Membiasakan Konsumsi Bijak melalui Penggunaan Tumbler dan Water Station di SMA Negeri 1 Sleman 

Sleman - Dimitria Pelita Khairunnisa, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, melaksanakan Praktik Kependidikan (PK) di SMA Negeri 1 Sleman. Selama pelaksanaan PK, Dimitria mengamati kebiasaan peserta didik dalam membawa tumbler dan memanfaatkan water station yang tersedia di lingkungan sekolah. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan perilaku konsumsi yang lebih bijak sekaligus upaya mengurangi penggunaan air minum dalam kemasan sekali pakai. Kegiatan ini menyasar peserta didik dan memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Dari perspektif Pendidikan Ekonomi, kebiasaan tersebut juga menunjukkan penerapan konsep konsumsi, penghematan, dan pengelolaan keuangan dalam kehidupan sehari-hari. 

Penerapan kebiasaan tersebut dilakukan dengan mendorong peserta didik untuk membawa tumbler dari rumah dan mengisi ulang air minum melalui water station yang tersedia di sekolah. Dengan menggunakan tumbler, peserta didik tidak perlu membeli air minum kemasan setiap kali membutuhkan air selama berada di sekolah. Uang yang biasanya digunakan untuk membeli air minum dapat dihemat dan dialokasikan untuk kebutuhan lain atau ditabung. Kebiasaan sederhana ini juga dapat menjadi pembelajaran kontekstual bagi peserta didik mengenai pengambilan keputusan ekonomi, khususnya dalam membedakan kebutuhan dan keinginan serta mempertimbangkan penggunaan uang secara bijak. Dalam pelaksanaannya, kebiasaan tersebut didukung oleh lingkungan sekolah dan kesadaran peserta didik dalam menerapkan perilaku yang lebih ramah lingkungan. 

Kebiasaan membawa tumbler dan menggunakan water station memberikan manfaat dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Dari sisi ekonomi, peserta didik memiliki kesempatan untuk mengurangi pengeluaran kecil yang dilakukan secara berulang dan mengalokasikan uang tersebut untuk kebutuhan lain atau tabungan. Sebagai ilustrasi, apabila air minum kemasan seharga Rp4.000 dibeli setiap hari selama 20 hari sekolah, pengeluaran yang dapat dihemat mencapai sekitar Rp80.000 dalam satu bulan. Dari sisi lingkungan, penggunaan tumbler membantu mengurangi ketergantungan terhadap botol plastik sekali pakai. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa pilihan konsumsi sehari-hari dapat memberikan dampak terhadap pengelolaan keuangan sekaligus lingkungan, sehingga mendukung penerapan SDG 12. 

Melalui kebiasaan sederhana membawa tumbler dan memanfaatkan water station, diharapkan peserta didik semakin terbiasa menerapkan perilaku konsumsi yang bijak dan bertanggung jawab. Kebiasaan tersebut juga diharapkan dapat terus dipertahankan dan dikembangkan menjadi bagian dari budaya sekolah. Bagi mahasiswa Pendidikan Ekonomi, kegiatan ini menjadi pengalaman untuk menghubungkan pembelajaran ekonomi dengan kehidupan nyata, bahwa penerapan konsep ekonomi dapat dimulai dari keputusan sederhana dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penerapan Canva AI pada Pembelajaran Perpajakan Kelas XI AKL Fase F melalui Game “Tax Mystery Box”

Kulon Progo, 31 Agustus 2026 - Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran menjadi salah satu upaya untuk menciptakan proses pendidikan yang lebih interaktif dan inovatif. Hal tersebut diterapkan oleh Figo Dehasta Imtinan, mahasiswa semester 7 Program Studi Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dalam kegiatan Praktik Kependidikan (PK) di SMK Negeri 1 Kokap, Kulon Progo.

Dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran Perpajakan kelas XI Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) Fase F, Figo menerapkan Canva AI sebagai salah satu teknologi yang digunakan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis permainan. Media tersebut dikemas dalam sebuah permainan bernama “Tax Mystery Box” yang digunakan untuk mendukung pembelajaran pada materi Syarat dan Sistem Pemungutan Pajak.

Pengembangan media pembelajaran ini berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan pembelajaran perpajakan yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Materi perpajakan yang memiliki berbagai konsep dan istilah dikemas ke dalam bentuk permainan agar peserta didik dapat mempelajari materi melalui aktivitas yang lebih interaktif.

Melalui “Tax Mystery Box”, peserta didik diajak untuk menyelesaikan berbagai pertanyaan dan tantangan yang berkaitan dengan materi Syarat dan Sistem Pemungutan Pajak. Permainan dirancang dengan memanfaatkan elemen visual dan interaktif sehingga peserta didik dapat menguji pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari.

Penggunaan media berbasis permainan juga memberikan suasana pembelajaran yang berbeda dari pembelajaran yang hanya berpusat pada penjelasan materi. Peserta didik memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, menjawab pertanyaan, serta mengingat kembali konsep-konsep perpajakan melalui tantangan yang terdapat dalam permainan.

Canva AI dimanfaatkan dalam proses pengembangan media sebagai teknologi pendukung untuk menghasilkan dan menyusun elemen visual pembelajaran. Pemanfaatan teknologi tersebut memungkinkan pengembangan media dilakukan secara lebih kreatif dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik peserta didik kelas XI AKL.

Penerapan Canva AI dalam pembelajaran juga menjadi salah satu bentuk pengenalan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan secara produktif di lingkungan pendidikan. Teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti peran pendidik, melainkan sebagai alat bantu untuk mengembangkan media yang dapat mendukung proses pembelajaran.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pengalaman Figo Dehasta Imtinan dalam melaksanakan Praktik Kependidikan sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi. Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan diterapkan secara langsung dalam proses pembelajaran di sekolah, khususnya dalam merancang media pembelajaran yang memadukan materi akuntansi dan perpajakan dengan perkembangan teknologi digital.

Penerapan “Tax Mystery Box” turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas. Pemanfaatan media pembelajaran interaktif memberikan alternatif dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif dan menarik. Kegiatan ini mendukung upaya menghadirkan pembelajaran yang berkualitas dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk membantu peserta didik memahami materi pembelajaran.

Selain SDG 4, kegiatan ini juga mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan inovasi teknologi dalam bidang pendidikan. Penggunaan Canva AI menunjukkan adanya pemanfaatan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan untuk menghasilkan inovasi media pembelajaran. Penerapan teknologi tersebut menjadi contoh bahwa inovasi digital dapat dikembangkan tidak hanya dalam bidang industri, tetapi juga dalam proses pendidikan.

Keterkaitan antara SDG 4 dan SDG 9 terlihat melalui pengembangan media “Tax Mystery Box” yang menggabungkan tujuan pendidikan dengan pemanfaatan teknologi. Inovasi media pembelajaran berbasis Canva AI diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam menciptakan proses pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

Melalui kegiatan Praktik Kependidikan di SMK Negeri 1 Kokap, pemanfaatan Canva AI dan “Tax Mystery Box” menjadi salah satu bentuk inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi dengan materi Perpajakan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman bagi mahasiswa calon pendidik untuk mengembangkan pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan relevan dengan perkembangan teknologi, serta berkontribusi terhadap pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Belajar Seru The Ledger Relay Hingga Motivasi Studi Lanjut, Mahasiswa PK UNY Wujudkan SDG 4 Dan SDG 10 di SMK N 1 Klaten



KLATEN – Praktik Kependidikan (PK) menjadi ruang bagi mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk berkontribusi langsung pada SDG 4: Pendidikan Berkualitas di SMK Negeri 1 Klaten. Kontribusi itu tidak berhenti pada praktik mengajar di kelas, tetapi berlanjut lewat kedekatan dengan siswa, tempat mereka merasa nyaman berbagi cerita, bertanya, dan menumbuhkan keberanian untuk berprestasi serta menatap pendidikan yang lebih tinggi.

Di kelas Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL), mahasiswa PK menghadirkan pembelajaran estafet buku besar bertajuk The Ledger Relay: Menumbuhkan Integritas dalam Setiap Angka. Siswa dibagi dalam kelompok, lalu setiap anggota bergantian memindahkan (memposting) transaksi dari jurnal ke akun buku besar yang tepat sebelum melanjutkan estafet ke rekan berikutnya. Kelompok yang menyelesaikan seluruh transaksi dengan cepat, teliti, dan saldo yang sesuai menjadi yang terbaik.

Nilai integritas menjadi inti kegiatan ini. Setiap angka yang dicatat harus jujur dan akurat, sebab satu kekeliruan akan memengaruhi seluruh kelompok. Siswa belajar bahwa ketelitian dan tanggung jawab atas bagian masing-masing adalah fondasi profesi akuntan.

Antusiasme siswa terlihat sejak permainan dimulai. Mereka merasa senang karena pembelajaran tidak terus-menerus berkutat pada siklus akuntansi yang monoton. "Seru tapi menegangkan," ungkap salah satu siswa kelas 12 AKL 1 mengenai pengalamannya. Ketegangan itu justru membuat siswa fokus, saling mengecek, dan bekerja sama. Pendekatan yang aktif, menyenangkan, dan bermakna ini sejalan dengan target SDG 4.

  

Suasana belajar yang cair itu ternyata tidak berhenti ketika bel pelajaran usai. Keakraban yang terbangun selama kegiatan membuat siswa lebih terbuka kepada mahasiswa PK. Di sela waktu istirahat maupun kegiatan sekolah, obrolan ringan sering bermula dari hal sederhana, mulai dari soal pelajaran, cerita pengalaman kuliah, hingga rencana setelah lulus.

Siswa merasa nyaman berbagi karena mahasiswa hadir sebagai teman berbincang yang tidak menggurui. Mereka bebas bertanya, termasuk tentang hal-hal yang selama ini terasa jauh dan sulit dibayangkan.

Dari obrolan-obrolan itulah semangat berlomba tumbuh. Mahasiswa PK memberikan motivasi agar siswa berani mencoba dan mengembangkan kompetensi lewat berbagai kompetisi. Semangat tersebut tampak pada tiga siswa AKL SMK N 1 Klaten, yaitu Muhammad Salahhudin Sidiq dan Aldi Permana dari kelas 12 AKL 1, serta Aldino Sukmo dari kelas 11 AKL 3. Ketiganya aktif mengikuti berbagai lomba, salah satunya Cerdas Cermat Akuntansi.

Bagi Sidiq, lomba adalah cara untuk menambah pengalaman sesuai karier yang ia cita-citakan. "Motivasi saya ingin terus tumbuh berkembang di bidang akuntansi dengan bertemu lawan yang levelnya di atas saya," tuturnya. Sertifikat lomba juga menjadi pemacu karena dapat memperkuat portofolionya. Sementara itu, Aldino mengaku ingin mencoba hal baru. Menurutnya, materi yang diajarkan selama pembelajaran membuat ia dan teman-temannya yakin untuk ikut serta dalam lomba.

Dalam pendampingannya, mahasiswa tidak hanya memberi semangat, tetapi juga membagikan contoh-contoh soal yang biasa digunakan dalam lomba dan membahasnya bersama. Latihan itu membantu siswa mengenali pola soal sekaligus melatih ketenangan saat menjawab. Bagi siswa, lomba bukan sekadar mengejar juara, melainkan wadah melatih penguasaan materi, kerja sama tim, dan kepercayaan diri. Keterlibatan siswa lintas kelas, dari kelas 11 hingga 12, juga menunjukkan bahwa semangat berprestasi tumbuh dan saling menular di lingkungan sekolah.

Pengalaman berlomba kemudian menjadi pintu masuk untuk membicarakan masa depan. Dalam obrolan santai, mahasiswa berbagi cerita tentang pilihan melanjutkan kuliah, jalur seleksi masuk perguruan tinggi, dan peluang beasiswa. Prestasi lomba dijelaskan sebagai modal berharga yang dapat memperkuat portofolio saat mendaftar studi lanjut maupun beasiswa.

Bagi Sidiq, pengalaman nyata yang dibagikan mahasiswa tentang jenjang pendidikan dan karier setelah SMK menjadi pegangan berharga. "Pengalaman mereka memberi saya petunjuk serta pandangan mengenai masa depan," ujarnya. Ia juga menilai mahasiswa PK berperan penting dalam memperdalam pemahaman siswa tentang akuntansi manufaktur dan akuntansi biaya, serta menyemangati mereka untuk berlomba.

Karena suasananya akrab, siswa tidak sungkan menanyakan hal-hal yang selama ini mereka ragukan. Bagi banyak siswa SMK, informasi ini penting agar kuliah dipandang sebagai pilihan yang terbuka bagi siapa saja, bukan hanya mereka yang mampu secara ekonomi. Dengan berbagi pengalaman dan informasi beasiswa, mahasiswa turut menjembatani kesenjangan akses informasi pendidikan, langkah kecil yang mendukung SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan.

Cita-cita dan prestasi tentu perlu ditopang karakter yang kuat. Karena itu, selama PK mahasiswa juga turut dalam pembiasaan harian di SMK N 1 Klaten, seperti literasi keagamaan, upacara bendera, dan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun). Kebiasaan ini menumbuhkan ketenangan, kedisiplinan, dan hubungan yang hangat antara siswa, guru, dan mahasiswa. Semangat among, yakni menuntun, mendampingi, dan memberi teladan tanpa memaksa, menjadi landasannya.

Secara keseluruhan, kehadiran mahasiswa PK UNY di SMK N 1 Klaten mencerminkan upaya menghadirkan pendidikan berkualitas melalui pembelajaran inovatif seperti The Ledger Relay, pendampingan lomba yang membangun kepercayaan diri, serta pemerataan akses informasi studi lanjut dan beasiswa. Ketiganya berjalan beriringan, didukung kedekatan yang membuat siswa nyaman berkembang secara akademik, karakter, dan cita-cita. (jihan)

Kegiatan Keputrian SMA Negeri 1 Pleret, Tetap Belajar dan Mendekatkan Diri kepada Allah

Bantul, September 2026 — Pendidikan tidak hanya berfokus pada pemberian pengetahuan kepada murid, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter melalui kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan karakter berkaitan dengan watak, moral, sikap, dan kebiasaan seseorang dalam berperilaku, termasuk dalam menjalankan nilai-nilai keagamaan. Karakter dapat dibentuk melalui pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi bagian dari perilaku murid. Salah satu bentuk pembiasaan tersebut diterapkan di SMA Negeri 1 Pleret melalui kegiatan keputrian bagi murid perempuan yang sedang mengalami menstruasi atau haid. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembinaan agar murid tetap dapat mengikuti kegiatan keagamaan, menjaga keimanan, dan mendekatkan diri kepada Allah meskipun sedang tidak melaksanakan salat.

Kegiatan keputrian merupakan kegiatan yang sudah lama dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pleret. Kegiatan ini dilaksanakan ketika murid lainnya melaksanakan salat Zuhur berjamaah, yaitu setiap hari kecuali hari Jumat karena pada hari tersebut murid pulang pukul 11.00. Murid perempuan yang sedang mengalami menstruasi atau haid diarahkan untuk berkumpul di perpustakaan sekolah dan mengikuti kegiatan dengan membaca Asmaul Husna bersama-sama. Dengan adanya kegiatan tersebut, murid tetap memiliki aktivitas yang positif selama tidak mengikuti salat Zuhur serta tetap mendapatkan pembinaan keagamaan di lingkungan sekolah.

Dalam pelaksanaannya, murid membaca Asmaul Husna bersama-sama dengan tertib di perpustakaan dan didampingi oleh guru atau pihak sekolah. Perpustakaan dipilih sebagai tempat kegiatan karena memiliki suasana yang tenang dan nyaman untuk membaca. Setelah kegiatan selesai, murid dapat kembali mengikuti kegiatan sekolah sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Pembacaan Asmaul Husna dilakukan sebagai salah satu cara agar murid tetap mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah. Melalui kegiatan ini, murid diharapkan tetap menjaga keimanan dan membiasakan diri melakukan kegiatan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut juga memberikan pemahaman bahwa meskipun sedang menstruasi dan tidak melaksanakan salat, murid tetap dapat melakukan kegiatan positif untuk mengingat Allah.

Selain membaca Asmaul Husna, kegiatan keputrian juga menjadi ruang bagi murid untuk mendapatkan pembinaan mengenai keagamaan, kehidupan perempuan, dan pembentukan karakter. Murid dapat mengikuti kegiatan bersama teman-temannya sehingga tetap merasa terlibat dalam kegiatan sekolah. Pembiasaan yang dilakukan secara rutin diharapkan dapat membantu murid menerapkan nilai-nilai yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan keputrian di SMA Negeri 1 Pleret memiliki kaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas. SDGs ke-4 menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta memberikan kesempatan belajar bagi semua. Melalui kegiatan ini, murid perempuan yang sedang menstruasi atau haid tetap memperoleh kesempatan untuk mengikuti kegiatan pembinaan dan belajar di lingkungan sekolah. Pembacaan Asmaul Husna tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengisi waktu, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter dan penguatan keimanan. Kegiatan keputrian menjadi salah satu upaya SMA Negeri 1 Pleret dalam mendukung pendidikan berkualitas melalui pembiasaan, pembentukan karakter, serta pemberian kesempatan kepada murid untuk tetap belajar dan berkembang sesuai dengan kondisinya.

Penulis: Puspita Tyas Shabrina_Program Studi Pendidikan Ekonomi_Fakultas Ekonomi dan Bisnis_Universitas Negeri Yogyakarta

Membangun Budaya Kebersihan Sekolah Berkelanjutan, Mahasiswa PK Wujudkan Lingkungan Belajar Sehat di SMA Negeri 7 Yogyakarta

YOGYAKARTA – Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) menyelenggarakan program kerja berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) bertema “Keberlanjutan & Pembiasaan: Membangun Kebiasaan Menjaga Kebersihan Kelas secara Berkelanjutan” di SMA Negeri 7 Yogyakarta. Kegiatan yang dilaksanakan secara intensif dari bulan Agustus hingga September ini melibatkan seluruh peserta didik dari kelas X, XI, hingga XII. Program pembiasaan ini selaras dengan pencapaian SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), khususnya dalam mendukung peningkatan kualitas layanan dan pemberdayaan masyarakat sekolah melalui pembudayaan hidup bersih, rapi, serta tertib di lingkungan belajar.

Tujuan utama dari program ini adalah menanamkan kedisiplinan dan kesadaran lingkungan sebagai bagian dari budaya unggul sekolah secara berkelanjutan. Pemantauan dan pengecekan kebersihan kelas dilakukan secara rutin setiap pagi sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai oleh penanggung jawab program kerja mahasiswa PK. Penilaian berfokus pada tiga aspek utama, yaitu kebersihan, kelengkapan, serta kerapihan atau keindahan kelas. Aspek kebersihan dinilai dari kebersihan lantai, papan tulis, meja dan kursi, pintu dan jendela, hingga teras kelas. Aspek kelengkapan mencakup ketersediaan atribut resmi negara seperti foto Presiden, foto Wakil Presiden, Lambang Garuda, jam dinding, alat kebersihan kelas, serta keberadaan mading kelas. Sementara itu, aspek kerapihan dan keindahan berfokus pada penataan meja guru, penataan meja dan kursi siswa, penataan peralatan kebersihan, serta kreativitas penataan papan pajangan kelas.

Melalui pemantauan berkala selama dua bulan, program ini berhasil memberikan perubahan signifikan terhadap kepedulian para siswa SMA Negeri 7 Yogyakarta dalam merawat ruang kelas mereka. Lingkungan kelas menjadi lebih bersih, tertata rapi, dan nyaman, sehingga secara langsung menciptakan suasana belajar yang kondusif serta mendukung kesehatan fisik peserta didik maupun seluruh warga sekolah. Pembiasaan rutin setiap pagi ini tidak hanya menjaga estetika lingkungan sekolah, tetapi juga berhasil memperkuat budaya gotong royong dan rasa kepemilikan bersama atas sarana publik di ruang lingkup pendidikan.

Melalui keberhasilan program ini, diharapkan pembiasaan dan semangat menjaga kebersihan kelas dapat terus dipertahankan secara mandiri oleh seluruh siswa, sehingga menjadi budaya berkelanjutan di SMA Negeri 7 Yogyakarta meskipun masa Praktik Kependidikan telah berakhir.

Implementasi Digital Learning Canva AI untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Mengenai Tantangan Akuntansi Masa Kini Lewat Metode Pembelajaran Numbered Head Together di SMKN 7 Yogyakarta

Yogyakarta — Pembelajaran akuntansi dasar di kelas X AK 1, SMK Negeri 7 Yogyakarta pada Selasa, 6 Agustus 2026 hadir dengan suasana berbeda. Bukan sekadar menyimak penjelasan guru, peserta didik diajak berdiskusi, berkompetisi, dan menguji pemahaman melalui kuis digital interaktif berbasis teknologi. Mahasiswa PK UNY Program Studi Pendidikan Akuntansi, Windha Fadilah memanfaatkan Canva AI dan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT) untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif sekaligus memperkenalkan peserta didik pada pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran akuntansi. Melalui media kuis digital yang dirancang secara interaktif, pembelajaran materi “Tantangan Akuntansi Masa Kini” dikemas lebih kontekstual dengan perkembangan teknologi dan tuntutan kompetensi di era digital.

Secara teknis, sistem permainan disusun dengan membagi peserta didik ke dalam enam kelompok. Setiap anggota kelompok akan mengenakan ikat kepala bernomor satu sampai dengan enam sebagai identitas penomoran khas model NHT. Guru akan menampilkan kartu pertanyaan di dalam game kuis, dan setiap kelompok memperoleh kesempatan memilih kartu pertanyaan dengan salah satu dari dua tingkat kesulitan, yaitu level mudah (easy) dan level sulit (hard). Setelah kartu pertanyaan dipilih dan pertanyaan ditampilkan, sistem game akan memunculkan nama kelompok beserta nomor anggota secara acak, dan peserta didik dengan nomor yang tampil pada layar itulah yang bertugas menjawab pertanyaan mewakili kelompoknya. Mekanisme pengacakan nama kelompok dan nomor anggota ini bertujuan menjaga kesiapan seluruh anggota kelompok, sebab setiap peserta didik tidak dapat memprediksi kapan gilirannya dipanggil. Poin diberikan berdasarkan ketepatan jawaban dan tingkat kesulitan kartu yang dipilih, sehingga kartu level hard memberikan bobot poin yang lebih besar dibandingkan kartu level easy. Kelompok dengan perolehan poin terbanyak pada akhir sesi permainan ditetapkan sebagai pemenang. 

Pengembangan media pembelajaran digital ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menghadirkan pembelajaran akuntansi yang lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan teknologi masa kini. Materi Tantangan Akuntansi Masa Kini dipilih karena berkaitan langsung dengan dinamika profesi akuntansi di era digital, termasuk isu otomatisasi, transformasi teknologi informasi, dan tuntutan kompetensi baru bagi calon lulusan sekolah menengah kejuruan. Mahasiswa PK menilai bahwa penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran perlu diperkenalkan sejak dini agar peserta didik terbiasa beradaptasi dengan perubahan zaman.

Proses pembuatan media pembelajaran ini dilakukan secara bertahap, dimulai dari penyusunan indikator pencapaian kompetensi, perumusan butir soal kuis, hingga desain visual menggunakan fitur kecerdasan buatan pada platform Canva. Setelah media selesai disusun, media tersebut diujicobakan langsung di dalam kelas dengan pendampingan guru pamong mata pelajaran Akuntansi Dasar. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan media kuis ini berlangsung di ruang kelas SMK Negeri 7 Yogyakarta dengan memanfaatkan perangkat proyektor dan jaringan internet sekolah.

Penerapan media kuis berbasis Canva AI dengan model NHT dinilai memberikan sejumlah manfaat bagi proses pembelajaran. Pertama, peserta didik menjadi lebih aktif berdiskusi karena setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab individu atas jawaban kelompok. Kedua, tampilan kuis yang interaktif membantu peserta didik memahami materi yang bersifat konseptual, seperti tantangan akuntansi di era digital, melalui pendekatan visual yang lebih mudah dipahami. Ketiga, penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran turut melatih literasi digital peserta didik, sejalan dengan kebutuhan kompetensi abad ke-21.

Inovasi pembelajaran ini memiliki keterkaitan yang cukup mendalam dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Keterkaitan paling utama terletak pada SDG ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya target 4.4 yang menekankan peningkatan jumlah generasi muda dan orang dewasa yang memiliki keterampilan relevan, termasuk keterampilan teknis dan kejuruan, untuk bekerja dan berwirausaha. Media kuis berbasis Canva AI menghadirkan pembelajaran akuntansi yang lebih inklusif dan partisipatif karena setiap anggota kelompok memiliki peluang yang sama untuk terlibat aktif melalui sistem penomoran acak, bukan hanya peserta didik tertentu yang biasanya lebih dominan di kelas. SDG ke-4 juga menyoroti target 4.a mengenai penyediaan lingkungan belajar yang aman dan efektif bagi semua, yang tercermin dari suasana kompetisi kelompok yang sehat dan menyenangkan dalam permainan kuis tersebut.

Selain SDG ke-4, kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, khususnya target 9.c yang mendorong perluasan akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi. Penggunaan Canva AI sebagai perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan dalam penyusunan media ajar menunjukkan bagaimana infrastruktur digital dapat dimanfaatkan secara nyata untuk memperkuat proses pendidikan di satuan pendidikan menengah kejuruan. 

Kegiatan pengembangan media pembelajaran digital ini merupakan bagian dari rangkaian Praktik Kependidikan yang dilaksanakan mahasiswa Pendidikan Akuntansi UNY di SMK Negeri 7 Yogyakarta. Program ini bertujuan membekali mahasiswa calon pendidik dengan pengalaman nyata merancang, menerapkan, dan mengevaluasi media serta model pembelajaran di satuan pendidikan menengah kejuruan. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran akuntansi yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep, tetapi juga relevan dengan tuntutan transformasi digital di dunia pendidikan dan dunia kerja.

Dari Akar ke Buah: Media Pohon Ekonomi Berbasis Systems Thinking Karya Mahasiswa PK UNY Ajak Siswa SMA Negeri 2 Yogyakarta Bedah Kebijakan Pemerintah

Sebuah pendekatan belajar yang tidak biasa mewarnai kelas XE-5 SMA Negeri 2 Yogyakarta pada Rabu, 9 September 2026. Imam Rudi Mustofa, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY), mengajak 35 siswa di kelas tersebut memahami materi Ekonomi lewat media bernama Pohon Ekonomi, hasil rancangannya sendiri yang memadukan prinsip systems thinking dengan kerangka Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan berlangsung di bawah pendampingan guru pamong Siti Fatimah, S.E., dan sejalan dengan upaya mendukung SDG 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, lewat proses belajar yang menempatkan siswa sebagai pihak aktif dalam menganalisis persoalan nyata.

Pohon Ekonomi digambarkan sebagai satu kesatuan pohon dengan lima bagian yang saling menopang: akar sebagai fondasi kegiatan ekonomi (kebutuhan, kelangkaan, dan sumber daya), batang sebagai proses inti berupa produksi, distribusi, dan konsumsi, cabang sebagai pelaku serta sistem pendukung kegiatan ekonomi, daun sebagai hasil yang muncul dari proses tersebut, dan buah sebagai capaian akhir yang merepresentasikan tujuan pembangunan berkelanjutan. Rangkaian metafora ini dirancang Imam agar siswa tidak memandang ekonomi sebagai kumpulan konsep yang berdiri sendiri, melainkan sebagai jalinan sebab-akibat yang saling memengaruhi.

Dengan bekal kerangka tersebut, 35 siswa dibagi ke dalam tujuh kelompok, dan setiap kelompok diminta menelusuri satu kasus atau program pemerintah pilihan mereka sendiri melalui kerangka Pohon Ekonomi, mulai dari akar persoalannya hingga buah berupa keterkaitannya dengan SDGs. Dari tujuh hasil analisis yang dipresentasikan, dua kelompok dinilai menunjukkan pemahaman paling matang dan ditunjuk membawakan hasil kerjanya di depan kelas: kelompok yang mengupas Koperasi Desa Merah Putih, dengan menyoroti bagaimana kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi di tingkat desa dapat mendorong kemandirian ekonomi warga, serta kelompok yang membedah program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menautkan pemenuhan kebutuhan gizi dengan peran berbagai pelaku ekonomi dan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Kedua topik ini dipilih siswa sendiri sebagai objek kajian, sementara kerangka analisisnya sepenuhnya mengacu pada logika Pohon Ekonomi yang telah dipelajari sebelumnya.

Bagi Imam, capaian yang lebih penting daripada hasil presentasi itu sendiri adalah proses berpikirnya. Siswa dilatih menelusuri hubungan antarkomponen, memahami peran berbagai pihak dalam sebuah kebijakan, sekaligus membiasakan diri menyampaikan gagasan secara runtut dan meyakinkan. Aspek-aspek inilah yang oleh Imam dipandang selaras dengan semangat Education for Sustainable Development (ESD), meski ia menegaskan bahwa kegiatan ini murni bertumpu pada proses pembelajaran di kelas, bukan penelitian yang mengukur dampak kebijakan secara empiris.

Ke depan, Imam berharap media Pohon Ekonomi yang ia kembangkan dapat terus disempurnakan dan diterapkan pada materi maupun konteks kebijakan lain, sehingga siswa memiliki lebih banyak kesempatan berlatih berpikir sistemik sambil tetap berpijak pada persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

"Kemitraan untuk Mencapai Tujuan": SMAN 1 Pleret Gandeng UNY Lewat Program PK

Bantul (SMAN 1 Pleret) – Pada Senin, 20 Juli 2026, sebanyak 15 mahasiswa Program Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) resmi memulai kegiatan praktik mengajar di SMA Negeri 1 Pleret, yang akan berlangsung hingga 23 September 2026. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi, yaitu Aisa Bela, Nanda Safitri, Puspita, Yasmin, Alya, Ibnu, Gilang, Fadzil, Nita, Sita, Ari, Fadia, Riana, Kiki, dan Una, dengan sasaran utama siswa-siswi SMAN 1 Pleret sebagai penerima manfaat langsung dari proses pembelajaran. Program ini merupakan wujud nyata dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas, sekaligus poin ke-17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, karena mempertemukan sekolah dan perguruan tinggi dalam kemitraan strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Program PK bertujuan memberikan pengalaman praktik mengajar secara nyata kepada mahasiswa kependidikan UNY, sekaligus mendukung proses belajar-mengajar di sekolah mitra. Selama program berlangsung, mahasiswa PK terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari menyusun modul ajar, mengajar di kelas, menilai tugas siswa, hingga berpartisipasi dalam kegiatan rutin sekolah seperti piket, upacara, dan pembinaan kedisiplinan siswa. Pelaksanaan kegiatan ini didampingi oleh guru pamong yang membimbing mahasiswa dalam merancang pembelajaran dan mengelola kelas, serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari UNY yang secara berkala memberikan evaluasi dan arahan.

Kehadiran mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) memberikan manfaat timbal balik bagi kedua belah pihak. Bagi mahasiswa, program ini menjadi bekal nyata dalam mempersiapkan diri sebagai calon guru profesional. Sementara itu, bagi sekolah, kehadiran mereka membawa energi dan gagasan segar yang turut memperkaya proses pembelajaran maupun beragam kegiatan kesiswaan. Wakil Kepala Sekolah bidang Hubungan Masyarakat (Humas) SMAN 1 Pleret menyampaikan bahwa program PK ini memberikan kontribusi positif bagi kemajuan pendidikan di sekolah, baik dalam hal penguatan proses belajar-mengajar maupun sebagai wadah regenerasi tenaga pendidik yang berkualitas di masa mendatang. Lebih dari itu, kehadiran mahasiswa PK juga mendorong para guru untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Sekolah pun berharap kerja sama yang telah terjalin ini dapat terus berlanjut dan semakin memberikan manfaat bagi semua pihak.

Melalui kemitraan yang berkelanjutan ini, pihak sekolah berharap dapat terus menjadi mitra strategis dalam mencetak calon pendidik yang kompeten, sekaligus memperkuat mutu pembelajaran bagi siswa. Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum berharap kolaborasi ini tidak hanya terbatas pada praktik kependidikan, tetapi juga mencakup kegiatan pengabdian masyarakat, serta agar ke depannya setiap mata pelajaran dapat memiliki mahasiswa PK yang mendampingi proses pembelajaran. Ia juga berharap para mahasiswa yang sedang menjalani proses PK dapat terus beradaptasi dengan baik di lingkungan sekolah demi kelancaran kegiatan belajar-mengajar, sekaligus memperluas kolaborasi dengan berbagai instansi lain seperti puskesmas, komite sekolah, dan lembaga pemerintah daerah guna memperkuat kualitas pendidikan secara menyeluruh.

Mahasiswa PK UNY Mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Di SMK Negeri 7 Yogyakarta sebagai Bentuk Wujud Nyata SDGS 2: Tanpa Kelaparan Terealisasi

Yogyakarta, 9 September 2026 – Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta Tahun Akademik 2026/2027 yang bertugas di SMK Negeri 7 Yogyakarta ikut mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan sekolah selama periode Agustus hingga September 2026. Kegiatan tersebut bertempat di SMK Negeri 7 Yogyakarta, Jalan Gowongan Kidul JT III/416, Kota Yogyakarta, dan berfokus pada pendampingan alur pelayanan makanan, mulai dari pencatatan makanan yang datang pada Lembar Kontrol Makanan hingga pengumpulan, penataan, dan pengikatan ompreng (wadah makan berbahan stainless steel) dengan tali rafia. Kontribusi ini merupakan bagian dari upaya mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan, khususnya agar makanan yang aman, bergizi, dan cukup dapat diterima warga sekolah secara tertib, tepat waktu, dan dalam kondisi layak.

Pelaksanaan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemenuhan gizi bagi peserta didik. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) nomor 2 bertujuan mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, memperbaiki gizi, serta mendorong pertanian yang berkelanjutan. Dua targetnya yang paling dekat dengan dunia sekolah adalah menjamin akses terhadap pangan yang aman, bergizi, dan cukup sepanjang tahun (target 2.1), serta mengakhiri segala bentuk malnutrisi (target 2.2). Dengan demikian, kelaparan tidak hanya dimaknai sebagai ketiadaan makanan, tetapi juga sebagai kondisi ketika makanan yang dikonsumsi belum mencukupi kebutuhan gizi. Di Indonesia, upaya tersebut diwujudkan melalui Program Makan Bergizi Gratis yang mulai dijalankan pada 6 Januari 2025 di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional (BGN) dan dilaksanakan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dengan sasaran antara lain anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Sekolah menengah kejuruan menjadi lingkungan yang relevan bagi program ini karena peserta didiknya menjalani kegiatan belajar yang menuntut konsentrasi sekaligus praktik kejuruan yang membutuhkan tenaga. Asupan gizi yang baik dan diterima tepat waktu turut menopang kesiapan mereka mengikuti pembelajaran. Berangkat dari pemikiran tersebut, Mahasiswa PK UNY yang sedang menjalankan tugas di SMK Negeri 7 Yogyakarta memandang bahwa peran calon pendidik tidak berhenti pada kegiatan di dalam kelas, tetapi juga mencakup kepedulian terhadap kesejahteraan peserta didik. Hal ini sejalan dengan pandangan BGN bahwa guru dan mahasiswa perlu dilibatkan dalam upaya pendidikan gizi di sekolah dan kampus.

Kebutuhan akan dukungan di lapangan terlihat jelas dari data yang tercatat pada Lembar Kontrol Makanan di meja petugas sekolah. Lembar tersebut memuat jenis porsi, jumlah porsi, waktu kedatangan makanan, dan batas waktu makanan baik dikonsumsi. Pada dokumentasi kegiatan, tertulis jenis porsi besar dengan jumlah 1.166 porsi, waktu kedatangan pukul 08.30, dan batas waktu konsumsi pukul 11.00 . Angka-angka ini menunjukkan bahwa penyediaan makanan bergizi bukan sekadar persoalan menu, melainkan juga persoalan ketepatan jumlah, ketepatan waktu, dan kebersihan wadah. Dengan lebih dari seribu ompreng yang harus dikelola dalam satu hari, penataan yang tidak tertib berpotensi menimbulkan wadah tercecer, tercampur, atau sulit dihitung, sehingga kelancaran layanan pada hari berikutnya dapat terganggu.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan berlangsung melalui beberapa tahapan. Pertama, makanan yang datang ke sekolah dicatat pada Lembar Kontrol Makanan yang dikelola petugas sekolah. Kedua, setelah makanan dikonsumsi, ompreng dikumpulkan di area teras depan gedung sekolah. Ketiga, Mahasiswa PK UNY yang mengenakan almamater dan tanda pengenal PK membantu memilah serta menumpuk ompreng dalam jumlah yang seragam. Keempat, setiap tumpukan diikat silang dengan tali rafia merah agar posisinya stabil, tidak mudah roboh, mudah diangkat, dan mudah dihitung oleh petugas. Pada dokumentasi tampak sebagian ompreng masih memiliki sisa makanan, sehingga penataan dilakukan dengan tetap memperhatikan kebersihan area dan kehati-hatian dalam bekerja. Seluruh proses berlangsung dengan dukungan petugas dan tenaga kependidikan sekolah, sehingga kegiatan ini menjadi kerja bersama, bukan kerja satu pihak saja.

Kegiatan ini bertumpu pada satu gagasan sederhana:

“Makanan bergizi baru bermakna bagi upaya menghapus kelaparan apabila sampai kepada penerima dengan jumlah yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dalam kondisi yang layak.”

Gagasan tersebut menjelaskan mengapa pekerjaan yang tampak sederhana, seperti mengikat tumpukan ompreng, tetap memiliki arti penting. Rantai pelayanan makanan di sekolah baru dapat berjalan berkelanjutan apabila setiap tahapnya, dari kedatangan makanan hingga pengembalian wadah, berlangsung tertib. Melalui peran tersebut, Mahasiswa PK UNY turut menjaga kesinambungan layanan yang memungkinkan makanan bergizi kembali tersedia bagi peserta didik pada hari-hari berikutnya.

Hasil dari kegiatan ini dapat dilihat dari beberapa sisi. Dari sisi pelayanan, tumpukan ompreng menjadi lebih rapi, terhitung, dan siap dikelola lebih lanjut. Dari sisi pencatatan, alur makanan yang datang terdokumentasi pada lembar kontrol sehingga dapat ditelusuri. Dari sisi pembelajaran, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai pentingnya disiplin waktu, ketelitian, kerja sama, dan tanggung jawab dalam layanan yang menyangkut kebutuhan dasar banyak orang. Secara lebih luas, kegiatan ini mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan, serta memberi dukungan tidak langsung bagi SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena peserta didik yang tercukupi gizinya berada dalam kondisi yang lebih baik untuk belajar.

Kegiatan pendampingan Program Makan Bergizi Gratis di SMK Negeri 7 Yogyakarta menjadi bukti bahwa upaya mewujudkan dunia tanpa kelaparan dapat dimulai dari lingkungan sekolah dan dari tindakan yang nyata. Ke depan, Mahasiswa PK UNY berharap dukungan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan dan dikembangkan, misalnya melalui edukasi gizi seimbang bagi peserta didik serta ajakan untuk menghabiskan makanan agar sisa makanan berkurang. Dengan sinergi antara mahasiswa, pihak sekolah, dan penyelenggara program, SMK Negeri 7 Yogyakarta diharapkan terus menjadi lingkungan belajar yang sehat, peduli, dan turut berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Tautan Dokumentasi Kegiatan:

(https://drive.google.com/drive/folders/10D3J2_YeK6M-GQGWlabNdhjNTOc7rHEb)

SEPISAN dan Kreasi Olahan Ikan Tuna dalam Mendukung Pangan Bergizi dan Laut Berkelanjutan di SMKN 7 Yogyakarta

Dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, SMK Negeri 7 Yogyakarta menggelar kegiatan SEPISAN (Skaven Pitulasan) pada hari Rabu pagi mulai pukul 08.00 WIB, bertempat di SMKN 7 Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan sasaran peserta didik dari berbagai kelas. Kegiatan ini memiliki keterkaitan langsung dengan dua tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan dan SDG 14 tentang Ekosistem Lautan.

Kegiatan ini berbentuk lomba memasak olahan ikan tuna yang bertujuan menumbuhkan kreativitas peserta didik dalam mengolah pangan bergizi sekaligus mengenalkan pentingnya konsumsi ikan sejak usia sekolah. Prosesnya diawali dengan pembukaan acara oleh pihak sekolah dan perwakilan kementerian. Seluruh peserta kemudian memasak menggunakan bahan baku yang sama, yaitu ikan tuna yang telah disiapkan dan disalurkan langsung oleh kementerian, sehingga penilaian benar-benar berfokus pada kreativitas dan teknik pengolahan. Selama proses memasak berlangsung, dewan juri yang terdiri atas guru produktif dan perwakilan kementerian berkeliling menilai setiap peserta secara langsung. Dari satu jenis ikan tersebut, lahir beragam menu seperti nasi bakar ikan, mie ikan, steak ikan, rolade, hingga tuna crispy. Setelah matang, seluruh hasil olahan diletakkan di stand edukatif agar dapat dilihat langsung oleh penonton dan tamu undangan. Rangkaian dilanjutkan dengan talkshow bertema Gemar Makan Ikan bersama perwakilan kementerian, yang membahas manfaat gizi ikan serta cara memilih dan mengolah ikan dengan tepat, sebelum akhirnya ditutup dengan pengumuman pemenang lomba.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata dari SDG 2 (Tanpa Kelaparan), karena ikan tuna merupakan sumber protein hewani kaya omega-3 yang berperan penting dalam mencegah stunting dan mendukung perkembangan gizi peserta didik. Selain itu, kegiatan ini juga terkait dengan SDG 14 (Ekosistem Lautan). Hal ini terlihat dari keterlibatan kementerian dalam menyediakan bahan baku berupa ikan tuna dan mengisi talkshow menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Dengan itulah, kegiatan SEPISAN ini menghubungkan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan isu ketahanan pangan dan keberlanjutan ekosistem laut.

Melalui kegiatan ini, peserta didik memperoleh pengalaman langsung dalam mengolah pangan sehat berbahan dasar ikan sekaligus memahami bahwa satu jenis ikan dapat divariasikan menjadi banyak menu bernilai jual. Stand edukatif yang menampilkan hasil olahan juga turut memberi manfaat bagi masyarakat sekolah secara luas, karena edukasi gizi tersampaikan secara visual dan mudah dipahami. Bagi lembaga, kerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY memperkuat citra sekolah sebagai institusi yang aktif mendukung isu pangan dan lingkungan. Bagi masyarakat, kegiatan ini turut mendukung kampanye Gemar Makan Ikan dan mendorong kesadaran menjaga kelestarian laut. SEPISAN diharapkan semangat memperingati kemerdekaan tidak hanya dimaknai secara seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun kebiasaan hidup sehat dan peduli lingkungan sejak dini. Ke depannya, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan sasaran yang lebih luas, sehingga nilai-nilai gizi dan kelestarian laut semakin tertanam kuat di lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar.

Pages