan kebersihan hati dalam diri seorang muslim.”

Materi ceramah siang itu diakhiri dengan penjabaran tentang sifat-sifat dari hukum Islam. Yang pertama adalah aktif, karena adanya hukum Islam bukan sekedar untuk dipelajari namun juga untuk diamalkan secara aplikatif dalam hidup seorang muslim. Sifat selanjutnya adalah kreatif, meskipun ia sudah ditetapkan dalam satu garis yang lurus namun adakalanya perlu dilakukan telaah ulang dan penyesuaian agar dapat melingkupi seluruh aspek yang ada dalam keseharian seorang muslim. Dan tentu saja tetap ada koridor yang mengatur agar ia tak “terkreasikan” dengan berlebihan dan justru mengarah pada hal-hal yang dilarang oleh agama.

Sifat ketiga adalah asimilasi. Hampir mirip dengan poin sebelumnya, sifat ini juga mempersilakan kita untuk mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan yang dianggap lumrah, selama hal tersebut tidak melanggar syariat yang telah ditetapkan. Dan sifat yang terakhir adalah toleransi, yang artinya tetap harus dijaga rasa saling pengertian terhadap pilihan sikap yang diambil masing-masing individu selama memang itu masih memiliki hujjah yang jelas dan tidak keluar dari kaidah-kaidah yang diajarkan Rasulullah Muhammad saw. Wallahu a’lam bish shawaab... (Lukman)

Pusat Kajian Ekonomi Terpadu UNY Adakan Kajian Redenominasi Rupiah

Demi menapaki sebuah tatanan ekonomi yang mampu bersaing secara global, nampaknya kebijakan demi kebijakan untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri dan maju tetap gencar direalisasikan. Berangkat dari hasil riset World Bank yang menyebutkan bahwa Indonesia termasuk negara pemilik pecahan mata uang terbesar kedua di dunia setelah Vietnam, kebijakan baru berupa redenominasi mata uang rupiah saat ini sedang maraknya disosialisasikan. Bentuk redenominasi rupiah yang tengah digagas BI adalah menghilangkan tiga angka nol terakhir. Jadi, pecahan Rp 1.000, akan menjadi Rp 1. Namun, sikap pro-kontra tetap saja tak bisa dihindari. Mulai dari persoalan sejauh mana pentingnya menyederhanakan nilai rupiah, biaya sosialisasi, kesiapan masyarakat menerima kebijakan tersebut, hingga pada kekhawatiran masyarakat yang beranggapan bahwa redenominasi akan berujung kepada sanering.

Menanggapi diskursus redenominasi, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (BEM FE UNY) terdorong untuk memfasilitasi sebuah forum intelektual di mana mahasiswa tetap memiliki peran aktif terhadap permasalahan ekonomi di Indonesia. “Justru ini menjadi bukti bahwa permulaan yang terlahir dari diri kita bisa mereduksi kultur apatisme dan menggugah kawan-kawan mahasiswa agar lebih kritis terhadap permasalahan yang ada di Indonesia,” ujar Kadept SosPol BEM FE UNY, Agus Purnomo, Jumat (1/3).

Melalui program Pusat Kajian Ekonomi Terpadu (PUKET) yang digawangi Departemen SosPol BEM FE UNY, kajian “Redenominasi dan Pengaruhnya terhadap Perekonomian Indonesia” berhasil memancing sekitar 120 mahasiswa untuk hadir di Ruang Ramah Tamah FE UNY dan secara langsung diisi oleh Causa Iman Karana (Deputi BI Yogyakarta), Prof. Dr. Moerdiyanto , M.Pd., M.M. (Guru Besar FE UNY), dan Bambang Suprayitno (Dosen Pend. Ekonomi FE UNY), Kamis (28/2).

Dalam hal ini, Causa menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir dengan kebijakan ini, karena redenominasi tidak sama dengan sanering. Redenominasi hanya mengalami perubahan pada angka nol dari rupiah sedangkan nilai dan harga masih tetap sama. Sosialisasi (Redenominasi) akan terus dilakukan, dari rencana awal pada tahun 2014 sampai Tahun 2022. (Handoko Tri Saputra)

Training of Trainer (TOT) Perpajakan Kerjasama antara Tax Education Center UNY dan Kanwil DJP Yogyakarta

Kamis siang (28/1) itu, berlangsung Training of Trainer (TOT) tentang Perpajakan hasil kerjasama antara Tax Education Center Universitas Negeri Yogyakarta dan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Yogyakarta yang bertempat di Ruang Auditorium Fakultas Ekonomi UNY. Para peserta calon trainer adalah mahasiswa-mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi dan Kelas Internasional angkatan 2010. Sebagai pemateri utama, adalah Rindang Tri Anggoro, Kasi Penyuluh pada Kanwil DJP Yogyakarta. Training of Trainer ini dimaksudkan sebagai bekal awal mahasiswa Pendidikan Akuntansi untuk menyusun program kerja menjelang KKN-PPL . “Dengan adanya TOT ini, diharapkan mahasiswa bisa lebih mendalami materi perpajakan yang selama ini mereka cerna dari perkuliahan serta bisa membuat program tentang perpajakan yang lebih bersahabat dengan publik di saat KKN-PPL,” demikian papar Dekan FE, Dr. Sugiharsono, M.Si. dalam sambutannya.

Dr. Sugiharsono, M.Si. juga menjelaskan, dengan pentingnya posisi pajak dalam biaya penyelenggaraan negara, maka diperlukan petugas-petugas pajak yang berkualitas. BUMN sudah tidak lagi bisa diandalkan sebagai pos pendapatan negara sehingga Dirjen Pajak mempunyai tugas yang makin berat untuk tetap menjamin ketersediaan anggaran negara.

Dalam penjelasannya, Rindang Tri Anggoro mengatakan bahwa pajak sudah mendapat stigma yang negatif di masyarakat; mereka tidak suka ditarik pajak. “Oleh karena itu, para petugas pajak, dan juga mahasiswa yang kelak menjadi “penyuluh” di masyarakat harus bisa menjelaskan pajak dengan konsep yang mudah dipahami masyarakat,” jelasnya. Hal ini bisa dengan memberikan contoh pemanfaatan fasilitas umum yang dinikmati semua pihak, baik yang membayar pajak dalam jumlah banyak, yang membayar sedikit, bahkan yang tidak membayar pajak sekalipun.

Demikian juga penggunaan kereta api, pembangunan rel, jalan raya, pembiayaan gaji tentara, polisi, PNS, dsb. Negara membutuhkan banyak anggaran untuk mempertahankan kelangsungan negara. Jika dahulu negara ini dipertahankan dengan harta dan darah para pejuang, maka sekarang caranya lebih mudah, yaitu dengan membayar pajak. Kalau bukan warga negara Indonesia, siapa lagi yang mempertahankan kelangsungan hidup negara? Konsep-konsep dan pemahaman yang mudah seperti inilah yang hendaknya disampaikan kepada para wajib pajak secara interaktif dan menarik.

Kantor Dirjen Pajak siap membantu para mahasiswa dalam menjalankan program pengenalan pajak kepada masyarakat. Rindang Tri Anggoro menambahkan, adapun oknum Dirjen Pajak yang diberitakan memakan uang pajak, maka sesungguhnya yang dimakan hanya dari pengusaha, sedangkan uang rakyat yang disalurkan melalui kantor pos dan bank-bank yang ditunjuk sudah pasti aman dan diberdayakan secara tepat. Sedangkan terhadap pembangunan daerah yang tidak merata, Rindang dengan lugas menjawab bahwa pajak memang masih belum cukup untuk menutup semua biaya pembangunan di daerah-daerah. “Gaji petugas pajak memang tinggi, tapi itu juga sebanding dengan mobilitas mereka ke berbagai pelosok daerah di Indonesia yang penuh risiko.” (fadhli)

Pages