SDGs #4 Pendidikan

Ubur-ubur Kepo Hidupkan Pembelajaran Ketenagakerjaan, Dorong Literasi Murid Berbasis SDGs

Murid Kelas XI A MAN 2 Yogyakarta mengikuti pembelajaran Ekonomi materi Ketenagakerjaan melalui kegiatan yang unik dan interaktif pada Rabu (02/09/26) lalu. Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Indah Lestiyaningsih Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY). Dalam sesi ini, Indah mengintegrasikan media pembelajaran inovatif bernama “Ubur-Ubur Kepo” untuk menghidupkan suasana kelas, memicu keaktifan, serta mendorong rasa ingin tahu para murid. Penerapan metode yang berpusat pada murid (student-centered learning) ini juga menjadi bentuk kontribusi nyata dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas. Melalui ruang belajar yang inklusif dan partisipatif, murid tidak hanya menjadi objek, melainkan berperan aktif sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran.

Kegiatan ini bertujuan agar para murid mampu mengidentifikasi jenis tenaga kerja, membedakan angkatan kerja dan bukan angkatan kerja, serta mendeskripsikan konsep ketenagakerjaan secara mendalam. Untuk mencapai target tersebut, pembelajaran dirancang menggunakan model Problem-Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan strategi Cooperative Learning. Melalui media “Ubur-Ubur Kepo”, murid ditantang untuk mengeksplorasi berbagai pertanyaan krusial seputar dunia kerja. Rasa penasaran mereka kemudian dikembangkan menjadi pemantik diskusi kelompok. Melalui pendekatan ini, murid tidak hanya menerima teori secara pasif, tetapi terlibat langsung dalam membangun pemahaman secara kolaboratif bersama guru dan teman sebaya.

Penerapan media “Ubur-Ubur Kepo” terbukti sukses membuat suasana kelas jauh lebih hidup. Para murid tampak antusias dan terlibat aktif dalam menjawab pertanyaan, berdiskusi, menyampaikan pendapat, serta bekerja sama memecahkan studi kasus. Metode interaktif ini tidak hanya mendongkrak pemahaman materi, tetapi juga mengasah keterampilan abad ke-21 murid, seperti berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi.  Dari perspektif global, inovasi pembelajaran ini berhasil mengintegrasikan dua poin penting Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus. Selain mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan mutu pengalaman belajar, kegiatan ini juga berkontribusi pada SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Melalui literasi ekonomi yang ditanamkan sejak dini, murid dibekali pemahaman mendasar mengenai konsep ketenagakerjaan sebagai modal masa depan mereka.

Penggunaan media pembelajaran yang memanfaatkan rasa ingin tahu murid ini diharapkan dapat terus dikembangkan, baik dalam mata pelajaran Ekonomi maupun bidang studi lainnya. Kegiatan inovatif tersebut juga diharapkan mampu menjadi pengalaman berharga yang mendorong terciptanya proses belajar lebih aktif, bermakna, dan relevan dengan kehidupan nyata murid. Melalui konsistensi inovasi seperti ini, MAN 2 Yogyakarta optimis dapat terus mencetak generasi muda yang kritis dan siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. Langkah nyata ini sekaligus bukti bahwa dunia pendidikan madrasah mampu berkontribusi aktif dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) di Indonesia. (ndl)

Pembelajaran Ekonomi Kontekstual, Mahasiswa PK Dorong Kesadaran Siswa terhadap Kemiskinan dan Kesenjangan Ekonomi



Dyah Ayu Anjarwati, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari program studi S1 Pendidikan Ekonomi melaksanakan kegiatan pembelajaran Ekonomi bersama peserta didik kelas XI F di SMA Negeri 1 Sleman sebagai bagian dari program Praktik Kependidikan. Kegiatan dilaksanakan pada 24 Agustus - 3 September 2026 di ruang kelas XI F dengan sasaran peserta didik kelas XI. Pembelajaran mengangkat materi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi yang merupakan permasalahan ekonomi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui pelaksanaan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan mendorong peserta didik untuk memahami permasalahan di lingkungan sekitar. Selain itu, kegiatan turut mendukung SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan melalui peningkatan pemahaman peserta didik mengenai ketimpangan ekonomi.

Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai konsep, penyebab, dampak, serta upaya mengatasi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. Proses pembelajaran dilaksanakan secara interaktif dengan memanfaatkan media presentasi, kegiatan diskusi, pertanyaan pemantik, serta aktivitas kelompok. Peserta didik diarahkan untuk menghubungkan materi yang dipelajari dengan kondisi nyata di masyarakat sehingga pembelajaran tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep, tetapi juga kemampuan menganalisis permasalahan ekonomi. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa PK berperan sebagai fasilitator pembelajaran dengan memberikan penjelasan, membimbing diskusi, dan memberikan umpan balik terhadap hasil kegiatan peserta didik. Guru pamong turut memberikan arahan dan mendampingi pelaksanaan pembelajaran.

Pelaksanaan kegiatan memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran peserta didik. Peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kemiskinan dan kesenjangan ekonomi serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Melalui diskusi dan aktivitas pembelajaran, peserta didik juga didorong untuk menyampaikan pendapat, bekerja sama, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap permasalahan ekonomi di lingkungan sekitar. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa PK dalam mendukung pendidikan yang berkualitas sebagaimana tujuan SDG 4, sekaligus menumbuhkan kesadaran peserta didik mengenai pentingnya pemerataan kesempatan dan pengurangan kesenjangan dalam kehidupan masyarakat.

Melalui kegiatan pembelajaran yang kontekstual dan partisipatif, diharapkan peserta didik tidak hanya memahami materi Ekonomi secara akademis, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam melihat berbagai permasalahan sosial-ekonomi di kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menciptakan proses pendidikan yang berkualitas, membangun kepedulian sosial, serta mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan di lingkungan sekolah. (daa)

Dari Pepaya Afkir Jadi Abon dan Mustofa, FEB UNY bekerjasama dengan BUMDes Amarta Dorong Inovasi Pangan dan Pakan Berkelanjutan

Pepaya yang tidak matang sempurna dan selama ini hanya dianggap sebagai hasil pertanian yang tidak layak jual ternyata dapat disulap menjadi produk pangan bernilai ekonomi. Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Mbangun Desa yang dilaksanakan di Joglo Kesekretariatan Desa Prima Karangtanjung, Kalurahan Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Rabu (2/9/2026). Kegiatan bertajuk “Diversifikasi Produk Turunan dan Optimalisasi Rantai Nilai (Value Chain) pada BUMDes Amarta: Inovasi Pangan dan Pakan Berkelanjutan di Kalurahan Pandowoharjo” ini melibatkan sekitar 30 ibu-ibu perwakilan Desa Wisata, Desa Prima, Desa Mandiri Budaya, Kelompok Wanita Tani (KWT) Karang Tanjung, serta BUMDes Amarta sebagai mitra kegiatan.

Kegiatan tersebut juga dihadiri langsung oleh Lurah Pandowoharjo, Catur Sarjumiharta, yang turut memberikan dukungan terhadap upaya pengembangan potensi ekonomi lokal melalui inovasi produk berbasis sumber daya desa. Permasalahan yang diangkat dalam kegiatan ini berangkat dari kondisi nyata yang dihadapi BUMDes Amarta dan masyarakat Pandowoharjo. Pada kebun pertanian di wilayah tersebut, sebagian tanaman pepaya menghasilkan buah yang tidak matang sempurna sehingga tidak memenuhi standar untuk dipasarkan sebagai buah segar. Pepaya semacam ini oleh masyarakat biasa disebut sebagai pepaya afkir.

Jika hanya dijual sebagai buah dengan harga rendah atau bahkan tidak dimanfaatkan, pepaya afkir tentu memiliki nilai ekonomi yang sangat terbatas. Melalui kegiatan PkM ini, tim mendorong masyarakat untuk melihat pepaya afkir dari perspektif berbeda: bukan sebagai limbah atau produk gagal, tetapi sebagai bahan baku produk baru yang memiliki nilai tambah. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak melakukan praktik langsung mengolah pepaya afkir menjadi dua produk pangan, yaitu abon papaya, pepaya Mustofa, dan selai pepaya. Ketiga produk tersebut dikembangkan sebagai alternatif produk olahan yang dapat dipasarkan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Ketua Tim PkM Mbangun Desa, Dr. Lilia Pasca Riani, M.Sc., menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar berorientasi pada pelatihan pengolahan makanan, tetapi juga diarahkan untuk membangun rantai nilai ekonomi yang lebih optimal di tingkat desa. “Potensi ekonomi desa sebenarnya banyak sekali. Tantangannya adalah bagaimana bahan yang selama ini memiliki nilai ekonomi rendah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Pepaya afkir menjadi salah satu contoh nyata,” ujar Lilia.

Menurutnya, pengembangan produk turunan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kemampuan masyarakat membuat produk, tetapi dapat dilanjutkan menjadi aktivitas ekonomi yang terintegrasi dengan BUMDes Amarta. Dengan demikian, proses produksi, pengolahan, pemasaran, hingga pengembangan usaha dapat menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi desa.

Tidak Hanya Pangan, Pepaya dan Sampah Organik Diolah Menjadi Pakan

Selain inovasi pangan, kegiatan PkM juga memperkenalkan inovasi pengolahan bahan organik menjadi produk pakan dan kompos sebagai bagian dari upaya membangun sistem ekonomi yang lebih berkelanjutan. Inovasi tersebut sekaligus merespons persoalan lain yang dihadapi Kalurahan Pandowoharjo, yaitu adanya sampah kiriman dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berasal dari dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Pandowoharjo.

Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan tersebut diarahkan untuk dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan dan fermentasi. Hasil pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos maupun pakan ternak, antara lain untuk maggot, ikan lele, dan kambing.

Pendekatan tersebut memperkenalkan konsep bahwa bahan yang sebelumnya dianggap sebagai sampah masih memiliki nilai apabila dikelola dengan teknologi dan proses yang tepat. “Yang ingin kami bangun bukan hanya produk, tetapi cara berpikir masyarakat bahwa sesuatu yang dianggap tidak bernilai masih bisa menjadi sumber ekonomi. Pepaya afkir dapat menjadi pangan, sementara sampah organik dapat kembali masuk ke dalam siklus produksi sebagai kompos maupun pakan,” jelas Lilia.

Praktik Langsung Bersama Praktisi

Agar inovasi dapat dipahami dan diterapkan secara langsung, kegiatan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga melalui praktik bersama. Tim PkM menggandeng Tri Suhartati, praktisi UMKM kuliner, dan Fitria dari SMK Budi Mulia 2 untuk berbagi pengalaman dan keterampilan teknis kepada peserta. Para peserta mengikuti tahapan pengolahan secara langsung, mulai dari persiapan bahan, proses produksi, hingga menghasilkan produk olahan yang siap dikembangkan sebagai produk usaha.

Antusiasme peserta terlihat selama proses praktik. Para peserta tidak hanya mengikuti tahapan pembuatan, tetapi juga berdiskusi mengenai kemungkinan pengembangan rasa, kemasan, harga jual, serta peluang pemasaran produk. Kegiatan tersebut menjadi penting karena pengembangan ekonomi berbasis desa membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama. Perempuan desa, khususnya kelompok-kelompok yang telah aktif dalam kegiatan ekonomi dan pemberdayaan, memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak usaha pengolahan produk lokal.

Membangun Ekonomi Desa Berbasis Nilai Tambah

Kegiatan PkM Mbangun Desa ini menjadi bagian dari upaya mendorong BUMDes Amarta agar tidak hanya berperan sebagai pengelola potensi ekonomi desa, tetapi juga menjadi penghubung berbagai sumber daya lokal dalam satu rantai nilai. Pepaya afkir yang berasal dari sektor pertanian dapat masuk ke sektor pengolahan pangan. Sementara sampah organik dari aktivitas masyarakat dan program MBG dapat diarahkan kembali menjadi input untuk sektor peternakan dan pertanian.

Dengan pendekatan tersebut, terbentuk pola “dari desa, oleh masyarakat desa, dan kembali memberikan nilai bagi desa.”

Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk unggulan BUMDes Amarta dengan dukungan pada aspek standardisasi produk, pengemasan, perizinan, pemasaran, dan penguatan model bisnis. Pengembangan tersebut penting agar inovasi yang lahir dari kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat berlanjut menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Bagi Kalurahan Pandowoharjo, kegiatan ini menunjukkan bahwa inovasi ekonomi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang mahal. Dengan kreativitas, pendampingan, dan pengelolaan rantai nilai yang tepat, buah yang tidak layak jual dan sampah organik pun dapat diubah menjadi sumber nilai ekonomi baru bagi masyarakat. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kalurahan, BUMDes, kelompok masyarakat, praktisi, dan lembaga pendidikan, Pandowoharjo terus membuka peluang untuk membangun ekonomi lokal yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan. (lpr)

Meningkatkan Literasi Kreatif Generasi Muda melalui Workshop Public Speaking dan Content Creator dalam Mendukung SDGs ke-4 di SMA Negeri 1 Kota Mungkid

Dewi Fitrianingrum Cahyati, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY), bersama rekan-rekan mahasiswa PK UNY menyelenggarakan Workshop Public Speaking dan Content Creator di SMA Negeri 1 Kota Mungkid, Rabu (2/9/2026) lalu. Workshop ini diikuti oleh 60 peserta yang terdiri atas Duta Literasi Sekolah dan perwakilan dari berbagai organisasi di SMA Negeri 1 Kota Mungkid. Pelaksanaan workshop menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa PK UNY dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan kemampuan komunikasi, kreativitas, dan literasi digital yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.

Perkembangan media digital memberikan ruang yang semakin luas bagi generasi muda untuk belajar, berkomunikasi, dan menghasilkan karya. Oleh karena itu, generasi muda tidak hanya perlu menjadi pengguna media digital, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan menghasilkan konten yang kreatif, informatif, serta bermanfaat. Workshop ini menghadirkan Nurul Fatimah, pemilik Mbak Mbak Magelang, sebagai narasumber yang membawakan materi “Praktik Membuat Content yang Dapat Menghasilkan Cuan & Public Speaking di Media Sosial”. Melalui materi yang disampaikan, peserta diperkenalkan pada proses kreatif dalam membuat konten, mulai dari menemukan ide, menyusun konsep, hingga menghasilkan konten yang menarik. Peserta juga diajak untuk mempraktikkan secara langsung materi yang telah diberikan sehingga dapat merasakan proses membuat konten sekaligus melatih kemampuan menyampaikan pesan melalui media digital.

Selain keterampilan membuat konten, peserta memperoleh wawasan mengenai peluang pengembangan diri melalui media digital. Kemampuan membuat konten dapat menjadi bagian dari portofolio dan personal branding yang bermanfaat untuk mendukung pendidikan maupun dunia kerja di masa mendatang. Peserta juga diperkenalkan pada peluang memperoleh penghasilan melalui paid promote, endorsement, dan kolaborasi dengan merek. Dalam pelaksanaan kegiatan, Dewi turut berperan sebagai sie acara, penanggung jawab public speaking dan content creator, serta liaison officer (LO). Berbagai peran tersebut memberikan pengalaman bagi Dewi dalam mengelola kegiatan, berkomunikasi dengan peserta dan narasumber, serta berkoordinasi dengan tim untuk mendukung kelancaran pelaksanaan workshop.

Peserta tidak hanya memperoleh materi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan pembuatan konten melalui lomba video branding sekolah secara berkelompok. Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk mengembangkan ide dan konsep video sesuai kreativitas masing-masing, kemudian menghasilkan konten yang menarik dan informatif. Kegiatan ini mendorong murid untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama, menyusun konsep, membuat konten, dan menyampaikan pesan secara kreatif. Lomba tersebut masih dalam tahap penilaian dan pemenangnya akan diumumkan pada Senin, 28 September 2026.

Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta dapat memiliki keterampilan komunikasi, kreativitas, dan literasi digital yang relevan dengan kebutuhan masa kini. Penguatan kemampuan public speaking dan content creation dapat menjadi bekal bagi murid untuk mengembangkan diri, membangun portofolio, serta memanfaatkan media digital secara positif dan produktif. Pengalaman mengikuti workshop dan praktik pembuatan konten diharapkan dapat mendorong peserta untuk lebih percaya diri dalam menyampaikan ide serta menghasilkan karya yang memiliki nilai dan manfaat. Dengan demikian, kegiatan Praktik Kependidikan tidak hanya menjadi sarana pengembangan kompetensi mahasiswa, tetapi juga turut memberikan kontribusi dalam mendukung pendidikan berkualitas sesuai dengan tujuan SDGs ke-4. (dfc)

Bukan Sekadar Kentang: Inovasi Asesmen Kreatif melalui Game Literasi Keuangan dalam Pembelajaran Ekonomi 

Mutya Anugerah Aswad, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY), melaksanakan inovasi asesmen kreatif bertajuk “Game Kentang” dalam pembelajaran Ekonomi materi Literasi Keuangan bersama 36 murid kelas X E 5 SMA Negeri 2 Yogyakarta pada Selasa (01/09/26) lalu. Kegiatan yang dilaksanakan di bawah bimbingan guru pamong, Siti Fatimah, S.E., ini dirancang sebagai alternatif asesmen yang tidak hanya berorientasi pada pengukuran pemahaman materi, tetapi juga memberikan ruang bagi murid untuk aktif, kreatif, dan mampu mengomunikasikan pengetahuan yang dimiliki. Penerapan Game Kentang turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas, melalui pengalaman pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif murid.

Game Kentang diterapkan setelah murid mempelajari materi Literasi Keuangan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman murid melalui bentuk asesmen yang lebih kreatif dan berbeda dari pengerjaan soal secara konvensional. Media permainan dirancang menggunakan potongan kertas berbentuk kentang goreng yang berisi pertanyaan dari empat kategori, dengan masing-masing kategori terdiri atas lima soal. Murid mengambil satu potongan “kentang” secara acak untuk menentukan soal yang harus dikerjakan. Setelah menjawab pertanyaan berdasarkan materi yang telah dipelajari, murid menuangkan jawabannya dalam bentuk infografis. Pada tahap ini, murid tidak hanya dituntut menemukan jawaban yang tepat, tetapi juga mengolah informasi serta menyajikan pemahamannya secara ringkas, kreatif, dan mudah dipahami melalui desain visual sesuai kreativitas masing-masing.

Penerapan Game Kentang memberikan pengalaman asesmen yang menggabungkan pemahaman materi dengan keterlibatan aktif dan kreativitas murid. Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan setelah kegiatan, 58,8% murid menyatakan setuju bahwa Game Kentang memberikan kesempatan bagi mereka untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Selain itu, 55,9% murid menyatakan setuju bahwa mereka menjadi lebih memahami konsep Literasi Keuangan setelah mengerjakan soal Game Kentang, sementara persentase yang sama menyatakan bahwa kegiatan tersebut membantu mengembangkan kreativitas dalam menyampaikan materi Ekonomi. Respons tertinggi terlihat pada penggunaan infografis, dengan 67,6% murid menyatakan setuju bahwa mereka dapat menyampaikan pemahaman mengenai Literasi Keuangan melalui media tersebut. Hasil tersebut menunjukkan bahwa asesmen tidak hanya berfungsi untuk mengukur penguasaan materi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mendorong keterlibatan, kreativitas, dan kemampuan murid dalam mengomunikasikan pengetahuan. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi pembelajaran Ekonomi dalam mendukung terwujudnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas.

Melalui penerapan Game Kentang, diharapkan asesmen dalam pembelajaran Ekonomi dapat terus dikembangkan menjadi lebih variatif dan bermakna bagi murid. Inovasi sederhana seperti penggunaan unsur permainan dan media visual dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda serta membuka ruang bagi murid untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Ke depan, pendekatan asesmen kreatif seperti Game Kentang dapat dikembangkan pada berbagai materi dengan variasi media dan aktivitas yang lebih beragam. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga memberikan perhatian terhadap proses murid dalam memahami, berpikir kreatif, dan mengomunikasikan pengetahuan. (mty)

Integrasi SDG 12 dalam Pembelajaran Ekonomi: Penguatan Pemahaman Biaya Peluang Melalui Economic Choice Card pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Yogyakarta

Nilai-nilai keberlanjutan dapat dikenalkan melalui berbagai situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini berhasil diterapkan dalam pembelajaran oleh Adhestia Putri Richinta, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta saat sedang melaksanakan  Praktik Kependidikan (PK) di SMA Negeri 2 Yogyakarta bersama siswa kelas XE-7 pada Senin (31/08/26) lalu. Pembelajaran berlangsung pada pukul 11.00-13.45 WIB dengan waktu istirahat pada pukul 11.45-12.30. Pembelajaran ini mengangkat materi biaya peluang yang terintegrasi dengan Sustainable Development Goals (SDG) ke-12, yaitu Responsible Consumption and Production atau Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Implementasi dalam kegiatan ini berfokus pada aspek konsumsi yang bertanggung jawab sehingga disesuaikan dengan materi biaya peluang dan studi kasus yang digunakan.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi tentang konsep biaya peluang dan pengambilan keputusan ekonomi siswa. Ketika materi konsep dasar diikuti siswa dengan baik maka dilanjutkan dengan aktivitas Economic Choice Card sebagai media pembelajaran berbasis studi kasus. Media yang dibuat berupa kotak berisi lembaran kasus dengan berbagai warna yang dibuat memanfaatkan kardus bekas paket COD. Setiap warna memiliki kategori yang berbeda dan setiap lembar dilipat pada bagian atas dan bawah sehingga bagian tengah berisi soal studi kasus yang tertutup. Siswa diminta mengambil satu lembar secara acak kemudian membuka lipatan kartu untuk mengetahui situasi yang didapatkan. Kasus yang diberikan berkaitan dengan keputusan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari seperti memilih membeli barang baru atau memakai barang yang masih layak, mempertimbangkan kebutuhan atau keinginan serta diskon hingga menentukan konsumsi yang lebih efisien. Siswa dapat menganalisis alternatif pilihan secara individu dengan mempertimbangkan alasan, tujuan, manfaat, konsekuensi serta peluang dari keputusan tersebut. 

Keterkaitan dengan SDG 12 berdasarkan konteks kasus yang membuat siswa menganalisis penggunaan sumber daya secara bijak dan berfokus pada perilaku konsumsi yang tidak berlebihan serta pemanfaatan kembali material dalam pembuatan media pembelajaran. Pada beberapa kasus mengarahkan siswa mempertimbangkan barang untuk digunakan kembali ketika masih layak, melakukan perbaikan pada barang yang rusak, memilih produk isi ulang, hingga membeli barang karena diskon atau mengikuti perkembangan zaman. Pendekatan sejalan dengan SDG 12 yang menekankan konsumsi berkelanjutan, efisiensi penggunaan sumber daya serta pengurangan sampah dalam bentuk daur ulang. Dengan demikian, nilai konsumsi bertanggung jawab hadir secara kontekstual melalui proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil penugasan siswa terdapat beragam pertimbangan untuk menentukan pilihan yang diambil sesuai dengan kasus yang diberikan. Siswa tidak hanya mempertimbangkan harga tetapi berdasar kebutuhan, situasi, manfaat, kondisi keuangan, dan konsekuensi dari keputusan yang telah diambil. Pembelajatan ini menunjukkan bahwa konsep biaya peluang dapat dihubungkan dengan keputusan nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai konsumen. Melalui Economic Choice Card, siswa diharapkan untuk memahami setiap pilihan memiliki konsekuensi dan sesuatu yang dikorbankan sekaligus membangun perilaku siswa dalam mempertimbangkan kebutuhan dan dampak ebelum memilih keputusan konsumsi. (adst)

Cerdas Mengelola Uang Saku, Langkah Awal Menumbuhkan Literasi Ekonomi Murid SMA Negeri 1 Turi

Literasi ekonomi dapat dikenalkan kepada murid melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui kebiasaan mengelola uang saku. Hal tersebut menjadi tema kegiatan literasi yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Turi pada Selasa (01/09/26) lalu. Kegiatan ini disiapkan oleh mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY), Indah Aulia Afriana. Literasi ditujukan kepada seluruh murid kelas X, XI, dan XII dan dilaksanakan di masing-masing kelas. Kegiatan mengangkat tema “Cerdas Mengelola Uang Saku Sejak Remaja” sebagai upaya mengenalkan pengelolaan keuangan sederhana sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas.

Kegiatan literasi dilaksanakan secara individu dengan memanfaatkan Google Form (GForm) sebagai media penyampaian bahan bacaan dan pengumpulan respons murid. Bahan literasi yang telah disiapkan oleh mahasiswa PK berisi pembahasan mengenai pengelolaan uang saku, perbedaan kebutuhan dan keinginan, serta pentingnya menentukan skala prioritas dalam menggunakan uang. Murid terlebih dahulu membaca bahan bacaan yang diberikan melalui Google Form secara mandiri. Setelah itu, murid menjawab empat pertanyaan yang telah disediakan berdasarkan pemahaman dan pertimbangan mereka terhadap situasi pengelolaan uang dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini melibatkan seluruh murid sebagai responden untuk memberikan gambaran mengenai pemahaman dan pilihan mereka dalam mengelola uang saku.

Berdasarkan 345 respons murid, terlihat adanya kecenderungan untuk menerapkan pengelolaan uang secara lebih terarah. Pada pertanyaan mengenai cara mengelola uang sebesar Rp30.000, sebanyak 67,5% respons menunjukkan kecenderungan memprioritaskan kebutuhan, 41,7% memilih menyisihkan atau menabung sebagian uang, dan 31,6% memilih mengurangi jajan atau konsumsi. Sementara itu, pada pertanyaan mengenai kebiasaan yang ingin diterapkan setelah mengikuti literasi, 63,5% menunjukkan keinginan untuk lebih memprioritaskan kebutuhan, 35,1% ingin menabung atau menyisihkan uang, dan 27,8% memilih membuat anggaran, mencatat, atau membagi uang. Ketika diberikan situasi memiliki Rp50.000 untuk digunakan selama satu minggu, 50,4% respons memilih menabung atau menyisihkan uang dan 47,2% memilih mengurangi konsumsi berlebihan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa murid memperoleh ruang untuk memahami dan merefleksikan pilihan ekonomi yang berkaitan dengan pengelolaan uang saku.

Kegiatan literasi ini diharapkan dapat menjadi langkah sederhana dalam membangun kebiasaan murid untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan ekonomi. Pemahaman mengenai kebutuhan, keinginan, skala prioritas, dan pengelolaan pengeluaran dapat menjadi bekal yang relevan bagi murid dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan, kegiatan literasi dengan topik yang dekat dengan kehidupan murid diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Upaya tersebut sekaligus menjadi kontribusi dalam mendukung SDGs ke-4 melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan murid yang relevan dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari. (ind)

 

Cerdas Mengelola Uang Saku Sejak Remaja melalui Penguatan Literasi Ekonomi Berbasis SDGs ke-4 di SMA Negeri 1 Turi

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY), Axelina Dava Avrielliandiny, melaksanakan kegiatan literasi ekonomi di SMA Negeri 1 Turi, Selasa (01/09/26) lalu. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 yaitu Pendidikan Berkualitas. Pengambilan keputusan ekonomi merupakan kemampuan yang penting untuk dikenalkan kepada murid sejak remaja karena berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Melalui kebiasaan sederhana seperti mengatur uang saku, menentukan kebutuhan yang harus dipenuhi, serta mempertimbangkan pilihan sebelum membeli sesuatu, murid dapat mulai memahami penerapan konsep ekonomi secara nyata. Kegiatan dengan tema “Cerdas Mengelola Uang Saku Sejak Remaja” ini diberikan kepada seluruh murid kelas X, XI, dan XII sebagai bentuk penguatan pemahaman ekonomi yang relevan dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Kegiatan literasi ekonomi dilaksanakan melalui media Google Form yang digunakan sebagai sarana penyampaian materi literasi sekaligus pengumpulan tanggapan murid. Dalam pelaksanaannya, murid diberikan bahan bacaan yang membahas mengenai pengelolaan uang saku, perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta pentingnya menyusun skala prioritas ketika menghadapi keterbatasan sumber daya. Setelah memahami materi tersebut, murid diminta untuk memberikan jawaban berdasarkan studi kasus yang telah disediakan. Studi kasus tersebut mengajak murid untuk menentukan pilihan ketika memiliki uang sebesar Rp30.000 dengan beberapa kebutuhan dan keinginan yang harus dipertimbangkan, serta merefleksikan cara mengelola uang Rp50.000 agar dapat digunakan secara bijak selama satu minggu. Melalui kegiatan ini, murid tidak hanya memahami konsep ekonomi secara teoritis, tetapi juga dilatih untuk menghubungkan materi dengan kondisi yang dekat dengan kehidupan mereka. 

Berdasarkan hasil pengisian Google Form dari 345 respons murid, kegiatan literasi ekonomi memberikan gambaran mengenai cara murid mempertimbangkan pilihan dalam mengelola uang saku secara lebih bijak. Pada studi kasus penggunaan uang sebesar Rp30.000, sebanyak 67,5% respons menunjukkan bahwa murid cenderung mendahulukan kebutuhan dibandingkan keinginan, 41,7% respons menunjukkan adanya upaya untuk menyimpan sebagian uang yang dimiliki, dan 31,6% respons menunjukkan upaya untuk mengurangi pengeluaran konsumsi atau jajan. Selain itu, setelah mengikuti kegiatan literasi, sebanyak 63,5% respons menunjukkan keinginan untuk lebih memperhatikan kebutuhan sebelum melakukan pengeluaran, 35,1% respons berencana membiasakan diri menyisihkan uang, serta 27,8% respons mulai mempertimbangkan pengelolaan uang melalui penyusunan anggaran, pencatatan pengeluaran, maupun pembagian uang sesuai kebutuhan. Pada situasi pengelolaan uang sebesar Rp50.000 untuk satu minggu, sebanyak 50,4% respons memilih menyimpan sebagian uang untuk digunakan kemudian dan 47,2% respons berupaya mengurangi konsumsi yang berlebihan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan literasi ekonomi memberikan pengalaman belajar bagi murid untuk memahami keterbatasan sumber daya, mempertimbangkan pilihan, serta merefleksikan keputusan ekonomi yang berkaitan dengan pengelolaan uang saku. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap SDGs ke-4 melalui pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan murid.

Melalui kegiatan literasi ekonomi ini, diharapkan murid mampu menerapkan pemahaman yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam mengelola sumber daya yang dimiliki secara lebih bertanggung jawab. Pembiasaan dalam menentukan prioritas, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mempertimbangkan manfaat dari setiap keputusan ekonomi dapat menjadi bekal penting bagi murid dalam menghadapi berbagai pilihan di masa depan. Keberadaan kegiatan literasi yang mengangkat topik dekat dengan kehidupan murid diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran yang bermakna. Dengan demikian, kegiatan Praktik Kependidikan tidak hanya menjadi proses pengembangan kompetensi mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan murid sesuai dengan tujuan SDGs ke-4. (axl)

 

Torehkan Prestasi Nasional, Guru Besar FEB UNY Raih penghargaan OJK Penggerak Duta Literasi Keuangan Indonesia (OJK PEDULI) Kantor OJK Daerah Terbaik 2026 

Prof. Dr. Ratna Candra Sari, M.Si., CA., CFP., IFP., CSRS., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) meraih prestasi membanggakan di tingkat nasional.

Prof. Dr. Ratna Candra Sari, M.Si., CA., CFP., IFP., CSRS berhasil memenangkan penghargaan OJK Penggerak Duta Literasi Keuangan Indonesia (OJK PEDULI) Kantor OJK Daerah Terbaik yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pusat. Penghargaan ini diberikan atas keaktifan dan kepedulian Prof. Dr. Ratna Candra Sari, M.Si., CA., CFP., IFP., CSRS dalam menggerakkan eduukasi literasi keuangan untuk masyarakat dari berbagai kalangan baik pelajar, ibu rumah tangga dan masyarakat umum lainnya.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung dalam puncak acara Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan (BLK) 2026 yang digelar di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi pada Jumat, 28 Agustus 2026. Acara nasional bertema “Merajut Masa Depan melalui Literasi dan Inklusi Keuangan” ini dihadiri lebih dari 1.100 pelajar dan mahasiswa. Turut hadir pula sejumlah pejabat penting, seperti Ketua Dewan Komisioner OJK Dr. Friderica Widyasari Dewi, S.E., M.B.A., Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono, S.E., M.P.M., Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, S.E., M.E., Dirjen Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kemenkeu Dr. Herman Saheruddin, S.E., M.Sc., Anggota Dewan Komisioner LPS Ferdinand D. Purba, S.E., M.A., serta jajaran pimpinan daerah dan pelaku industri jasa keuangan lainnya.

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi Prof. Dr. Ratna Candra Sari, M.Si., CA., CFP., IFP., CSRS. dalam membimbing masyarakat agar lebih bijak mengelola keuangan. Prestasi tersebut sekaligus membuktikan kepedulian nyata akademisi UNY terhadap peningkatan literasi finansial di Indonesia. Pencapaian ini diharapkan mampu menginspirasi banyak pihak untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri dan sejahtera menuju Indonesia Emas 2045.

Integrasi SDGs 4 dan 9 dalam Pembelajaran Pengelolaan Rapat melalui Pembuatan Notulen Rapat Berbasis Digital pada Peserta Didik Kelas XI MPLB 1 SMK Negeri 1 Jogonalan

Listya Candra Novica Fitri, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran FEB UNY melaksanakan kegiatan pembelajaran mata pelajaran Manajemen Perkantoran pada elemen Pengelolaan Rapat bersama peserta didik kelas XI MPLB 1 SMK Negeri 1 Jogonalan pada Senin (31/08/26) lalu. Kegiatan dilaksanakan di SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten dengan sasaran peserta didik kelas XI MPLB 1 melalui praktik pembuatan notulen rapat berbasis digital. Kegiatan ini dirancang untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengelola informasi hasil rapat sekaligus membiasakan penggunaan teknologi dalam pekerjaan administrasi perkantoran. Pelaksanaan kegiatan memiliki keterkaitan dengan SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan peserta didik serta SGDs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran dan praktik administrasi.

Kegiatan bertujuan agar peserta didik mampu memahami peran dan tanggung jawab seorang notulis serta terampil menyusun notulen berdasarkan informasi tertulis yang tersedia. Kegiatan diawali dengan penyamapaian materi mengenai notulen rapat, meliputi pengertian, tujuan dan fungsi notulen, peran notulis, unsur-unsur yang perlu dicatat, struktur penulisan (kepala, identitas rapat, pembukaan pembahasan, keputusan, tindak lanjut, hingga penutup), prinsip penulisan yang objektif, faktual, ringkas, dan formal, serta beberapa contoh notulen sebagai gambaraan penerapannya. Setelah pemahaman konsep tersampaikan, peserta didik kemudian diberikan sebuah naskah skenario rapat koordinasi internal PT. Alkain House yang menggambarkan simulasi teleconference dengan agenda pembentukan kepanitian, pembagian tugas dan tanggung jawab, pembahasan kebutuhan logistik, peninjauan alternatif hotel, hingga penetapan rencana tindak lanjut. Melalui naskah tersebut, peserta didik berperan sebagai notulis dengan mempelajari isi skenario secara cermat, mengidentifikasi informasi penting, menandai hasil keputusan, serta mencermati poin-poin tindak lanjut yang disepakati. Hasil identifikasi tersebut kemudian disusun menjadi dokumen notulen resmi menggunakan Microsoft Word atau WPS Office, dan dikumpulkan melalui Google Drive.

Melalui kegiatan ini, peserta didik memperoleh pengalaman bahwa tugas notulis tidak sebatas mencatat, namun juga menuntut kemampuan membaca cermat, memilah, dan mengelola informasi dari suatu teks menjadi dokumen administrasi yang sistematis dan mudah dipahami, meskipun informasi tersebut tidak diperoleh dari rapat yang berlangsung secara langsung. Skenario yang diberikan memuat berbagai informasi yang perlu diidentifikasi peserta didik, mulai dari struktur kepanitiaan, pembagian tugas antar bidang, hingga rencana tindak lanjut seperti finalisasi surat undangan, penyusunan RAB logistik, peninjauan hotel, dan penyusunan proposal kegiatan. Penggunaan Microsoft Word/WPS Office serta Google Drive turut memberikan pengalaman kepada peserta didik dalam menerapkan teknologi digital pada proses pengolahan dan pengelolaan dokumen, sehingga memperkuat kontribusi kegiatan terhadap SDGs 4 melalui penguatan kompetensi peserta didik dan SDGs 9 melalui pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran.

Melalui pembelajaran berbasis skenario tersebut, peserta didik kelas XI MPLB 1 diharapkan mampu menghubungkan kompetensi Pengelolaan Rapat dengan kebutuhan administrasi di lingkungan kerja, sekalipun latihan dilakukan tanpa menyaksikan rapat secara langsung. Kegiatan ini juga diharapkan mendorong pembelajaran yang lebih kontekstual, yaitu pembelajaran yang tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berlatih keterampilan administrasi sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Dengan pendekatan tersebut, integrasi SDGs dapat hadir secara nyata melalui aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi kejuruan dan kebutuhan dunia kerja. (lst)

 

Pages