Cerdas Mengelola Uang Saku, Langkah Awal Menumbuhkan Literasi Ekonomi Murid SMA Negeri 1 Turi
Submitted by feb on Thu, 03/09/2026 - 11:07
Literasi ekonomi dapat dikenalkan kepada murid melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui kebiasaan mengelola uang saku. Hal tersebut menjadi tema kegiatan literasi yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Turi pada Selasa (01/09/26) lalu. Kegiatan ini disiapkan oleh mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY), Indah Aulia Afriana. Literasi ditujukan kepada seluruh murid kelas X, XI, dan XII dan dilaksanakan di masing-masing kelas. Kegiatan mengangkat tema “Cerdas Mengelola Uang Saku Sejak Remaja” sebagai upaya mengenalkan pengelolaan keuangan sederhana sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas.
Kegiatan literasi dilaksanakan secara individu dengan memanfaatkan Google Form (GForm) sebagai media penyampaian bahan bacaan dan pengumpulan respons murid. Bahan literasi yang telah disiapkan oleh mahasiswa PK berisi pembahasan mengenai pengelolaan uang saku, perbedaan kebutuhan dan keinginan, serta pentingnya menentukan skala prioritas dalam menggunakan uang. Murid terlebih dahulu membaca bahan bacaan yang diberikan melalui Google Form secara mandiri. Setelah itu, murid menjawab empat pertanyaan yang telah disediakan berdasarkan pemahaman dan pertimbangan mereka terhadap situasi pengelolaan uang dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini melibatkan seluruh murid sebagai responden untuk memberikan gambaran mengenai pemahaman dan pilihan mereka dalam mengelola uang saku.
Berdasarkan 345 respons murid, terlihat adanya kecenderungan untuk menerapkan pengelolaan uang secara lebih terarah. Pada pertanyaan mengenai cara mengelola uang sebesar Rp30.000, sebanyak 67,5% respons menunjukkan kecenderungan memprioritaskan kebutuhan, 41,7% memilih menyisihkan atau menabung sebagian uang, dan 31,6% memilih mengurangi jajan atau konsumsi. Sementara itu, pada pertanyaan mengenai kebiasaan yang ingin diterapkan setelah mengikuti literasi, 63,5% menunjukkan keinginan untuk lebih memprioritaskan kebutuhan, 35,1% ingin menabung atau menyisihkan uang, dan 27,8% memilih membuat anggaran, mencatat, atau membagi uang. Ketika diberikan situasi memiliki Rp50.000 untuk digunakan selama satu minggu, 50,4% respons memilih menabung atau menyisihkan uang dan 47,2% memilih mengurangi konsumsi berlebihan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa murid memperoleh ruang untuk memahami dan merefleksikan pilihan ekonomi yang berkaitan dengan pengelolaan uang saku.
Kegiatan literasi ini diharapkan dapat menjadi langkah sederhana dalam membangun kebiasaan murid untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan ekonomi. Pemahaman mengenai kebutuhan, keinginan, skala prioritas, dan pengelolaan pengeluaran dapat menjadi bekal yang relevan bagi murid dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan, kegiatan literasi dengan topik yang dekat dengan kehidupan murid diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Upaya tersebut sekaligus menjadi kontribusi dalam mendukung SDGs ke-4 melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan murid yang relevan dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari. (ind)






























