Dosen FEB UNY Raih Gelar Doktor di Taiwan, Salurkan Riset Transformasi Perhotelan Hijau Indonesia-Taiwan
Submitted by feb on Mon, 27/07/2026 - 09:47
Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY), Rullyana Puspitaningrum Mamengko, S.Pd., M.M., Ph.D., resmi meraih gelar Doktor (Doctor of Philosophy) pada ujian sidang yang digelar di National Kaohsiung University of Science and Technology (NKUST), Taiwan. Rullyana berhasil menyelesaikan studinya pada Program Studi Ph.D. in Business Intelligence setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul "Green Hospitality Transformation: A Comparative Qualitative Study of Sustainability Transformation in Indonesian and Taiwanese Green Hotels". Pencapaian akademik ini semakin memperkuat barisan tenaga pendidik berkualitas internasional di lingkungan FEB UNY dalam mengarungi tantangan pendidikan global.
Prosesi kelulusan dan ujian disertasi tersebut berjalan dengan khidmat di hadapan dewan penguji yang terdiri dari para pakar ternama lintas perguruan tinggi di Taiwan. Tim pembimbing akademik dipimpin oleh Dr. Lee (李力昌) sebagai Advisor utama dan Prof. Chen (陳光華) sebagai Co-Advisor dari NKUST. Selain itu, dewan penguji juga diperkuat oleh pakar hospitality dan bisnis terkemuka, yaitu Prof. Liu (劉修祥) dari Tainan University of Science and Technology, Prof. Huang (黃靖淑) dari National Pingtung University of Science and Technology, Prof. Lin (林宜親) dari National Kaohsiung University of Hospitality and Tourism, serta Prof. He (何秉燦) dari NKUST.
Riset disertasi Rullyana menggunakan pendekatan kualitatif komparatif studi kasus mendalam untuk memetakan evolusi kapabilitas keberlanjutan dalam konteks kelembagaan dan budaya yang berbeda antara Indonesia dan Taiwan. Penelitian ini melibatkan 36 praktisi industri dan pemangku kepentingan kunci, mencakup manajemen hotel berpredikat hijau (green hotels), akomodasi yang berkomitmen pada prinsip kelestarian lingkungan, hingga asosiasi perhotelan di kedua negara. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam (in-depth interviews), observasi lapangan, analisis dokumen organisasi, serta bukti visual, yang kemudian dianalisis secara induktif menggunakan perangkat lunak NVivo 14 dengan struktur pengkodean hierarkis.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Modal Intelektual Hijau (Green Intellectual Capital) dan Modal Struktural Hijau (Green Structural Capital) menjadi pilar utama dalam menata sistem tata kelola dan rutinitas organisasi berbasis keberlanjutan. Studi ini menemukan dua jalur transformasi yang unik: Indonesia menonjol melalui Nusantara Green Hospitality Transformation Model (NGHTM) yang dijiwai oleh kearifan lokal (indigenous sustainability wisdom) dan inovasi kreatif, sementara Taiwan menerapkan Integrated Green Hospitality Transformation Model (IGHTM) yang berorientasi pada integrasi kapabilitas tata kelola terstruktur. Kedua model menunjukkan bahwa penerapan prinsip Triple Bottom Line mampu mendorong kolaborasi nilai (value co-creation), partisipasi aktif tamu, serta ketahanan organisasi jangka panjang.
Pencapaian doktor ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis yang sangat signifikan bagi pengembangan industri pariwisata dan perhotelan berkelanjutan, baik di negara berkembang maupun negara maju. Kerangka kerja komparatif yang dirumuskan Rullyana menawarkan panduan strategis bagi para manajer hotel, akademisi, dan pembuat kebijakan dalam merancang regulasi serta operasional bisnis ramah lingkungan. Keberhasilan riset ini sekaligus membuktikan bahwa perguruan tinggi Indonesia mampu menghasilkan karya ilmiah berkelas dunia yang menjawab tantangan global di sektor industri jasa hospitality.
Pencapaian akademik dan substansi riset ini secara langsung mendukung pencapaian beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs) PBB. Peristiwa ini berkontribusi pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas SDM pengajar perguruan tinggi yang berdaya saing global, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) lewat dorongan pariwisata berkelanjutan, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penerapan operasional perhotelan hijau, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dalam upaya mitigasi jejak karbon industri pariwisata, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) yang tercermin dari kolaborasi riset internasional lintas negara antara Indonesia dan Taiwan. (fdhl)
















