#PraktikKependidikan

Mahasiswa PK UNY Hadirkan Wajah Baru Perpustakaan SMK Abdi Negara Lewat Revitalisasi dan Poster Edukatif

Sebagai langkah nyata dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke–4 terkait Pendidikan Berkualitas (Quality Education), mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar aksi revitalisasi perpustakaan di SMK Abdi Negara, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Program kerja ini dilaksanakan secara berkesinambungan sejak pertengahan Juli hingga September 2026. Sasaran utama dari kegiatan ini adalah seluruh warga sekolah, terutama para siswa yang membutuhkan sarana literasi yang kondusif dan terstruktur guna menunjang kegiatan belajar mengajar kejuruan.

Program ini dirancang untuk mengembalikan fungsi perpustakaan sebagai pusat sarana belajar yang bersih, teratur, dan kaya akan informasi edukatif. Rangkaian aksi diawali dengan pembenahan area fisik, mencakup pembersihan ruang baca, penyapuan, pengepelan, hingga pelapisan rak buku agar tampak lebih rapi, dan estetis. Setelah itu, mahasiswa PK mengelompokkan seluruh koleksi buku berdasarkan tingkatan kelas, program keahlian (Akuntansi dan Keuangan Lembaga, Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis, serta Pemasaran), serta kategori mata pelajaran umum maupun kejuruan, hingga kategori buku bacaan dan novel fiksi/non–fiksi. Guna memperindah suasana sekaligus menghadirkan edukasi visual, mahasiswa PK mendesain dan menempelkan berbagai poster edukatif, seperti imbauan budaya membaca, tata tertib perpustakaan, dan petunjuk denah rak buku. Mahasiswa PK juga memperbarui sistem sirkulasi dengan mencetak dokumen “Daftar Peminjaman Buku Perpustakaan TA 2026/2027”. Seluruh proses pembenahan ini berjalan atas koordinasi erat antara mahasiswa PK dan koordinator pengelola perpustakaan SMK Abdi Negara Muntilan.

Revitalisasi ini membawa perubahan positif yang bermakna bagi kenyamanan dan kemudahan siswa dalam mengakses bahan bacaan. Penataan koleksi yang sistematis, baik untuk buku pelajaran maupun koleksi novel dan buku bacaan umum, serta kehadiran poster–poster edukatif membantu siswa menemukan referensi belajar dan hiburan literasi dengan cepat sekaligus memicu kesadaran untuk menjaga ketertiban ruang baca. Penyediaan format pencatatan peminjaman yang baru pun turut mewujudkan tertib administrasi perpustakaan. Langkah ini secara langsung mendukung Target SDGs 4 dalam menghadirkan fasilitas pendidikan yang ramah, aman, inklusif, dan efektif bagi seluruh peserta didik.

Dengan hadirnya suasana baru di perpustakaan SMK Abdi Negara Muntilan, minat baca dan budaya literasi para siswa diharapkan dapat makin meningkat. Pihak sekolah juga diharapkan dapat merawat serta melanjutkan sistem tata kelola dan fasilitas edukatif yang telah diperbarui ini agar manfaatnya terus dirasakan oleh generasi siswa mendatang. (ans)

Wujudkan Kantor Paperless, Intip Aksi Siswa Kelas 11 MPLB Kuasai E-Arsip Lewat Cloud Computing

Guna merespons tantangan era digitalisasi sekaligus mendukung perwujudan Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 4 (Quality Education) dan Poin 12 (Responsible Consumption and Production), sebuah kegiatan pembelajaran inovatif bertajuk "Wujudkan Kantor Paperless, Intip Aksi Siswa Kelas 11 MPLB Kuasai E-Arsip Lewat Cloud Computing" sukses diselenggarakan pada Rabu (09/09/26) lalu. Kegiatan yang berlangsung dengan penuh antusiasme di Laboratorium Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) SMK Muhammadiyah 2 Bantul ini, diinisiasi dan dipandu langsung oleh Arinda Rahmawati, salah satu mahasiswa Praktik Kependidikan (PK). Program ini menyasar seluruh siswa kelas 11 MPLB sebagai langkah strategis untuk mentransformasi kebiasaan kearsipan konvensional menuju format digital yang sejalan dengan tuntutan perkantoran masa depan.

Pembelajaran praktik ini dirancang khusus untuk membekali siswa dengan kompetensi teknis yang selaras dengan kebutuhan industri saat ini, sembari menanamkan kesadaran akan budaya kerja ramah lingkungan. Dalam pelaksanaannya, Arinda Rahmawati membimbing para siswa langkah demi langkah dalam membedah teknologi cloud computing melalui pemanfaatan fitur Google Drive sebagai ruang penyimpanan e-arsip. Para siswa diajak melakukan simulasi nyata operasional kantor modern, mulai dari proses alih media dokumen fisik menjadi digital, klasifikasi, penyusunan hierarki folder yang sistematis, hingga pengaturan hak akses keamanan data (sharing permission). Tidak hanya itu, mereka juga mempraktikkan teknik penemuan kembali arsip (information retrieval) yang membuktikan bahwa pencarian dokumen dapat dilakukan secara instan hanya dalam hitungan detik.

Hasil dari kegiatan ini menunjukkan progres yang sangat impresif, di mana seluruh siswa mampu menyusun dan mengoperasikan sistem kearsipan berbasis cloud secara mandiri. Bagi para siswa, pengalaman praktis ini efektif memangkas kesenjangan antara teori di kelas dengan realitas dunia kerja, sehingga kesiapan dan daya saing mereka sebagai calon tenaga administrasi profesional semakin terasah. Hal ini dirasakan langsung oleh para peserta, seperti yang diungkapkan oleh Mischa, "Dulu saya hanya memanfaatkan drive sebagai tempat penyimpanan tapi setelah praktik ini, saya jadi tahu cara menyusun dan menemukan dokumen di drive dengan cepat." Senada dengan hal tersebut, siswa lainnya bernama Bela menuturkan, "Praktik ini benar-benar membuka wawasan. Saya jadi lebih siap dan percaya diri untuk menjalankan PKL nanti karena sudah terbiasa mengelola dokumen." Di sisi lain, terobosan ini juga memberikan kontribusi nyata pada pencapaian SDG 4 dengan menghadirkan pendidikan vokasi yang bermutu, dan adaptif terhadap teknologi. Pada saat yang bersamaan, aksi nyata paperless office ini menjadi wujud implementasi SDG 12 yang sangat efektif untuk menekan konsumsi kertas, meminimalisir limbah dokumen, serta menghemat ruang fisik dan biaya operasional.

Melalui keberhasilan program simulasi ini, diharapkan para siswa tidak hanya sekadar cakap mengoperasikan teknologi cloud computing, tetapi juga kelak mampu membawa budaya kerja yang efisien dan peduli kelestarian lingkungan saat terjun ke dunia industri. Sebagai tindak lanjut yang berkelanjutan, SMK Muhammadiyah 2 Bantul menyambut baik inovasi ini dan berkomitmen untuk terus mempertahankan serta mengembangkan modul praktikum e-arsip yang lebih baik. Dengan demikian, ekosistem pembelajaran yang modern dan hijau ini dapat terus diwariskan untuk mencetak generasi lulusan MPLB yang unggul, tanggap teknologi, dan berwawasan keberlanjutan. (ard)

Inovasi Pembelajaran Ekonomi Berbasis PBL dan Zep.quiz sebagai Asesmen Formatif di SMA Negeri 1 Prambanan Klaten guna Mendukung SDGs Pendidikan Berkualitas

Figra Alensy Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNY melaksanakan inovasi pembelajaran Ekonomi pada kelas XII (E2, F2, G3, H3, I4, dan J4) di SMA Negeri 1 Prambanan Klaten, Jawa Tengah. Kegiatan ini mengombinasikan model Problem-Based Learning (PBL) dengan pemanfaatan media digital Zep.quiz yang difokuskan sebagai instrumen evaluasi formatif dalam asesmen pembelajaran materi Ekonomi Internasional. Inovasi pembelajaran ini berkontribusi langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education), melalui peningkatkan efektivitas, keterlibatan aktif, dan kualitas pembelajaran yang interaktif serta inklusif. Kegiatan Praktik Kependidikan (PK) ini dilaksanakan selama masa pelaksanaan program PK Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2026 di SMA Negeri 1 Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. 

Tujuan dari kegiatan ini adalah mengatasi rendahnya partisipasi siswa akibat metode pembelajaran konvensional dan teoritis, serta membangun pemahaman konseptual yang kuat terkait isu-isu ekonomi global. Proses pelaksanaan terbagi menjadi tiga tahapan: perencanaan modul dan asesmen, pelaksanaan pembelajaran berbasis analisis kasus nyata (seperti fluktuasi kurs mata uang dan hambatan ekspor-impor), serta penutup berupa refleksi. Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi dan mempresentasikan hasil pemecahan masalah di depan kelas. Sebagai penguatan pada tahap evaluasi formatif, kuis interaktif berbasis gamifikasi dijalankan menggunakan platform Zep.quiz melalui gawai/laptop peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman siswa secara langsung.

Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan motivasi, antusiasme, serta keterlibatan aktif siswa selama proses pembelajaran. Pemanfaatan Zep.quiz sebagai bagian dari asesmen formatif terbukti ampuh mengubah suasana evaluasi yang semula cenderung kaku dan menegangkan menjadi lebih interaktif dan menyenangkan, sekaligus memberikan umpan balik real-time bagi guru untuk memetakan penguasaan materi siswa secara presisi. Dampak positif dari kegiatan ini tidak hanya memperkuat penalaran kritis dan kolaborasi peserta didik, tetapi juga mendukung sekolah dalam mewujudkan transformasi digital pembelajaran sesuai spirit Kurikulum Merdeka. Secara langsung, kegiatan PK ini memberikan kontribusi nyata terhadap target SDGs dalam menjamin pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas.

Melalui keberhasilan penerapan inovasi pembelajaran ini, diharapkan kombinasi Problem-Based Learning dan penggunaan media digital interaktif seperti Zep.quiz sebagai evaluasi formatif yang diinisiasi oleh Figra Alensy dari Prodi Pendidikan Ekonomi FEB UNY ini dapat terus diterapkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh para pendidik di SMA Negeri 1 Prambanan Klaten. Langkah ini penting guna mencetak generasi muda yang kritis, berwawasan global, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi di era modern. (fgr)

Bukan Sekadar Kentang: Inovasi Asesmen Kreatif melalui Game Literasi Keuangan dalam Pembelajaran Ekonomi 

Mutya Anugerah Aswad, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY), melaksanakan inovasi asesmen kreatif bertajuk “Game Kentang” dalam pembelajaran Ekonomi materi Literasi Keuangan bersama 36 murid kelas X E 5 SMA Negeri 2 Yogyakarta pada Selasa (01/09/26) lalu. Kegiatan yang dilaksanakan di bawah bimbingan guru pamong, Siti Fatimah, S.E., ini dirancang sebagai alternatif asesmen yang tidak hanya berorientasi pada pengukuran pemahaman materi, tetapi juga memberikan ruang bagi murid untuk aktif, kreatif, dan mampu mengomunikasikan pengetahuan yang dimiliki. Penerapan Game Kentang turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas, melalui pengalaman pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif murid.

Game Kentang diterapkan setelah murid mempelajari materi Literasi Keuangan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman murid melalui bentuk asesmen yang lebih kreatif dan berbeda dari pengerjaan soal secara konvensional. Media permainan dirancang menggunakan potongan kertas berbentuk kentang goreng yang berisi pertanyaan dari empat kategori, dengan masing-masing kategori terdiri atas lima soal. Murid mengambil satu potongan “kentang” secara acak untuk menentukan soal yang harus dikerjakan. Setelah menjawab pertanyaan berdasarkan materi yang telah dipelajari, murid menuangkan jawabannya dalam bentuk infografis. Pada tahap ini, murid tidak hanya dituntut menemukan jawaban yang tepat, tetapi juga mengolah informasi serta menyajikan pemahamannya secara ringkas, kreatif, dan mudah dipahami melalui desain visual sesuai kreativitas masing-masing.

Penerapan Game Kentang memberikan pengalaman asesmen yang menggabungkan pemahaman materi dengan keterlibatan aktif dan kreativitas murid. Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan setelah kegiatan, 58,8% murid menyatakan setuju bahwa Game Kentang memberikan kesempatan bagi mereka untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Selain itu, 55,9% murid menyatakan setuju bahwa mereka menjadi lebih memahami konsep Literasi Keuangan setelah mengerjakan soal Game Kentang, sementara persentase yang sama menyatakan bahwa kegiatan tersebut membantu mengembangkan kreativitas dalam menyampaikan materi Ekonomi. Respons tertinggi terlihat pada penggunaan infografis, dengan 67,6% murid menyatakan setuju bahwa mereka dapat menyampaikan pemahaman mengenai Literasi Keuangan melalui media tersebut. Hasil tersebut menunjukkan bahwa asesmen tidak hanya berfungsi untuk mengukur penguasaan materi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mendorong keterlibatan, kreativitas, dan kemampuan murid dalam mengomunikasikan pengetahuan. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi pembelajaran Ekonomi dalam mendukung terwujudnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas.

Melalui penerapan Game Kentang, diharapkan asesmen dalam pembelajaran Ekonomi dapat terus dikembangkan menjadi lebih variatif dan bermakna bagi murid. Inovasi sederhana seperti penggunaan unsur permainan dan media visual dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda serta membuka ruang bagi murid untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Ke depan, pendekatan asesmen kreatif seperti Game Kentang dapat dikembangkan pada berbagai materi dengan variasi media dan aktivitas yang lebih beragam. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga memberikan perhatian terhadap proses murid dalam memahami, berpikir kreatif, dan mengomunikasikan pengetahuan. (mty)

Integrasi SDG 12 dalam Pembelajaran Ekonomi: Penguatan Pemahaman Biaya Peluang Melalui Economic Choice Card pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Yogyakarta

Nilai-nilai keberlanjutan dapat dikenalkan melalui berbagai situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini berhasil diterapkan dalam pembelajaran oleh Adhestia Putri Richinta, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta saat sedang melaksanakan  Praktik Kependidikan (PK) di SMA Negeri 2 Yogyakarta bersama siswa kelas XE-7 pada Senin (31/08/26) lalu. Pembelajaran berlangsung pada pukul 11.00-13.45 WIB dengan waktu istirahat pada pukul 11.45-12.30. Pembelajaran ini mengangkat materi biaya peluang yang terintegrasi dengan Sustainable Development Goals (SDG) ke-12, yaitu Responsible Consumption and Production atau Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Implementasi dalam kegiatan ini berfokus pada aspek konsumsi yang bertanggung jawab sehingga disesuaikan dengan materi biaya peluang dan studi kasus yang digunakan.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi tentang konsep biaya peluang dan pengambilan keputusan ekonomi siswa. Ketika materi konsep dasar diikuti siswa dengan baik maka dilanjutkan dengan aktivitas Economic Choice Card sebagai media pembelajaran berbasis studi kasus. Media yang dibuat berupa kotak berisi lembaran kasus dengan berbagai warna yang dibuat memanfaatkan kardus bekas paket COD. Setiap warna memiliki kategori yang berbeda dan setiap lembar dilipat pada bagian atas dan bawah sehingga bagian tengah berisi soal studi kasus yang tertutup. Siswa diminta mengambil satu lembar secara acak kemudian membuka lipatan kartu untuk mengetahui situasi yang didapatkan. Kasus yang diberikan berkaitan dengan keputusan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari seperti memilih membeli barang baru atau memakai barang yang masih layak, mempertimbangkan kebutuhan atau keinginan serta diskon hingga menentukan konsumsi yang lebih efisien. Siswa dapat menganalisis alternatif pilihan secara individu dengan mempertimbangkan alasan, tujuan, manfaat, konsekuensi serta peluang dari keputusan tersebut. 

Keterkaitan dengan SDG 12 berdasarkan konteks kasus yang membuat siswa menganalisis penggunaan sumber daya secara bijak dan berfokus pada perilaku konsumsi yang tidak berlebihan serta pemanfaatan kembali material dalam pembuatan media pembelajaran. Pada beberapa kasus mengarahkan siswa mempertimbangkan barang untuk digunakan kembali ketika masih layak, melakukan perbaikan pada barang yang rusak, memilih produk isi ulang, hingga membeli barang karena diskon atau mengikuti perkembangan zaman. Pendekatan sejalan dengan SDG 12 yang menekankan konsumsi berkelanjutan, efisiensi penggunaan sumber daya serta pengurangan sampah dalam bentuk daur ulang. Dengan demikian, nilai konsumsi bertanggung jawab hadir secara kontekstual melalui proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil penugasan siswa terdapat beragam pertimbangan untuk menentukan pilihan yang diambil sesuai dengan kasus yang diberikan. Siswa tidak hanya mempertimbangkan harga tetapi berdasar kebutuhan, situasi, manfaat, kondisi keuangan, dan konsekuensi dari keputusan yang telah diambil. Pembelajatan ini menunjukkan bahwa konsep biaya peluang dapat dihubungkan dengan keputusan nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai konsumen. Melalui Economic Choice Card, siswa diharapkan untuk memahami setiap pilihan memiliki konsekuensi dan sesuatu yang dikorbankan sekaligus membangun perilaku siswa dalam mempertimbangkan kebutuhan dan dampak ebelum memilih keputusan konsumsi. (adst)

Integrasi SDGs 4 dan 9 dalam Pembelajaran Pengelolaan Rapat melalui Pembuatan Notulen Rapat Berbasis Digital pada Peserta Didik Kelas XI MPLB 1 SMK Negeri 1 Jogonalan

Listya Candra Novica Fitri, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran FEB UNY melaksanakan kegiatan pembelajaran mata pelajaran Manajemen Perkantoran pada elemen Pengelolaan Rapat bersama peserta didik kelas XI MPLB 1 SMK Negeri 1 Jogonalan pada Senin (31/08/26) lalu. Kegiatan dilaksanakan di SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten dengan sasaran peserta didik kelas XI MPLB 1 melalui praktik pembuatan notulen rapat berbasis digital. Kegiatan ini dirancang untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengelola informasi hasil rapat sekaligus membiasakan penggunaan teknologi dalam pekerjaan administrasi perkantoran. Pelaksanaan kegiatan memiliki keterkaitan dengan SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan peserta didik serta SGDs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran dan praktik administrasi.

Kegiatan bertujuan agar peserta didik mampu memahami peran dan tanggung jawab seorang notulis serta terampil menyusun notulen berdasarkan informasi tertulis yang tersedia. Kegiatan diawali dengan penyamapaian materi mengenai notulen rapat, meliputi pengertian, tujuan dan fungsi notulen, peran notulis, unsur-unsur yang perlu dicatat, struktur penulisan (kepala, identitas rapat, pembukaan pembahasan, keputusan, tindak lanjut, hingga penutup), prinsip penulisan yang objektif, faktual, ringkas, dan formal, serta beberapa contoh notulen sebagai gambaraan penerapannya. Setelah pemahaman konsep tersampaikan, peserta didik kemudian diberikan sebuah naskah skenario rapat koordinasi internal PT. Alkain House yang menggambarkan simulasi teleconference dengan agenda pembentukan kepanitian, pembagian tugas dan tanggung jawab, pembahasan kebutuhan logistik, peninjauan alternatif hotel, hingga penetapan rencana tindak lanjut. Melalui naskah tersebut, peserta didik berperan sebagai notulis dengan mempelajari isi skenario secara cermat, mengidentifikasi informasi penting, menandai hasil keputusan, serta mencermati poin-poin tindak lanjut yang disepakati. Hasil identifikasi tersebut kemudian disusun menjadi dokumen notulen resmi menggunakan Microsoft Word atau WPS Office, dan dikumpulkan melalui Google Drive.

Melalui kegiatan ini, peserta didik memperoleh pengalaman bahwa tugas notulis tidak sebatas mencatat, namun juga menuntut kemampuan membaca cermat, memilah, dan mengelola informasi dari suatu teks menjadi dokumen administrasi yang sistematis dan mudah dipahami, meskipun informasi tersebut tidak diperoleh dari rapat yang berlangsung secara langsung. Skenario yang diberikan memuat berbagai informasi yang perlu diidentifikasi peserta didik, mulai dari struktur kepanitiaan, pembagian tugas antar bidang, hingga rencana tindak lanjut seperti finalisasi surat undangan, penyusunan RAB logistik, peninjauan hotel, dan penyusunan proposal kegiatan. Penggunaan Microsoft Word/WPS Office serta Google Drive turut memberikan pengalaman kepada peserta didik dalam menerapkan teknologi digital pada proses pengolahan dan pengelolaan dokumen, sehingga memperkuat kontribusi kegiatan terhadap SDGs 4 melalui penguatan kompetensi peserta didik dan SDGs 9 melalui pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran.

Melalui pembelajaran berbasis skenario tersebut, peserta didik kelas XI MPLB 1 diharapkan mampu menghubungkan kompetensi Pengelolaan Rapat dengan kebutuhan administrasi di lingkungan kerja, sekalipun latihan dilakukan tanpa menyaksikan rapat secara langsung. Kegiatan ini juga diharapkan mendorong pembelajaran yang lebih kontekstual, yaitu pembelajaran yang tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berlatih keterampilan administrasi sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Dengan pendekatan tersebut, integrasi SDGs dapat hadir secara nyata melalui aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi kejuruan dan kebutuhan dunia kerja. (lst)

 

Dari Botol Bekas Menjadi Media Belajar, Siswa Kelas XI MPLB SMK Muhammadiyah 1 Borobudur Antusias Ikuti Permainan Pembelajaran

Sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab dan SDGs 4: Pendidikan Berkualitas, salah satu mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan proyek berupa pembelajaran yang dipadukan dengan game menarik dengan media botol bekas di SMK Muhammadiyah 1 Borobudur, Jl. Sudirman, Dusun Kaliabon, Borobudur, Kec. Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kegiatan ini digagas oleh salah satu mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) di SMK Muhammadiyah 1 Borobudur yakni Wulan Anggraeni dengan bimbingan serta arahan dari dosen pengampu yakni Dr. Rizqi Ilyasa Aghni, S.Pd., M.Pd.

Kegiatan pembelajaran yang memadukan pemanfaatan sampah yang dihasilkan oleh warga sekolah ini yaitu memberikan edukasi kepada siswa dan guru sekolah di SMK Muhammadiyah 1 Borobudur mengenai pentingnya pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan dengan memadukan pemanfaatan media yang ada di sekitar. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang menarik dan inovatif, kesadaran lingkungan, dan pemanfaatan barang sekitar sekolah.

Program ini bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap Pendidikan berkualitas dan kesadaran lingkungan sekaligus mendorong siswa dan guru agar lebih aktif dan semangat dalam pembelajaran dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Pembelajaran inovatif ini dilakukan secara interaktif melalui pemaparan materi pembelajaran, dan game sederhana dengan media botol bekas terkait pembelajaran pada mata pelajaran Humas dan Keprotokolan.

Pihak sekolah selaku mitra kegiatan memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan program pembelajaran inovatif tersebut. Selaku guru pamong sekolah, Assofiq Dwi Kurniawan, S.Pd. menyampaikan kesan positif terhadap pembelajaran yang dilaksanakan mahasiswa PK UNY.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa PK UNY yang telah memberikan pembelajaran yang inovatif kepada siswa, dan inovasi baru kepada guru kami. Penyampaian materi pembelajaran yang diberikan tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mendorong semangat baru dalam menuntut ilmu, semoga inovasi baru ini dapat memberikan dampak yang positif dalam memajukan pendidikan yang berkualitas dan menarik di sekolah. Program ini sangat mendukung upaya sekolah dalam membentuk karakter semangat belajar siswa dalam menuntut ilmu," ungkapnya, Jumat (28/08/2026) lalu.

Kegiatan ini juga menjadi wujud komitmen Universitas Negeri Yogyakarta dalam mendukung pengabdian kepada pendidikan di Indonesia serta memperkuat kolaborasi dengan lingkungan sekolah dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas, inovatif, menarik, dan berkelanjutan. Melalui keterlibatan mahasiswa PK secara langsung di tengah sekolah, UNY berharap program inovasi pembelajaran serupa dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas Pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Kegiatan ini mendapat dukungan positif dari pihak sekolah. Dengan adanya pembelajaran menarik yang diberikan kepada siswa, diharapkan sekolah dapat menerapkan inovasi pembelajaran dengan media yang lebih baik dan menarik lainnya secara berkelanjutan.

Penulis : 

Wulan Anggraeni

 

Transformasi Mesin Kantor Berbasis SDGs 9 melalui Poster Kreatif Bersama Siswa SMK Negeri 1 Jogonalan

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Intan Pramhesti dari Program Studi Pendidikan Adminsitrasi Perkantoran melaksanakan kegiatan pembelajaran berjudul “Transformasi Mesin Kantor: Dari Konvensional ke Modern” bagi peserta didik kelas XI MPLB (Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis) 1 di SMK Negeri 1 Jogonalan pada Rabu (26/08/26) lalu. Kegiatan ini dilaksanakan pada mata pelajaran Teknologi Perkantoran dengan mengaitkan materi mesin-mesin kantor terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Melalui pembelajaran ini, peserta didik diajak untuk tidak hanya mengenal jenis-jenis mesin kantor, tetapi juga memahami bagaimana perkembangan teknologi kantor dari masa ke masa berkontribusi terhadap efisiensi kerja dan berkelanjutan dunia industri. Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa PK dalam mendiseminasikan praktik pembelajaran yang inovatif dan kontekstual di lingkungan sekolah mitra.

Kegiatan diawali dengan apersepsi berupa pertanyaan pemantik mengenai perbedaan mesin kantor yang digunakan saat ini dengan yang digunakan puluhan tahun lalu, sehingga menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik sejak awal pembelajaran. Selanjutnya, mahasiswa PK menyampaikan materi mengenai klasifikasi mesin kantor serta contoh perkembangan teknologi, seperti transformasi mesin ketik menjadi komputer, mesin stensil menjadi mesin fotokopi multifungsi, faksimile menjadi surat elektronik (Email), hingga teleks menjadi telepon genggam. Peserta didik kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil dan diminta memilih satu pasang teknologi kantor untuk dianalisis lebih lanjut melalui Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), mencakup nama dan fungsi teknologi lama, nama dan fungsi teknologi modern, perubahan yang terjadi, dan manfaat teknologi masa kini bagi pekerjaan administrasi. Setiap kelompok kemudian menuangkan hasil analisis tersebut ke dalam bentuk poster/infografis digital menggunakan aplikasi desain, yang selanjutnya dipresentasikan secara bergiliran di depan kelas sehingga peserta didik dapat saling bertukar temuan dan memperkaya pemahaman antar kelompok.

Kegiatan ini memberikan dampak positif berupa peningkatan pemahaman peserta didik terhadap pentingnya adaptasi teknologi dalam dunia kerja administrasi. Peserta didik menjadi lebih menyadari bahwa penggunaan mesin kantor modern seperti mesin fotokopi multifungsi, sistem absensi digital, maupun penyimpanan berbasis cloud merupakan wujud nyata dari inovasi dan pemanfaatan infrastruktur teknologi yang mendukung efisiensi serta berkelanjutan pekerjaan kantor. Selain itu, kegiatan ini juga melatih keterampilan berpikir kritis, kerja sama kelompok, dan kreativitas peserta didik dalam menyajikan hasil analisis secara visual melalui poster.

Melalui kegiatan Praktik Kependidikan ini, diharapkan peserta didik semakin terbiasa mengaitkan pembelajaran di kelas dengan isu-isu global seperti SDGs, sehingga tumbuh kesadaran akan pentingnya inovasi dan pemanfaatan teknologi secara optimal sejak dini. Kegiatan serupa dapat terus dikembangkan pada topik-topik pembelajaran lain agar kontribusi Pendidikan terhadap pencapaian tujuan Pembangunan berkelanjutan semakin nyata dan berkelanjutan. (itn)

 

Wujudkan Pendidikan Inklusif: Kombinasi PBL dan Tutor Sebaya Sukses Tingkatkan Pemahaman Siklus Akuntansi di SMK N 1 Jogonalan

Dalam upaya mewujudkan Pendidikan Berkualitas sesuai dengan poin ke-4 Sustainable Development Goals (SDGs), Amjad Abdurrahman, mahasiswa FEB UNY yang menjalani Praktik Kependidikan (PK) menyelenggarakan program inovatif yang menggabungkan model Problem-Based Learning (PBL) dengan metode diskusi dan Peer Tutoring (Tutor Teman Sebaya). Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin (24/08/26) lalu bertempat di ruang kelas XI Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) 2, SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten. Sasaran utama dari kegiatan ini adalah 36 peserta didik kelas XI AKL 2 yang sedang menempuh mata pelajaran Siklus Akuntansi, dengan fokus pendalaman pada materi yang kerap dianggap menantang, yakni Jurnal Penyesuaian. Program ini merupakan salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa PK dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan partisipatif guna mendukung peningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah.

Tujuan utama diterapkannya kombinasi PBL dan metode diskusi kelompok ini adalah untuk membantu ke-36 peserta didik dalam memecahkan masalah kontekstual terkait tahapan Jurnal Penyesuaian. Dalam proses pelaksanaannya, mahasiswa PK bertindak sebagai fasilitator yang menyajikan suatu studi kasus (PBL), kemudian membagi kelas ke dalam beberapa kelompok diskusi. Setiap kelompok dipandu oleh satu orang siswa yang memiliki pemahaman materi lebih cepat dan komprehensif untuk berperan sebagai "tutor" bagi teman-teman sebayanya. Kegiatan ini berjalan secara interaktif dengan melibatkan kolaborasi aktif antara mahasiswa pelaksana PK yang turut meninjau jalannya diskusi dan siswa.

Penerapan model dan metode ini memberikan dampak yang sangat positif dan signifikan terhadap perkembangan kognitif maupun sosial peserta didik. Melalui pendekatan pemecahan masalah bersama teman sebaya, hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan antusiasme dan rasa percaya diri siswa dalam bertanya, mengingat mereka cenderung lebih leluasa dan tidak canggung saat berdiskusi. Secara akademis, pemahaman ke-36 siswa terhadap kerumitan materi Jurnal Penyesuaian menjadi lebih merata, yang dibuktikan dengan penyelesaian tugas latihan praktik dengan tingkat akurasi yang jauh lebih baik. Keberhasilan ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian SDGs ke-4, karena memastikan proses pendidikan berjalan secara merata, tidak ada siswa yang tertinggal dalam memahami materi (no one left behind), serta membangun budaya belajar kolaboratif.

Melalui program ini, diharapkan metode pembelajaran partisipatif tersebut dapat terus menjadi budaya belajar yang berkelanjutan di SMK N 1 Jogonalan, khususnya untuk mata pelajaran yang membutuhkan ketelitian dan logika analisis yang kuat. Sebagai tindak lanjut, model pembelajaran berbasis masalah dan pendampingan sebaya ini direkomendasikan untuk diadaptasi oleh guru mata pelajaran lain maupun pada kelas yang berbeda, guna menciptakan ekosistem sekolah yang kolaboratif, suportif, dan senantiasa berpusat pada pengembangan kompetensi peserta didik. (mjd)

 

Meningkatkan Kesadaran SDGs 4 melalui Problem Based Learning dalam Pembelajaran Ekonomi pada Siswa SMA Negeri 2 Banguntapan

Anggun Pinesti Priyanto, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY), melaksanakan pembelajaran ekonomi melalui Problem Based Learning berbasis Sustainable Development Goal 4 (SDGs) 4. Dalam pembelajaran ekonomi materi kelangkaan bersama dengan siswa kelas X Fase E6 SMA Negeri 2 Banguntapan. Kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan pada Senin (10/08/26) lalu di bawah bimbingan guru pamong, Ika Sri Pramitasari, S.Pd. di ruang kelas X Fase E6 SMA Negeri 2 Banguntapan, Bantul, DIY sebagai bagian dari pelaksanaan kegiatan Praktik Kependidikan (PK). Pembelajaran dirancang menggunakan model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran ekonomi dengan materi kelangkaan sumber daya. Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa kelas X Fase E6 yang dibagi ke dalam beberapa kelompok diskusi. Kegiatan ini berkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas, karena berupaya menghadirkan proses pembelajaran yang bermakna dan relevan dengan permasalahan nyata di masyarakat.

Pembelajaran ini bertujuan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menganalisis fenomena kelangkaan sumber daya di lingkungan sekitar serta mengaitkannya dengan isu pemerataan akses pendidikan. Proses pelaksanaan diawali dengan penyampaian pengenalan permasalahan kontekstual oleh mahasiswa PK, yaitu ketimpangan akses pendidikan yang dipengaruhi oleh keterbatasan sumber daya di beberapa wilayah. Selanjutnya, siswa secara berkelompok mengidentifikasi penyebab kelangkaan sumber daya, mengumpulkan data pendukung, serta merumuskan alternatif solusi. Materi yang digunakan meliputi konsep dasar ekonomi tentang kelangkaan, kebutuhan, dan pilihan, yang kemudian dikaitkan dengan contoh data sederhana mengenai kondisi pendidikan di berbagai daerah perkotaan maupun pedesaan. Pihak yang terlibat dalam kegiatan ini adalah mahasiswa PK sebagai fasilitator, guru pamong sebagai pendamping, dan siswa sebagai peserta aktif diskusi.

Dengan hadirnya pembelajaran ini mampu meningkatkan pemahamanan siswa terhadap keterkaitan antara kelangkaan sumber daya dan ketimpangan akses pendidikan. Melalui diskusi kelompok, siswa mampu mengidentifikasi berbagai faktor penyebab ketimpangan, seperti keterbatasan sarana prasarana, distribusi tenaga pendidik yang tidak merata, dan kondisi ekonomi masyarakat. Kegiatan ini memberikan dampak positif berupa tumbuhnya kesadaran siswa akan pentingnya pemerataan pendidikan sebagai salah satu wujud pembangunan berkelanjutan. Selain itu, penerapan model PBL turut melatih keterampilan berpikir kritis, kerja sama, dan komunikasi siswa, sekaligus memperkuat kontribusi pembelajaran Ekonomi terhadap pencapaian SDGs 4 di lingkungan sekolah.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah yang lebih luas di SMA Negeri 2 Banguntapan, khususnya dalam mengintegrasikan isu-isu SDGs ke dalam berbagai mata pelajaran. Ke depan, diharapkan pendekatan serupa dapat diterapkan secara berkelanjutan agar siswa semakin peka terhadap persoalan sosial di sekitarnya dan turut berperan aktif dalam mendukung pemerataan akses pendidikan yang berkualitas. (agn)

Pages