Mahasiswa PK UNY Wujudkan Generasi Sehat Tanpa Stigma melalui Edukasi HIV dan AIDS untuk Mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Anisa Dian Asri, bersama kelompok mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) UNY Tahun Akademik 2026/2027 bekerja sama dengan Puskesmas Wonosari I menyelenggarakan kegiatan sosialisasi kesehatan dengan tema “Meningkatkan Pengetahuan Remaja Tentang HIV dan AIDS” pada Jumat (21/08/26) bertempat di SMK Negeri 1 Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan tersebut merupakan program edukasi kesehatan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja mengenai HIV dan AIDS, memberikan pemahaman tentang cara penularan dan pencegahannya, serta membangun kesadaran pentingnya menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV). Sosialisasi dilaksanakan sebagai bentuk kolaborasi antara dunia pendidikan dan sektor kesehatan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan inklusif bagi seluruh peserta didik. Selain memberikan informasi ilmiah yang benar, kegiatan tersebut juga mendorong remaja agar mampu menjadi agen edukasi bagi teman sebaya, keluarga, dan masyarakat sehingga tercipta budaya hidup sehat yang berlandaskan kepedulian, empati, dan tanggung jawab sosial sesuai dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera.

Pelaksanaan sosialisasi tersebut dilatarbelakangi oleh masih banyaknya kesalahpahaman yang berkembang di kalangan remaja mengenai HIV dan AIDS. Berbagai mitos, seperti anggapan bahwa HIV dapat menular melalui berjabat tangan, berpelukan, menggunakan alat makan bersama, atau gigitan nyamuk, masih sering dipercaya sehingga menimbulkan perlakuan diskriminatif terhadap ODHIV. Berangkat dari kondisi tersebut, Mahasiswa PK UNY mengangkat tema “Meningkatkan Pengetahuan Remaja Tentang HIV dan AIDS” sebagai upaya preventif dalam meningkatkan literasi kesehatan reproduksi di lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut diikuti oleh 78 peserta didik kelas X SMK Negeri 1 Wonosari sebagai sasaran utama karena remaja merupakan kelompok usia yang perlu memperoleh informasi kesehatan secara tepat sejak dini. Materi sosialisasi disampaikan langsung oleh Tri Resmiyati, S.Tr.Keb selaku tenaga kesehatan Puskesmas Wonosari I yang memberikan edukasi berbasis fakta ilmiah dengan metode penyampaian yang komunikatif, interaktif, dan mudah dipahami oleh peserta didik.

Selama kegiatan sosialisasi berlangsung, peserta memperoleh materi yang mencakup pengertian HIV dan AIDS, perbedaan antara HIV sebagai virus dan AIDS sebagai kondisi lanjutan akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh, media penularan, tanda dan gejala awal, pentingnya tes HIV, pengobatan antiretroviral (ARV), hingga langkah-langkah pencegahan melalui perilaku hidup sehat. Suasana sosialisasi semakin aktif melalui sesi permainan “Mitos atau Fakta” dan diskusi studi kasus yang mendorong peserta didik berpikir kritis terhadap informasi yang beredar di masyarakat. Dalam penyampaiannya, Tri Resmiyati, S.Tr.Keb menegaskan, “Yang harus dihindari adalah perilaku yang berisiko, bukan orangnya. ODHIV tetap memiliki hak untuk belajar, bekerja, dan bergaul tanpa diskriminasi.”

Pesan tersebut mendapat respons positif dari peserta yang antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Melalui peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap, program ini mendukung pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera.

Kegiatan Sosialisasi HIV dan AIDS di SMK Negeri 1 Wonosari menjadi bukti nyata pentingnya sinergi antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan mahasiswa dalam membangun generasi muda yang sehat, berpengetahuan, dan memiliki kepedulian sosial. Melalui edukasi yang diberikan, peserta diharapkan tidak hanya memahami informasi yang benar mengenai HIV dan AIDS, tetapi juga mampu menerapkan perilaku hidup sehat serta menjadi penyebar informasi positif di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Mahasiswa PK UNY, Puskesmas Wonosari I, dan Peserta Didik SMK Negeri 1.

Wonosari berkomitmen untuk terus menghadirkan program promosi kesehatan yang berkelanjutan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup remaja di Kabupaten Gunungkidul. Pelaksanaan kegiatan serupa diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan diperluas dengan menjangkau lebih banyak sekolah, sehingga semakin banyak peserta didik yang memiliki literasi kesehatan reproduksi yang baik, menghormati hak-hak ODHIV, serta berkontribusi dalam menciptakan bebas stigma, dan mendukung terwujudnya tujuan pembangunan berkelanjutan sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs). (ans)

Penerapan Budaya 5S untuk Membangun Lingkungan Sekolah yang Harmonis

Regita Cahyaning Dewi, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta turut melaksanakan kegiatan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) di SMK Abdi Negara Muntilan. Kegiatan dilaksanakan pada pagi hari bersama guru piket dengan menyambut peserta didik yang datang ke sekolah. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pembiasaan sikap positif dalam menciptakan suasana lingkungan sekolah yang ramah, tertib, dan saling menghargai. Pelaksanaan kegiatan 5S juga sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 16, khususnya dalam mendukung terciptanya lingkungan yang damai dan inklusif.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa PK bersama guru piket berada di area sekolah untuk menyambut peserta didik. Peserta didik diarahkan untuk membiasakan diri memberikan salam, menyapa, serta menunjukkan sikap sopan dan satun ketika berinteraksi dengan guru maupun warga sekolah lainnya. Mahasiswa turut berinteraksi secara langsung dengan peserta didik sehingga kegiatan tidak hanya menjadi rutinitas penyambutan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi dan hubungan yang positif. Melalui kegiatan sederhana tersebut, nilai-nilai kesopanan, keramahan, dan sikap saling menghargai dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. 

Pelaksanaan 5S memberikan suasana yang lebih positif pada awal kegiatan sekolah. Peserta didik terbiasa memulai aktivitas dengan menyapa dan berinteraksi secara baik dengan warga sekolah. Bagi mahasiswa PK, kegiatan ini juga menjadi pengalaman dalam membangun komunikasi dengan peserta didik serta memahami pentingnya menciptakan hubungan yang positif di lingkungan pendidikan. Pembiasaan sikap saling menghargai tersebut mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang harmonis dan inklusif, sehingga dapat berkontribusi terhadap pencapaian SDG 16.

Kegiatan 5S diharapkan dapat terus diterapkan sebagai bagian dari budaya sekolah. Pembiasaan sederhana seperti memberikan salam, menyapa, serta menjaga sopan santun diharapkan dapat membentuk lingkungan sekolah yang nyaman dan mendorong terjalinnya hubungan yang baik antar warga sekolah. (rgt)

Perkuat Global Mindset dan Transformasi Digital, Mahasiswa MM UNY Ikuti 2026 "Zhi & Xing Guizhou" Silk Road Youth Exchange Program di Tiongkok

Dalam rangka memperluas wawasan internasional serta memahami implementasi teknologi modern dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM), mahasiswa Program Studi Magister Manajemen (MM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) angkatan 2025, Regita Lestariyan Lainy, berpartisipasi dalam ajang 2026 "Zhi & Xing Guizhou" Silk Road Youth Exchange Program di Republik Rakyat Tiongkok.

Kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari secara langsung integrasi Artificial Intelligence (AI), Big Data, dan Internet of Things (IoT) dalam fungsi Learning and Development (L&D), otomatisasi industri, serta pengembangan strategi kepemimpinan lintas budaya (cross-cultural leadership) di era global.

Rangkaian kegiatan ini berlangsung selama 9 hari, mulai tanggal 24 Juli hingga 1 Agustus 2026, dan berlokasi di beberapa kota strategis di Tiongkok, antara lain Beijing, Guiyang, Anshun, Duyun, Danzhai, dan Sandu.

Selama program berlangsung, peserta mengikuti berbagai agenda akademik, kunjungan industri, hingga eksplorasi budaya. Kegiatan diawali dengan kunjungan sejarah ke Great Wall serta Courtesy Call ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing untuk mempererat hubungan diplomatik dan jejaring pendidikan.

Selanjutnya, peserta melakukan kunjungan industri ke perusahaan AI Chinese untuk mengamati demonstrasi platform pembelajaran berbasis kecerdasan buatan seperti Knowly sebagai sarana upskilling dan reskilling SDM modern. Di Provinsi Guizhou, delegasi mengikuti Welcome Ceremony dan kelas bahasa serta kaligrafi Mandarin di Guizhou Vocational College of Economics and Business.

Studi lapangan juga dilakukan di Anshun Tourism Group di Huangguoshu Waterfall untuk mengamati penerapan Smart Tourism, dilanjutkan dengan kunjungan ke Balinghe Bridge Museum, serta eksplorasi pengelolaan data makro di National Big Data Exhibition Center di Guiyang.

Selain agenda berbasis teknologi, peserta juga mendapatkan pengalaman pertukaran budaya melalui Workshop Miao Batik Intangible Cultural Heritage di Duyun dan studi kebudayaan etnis Shui di Sandu. Rangkaian program diakhiri dengan observasi penerapan IoT pada perkebunan teh modern di Duyun Maojian Tea Digital Demonstration Park serta penutupan resmi pada acara Graduation Ceremony.

Melalui keikutsertaan dalam program ini, mahasiswa MM FEB UNY berhasil memperoleh pemahaman mendalam mengenai data-driven HRD, membangun jejaring kolaborasi internasional, serta meningkatkan keterampilan komunikasi interkultural. Hasil dan pengalaman ini diharapkan dapat menjadi best practices yang diadopsi dalam pengembangan kompetensi manajerial, riset akademis, maupun pengelolaan organisasi di Indonesia. (rgt)

Wujudkan SDG 4, Mahasiswa PK UNY Hadirkan Pembelajaran Ekonomi Menyenangkan melalui Economic Bowling di MAN 3 Sleman

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Risda Emilia Harahap dari Program Studi Pendidikan Ekonomi angkatan 2023, menghadirkan inovasi pembelajaran melalui permainan Economic Bowling di MAN 3 Sleman pada Jumat (28/08/26) lalu. Kegiatan yang dilaksanakan bersama peserta didik kelas X C dengan jumlah 34 siswa ini mengangkat materi skala prioritas dan biaya peluang. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya menghadirkan pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan bermakna sebagai bentuk kontribusi mahasiswa PK dalam mendukung Sustainable Development Goal (SDG) 4 tentang Pendidikan Berkualitas.

Pembelajaran diawali dengan pemberian pre-test untuk mengetahui pemahaman awal siswa terhadap materi. Rangkaian pembelajaran diawali dengan apersepsi melalui pertanyaan sederhana mengenai pilihan yang akan dilakukan siswa apabila memiliki sejumlah uang dan harus menentukan barang atau kebutuhan yang ingin dibeli. Pertanyaan tersebut kemudian mengarahkan siswa pada pembahasan mengenai skala prioritas dan biaya peluang.

Setelah itu, pembelajaran dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai skala prioritas dan biaya peluang. Setelah memahami konsep dasar, siswa mengikuti permainan Economic Bowling yang dirancang oleh mahasiswa PK dengan terlebih dahulu dikonsultasikan bersama guru pamong. Terinspirasi dari permainan bowling, kegiatan ini menggunakan botol yang disusun seperti pin bowling dan bola untuk menjatuhkannya. Setiap botol memiliki nilai poin yang berbeda dan berisi soal yang harus dijawab oleh kelompok. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan secara bergantian melempar bola untuk menjatuhkan botol, kemudian mendiskusikan soal yang diperoleh. Permainan berlangsung ramai dan kompetitif. Kelompok 1 berhasil memperoleh poin terbanyak dalam permainan tersebut.

Penerapan Economic Bowling membuat siswa lebih aktif terlibat dalam pembelajaran dan tidak hanya menerima materi melalui metode ceramah. Siswa dituntut untuk berdiskusi, memahami soal, serta menggunakan kemampuan berpikir kritis untuk menentukan jawaban tanpa bergantung pada telepon genggam. Keberagaman soal dalam permainan juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk menguatkan pemahaman terhadap materi yang telah dipelajari. Suasana pembelajaran yang berlangsung ramai dan kompetitif membuat siswa lebih antusias sekaligus membantu mengurangi kejenuhan selama proses belajar.

Bagi mahasiswa PK, penerapan Economic Bowling menjadi pengalaman untuk mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada metode ceramah. Kegiatan ini menunjukkan bahwa konsep Ekonomi dapat disampaikan melalui media sederhana yang dikemas secara kreatif dan interaktif. Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik sekaligus mendukung terciptanya pengalaman belajar yang berkualitas sebagai bagian dari upaya mewujudkan SDG 4 di lingkungan sekolah. (reh)

Dari Panggung Bakat hingga Parade Maskot: HUT ke-65 SMK N 1 Klaten Tempa Kreativitas dan Kolaborasi Siswa

KLATEN – seluruh siswa SMK N 1 Klaten mengikuti rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 pada 24-28 Agustus 2026 melalui sejumlah kegiatan kokurikuler, mulai dari Gelar Karya, Smeru Got Talent, Jejak Rasa, Juramasa, hingga Acara Puncak HUT. Rizha Devi Sekararum, Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) program studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), turut mendampingi siswa mengikuti berbagai kegiatan tersebut, mulai dari pameran karya, ajang bakat, bazar, hingga parade maskot antarkelas. Rangkaian kegiatan ini memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara langsung dalam mengembangkan kreativitas, kolaborasi, dan penalaran kritis, sekaligus menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa PK dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yakni Pendidikan Berkualitas.

Rangkaian kegiatan diawali pada Senin, 24 Agustus 2026, dengan sesi Kokurikuler yang membagi fokus pengembangan tiap jenjang, yakni kreativitas dan kolaborasi untuk kelas X, kreativitas dan penalaran kritis untuk kelas XI, serta kolaborasi dan penalaran kritis untuk kelas XII. Siswa menyusun rencana dan pembagian tugas untuk tiga kegiatan utama, yaitu Market Day, Karnaval Jurusan, dan Menghias Tumpeng, sebelum merealisasikannya melalui tahap Aksi Nyata dan Refleksi. Pada Rabu, 26 Agustus 2026, rangkaian dilanjutkan dengan perlombaan, meliputi Lomba Menghias Tumpeng, Lomba Jejak Juang untuk murid dan guru/karyawan, serta Lomba Puncak Juang.

Puncak HUT digelar pada Kamis, 27 Agustus 2026, diawali dengan pemotongan tumpeng oleh Kepala Sekolah, dilanjutkan dengan Juramasa berupa jalan sehat dan parade di sepanjang jalan raya sekitar sekolah. Rangkaian acara kemudian dimeriahkan dengan Catwalk Mas Mbak SMKN 1 Klaten, penampilan Duta Bahasa Indonesia, Prancis, Jawa, dan Inggris bertema “Integritas”, ajang Smeru Got Talent, penampilan 10 besar Musikalisasi Puisi, serta penampilan Smeru Band yang menjadi penutup rangkaian hari itu. Pada Jumat, 28 Agustus 2026, kegiatan ditutup dengan Jumat Bersih untuk kelas X, pemeriksaan kesehatan untuk kelas XI, pengambilan foto ijazah untuk kelas XII, serta program Smerusaka Berbagi berupa bakti sosial sembako dan air bersih di panti asuhan dan wilayah Kemalang.

Rangkaian kegiatan Kokurikuler dan HUT ke-65 ini mencerminkan upaya sekolah mewujudkan tiga dimensi profil lulusan, yakni kreativitas, kolaborasi, dan penalaran kritis, melalui berbagai kegiatan kokurikuler. Bagi Rizha, pengalaman mendampingi rangkaian kegiatan ini menjadi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana nilai-nilai tersebut tumbuh melalui aktivitas di luar kelas, sekaligus memahami peran kegiatan kokurikuler dalam mendukung pembentukan karakter siswa secara menyeluruh. Praktik ini menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap SDG 4 melalui kegiatan yang memberi ruang bagi siswa untuk terlibat, berkolaborasi, dan mengembangkan kemampuan secara aktif. (rds)

Transformasi Mesin Kantor Berbasis SDGs 9 melalui Poster Kreatif Bersama Siswa SMK Negeri 1 Jogonalan

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Intan Pramhesti dari Program Studi Pendidikan Adminsitrasi Perkantoran melaksanakan kegiatan pembelajaran berjudul “Transformasi Mesin Kantor: Dari Konvensional ke Modern” bagi peserta didik kelas XI MPLB (Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis) 1 di SMK Negeri 1 Jogonalan pada Rabu (26/08/26) lalu. Kegiatan ini dilaksanakan pada mata pelajaran Teknologi Perkantoran dengan mengaitkan materi mesin-mesin kantor terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Melalui pembelajaran ini, peserta didik diajak untuk tidak hanya mengenal jenis-jenis mesin kantor, tetapi juga memahami bagaimana perkembangan teknologi kantor dari masa ke masa berkontribusi terhadap efisiensi kerja dan berkelanjutan dunia industri. Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa PK dalam mendiseminasikan praktik pembelajaran yang inovatif dan kontekstual di lingkungan sekolah mitra.

Kegiatan diawali dengan apersepsi berupa pertanyaan pemantik mengenai perbedaan mesin kantor yang digunakan saat ini dengan yang digunakan puluhan tahun lalu, sehingga menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik sejak awal pembelajaran. Selanjutnya, mahasiswa PK menyampaikan materi mengenai klasifikasi mesin kantor serta contoh perkembangan teknologi, seperti transformasi mesin ketik menjadi komputer, mesin stensil menjadi mesin fotokopi multifungsi, faksimile menjadi surat elektronik (Email), hingga teleks menjadi telepon genggam. Peserta didik kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil dan diminta memilih satu pasang teknologi kantor untuk dianalisis lebih lanjut melalui Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), mencakup nama dan fungsi teknologi lama, nama dan fungsi teknologi modern, perubahan yang terjadi, dan manfaat teknologi masa kini bagi pekerjaan administrasi. Setiap kelompok kemudian menuangkan hasil analisis tersebut ke dalam bentuk poster/infografis digital menggunakan aplikasi desain, yang selanjutnya dipresentasikan secara bergiliran di depan kelas sehingga peserta didik dapat saling bertukar temuan dan memperkaya pemahaman antar kelompok.

Kegiatan ini memberikan dampak positif berupa peningkatan pemahaman peserta didik terhadap pentingnya adaptasi teknologi dalam dunia kerja administrasi. Peserta didik menjadi lebih menyadari bahwa penggunaan mesin kantor modern seperti mesin fotokopi multifungsi, sistem absensi digital, maupun penyimpanan berbasis cloud merupakan wujud nyata dari inovasi dan pemanfaatan infrastruktur teknologi yang mendukung efisiensi serta berkelanjutan pekerjaan kantor. Selain itu, kegiatan ini juga melatih keterampilan berpikir kritis, kerja sama kelompok, dan kreativitas peserta didik dalam menyajikan hasil analisis secara visual melalui poster.

Melalui kegiatan Praktik Kependidikan ini, diharapkan peserta didik semakin terbiasa mengaitkan pembelajaran di kelas dengan isu-isu global seperti SDGs, sehingga tumbuh kesadaran akan pentingnya inovasi dan pemanfaatan teknologi secara optimal sejak dini. Kegiatan serupa dapat terus dikembangkan pada topik-topik pembelajaran lain agar kontribusi Pendidikan terhadap pencapaian tujuan Pembangunan berkelanjutan semakin nyata dan berkelanjutan. (itn)

 

Wujudkan Pendidikan Inklusif: Kombinasi PBL dan Tutor Sebaya Sukses Tingkatkan Pemahaman Siklus Akuntansi di SMK N 1 Jogonalan

Dalam upaya mewujudkan Pendidikan Berkualitas sesuai dengan poin ke-4 Sustainable Development Goals (SDGs), Amjad Abdurrahman, mahasiswa FEB UNY yang menjalani Praktik Kependidikan (PK) menyelenggarakan program inovatif yang menggabungkan model Problem-Based Learning (PBL) dengan metode diskusi dan Peer Tutoring (Tutor Teman Sebaya). Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin (24/08/26) lalu bertempat di ruang kelas XI Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) 2, SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten. Sasaran utama dari kegiatan ini adalah 36 peserta didik kelas XI AKL 2 yang sedang menempuh mata pelajaran Siklus Akuntansi, dengan fokus pendalaman pada materi yang kerap dianggap menantang, yakni Jurnal Penyesuaian. Program ini merupakan salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa PK dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan partisipatif guna mendukung peningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah.

Tujuan utama diterapkannya kombinasi PBL dan metode diskusi kelompok ini adalah untuk membantu ke-36 peserta didik dalam memecahkan masalah kontekstual terkait tahapan Jurnal Penyesuaian. Dalam proses pelaksanaannya, mahasiswa PK bertindak sebagai fasilitator yang menyajikan suatu studi kasus (PBL), kemudian membagi kelas ke dalam beberapa kelompok diskusi. Setiap kelompok dipandu oleh satu orang siswa yang memiliki pemahaman materi lebih cepat dan komprehensif untuk berperan sebagai "tutor" bagi teman-teman sebayanya. Kegiatan ini berjalan secara interaktif dengan melibatkan kolaborasi aktif antara mahasiswa pelaksana PK yang turut meninjau jalannya diskusi dan siswa.

Penerapan model dan metode ini memberikan dampak yang sangat positif dan signifikan terhadap perkembangan kognitif maupun sosial peserta didik. Melalui pendekatan pemecahan masalah bersama teman sebaya, hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan antusiasme dan rasa percaya diri siswa dalam bertanya, mengingat mereka cenderung lebih leluasa dan tidak canggung saat berdiskusi. Secara akademis, pemahaman ke-36 siswa terhadap kerumitan materi Jurnal Penyesuaian menjadi lebih merata, yang dibuktikan dengan penyelesaian tugas latihan praktik dengan tingkat akurasi yang jauh lebih baik. Keberhasilan ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian SDGs ke-4, karena memastikan proses pendidikan berjalan secara merata, tidak ada siswa yang tertinggal dalam memahami materi (no one left behind), serta membangun budaya belajar kolaboratif.

Melalui program ini, diharapkan metode pembelajaran partisipatif tersebut dapat terus menjadi budaya belajar yang berkelanjutan di SMK N 1 Jogonalan, khususnya untuk mata pelajaran yang membutuhkan ketelitian dan logika analisis yang kuat. Sebagai tindak lanjut, model pembelajaran berbasis masalah dan pendampingan sebaya ini direkomendasikan untuk diadaptasi oleh guru mata pelajaran lain maupun pada kelas yang berbeda, guna menciptakan ekosistem sekolah yang kolaboratif, suportif, dan senantiasa berpusat pada pengembangan kompetensi peserta didik. (mjd)

 

Membangun Budaya Administrasi Tertib melalui Praktik Surat Dinas di Kelas XI MPLB 1 SMK Negeri 1 Jogonalan

Hasna Zalfa Rahmah, Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) melaksanakan kegiatan pembelajaran praktik surat dinas di kelas XI MPLB 1 SMK Negeri 1 Jogonalan pada Senin (24/08/26) lalu di Laboratorium Komputer MPLB SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten. Kegiatan ini melibatkan peserta didik kelas XI MPLB 1 sebagai sasaran utama dengan tujuan meningkatkan keterampilan dalam menyusun dokumen surat dinas dengan tepat, sistematis dan sesuai dengan tata naskah penulisan surat dinas. Kegiatan tersebut menjadi bentuk kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) 16, yaitu Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh, melalui pembiasaan tertib administrasi sebagai bagian dari komunikasi resmi dalam instansi melalui surat dinas.

Kegiatan diawali dengan review materi pembelajaran terkait surat permohonan dan surat keputusan yang telah dipelajari sebelumnya. Peserta didik kemudian mengamati contoh surat dinas untuk mengidentifikasi unsur-unsur surat seperti kop surat, nomor, lampiran, perihal, alamat tujuan, isi surat, penutup, dan tanda tangan. Pada surat keputusan, peserta didik mengamati bagian Menimbang, Mengingat, Memutuskan, dan Menetapkan. Hasna juga memberikan demonstrasi berupa penyusunan format surat menggunakan Microsoft Word, seperti pengaturan huruf, spasi, perataan dan tata letak dokumen. Setelah peserta didik melakukan praktik secara individu dengan membuat surat permohonan dan keputusan berdasarkan studi kasus yang diberikan.

Kegiatan praktik membuat surat ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik dalam menerapkan naskah surat dinas secara tepat dan bertanggung jawab. Peserta didik tidak hanya berlatih keterampilan secara teknis dalam penggunaan komputer, tetapi juga berlatih untuk bekerja dengan teliti, sistematis, dan memperhatikan ketepatan informasi dalam penulisan dokumen resmi. Pembelajaran ini menunjukan bahwa administrasi yang tertib dapat mendukung kelancaran komunikasi tertulis dalam organisasi atau instansi. Melalui keterampilan tersebut, peserta didik diberikan pemahaman bahwa dokumen administrasi yang disusun dengan benar, jelas dan sesuai dengan tata naskah penulisan surat merupakan salah satu bagian yang mendukung terciptanya tata kelola kelembagaan yang efektif dan akuntabel. Hal tersebut menjadi bentuk penerapan nilai SDGs 16 dalam lingkungan pendidikan.

Kegiatan ini diharapkan dapat membuat kebiasaan dalam tertib penulisan administrasi dalam berbagai kegiatan pembelajaran maupun praktik kerja di masa yang akan mendatang untuk peserta didik. Kemampuan menyusun surat dinas secara tepat dan sesuai dengan tata naskah diharapkan tidak berhenti pada tugas pembelajaran, tetapi berkembang menjadi budaya kerja yang mengutamakan ketelitian, keteraturan, dan tanggung jawab dalam penulisan surat. Dengan demikian, pembelajaran surat dinas dapat menjadi salah satu langkah dalam mempersiapkan peserta didik untuk berkontribusi pada terciptanya administrasi dan kelembagaan yang lebih tertib. (hsn)

Kesenjangan Ekonomi dalam Karya: Pembelajaran Berbasis Proyek melalui Poster Infografis

Sebagai bagian dari pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) berbasis Sustainable Development Goals (SDGs), Vedhita Alnadifah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi melaksanakan kegiatan pembelajaran ekonomi pada materi Kesenjangan Ekonomi bersama peserta didik kelas XI D ,E ,F dan G di SMA Negeri 1 Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta pada tanggal 12-20 Agustus 2026. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan memadukan pendekatan saintifik dan metode Project Based Learning (PjBL). Pembelajaran tersebut memiliki keterkaitan dengan SDG 4 atau Pendidikan Berkualitas melalui penerapan pembelajaran yang mendorong peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan relevan serta SDG 10 yakni Berkurangnya Kesenjangan melalui pembahasan mengenai permasalahan ketimpangan ekonomi dan berbagai upaya untuk mengatasinya.

Kegiatan pembelajaran bertujuan untuk membantu peserta didik memahami konsep kesenjangan ekonomi serta mengaitkannya dengan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Materi Kesenjangan ekonomi tidak hanya disampaikan melalui penjelasan konsep, tetapi peserta didik diajak mengamati fenomena ketimpangan, mengidentifikasi faktor penyebab dan dampaknya, serta mendiskusikan berbagai alternatif solusi. Proses pembelajaran dilakukan secara berkelompok melalui tahapan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi hingga mengkomunikasikan hasil. Setiap kelompok mengangkat topik terkait isu kesenjangan ekonomi. Kemudian, mengolah informasi yang relevan menjadi pesan visual yang informatif dan mudah dipahami. 

Melalui kegiatan tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konsep kesenjangan ekonomi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan kerja sama. Pembuatan poster infografis dibuat secara manual sehingga peserta didik tidak hanya dituntut memahami materi, tetapi juga mampu menyusun informasi, membagi tugas, dan menghasilkan karya secara kolaboratif. Setelah menyelesaikan poster, peserta didik diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil karyanya di depan kelas. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik dapat menyampaikan permasalahan yang dikaji, menyampaikan faktor penyebab kesenjangan serta menawarkan solusi berdasarkan hasil diskusi kelompok. Pembelajaran ini memiliki keterkaitan erat dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), khususnya upaya menghadirkan pembelajaran yang mendorong peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan pembangunan berkelanjutan. SDG 4 juga menekankan pentingnya peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk mendukung pembagunan berkelanjutan. Selain itu, materi yang dipelajari secara langsung berkaitan dengan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), yang mendorong upaya mengurangi ketimpangan serta meningkatkan inklusi sosial dan ekonomi. 

Melalui pembelajaran ini, peserta didik diharapkan dapat terus mengaitkan konsep ekonomi dengan persoalan yang terjadi di kehidupan nyata. Pemahaman mengenai kesenjangan ekonomi diharapkan tidak hanya sebatas materi tetapi juga mendorong kepedulian terhadap permasalahan ketimpangan. Peserta didik diharapkan memahami pentingnya peran berbagai pihak dalam menciptakan kondisi sosial dan ekonomi yang lebih merata dan inklusif. Kedepan, pembelajaran yang mengaitkan isu pembangunan berkelanjutan diharapkan dapat terus diterapkan sebagai salah satu upaya menghadirkan proses pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna. (vdt)

Strategi Pembelajaran Peer Learning Dalam Mendukung SDGs 4 Melalui Peningkatan Pemahaman Teknologi Perkantoran Pada Siswa Kelas X MPLB 2 SMK Negeri 1 Jogonalan

Desintha Kusuma Wulandari sebagai mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan kegiatan pembelajaran mata pelajaran Dasar-Dasar Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) pada elemen teknologi perkantoran dengan lingkup materi meliputi nama, fungsi contoh gambar dan pemanfaatannya dalam menunjang pekerjaan di lingkungan perkantoran, Jumat (22/08/26) lalu. Kegiatan dilaksanakan dengan menerapkan strategi peer learning dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, melalui pembelajaran yang aktif, partisipatif, dan melibatkan peserta didik secara langsung dalam proses pembelajaran. Kegiatan dilaksanakan di SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten dengan sasaran siswa kelas X MPLB 2 dengan waktu yang digunakan adalah 4 JP, kegiatan terlaksana mulai jam pembelajaran 1–4.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai perkembangan dan pemanfaatan teknologi perkantoran sekaligus melatih kemampuan komunikasi, kerja sama, dan tanggung jawab. Dalam pelaksanaannya, siswa memperoleh materi yang berbeda mengenai berbagai jenis teknologi perkantoran, kemudian mempelajari informasi nama, fungsi, serta pemanfaatannya dalam menunjang pekerjaan di lingkungan perkantoran. Setelah memahami materi, siswa secara bergantian menyampaikan dan menjelaskan teknologi perkantoran yang telah dipelajari kepada teman-teman di kelas. Siswa yang sudah memahami materi membantu menjelaskan kembali kepada teman yang belum memahami materi, sedangkan siswa yang masih mengalami kesulitan dapat bertanya dan berdiskusi dengan teman yang telah memahami materi. Melalui strategi peer learning siswa saling berbagi pemahaman dan menjelaskan materi yang telah dipelajari kepada teman-temannya sehingga tercipta proses pembelajaran yang aktif dan kolaboratif. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa PK berperan sebagai fasilitator, siswa kelas X MPLB 2 sebagai sasaran kegiatan.

Penerapan starategi peer learning memberikan dampak yang positif terhadap proses pembelajaran. Siswa menjadi lebih aktif mengikuti pembelajaran, berani menyampaikan informasi, dan terlibat dalam membantu teman memahami materi. Kegiatan ini juga meningkatkan pemahaman siswa mengenai teknologi perkantoran, selain itu kegiatan ini juga melatih kemampuan komunikasi, kerja sama, kepercayaan diri, dan keterampilan menyampaikan informasi. Hal tersebut memberikan kontribusi terhadap SDGs 4 melalui terciptanya proses pembelajaran yang partisipatif, aktif, kolaboratif, dan berpusat pada siswa. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada pemahaman materi, melainkan juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ketrampilan yang mendukung proses belajar.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di sekolah. Strategi peer learning diharapkan dapat terus dikembangkan dan diterapkan pada materi pembelajaran lainnya yang sesuai dengan kompetensi MPLB. Ke depannya, siswa diharapkan mampu menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dalam proses pembelajaran, serta semakin aktif, percaya diri, dan mampu bekerja sama dalam kegiatan belajar. Pengembangan pembelajaran yang aktif dan kolaboratif juga diharapkan dapat menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa PK UNY dalam mendukung pencapaian SDGs 4. (dst)

Pages