Teras Genre: Inovasi Mahasiswa PK UNY Ajak Murid SMAN 1 Bantul Melek Isu Kependudukan

Evelyna Puteri Rinaldo dan para mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tengah menjalani Praktik Kependidikan (PK) di SMA Negeri 1 Bantul menginisiasi program "Teras Genre" (Generasi Berencana), sebuah ruang edukasi bagi remaja yang berfokus pada isu kependudukan. Konsepnya menyerupai pojok baca, namun seluruh materi yang disajikan berkaitan langsung dengan kondisi kependudukan di wilayah Bantul. Program ini diresmikan langsung oleh Kepala Balai Pendidikan Kabupaten Bantul dalam sebuah acara sederhana yang turut dihadiri oleh kepala sekolah, guru dan guru pamong, perwakilan OSIS, dan siswa kelas X selaku sasaran utama program. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kokurikuler sekolah dan sejalan dengan capaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan terkait pendidikan berkualitas, kesehatan yang baik dan kesejahteraan, serta perkotaan dan komunitas berkelanjutan.

Program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran remaja terhadap dinamika kependudukan di daerah tempat tinggalnya melalui pendekatan lintas disiplin ilmu. Teras Genre memuat infografis yang mengulas empat tema utama: kondisi ekonomi daerah melalui data Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), kondisi geografis wilayah Bantul, isu sosiologis. Seluruh materi tersebut tidak disusun begitu saja oleh mahasiswa, melainkan bersumber dari hasil riset lapangan siswa kelas X dalam program kokurikuler. Sebelum infografis dibuat, siswa terlebih dahulu terjun langsung ke dusun-dusun di wilayah Bantul untuk mengumpulkan data melalui wawancara dan observasi bersama perangkat dusun serta warga setempat. Data yang terkumpul kemudian diolah dan divisualisasikan bersama mahasiswa PK menjadi karya kreatif yang dipajang di ruang Teras Genre agar mudah diakses dan dipahami oleh seluruh warga sekolah.

Kontribusi program ini paling menonjol pada capaian SDG 4, sebab Teras Genre secara langsung memperluas akses siswa terhadap pembelajaran yang bermakna dan berbasis pengalaman nyata (experiential learning). Melalui riset lapangan, siswa tidak hanya menerima materi kependudukan secara teoretis di kelas, tetapi juga berlatih keterampilan berpikir kritis, mengumpulkan data primer, serta menyajikan informasi secara sistematis kompetensi yang menjadi inti dari pendidikan berkualitas. Peresmian oleh Kepala Balai Pendidikan Kabupaten Bantul turut menjadi bentuk dukungan resmi bahwa model pembelajaran kolaboratif semacam ini layak direplikasi di sekolah lain. Selain aspek pendidikan, keberadaan infografis kesehatan mental, kriminalitas, dan kondisi wilayah juga menumbuhkan kepedulian sosial siswa terhadap lingkungan sekitarnya. Bagi mahasiswa PK, program ini menjadi wadah penerapan ilmu kependidikan sekaligus kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.

Ke depan, program Teras Genre diharapkan dapat terus dikembangkan dengan pembaruan data secara berkala serta perluasan cakupan riset ke dusun-dusun lain di Bantul, sehingga isi Teras Genre senantiasa mencerminkan kondisi kependudukan terkini. Pihak sekolah juga berharap program ini dapat dilanjutkan oleh angkatan siswa berikutnya sebagai bagian tetap dari kokurikuler, sehingga Teras Genre tidak hanya menjadi ruang edukasi sementara, melainkan sumber informasi kependudukan yang berkelanjutan yang mendukung capaian pendidikan berkualitas bagi warga sekolah.

Belajar Menentukan Prioritas lewat Permainan Pesawat Kertas sebagai Upaya Mendukung SDGs 4 di SMA Negeri 1 Imogiri Bantul

Pada Senin, 24 Agustus 2026, telah dilaksanakan kegiatan pembelajaran Ekonomi dengan materi Skala Prioritas di kelas X-6 SMA Negeri 1 Imogiri yang beralamat di Jl. Imogiri Timur KM 4 Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Niken Ayuningsih, mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta Program Studi Pendidikan Ekonomi, sebagai pengajar. Pembelajaran menggunakan metode Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan menghubungkan materi skala prioritas dengan kondisi dan kebutuhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik diarahkan untuk memahami bahwa dalam memenuhi kebutuhan yang beragam dengan sumber daya yang terbatas, diperlukan kemampuan untuk menentukan kebutuhan yang harus didahulukan.

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara aktif dan interaktif melalui permainan “Pesawat Prioritas”. Pada awal kegiatan, peserta didik diminta menuliskan sebuah pernyataan atau situasi yang berkaitan dengan pilihan kebutuhan sehari-hari pada selembar kertas. Pernyataan tersebut berisi pilihan mengenai kebutuhan mana yang seharusnya didahulukan dalam kondisi tertentu. Setelah selesai menulis, kertas kemudian dibentuk menjadi pesawat dan diterbangkan secara bersama-sama di dalam kelas. Setiap peserta didik kemudian mengambil salah satu pesawat yang didapatkan, membuka dan membaca pernyataan yang tertulis di dalamnya, kemudian memberikan jawaban mengenai kebutuhan yang harus diprioritaskan beserta alasannya. Kegiatan ini membuat peserta didik terlibat langsung dalam proses pembelajaran sekaligus memberikan kesempatan untuk berpikir, mengambil keputusan, dan menyampaikan alasan berdasarkan situasi yang dihadapi.

Melalui permainan tersebut, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang berfokus pada pemahaman konsep secara teoritis juga pada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik belajar bahwa penentuan skala prioritas dapat dipengaruhi oleh tingkat kepentingan, kondisi, serta kebutuhan masing-masing individu. Perbedaan jawaban antarpeserta didik juga menjadi bagian dari proses pembelajaran karena mereka dapat mengetahui berbagai pertimbangan yang digunakan dalam menentukan suatu pilihan. Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Quality Education atau Pendidikan Berkualitas, terutama melalui penerapan pembelajaran yang aktif, kontekstual, partisipatif, dan bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran juga memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, serta mengambil keputusan.

Melalui kegiatan “Pesawat Prioritas”, pembelajaran Ekonomi diharapkan dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi peserta didik. Peserta didik dapat memahami konsep skala prioritas serta mampu menghubungkannya dengan berbagai pilihan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pembelajaran berbasis permainan dan konteks nyata seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai salah satu upaya menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan berpusat pada peserta didik serta mendukung terwujudnya pendidikan yang berkualitas sesuai dengan SDGs 4.

Penguatan Literasi Keuangan Siswa melalui Pembelajaran Ekonomi untuk Mendukung Pendidikan Berkualitas (SDG 4) di SMA Negeri 1 Prambanan Sleman

Mahasiswa Praktik Kependidikan melaksanakan kegiatan penguatan literasi keuangan melalui pembelajaran Ekonomi di SMA Negeri 1 Prambanan Sleman. Kegiatan dilaksanakan tanggal 11 Agustus 2026 Di lingkungan SMA Negeri 1 Prambanan Sleman. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Pelaksanaan kegiatan berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4 atau SDG 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya pendidikan yang berkualitas serta pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang dapat mendukung kehidupan peserta didik.

Kegiatan bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan peserta didik dalam mengelola keuangan secara bijak dan bertanggung jawab. Proses pelaksanaan dilakukan melalui pembelajaran Ekonomi dengan penyampaian materi, penggunaan media pembelajaran, pemberian contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta kegiatan studi kasus dan diskusi. Materi yang diberikan meliputi pengertian dan manfaat literasi keuangan, perbedaan kebutuhan dan keinginan, pengelolaan keuangan sederhana, pentingnya menabung, serta literasi keuangan digital. Peserta didik juga memperoleh pemahaman mengenai penggunaan layanan keuangan digital secara aman, termasuk pentingnya menjaga data pribadi, PIN, password, dan kode OTP. Kegiatan melibatkan mahasiswa praktikan sebagai pelaksana pembelajaran, peserta didik sebagai sasaran kegiatan, serta guru Ekonomi yang memberikan pendampingan selama proses pembelajaran.

Kegiatan memberikan dampak positif terhadap pengetahuan peserta didik mengenai pengelolaan keuangan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik memperoleh pemahaman mengenai cara membedakan kebutuhan dan keinginan, mengatur penggunaan uang, membuat perencanaan keuangan sederhana, serta mengenali risiko dalam penggunaan layanan keuangan digital. Selain memberikan manfaat secara langsung, kegiatan ini juga mendukung pembelajaran Ekonomi yang lebih kontekstual karena materi dihubungkan dengan permasalahan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Dengan adanya penguatan literasi keuangan tersebut, kegiatan turut berkontribusi terhadap pencapaian SDG 4 melalui pemberian pengetahuan dan keterampilan praktis yang dapat digunakan peserta didik dalam mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman literasi keuangan yang telah diperoleh peserta didik dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Penguatan literasi keuangan juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran, tetapi dapat terus dikembangkan melalui pembelajaran Ekonomi dengan topik dan permasalahan yang relevan. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan pembelajaran yang berkualitas sekaligus membekali peserta didik dengan keterampilan yang bermanfaat untuk kehidupan mereka di masa kini dan masa mendatang.

Pengembangan Karier dan Penghargaan Pegawai sebagai Implementasi SDGs 8 melalui Pembelajaran Kontekstual

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran melaksanakan kegiatan pembelajaran mengenai “Pengembangan Karier dan Penghargaan Pegawai”  bagi peserta didik kelas XII Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) di SMK Negeri 1 Klaten. Kegiatan ini dilaksanakan pada mata pelajaran Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan mengaitkan materi pengembangan karier dan penghargaan pegawai terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Melalui pembelajaran ini, peserta didik tidak hanya memahami konsep pengembangan karier dan penghargaan pegawai, tetapi juga diajak memahami pentingnya peningkatan kompetensi, produktivitas, motivasi, dan kesempatan berkembang dalam dunia kerja. Materi pembelajaran mencakup tahapan dan metode pengembangan karier serta jenis penghargaan finansial dan non-finansial.

Kegiatan pembelajaran diawali dengan pertanyaan pemantik mengenai alasan seorang pegawai dapat bertahan dalam suatu perusahaan meskipun memperoleh gaji yang biasa saja, sementara pegawai lain memilih mengundurkan diri meskipun memperoleh gaji yang tinggi. Pertanyaan tersebut digunakan untuk menggali pemahaman awal peserta didik mengenai pentingnya pengembangan karier dan penghargaan dalam dunia kerja. Selanjutnya, mahasiswa menyampaikan materi mengenai pengertian, tujuan, manfaat, serta tahapan pengembangan karier. Peserta didik juga mempelajari berbagai metode pengembangan karier, seperti jalur karier, mentoring, pelatihan, rotasi jabatan, promosi, dan perencanaan suksesi.

Setelah memahami materi, peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menganalisis studi kasus mengenai permasalahan pengelolaan SDM pada sebuah perusahaan. Salah satu kasus yang dibahas adalah PT Karya Utama yang mengalami tingkat turnover pegawai cukup tinggi akibat tidak adanya kejelasan jenjang karier dan kurangnya penghargaan terhadap kinerja pegawai. Setiap kelompok kemudian mendiskusikan metode pengembangan karier yang dapat diterapkan, bentuk penghargaan finansial dan non-finansial yang sesuai, serta hubungan antara penilaian kinerja, pengembangan karier, dan penghargaan pegawai. Hasil diskusi selanjutnya dipresentasikan di depan kelas dan ditanggapi oleh kelompok lainnya.

Kegiatan pembelajaran ini memberikan dampak positif terhadap pemahaman peserta didik mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya manusia yang mendukung perkembangan pegawai. Peserta didik memahami bahwa pengembangan karier dapat membantu meningkatkan kompetensi, keterampilan, motivasi, dan kepuasan kerja, sedangkan penghargaan pegawai menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap kontribusi dan kinerja pegawai. Penghargaan dapat diberikan dalam bentuk finansial, seperti gaji, bonus, insentif, dan tunjangan, maupun non-finansial, seperti pujian, sertifikat penghargaan, kesempatan pelatihan, dan promosi jabatan.

Melalui kegiatan Praktik Kependidikan ini, peserta didik diharapkan semakin memahami keterkaitan antara pembelajaran Pengelolaan SDM dengan isu pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Pemahaman mengenai pengembangan kompetensi, kesempatan karier, penghargaan terhadap kinerja, serta produktivitas kerja dapat menjadi bekal bagi peserta didik dalam menghadapi dunia kerja. Kegiatan ini juga melatih kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas melalui kegiatan diskusi, analisis kasus, dan presentasi.

Dengan adanya pembelajaran yang mengintegrasikan materi Pengelolaan SDM dengan SDGs, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga diajak memahami pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang memberikan kesempatan bagi pegawai untuk berkembang dan memperoleh penghargaan atas kontribusinya. Kegiatan serupa dapat terus dikembangkan pada materi pembelajaran lainnya agar peserta didik semakin mampu menghubungkan kompetensi yang dipelajari di sekolah dengan kebutuhan dunia kerja dan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Mahasiswa PK UNY Dukung Pendidikan Berkualitas melalui Kegiatan Administratif Perpustakaan di SMK Negeri 7 Yogyakarta

Yogyakarta — Zahrah Nida Syaakirah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), turut terlibat dalam kegiatan administratif perpustakaan selama pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) di SMK Negeri 7 Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan nonmengajar mahasiswa PK yang dilaksanakan untuk membantu pengelolaan serta pelayanan perpustakaan sebagai salah satu fasilitas pendukung pembelajaran di sekolah.

Kegiatan administratif yang dilakukan meliputi penyampulan buku, pengurutan dan penataan koleksi buku, penyiapan kartu perpustakaan, serta membantu pelayanan perpustakaan kepada peserta didik. Penyampulan buku dilakukan untuk membantu menjaga kondisi koleksi agar tetap terawat dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama. Sementara itu, pengurutan dan penataan buku dilakukan agar koleksi tersusun secara lebih teratur sehingga memudahkan peserta didik dalam mencari dan memperoleh sumber belajar yang dibutuhkan.

Selain pengelolaan koleksi, kegiatan administratif juga mencakup penyiapan dan pembagian kartu perpustakaan kepada peserta didik. Kegiatan tersebut membantu mendukung ketertiban administrasi serta kelancaran pelayanan perpustakaan. Melalui pengelolaan administrasi yang tertata, perpustakaan diharapkan dapat memberikan pelayanan yang lebih efektif kepada peserta didik sebagai pengguna layanan.

Keterlibatan dalam kegiatan administratif perpustakaan juga memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk menerapkan keterampilan yang relevan dengan bidang Pendidikan Administrasi Perkantoran, khususnya dalam aspek administrasi, pengelolaan informasi, penataan dokumen, serta pelayanan. Pelaksanaan Praktik Kependidikan dengan demikian tidak hanya memberikan pengalaman melalui kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat dalam berbagai kegiatan pendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Kegiatan administratif perpustakaan tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Perpustakaan memiliki peran sebagai salah satu sarana pendukung pendidikan yang menyediakan sumber belajar bagi peserta didik. Pengelolaan koleksi dan administrasi perpustakaan yang tertata dapat mendukung kemudahan akses terhadap sumber belajar sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih teratur dan kondusif.

Selain SDG 4, kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals). Pelaksanaan Praktik Kependidikan merupakan bentuk kemitraan antara Universitas Negeri Yogyakarta dan SMK Negeri 7 Yogyakarta dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan. Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa tidak hanya melaksanakan praktik pembelajaran, tetapi juga berpartisipasi dalam membantu kegiatan administratif dan pelayanan sekolah sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Melalui keterlibatan dalam kegiatan administratif perpustakaan di SMK Negeri 7 Yogyakarta, mahasiswa PK UNY turut berkontribusi dalam mendukung keberlangsungan layanan pendidikan di sekolah. Kegiatan sederhana seperti merawat dan menata koleksi, menyiapkan administrasi perpustakaan, serta membantu pelayanan kepada peserta didik menjadi bagian dari upaya mendukung tersedianya fasilitas pendidikan yang dapat dimanfaatkan secara optimal dalam menunjang proses pembelajaran. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan pentingnya kemitraan antara perguruan tinggi dan sekolah dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan.

Memahami Kesenjangan Ekonomi melalui Literasi Data dan Perbandingan Ketimpangan Antarnegara di SMA Negeri 6 Yogyakarta

Mahasiswa Praktik Kependidikan melaksanakan kegiatan pemahaman terkait literasi data kesenjangan ekonomi melalui pembelajaran Ekonomi di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 11 September 2026 di lingkungan SMA Negeri 6 Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya dalam memberikan pemahaman dan keterampilan kepada murid untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan murid dalam menganalisis data ekonomi, khususnya terkait kesenjangan ekonomi dan ketimpangan ekonomi antarnegara. Melalui kegiatan ini, murid diajak untuk memahami kondisi ketimpangan ekonomi berdasarkan data serta membandingkan tingkat kesenjangan ekonomi Indonesia dengan negara lain. Pelaksanaan kegiatan berkaitan dengan Sustainable Development Goals ( SDGs) tujuan ke-10, yitu Berkurangnya Kesenjangan ( Reduced Inequalities), yang menekankan pentingnya mengurangi kesenjangan di dalam dan antarnegara serta meningkatkan pemahaman Masyarakat terhadap berbagai faktor yang mengurangi ketimpangan ekonomi.

Kegiatan bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan murid dalam memahami serta menganalisis kesenjangan ekonomi melalui literasi data dan perbandingan ketimpangan antarnegara. Proses pelaksanaan dilakukan melalui pembelajaran Ekonomi dengan penyampaian materi, penggunaan media pembelajaran, pemberian contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT). Dalam pelaksanaannya, murid dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mempelajari materi mengenai pengertian kesenjangan ekonomi, faktor-faktor penyebab kesenjangan, indikator pengukuran ketimpangan ekonomi, serta kondisi kesenjangan ekonomi di Indonesia dan negara lain. Setelah memahami materi, murid mengikuti kegiatan permainan dan turnamen akademik berupa soal-soal yang berkaitan dengan literasi data dan perbandingan tingkat ketimpangan antarnegara. Melalui kegiatan tersebut, murid dilatih untuk membaca, memahami, dan membandingkan data ekonomi serta bekerja sama dalam kelompok. Kegiatan melibatkan mahasiswa praktikan sebagai pelaksana pembelajaran, murid sebagai sasaran kegiatan, serta guru Ekonomi yang memberikan pendampingan selama proses pembelajaran.

Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap pengetahuan dan kemampuan murid dalam memahami kesenjangan ekonomi melalui pemanfaatan data. Murid memperoleh pemahaman mengenai faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi, indikator yang digunakan untuk mengukur ketimpangan, serta cara membaca dan membandingkan data kondisi ekonomi Indonesia dengan negara lain. Selain memberikan manfaat secara langsung, kegiatan ini juga mendukung pembelajaran Ekonomi yang lebih kontekstual karena materi dihubungkan dengan kondisi dan permasalahan ekonomi yang terjadi dalam kehidupan nyata. Penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) turut mendorong murid untuk aktif berdiskusi, bekerja sama, serta meningkatkan kemampuan dalam menganalisis informasi dan menyelesaikan permasalahan berbasis data. Dengan adanya penguatan literasi data mengenai kesenjangan ekonomi tersebut, kegiatan turut berkontribusi terhadap pencapaian SDG 10 melalui peningkatan pemahaman murid mengenai ketimpangan ekonomi di dalam maupun antarnegara.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman mengenai kesenjangan ekonomi dan literasi data yang telah diperoleh murid dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari. Penguatan literasi data juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran, tetapi dapat terus dikembangkan melalui pembelajaran Ekonomi dengan topik dan permasalahan yang relevan dengan kondisi sosial dan ekonomi di lingkungan sekitar. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan murid dalam memahami dan menganalisis permasalahan ketimpangan ekonomi, sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya upaya mengurangi kesenjangan di dalam maupun antarnegara sebagai bentuk kontribusi terhadap pencapaian SDG 10.

Dari Biang Sabun Menjadi Produk Bernilai Ekonomi: Pengembangan Keterampilan Kewirausahaan Siswa Melalui Produksi dan Pemasaran Sabun Cuci Piring

Siswa kelas XII PM 2 SMK Abdi Negara Muntilan mengembangkan keterampilan kewirausahaan melalui praktik pembuatan sabun cuci piring dalam mata pelajaran Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan (KIK). Praktik tersebut memberikan pengalaman kepadda siswa untuk mengolah bahan dasar menjadi produk yang memiliki manfaat dan memiliki nilai jual.

Dalam prosesnya, siswa memanfaatkan biang sabun sebagai bahan dasar untuk menghasilkan sabun cuci piring. Keterlibatan secara langsung dalam prosses produksi memberikan pengalaman mengenai bagaimana suatu bahan dapat diolah menjadi produk yang siap digunakan. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi siswa untuk menerapkan kreativitas dan keterampilan yang telah diperoleh dalam pembelajaran.

Setelah proes produksi selesai, siswa melanjutkan pengembangan produk dengan menentukan nama produk dan membuat logo. Pemeberian identitas tersebut dilakukan untuk memberikan ciri khas pada produk sekaligus memperkenalkannya kepada calon konsumen. Melalui tahap ini, siswa tidak hanya berfokus pada pembuatan barang, tetapi juga mulai memahami pentingnya identitas dan tampilan dalam pengembangan suatu produk.

Produk sabun cuci piring yang telah dibuat selanjutnya akan dipasarkan kepada guru dan karyawan SMK Abdi Negara Muntilan. Pemasaran dilakukan sebagai bentuk penerapan pembelajaran kewirausahaan secara langsung, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman dalam memperkenalkan produk, berkomunikasi dengan calon konsumen, dan melakukan transaksi sederhana.

Rangkaian kegiatan tersebut memberikan pengalaman kepada siswa mengenai tahap dasar dalam pengembangan usaha, mulai dari menghasilkan produk, membangun identitas, hingga memasarkannya. Selain keterampilan produksi, siswa turut mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, kreativitas, dan tanggung jawab dalam menjalankan proes tersebut.

Melalui praktik ini, pembelajaran KIK menjadi lebih konstektual karena siswa dapat melihat secara langsung proses mengubah ide dan keterampilan menjadi produk yang dapat digunakan serta memiliki potensi ekonomi. Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa untuk mengenali peluang usaha dan mengembangkan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja maupun kegiatan kewirausahaan di masa mendatang.

Membiasakan Konsumsi Bijak melalui Penggunaan Tumbler dan Water Station di SMA Negeri 1 Sleman 

Sleman - Dimitria Pelita Khairunnisa, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, melaksanakan Praktik Kependidikan (PK) di SMA Negeri 1 Sleman. Selama pelaksanaan PK, Dimitria mengamati kebiasaan peserta didik dalam membawa tumbler dan memanfaatkan water station yang tersedia di lingkungan sekolah. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan perilaku konsumsi yang lebih bijak sekaligus upaya mengurangi penggunaan air minum dalam kemasan sekali pakai. Kegiatan ini menyasar peserta didik dan memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Dari perspektif Pendidikan Ekonomi, kebiasaan tersebut juga menunjukkan penerapan konsep konsumsi, penghematan, dan pengelolaan keuangan dalam kehidupan sehari-hari. 

Penerapan kebiasaan tersebut dilakukan dengan mendorong peserta didik untuk membawa tumbler dari rumah dan mengisi ulang air minum melalui water station yang tersedia di sekolah. Dengan menggunakan tumbler, peserta didik tidak perlu membeli air minum kemasan setiap kali membutuhkan air selama berada di sekolah. Uang yang biasanya digunakan untuk membeli air minum dapat dihemat dan dialokasikan untuk kebutuhan lain atau ditabung. Kebiasaan sederhana ini juga dapat menjadi pembelajaran kontekstual bagi peserta didik mengenai pengambilan keputusan ekonomi, khususnya dalam membedakan kebutuhan dan keinginan serta mempertimbangkan penggunaan uang secara bijak. Dalam pelaksanaannya, kebiasaan tersebut didukung oleh lingkungan sekolah dan kesadaran peserta didik dalam menerapkan perilaku yang lebih ramah lingkungan. 

Kebiasaan membawa tumbler dan menggunakan water station memberikan manfaat dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Dari sisi ekonomi, peserta didik memiliki kesempatan untuk mengurangi pengeluaran kecil yang dilakukan secara berulang dan mengalokasikan uang tersebut untuk kebutuhan lain atau tabungan. Sebagai ilustrasi, apabila air minum kemasan seharga Rp4.000 dibeli setiap hari selama 20 hari sekolah, pengeluaran yang dapat dihemat mencapai sekitar Rp80.000 dalam satu bulan. Dari sisi lingkungan, penggunaan tumbler membantu mengurangi ketergantungan terhadap botol plastik sekali pakai. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa pilihan konsumsi sehari-hari dapat memberikan dampak terhadap pengelolaan keuangan sekaligus lingkungan, sehingga mendukung penerapan SDG 12. 

Melalui kebiasaan sederhana membawa tumbler dan memanfaatkan water station, diharapkan peserta didik semakin terbiasa menerapkan perilaku konsumsi yang bijak dan bertanggung jawab. Kebiasaan tersebut juga diharapkan dapat terus dipertahankan dan dikembangkan menjadi bagian dari budaya sekolah. Bagi mahasiswa Pendidikan Ekonomi, kegiatan ini menjadi pengalaman untuk menghubungkan pembelajaran ekonomi dengan kehidupan nyata, bahwa penerapan konsep ekonomi dapat dimulai dari keputusan sederhana dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penerapan Canva AI pada Pembelajaran Perpajakan Kelas XI AKL Fase F melalui Game “Tax Mystery Box”

Kulon Progo, 31 Agustus 2026 - Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran menjadi salah satu upaya untuk menciptakan proses pendidikan yang lebih interaktif dan inovatif. Hal tersebut diterapkan oleh Figo Dehasta Imtinan, mahasiswa semester 7 Program Studi Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dalam kegiatan Praktik Kependidikan (PK) di SMK Negeri 1 Kokap, Kulon Progo.

Dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran Perpajakan kelas XI Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) Fase F, Figo menerapkan Canva AI sebagai salah satu teknologi yang digunakan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis permainan. Media tersebut dikemas dalam sebuah permainan bernama “Tax Mystery Box” yang digunakan untuk mendukung pembelajaran pada materi Syarat dan Sistem Pemungutan Pajak.

Pengembangan media pembelajaran ini berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan pembelajaran perpajakan yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Materi perpajakan yang memiliki berbagai konsep dan istilah dikemas ke dalam bentuk permainan agar peserta didik dapat mempelajari materi melalui aktivitas yang lebih interaktif.

Melalui “Tax Mystery Box”, peserta didik diajak untuk menyelesaikan berbagai pertanyaan dan tantangan yang berkaitan dengan materi Syarat dan Sistem Pemungutan Pajak. Permainan dirancang dengan memanfaatkan elemen visual dan interaktif sehingga peserta didik dapat menguji pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari.

Penggunaan media berbasis permainan juga memberikan suasana pembelajaran yang berbeda dari pembelajaran yang hanya berpusat pada penjelasan materi. Peserta didik memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, menjawab pertanyaan, serta mengingat kembali konsep-konsep perpajakan melalui tantangan yang terdapat dalam permainan.

Canva AI dimanfaatkan dalam proses pengembangan media sebagai teknologi pendukung untuk menghasilkan dan menyusun elemen visual pembelajaran. Pemanfaatan teknologi tersebut memungkinkan pengembangan media dilakukan secara lebih kreatif dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik peserta didik kelas XI AKL.

Penerapan Canva AI dalam pembelajaran juga menjadi salah satu bentuk pengenalan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan secara produktif di lingkungan pendidikan. Teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti peran pendidik, melainkan sebagai alat bantu untuk mengembangkan media yang dapat mendukung proses pembelajaran.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pengalaman Figo Dehasta Imtinan dalam melaksanakan Praktik Kependidikan sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi. Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan diterapkan secara langsung dalam proses pembelajaran di sekolah, khususnya dalam merancang media pembelajaran yang memadukan materi akuntansi dan perpajakan dengan perkembangan teknologi digital.

Penerapan “Tax Mystery Box” turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas. Pemanfaatan media pembelajaran interaktif memberikan alternatif dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif dan menarik. Kegiatan ini mendukung upaya menghadirkan pembelajaran yang berkualitas dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk membantu peserta didik memahami materi pembelajaran.

Selain SDG 4, kegiatan ini juga mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan inovasi teknologi dalam bidang pendidikan. Penggunaan Canva AI menunjukkan adanya pemanfaatan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan untuk menghasilkan inovasi media pembelajaran. Penerapan teknologi tersebut menjadi contoh bahwa inovasi digital dapat dikembangkan tidak hanya dalam bidang industri, tetapi juga dalam proses pendidikan.

Keterkaitan antara SDG 4 dan SDG 9 terlihat melalui pengembangan media “Tax Mystery Box” yang menggabungkan tujuan pendidikan dengan pemanfaatan teknologi. Inovasi media pembelajaran berbasis Canva AI diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam menciptakan proses pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

Melalui kegiatan Praktik Kependidikan di SMK Negeri 1 Kokap, pemanfaatan Canva AI dan “Tax Mystery Box” menjadi salah satu bentuk inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi dengan materi Perpajakan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman bagi mahasiswa calon pendidik untuk mengembangkan pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan relevan dengan perkembangan teknologi, serta berkontribusi terhadap pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Belajar Seru The Ledger Relay Hingga Motivasi Studi Lanjut, Mahasiswa PK UNY Wujudkan SDG 4 Dan SDG 10 di SMK N 1 Klaten



KLATEN – Praktik Kependidikan (PK) menjadi ruang bagi mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk berkontribusi langsung pada SDG 4: Pendidikan Berkualitas di SMK Negeri 1 Klaten. Kontribusi itu tidak berhenti pada praktik mengajar di kelas, tetapi berlanjut lewat kedekatan dengan siswa, tempat mereka merasa nyaman berbagi cerita, bertanya, dan menumbuhkan keberanian untuk berprestasi serta menatap pendidikan yang lebih tinggi.

Di kelas Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL), mahasiswa PK menghadirkan pembelajaran estafet buku besar bertajuk The Ledger Relay: Menumbuhkan Integritas dalam Setiap Angka. Siswa dibagi dalam kelompok, lalu setiap anggota bergantian memindahkan (memposting) transaksi dari jurnal ke akun buku besar yang tepat sebelum melanjutkan estafet ke rekan berikutnya. Kelompok yang menyelesaikan seluruh transaksi dengan cepat, teliti, dan saldo yang sesuai menjadi yang terbaik.

Nilai integritas menjadi inti kegiatan ini. Setiap angka yang dicatat harus jujur dan akurat, sebab satu kekeliruan akan memengaruhi seluruh kelompok. Siswa belajar bahwa ketelitian dan tanggung jawab atas bagian masing-masing adalah fondasi profesi akuntan.

Antusiasme siswa terlihat sejak permainan dimulai. Mereka merasa senang karena pembelajaran tidak terus-menerus berkutat pada siklus akuntansi yang monoton. "Seru tapi menegangkan," ungkap salah satu siswa kelas 12 AKL 1 mengenai pengalamannya. Ketegangan itu justru membuat siswa fokus, saling mengecek, dan bekerja sama. Pendekatan yang aktif, menyenangkan, dan bermakna ini sejalan dengan target SDG 4.

  

Suasana belajar yang cair itu ternyata tidak berhenti ketika bel pelajaran usai. Keakraban yang terbangun selama kegiatan membuat siswa lebih terbuka kepada mahasiswa PK. Di sela waktu istirahat maupun kegiatan sekolah, obrolan ringan sering bermula dari hal sederhana, mulai dari soal pelajaran, cerita pengalaman kuliah, hingga rencana setelah lulus.

Siswa merasa nyaman berbagi karena mahasiswa hadir sebagai teman berbincang yang tidak menggurui. Mereka bebas bertanya, termasuk tentang hal-hal yang selama ini terasa jauh dan sulit dibayangkan.

Dari obrolan-obrolan itulah semangat berlomba tumbuh. Mahasiswa PK memberikan motivasi agar siswa berani mencoba dan mengembangkan kompetensi lewat berbagai kompetisi. Semangat tersebut tampak pada tiga siswa AKL SMK N 1 Klaten, yaitu Muhammad Salahhudin Sidiq dan Aldi Permana dari kelas 12 AKL 1, serta Aldino Sukmo dari kelas 11 AKL 3. Ketiganya aktif mengikuti berbagai lomba, salah satunya Cerdas Cermat Akuntansi.

Bagi Sidiq, lomba adalah cara untuk menambah pengalaman sesuai karier yang ia cita-citakan. "Motivasi saya ingin terus tumbuh berkembang di bidang akuntansi dengan bertemu lawan yang levelnya di atas saya," tuturnya. Sertifikat lomba juga menjadi pemacu karena dapat memperkuat portofolionya. Sementara itu, Aldino mengaku ingin mencoba hal baru. Menurutnya, materi yang diajarkan selama pembelajaran membuat ia dan teman-temannya yakin untuk ikut serta dalam lomba.

Dalam pendampingannya, mahasiswa tidak hanya memberi semangat, tetapi juga membagikan contoh-contoh soal yang biasa digunakan dalam lomba dan membahasnya bersama. Latihan itu membantu siswa mengenali pola soal sekaligus melatih ketenangan saat menjawab. Bagi siswa, lomba bukan sekadar mengejar juara, melainkan wadah melatih penguasaan materi, kerja sama tim, dan kepercayaan diri. Keterlibatan siswa lintas kelas, dari kelas 11 hingga 12, juga menunjukkan bahwa semangat berprestasi tumbuh dan saling menular di lingkungan sekolah.

Pengalaman berlomba kemudian menjadi pintu masuk untuk membicarakan masa depan. Dalam obrolan santai, mahasiswa berbagi cerita tentang pilihan melanjutkan kuliah, jalur seleksi masuk perguruan tinggi, dan peluang beasiswa. Prestasi lomba dijelaskan sebagai modal berharga yang dapat memperkuat portofolio saat mendaftar studi lanjut maupun beasiswa.

Bagi Sidiq, pengalaman nyata yang dibagikan mahasiswa tentang jenjang pendidikan dan karier setelah SMK menjadi pegangan berharga. "Pengalaman mereka memberi saya petunjuk serta pandangan mengenai masa depan," ujarnya. Ia juga menilai mahasiswa PK berperan penting dalam memperdalam pemahaman siswa tentang akuntansi manufaktur dan akuntansi biaya, serta menyemangati mereka untuk berlomba.

Karena suasananya akrab, siswa tidak sungkan menanyakan hal-hal yang selama ini mereka ragukan. Bagi banyak siswa SMK, informasi ini penting agar kuliah dipandang sebagai pilihan yang terbuka bagi siapa saja, bukan hanya mereka yang mampu secara ekonomi. Dengan berbagi pengalaman dan informasi beasiswa, mahasiswa turut menjembatani kesenjangan akses informasi pendidikan, langkah kecil yang mendukung SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan.

Cita-cita dan prestasi tentu perlu ditopang karakter yang kuat. Karena itu, selama PK mahasiswa juga turut dalam pembiasaan harian di SMK N 1 Klaten, seperti literasi keagamaan, upacara bendera, dan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun). Kebiasaan ini menumbuhkan ketenangan, kedisiplinan, dan hubungan yang hangat antara siswa, guru, dan mahasiswa. Semangat among, yakni menuntun, mendampingi, dan memberi teladan tanpa memaksa, menjadi landasannya.

Secara keseluruhan, kehadiran mahasiswa PK UNY di SMK N 1 Klaten mencerminkan upaya menghadirkan pendidikan berkualitas melalui pembelajaran inovatif seperti The Ledger Relay, pendampingan lomba yang membangun kepercayaan diri, serta pemerataan akses informasi studi lanjut dan beasiswa. Ketiganya berjalan beriringan, didukung kedekatan yang membuat siswa nyaman berkembang secara akademik, karakter, dan cita-cita. (jihan)

Pages