Wujudkan Pembelajaran Inklusif melalui Model STAD dan Peer Teaching Berbasis SDGs 4 di SMK Negeri 1 Jogonalan

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dari Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Yola Indri Rahayu, melaksanakan kegiatan pembelajaran Akuntansi Keuangan pada Kamis (10/09/26) lalu di SMK Negeri 1 Jogonalan, Klaten. Kegiatan ini menyasar siswa kelas XI Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) dengan menerapkan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) yang dipadukan pendekatan peer teaching pada materi Piutang Wesel. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa PK dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas.

Kegiatan ini bertujuan menciptakan proses pembelajaran yang lebih aktif, kolaboratif, serta memberikan kesempatan belajar yang merata bagi seluruh siswa. Pembelajaran diawali dengan penyampaian materi mengenai pengertian, karakteristik, dan jenis-jenis piutang wesel, dilengkapi contoh perhitungan dan pencatatan transaksi. Siswa selanjutnya dibagi ke dalam beberapa kelompok belajar secara heterogen, dengan setiap kelompok terdiri atas siswa berkemampuan berbeda. Pada tahap diskusi kelompok, siswa mengerjakan latihan soal secara bersama, di mana siswa yang telah memahami materi membantu menjelaskan langkah penyelesaian kepada teman yang masih kesulitan. Setelah diskusi kelompok selesai, setiap siswa mengerjakan kuis individu untuk mengukur pemahaman masing-masing terhadap materi yang telah dipelajari.

Penerapan model STAD dan peer teaching ini memberikan dampak positif bagi peserta didik. Siswa yang berperan sebagai peer teacher memperkuat pemahamannya sendiri saat menjelaskan materi kepada teman, sementara siswa yang mengalami kesulitan memperoleh penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami dari teman sebaya. Suasana belajar menjadi lebih aktif dan interaktif karena seluruh siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Selain manfaat akademik, kegiatan ini turut melatih keterampilan kerja sama tim, komunikasi, dan tanggung jawab siswa dalam kelompok, yang menjadi bekal penting bagi siswa SMK dalam menghadapi dunia kerja. Kontribusi kegiatan ini terhadap SDGs 4 tampak dari terciptanya pemerataan kesempatan belajar bagi siswa dengan kemampuan beragam serta peningkatan kualitas proses pembelajaran secara menyeluruh.

Melalui kegiatan ini, diharapkan model pembelajaran kolaboratif seperti STAD dan peer teaching dapat terus diterapkan dan dikembangkan di SMK Negeri 1 Jogonalan, tidak hanya pada mata pelajaran Akuntansi Keuangan, tetapi juga pada mata pelajaran lain yang membutuhkan pemahaman konsep secara mendalam. Kegiatan ini diharapkan menjadi kontribusi berkelanjutan mahasiswa PK UNY dalam mendukung terwujudnya pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berpusat pada siswa, sejalan dengan tujuan SDGs 4. (yla)

 

Dari Kelompok Ahli ke Kelompok Sahabat: Strategi Tutor Sebaya Wujudkan Pembelajaran Akuntansi Bermakna SMK Negeri 1 Jogonalan

Sebagian bagian dari pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK), mahasiswa program studi S1 Pendidikan Akuntansi Febita Nur Eka Safitri menerapkan model pembelajaran tutor teman sebaya pada mata pelajaran Dasar-Dasar Keahlian Akuntansi dengan materi Proses Bisnis Perusahaan Akuntansi. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (10/09/26) lalu bertempat di ruang kelas X AKL 3 SMKN 1 Jogonalan, dengan sasaran 36 peserta didik kelas tersebut. Kegiatan ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education), karena berupaya meningkatkan kualitas proses pembelajaran melalui pendekatan kolaboratif yang berpusat pada peserta didik.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi Proses Bisnis Perusahaan Akuntansi melalui interaksi aktif antarsiswa, sekaligus melatih kemampuan komunikasi dan kepemimpinan siswa dalam menjelaskan materi kepada teman sebayanya. Proses pelaksanaan diawali dengan pembentukan kelompok ahli, di mana siswa 36 siswa kelas X AKL 3 dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan sub-topik tertentu dari materi proses bisnis perusahaan akuntansi secara mendalam bersama anggota kelompoknya. Setelah diskusi kelompok ahli selesai, setiap anggota kembali ke kelompok asal untuk berperan sebagai fasilitator yang memantau jalannya diskusi, memberikan arahan, serta memastikan setiap peserta didik memahami materi secara menyeluruh.

Hasil dari pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan peningkatan partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. siswa terlihat lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan menjelaskan materi kepada teman-temannya, serta lebih memahami konsep proses bisnis perusahaan akuntansi dibandingkan dengan metode ceramah konvensional. Model tutor teman sebaya ini juga melatih keterampilan sosial, tanggung jawab, dan kerja sama antarsiswa, yang secara langsung berkontribusi terhadap pencapaian SDGs poin ke-4 dalam hal pemerataan akses terhadap pembelajaran berkualitas serta pengembangan keterampilan yang relevan bagi masa depan peserta didik. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung pembentukan karakter kolaboratif siswa yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja di bidang akuntansi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan model pembelajaran tutor teman sebaya dapat terus diterapkan dan dikembangkan secara berkelanjutan, tidak hanya pada mata pelajaran Dasar-Dasar Keahlian Akuntansi, tetapi juga pada mata pelajaran lain yang memerlukan pemahaman konsep secara mendalam. Pihak sekolah dan guru pamong diharapkan dapat mendukung penerapan metode ini sebagai salah satu strategi inovatif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. (fne)

Digitalisasi Presensi dan Ulangan Harian Dukung Penerapan SDG 12 dalam Praktik Kependidikan

Muhammad Rizqi Bagas Satrio, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan program digitalisasi administrasi dan evaluasi pembelajaran di SMK Negeri 2 Purworejo melalui penerapan sistem presensi paperless dan ulangan harian berbasis website, Kamis (10/09/26) lalu. Program ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan kegiatan pembelajaran sekaligus mengurangi penggunaan kertas di lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui pemanfaatan teknologi digital sebagai alternatif dalam mengurangi penggunaan sumber daya berupa kertas.

Program digitalisasi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menciptakan proses administrasi pembelajaran yang lebih efisien dan praktis. Sistem presensi dikembangkan secara mandiri menggunakan Google Apps Script dan dapat diakses oleh siswa melalui website dengan menggunakan NIS dan kata sandi masing-masing. Presensi dilakukan dalam dua tahap, yaitu presensi awal dan presensi akhir pembelajaran. Sistem tersebut dilengkapi dengan pencatatan waktu secara real-time, sehingga waktu kehadiran siswa dapat diketahui secara lebih akurat. Presensi akhir diterapkan untuk mengetahui keberadaan siswa hingga akhir kegiatan pembelajaran, terutama dalam kondisi ketika terdapat siswa yang meninggalkan kelas di tengah pembelajaran karena keperluan tertentu. Sementara itu, sistem ulangan harian juga dilaksanakan secara digital dengan dilengkapi fitur waktu pengerjaan secara real-time.

Dalam pelaksanaannya, siswa menggunakan sistem digital tersebut secara langsung dalam kegiatan pembelajaran. Pada ulangan harian, siswa dapat melihat waktu yang tersisa selama mengerjakan soal, sedangkan sistem dirancang agar soal tidak dapat disalin secara langsung sehingga dapat membantu meminimalkan potensi kecurangan dalam pelaksanaan evaluasi. Penerapan program ini memberikan alternatif terhadap penggunaan lembar presensi, soal, dan lembar jawaban berbahan kertas sekaligus membantu mendokumentasikan data pembelajaran secara digital. Program ini memiliki keterkaitan dengan SDG 12 melalui upaya mengurangi penggunaan kertas dan mendorong penggunaan sumber daya secara lebih bertanggung jawab. Program ini juga mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan  inovasi  digital untuk menjawab kebutuhan administrasi dan evaluasi pembelajaran. “Keren kak, membuat kita beradaptasi di dunia kerja dan perkuliahan di era digital,” ujar salah seorang siswa.

Penerapan sistem presensi paperless dan ulangan harian berbasis website menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa PK UNY dalam menghadirkan inovasi sederhana yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Ke depan, pemanfaatan teknologi digital dalam administrasi dan pembelajaran diharapkan dapat terus dikembangkan agar semakin efisien, adaptif, dan ramah lingkungan. Program ini juga menjadi bagian dari komitmen UNY dalam mendukung pencapaian SDGs melalui kegiatan pendidikan dan praktik kependidikan yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekolah dan masyarakat. (mrb)

Wujudkan Kantor Paperless, Intip Aksi Siswa Kelas 11 MPLB Kuasai E-Arsip Lewat Cloud Computing

Guna merespons tantangan era digitalisasi sekaligus mendukung perwujudan Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 4 (Quality Education) dan Poin 12 (Responsible Consumption and Production), sebuah kegiatan pembelajaran inovatif bertajuk "Wujudkan Kantor Paperless, Intip Aksi Siswa Kelas 11 MPLB Kuasai E-Arsip Lewat Cloud Computing" sukses diselenggarakan pada Rabu (09/09/26) lalu. Kegiatan yang berlangsung dengan penuh antusiasme di Laboratorium Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) SMK Muhammadiyah 2 Bantul ini, diinisiasi dan dipandu langsung oleh Arinda Rahmawati, salah satu mahasiswa Praktik Kependidikan (PK). Program ini menyasar seluruh siswa kelas 11 MPLB sebagai langkah strategis untuk mentransformasi kebiasaan kearsipan konvensional menuju format digital yang sejalan dengan tuntutan perkantoran masa depan.

Pembelajaran praktik ini dirancang khusus untuk membekali siswa dengan kompetensi teknis yang selaras dengan kebutuhan industri saat ini, sembari menanamkan kesadaran akan budaya kerja ramah lingkungan. Dalam pelaksanaannya, Arinda Rahmawati membimbing para siswa langkah demi langkah dalam membedah teknologi cloud computing melalui pemanfaatan fitur Google Drive sebagai ruang penyimpanan e-arsip. Para siswa diajak melakukan simulasi nyata operasional kantor modern, mulai dari proses alih media dokumen fisik menjadi digital, klasifikasi, penyusunan hierarki folder yang sistematis, hingga pengaturan hak akses keamanan data (sharing permission). Tidak hanya itu, mereka juga mempraktikkan teknik penemuan kembali arsip (information retrieval) yang membuktikan bahwa pencarian dokumen dapat dilakukan secara instan hanya dalam hitungan detik.

Hasil dari kegiatan ini menunjukkan progres yang sangat impresif, di mana seluruh siswa mampu menyusun dan mengoperasikan sistem kearsipan berbasis cloud secara mandiri. Bagi para siswa, pengalaman praktis ini efektif memangkas kesenjangan antara teori di kelas dengan realitas dunia kerja, sehingga kesiapan dan daya saing mereka sebagai calon tenaga administrasi profesional semakin terasah. Hal ini dirasakan langsung oleh para peserta, seperti yang diungkapkan oleh Mischa, "Dulu saya hanya memanfaatkan drive sebagai tempat penyimpanan tapi setelah praktik ini, saya jadi tahu cara menyusun dan menemukan dokumen di drive dengan cepat." Senada dengan hal tersebut, siswa lainnya bernama Bela menuturkan, "Praktik ini benar-benar membuka wawasan. Saya jadi lebih siap dan percaya diri untuk menjalankan PKL nanti karena sudah terbiasa mengelola dokumen." Di sisi lain, terobosan ini juga memberikan kontribusi nyata pada pencapaian SDG 4 dengan menghadirkan pendidikan vokasi yang bermutu, dan adaptif terhadap teknologi. Pada saat yang bersamaan, aksi nyata paperless office ini menjadi wujud implementasi SDG 12 yang sangat efektif untuk menekan konsumsi kertas, meminimalisir limbah dokumen, serta menghemat ruang fisik dan biaya operasional.

Melalui keberhasilan program simulasi ini, diharapkan para siswa tidak hanya sekadar cakap mengoperasikan teknologi cloud computing, tetapi juga kelak mampu membawa budaya kerja yang efisien dan peduli kelestarian lingkungan saat terjun ke dunia industri. Sebagai tindak lanjut yang berkelanjutan, SMK Muhammadiyah 2 Bantul menyambut baik inovasi ini dan berkomitmen untuk terus mempertahankan serta mengembangkan modul praktikum e-arsip yang lebih baik. Dengan demikian, ekosistem pembelajaran yang modern dan hijau ini dapat terus diwariskan untuk mencetak generasi lulusan MPLB yang unggul, tanggap teknologi, dan berwawasan keberlanjutan. (ard)

Pengaplikasian Paperless Office dalam Pembelajaran MPLB di SMK N 2 Purworejo Dorong Pembelajaran Ramah Lingkungan

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta, Daffa Zain, melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas 11 MPLB SMKN 2 Purworejo dengan konsep Paperless Office secara penuh guna mendukung SDGs 12, Rabu (09/09/26) lalu.

Penerapan paperless office ini menghapus penggunaan kertas dalam seluruh kegiatan pembelajaran, mulai dari penyusunan bahan ajar, penyampaian materi, penugasan, asesmen hingga evaluasi pembelajaran. Seluruh rangkaian pembelajaran dialihkan menggunakan platform digital seperti Canva untuk penyampaian materi, Microsoft Office dan Google Drive untuk penugasan, serta Google Form untuk refleksi pembelajaran. Seluruh platform digital yang disebutkan diakses dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan sekolah maupun ponsel pintar pribadi milik murid.

Penerapan paperless office ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi konsumsi kertas di lingkungan sekolah, namun juga memberikan pengalaman nyata bagi murid kelas XI MPLB SMKN 2 Purworejo. Sebagai calon tenaga administrasi dan layanan bisnis pada zaman digital, para murid secara langsung berlatih mengenai surat dan arsip digital, serta penyimpanan berbasis awan.

Meski terdapat beberapa kendala seperti performa beberapa PC yang kurang baik dan koneksi yang tidak selalu stabil, murid tetap relatif aktif, utamanya aktif bertanya saat mereka menemukan fitur baru pada software yang belum mereka pahami. Murid menyambut baik konsep paperless office ini, sebab mengurangi pengeluaran mereka untuk membeli kertas dan mengurangi effort untuk tulis tangan. Beberapa murid menyampaikan:

“Kalau paperless lebih enak pak, karena lebih simple, lebih hemat, dan praktis juga”

-    Murid MPLB SMKN 2 Purworejo

“Kalau pakai kertas lebih lama pak, boros uang. Kemudian beberapa anak tulisannya kurang bagus, susah dibaca dan lebih lama juga”

-    Murid MPLB SMKN 2 Purworejo

Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan murid-murid kelas 11 MPLB SMKN 2 Purworejo dapat mengurangi konsumsi kertas tanpa mengurangi kualitas pembelajaran yang ada. Dan juga mencapai target SDGs 12 mengenai konsumsi yang bertanggung jawab.

Kompak Bergerak: Haornas SMK Negeri 7 Yogyakarta Satukan 700 Siswa dan Guru dalam Semangat Sehat

SMK Negeri 7 Yogyakarta menggelar peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) pada Kamis (10/09/26) lalu, dengan melibatkan hampir 700 peserta yang terdiri dari siswa kelas X, kelas XI, bapak-ibu guru, hingga karyawan sekolah. Dita Kusnulana yang akrab disapa Dita, sebagai salah satu anggota panitia penitia bersama dengan mahasiswa PK lainnya berkesempatan mengikuti langsung proses persiapan hingga pelaksanaan kegiatan yang menjadi salah satu agenda tahunan sekolah ini. Gagasan penyelenggaraan Haornas berangkat dari kondisi yang kerap luput dari perhatian: kesibukan akademik yang padat sering membuat aktivitas fisik menjadi hal yang terpinggirkan, baik bagi siswa maupun tenaga pendidik. Rutinitas belajar-mengajar yang berpusat di ruang kelas dari hari ke hari berpotensi menurunkan kebugaran fisik sekaligus menumbuhkan kejenuhan. Di sisi lain, interaksi antarwarga sekolah pun sering kali terbatas pada konteks formal pembelajaran, sehingga kebersamaan lintas peran antara siswa, guru, dan karyawan jarang terbangun secara alami. Kondisi inilah yang mendasari pentingnya Haornas sebagai momentum untuk memutus rutinitas sekaligus mempererat hubungan sosial di lingkungan sekolah.

Persiapan acara berskala besar ini bukan perkara sederhana. Bersama tim kepanitiaan, mahasiswa turut terlibat dalam pengaturan berbagai hal teknis, mulai dari menentukan titik kumpul, membagi kelompok peserta, menyusun jadwal setiap sesi kegiatan, hingga menyiapkan logistik seperti perlengkapan lomba. Mengoordinasikan hampir 700 peserta dengan latar belakang usia dan peran yang beragam menuntut komunikasi yang jelas antarpanitia serta kesiapan mengambil keputusan cepat saat muncul kendala di lapangan. Rangkaian Haornas dibuka dengan lomba Senam Anak Indonesia Hebat yang diikuti oleh siswa yang menjadi perwakilan kelas, membentuk barisan kompak mengikuti gerakan demi gerakan di lapangan sekolah.

Bersamaan dengan itu, perwakilan tiap kelas bersama bapak-ibu guru dan karyawan mengikuti kegiatan fun run mengelilingi area sekitar sekolah, menghadirkan suasana kebersamaan lintas peran yang jarang ditemui di hari-hari biasa. Rangkaian acara kemudian dilengkapi dengan pertandingan bulu tangkis dan bola voli yang turut diikuti oleh siswa, guru, hingga karyawan, sehingga semangat kompetisi sekaligus kekeluargaan terasa hingga penghujung acara.

Di antara berbagai kegiatan tersebut, Haornas di SMK Negeri 7 Yogyakarta ini paling menonjol keterkaitannya dengan SDGs 3 tentang Good Health and Well-being. Lomba Senam Anak Indonesia Hebat, fun run, hingga pertandingan bulu tangkis dan bola voli secara langsung mendorong seluruh warga sekolah untuk aktif bergerak, sebuah upaya nyata mengimbangi padatnya rutinitas akademik dengan aktivitas fisik yang menyehatkan. Lebih dari sekadar ajang perlombaan, keikutsertaan siswa, guru, dan karyawan dalam satu rangkaian kegiatan fisik yang sama juga menumbuhkan kebiasaan pola hidup sehat secara kolektif, bukan hanya menjadi tanggung jawab individu semata. Semangat inilah yang menjadikan Haornas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk kontribusi nyata sekolah dalam mendukung target pembangunan berkelanjutan di bidang kesehatan.

Kegiatan Haornas di SMK Negeri 7 Yogyakarta ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga mampu menumbuhkan kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan bagi seluruh warga sekolah. Kebersamaan yang terjalin selama proses persiapan hingga pelaksanaan acara juga diharapkan semakin memperkuat rasa kekeluargaan di lingkungan sekolah, sekaligus menjadi bekal berharga bagi para siswa yang terlibat sebagai panitia dalam mengasah kemampuan berorganisasi untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya. (dks)

Kolaborasi Wayang Kulit, Inklusivitas, dan Paperless Practice Melalui Aleadyota Dukung Sustainable Learning Commitment dalam Pembelajaran Akuntansi

Continuum Learning That Echoes Beyond the Classroom

Pembelajaran kadang terlalu cepat dianggap selesai hanya karena bel sudah berbunyi. Padahal, ada kemungkinan bahwa sesuatu yang lebih penting justru baru dimulai ketika murid membawa pulang cara berpikir, keberanian, atau kebiasaan yang mereka temukan selama belajar. Gagasan itulah yang perlahan tumbuh dalam perjalanan Praktik Kependidikan (PK) UNY 2026 di SMK Negeri 7 Yogyakarta. Amar Taqwim, biasa disapa Amar, mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta, menjalani PK sejak 20 Juli hingga 25 September 2026. Dalam perjalanan tersebut, mahasiswa terlibat dalam pembelajaran di X AK 2 pada Dasar-dasar Akuntansi dan Keuangan Lembaga, Elemen Ekonomi Bisnis dan Administrasi Umum, serta XI AK 2 pada Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan, Elemen Kegiatan Produksi. Dua kelas dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda ini perlahan memperlihatkan bahwa pembelajaran akuntansi ternyata tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana murid diberi ruang untuk belajar.

Di awal praktik mengajar, keterlibatan murid masih terasa cukup rendah, baik secara behavioral, kognitif, maupun emosional. Hanya satu atau dua murid yang aktif bertanya, sementara sebagian lainnya sebenarnya sudah mengetahui jawaban, tetapi belum cukup percaya diri untuk menyampaikan pendapat atau gagasan. Dari pengalaman tersebut, mahasiswa mulai melihat bahwa pembelajaran berkualitas tidak cukup hanya dengan menyampaikan materi dan memastikan materi selesai dibahas. Murid perlu diberi ruang untuk mengalami pembelajaran itu sendiri, termasuk ruang untuk salah, mencoba, bertanya, dan menemukan cara mereka sendiri untuk memahami sesuatu.

Penerapan Problem Based Learning maupun Project Based Learning, diskusi, pertanyaan pemantik, Lembar Kerja Murid, serta aktivitas yang membuat murid terlibat langsung perlahan mengubah suasana kelas. Semakin banyak murid dilibatkan, semakin terbuka pula ruang bagi mereka untuk memahami pembelajaran. Dari sana, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education) tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh dari ruang kelas. Ia hadir dalam hal-hal sederhana ketika murid tidak hanya mendengarkan, tetapi mulai berpikir, bertanya, berdiskusi, mencoba, dan berani menyampaikan gagasan.

Namun, pendidikan berkualitas rasanya akan menjadi kurang lengkap jika belum mampu menjangkau murid dengan kebutuhan yang berbeda. Pengalaman berhadapan dengan murid yang membutuhkan dukungan belajar lebih menjadi salah satu titik yang mengubah cara pandang mahasiswa sebagai calon guru. Dalam pembelajaran akuntansi, materi seperti Persamaan Dasar Akuntansi tetaplah Aset = Liabilitas + Ekuitas. Materi tersebut tidak selalu memiliki versi yang lebih sederhana. Dari sana mahasiswa mulai memahami bahwa inklusivitas tidak selalu berarti mengubah materinya, tetapi dapat berarti mengubah cara mengajarnya agar setiap murid tetap memiliki kesempatan untuk memahami materi tanpa merasa sedang dibedakan.

Perbedaan kebutuhan belajar juga membuat mahasiswa semakin memahami bahwa kesetaraan dan keadilan tidak selalu berarti memperlakukan semua murid dengan cara yang sama. Memperlakukan semua murid secara sama belum tentu membuat semua murid mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Ada murid yang mungkin hanya membutuhkan pertanyaan pemantik, ada yang lebih nyaman menyampaikan jawaban melalui aktivitas kelompok, dan ada pula yang membutuhkan pendekatan yang lebih personal. Hal-hal tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung SDG 4.5 tentang kesetaraan akses pendidikan bagi kelompok rentan (Equal Access to Education for Vulnerable Groups), bukan dengan memberi label atau perlakuan yang membedakan, tetapi dengan memastikan bahwa perbedaan tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk kehilangan kesempatan belajar.

Menariknya, upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup kemudian membawa wayang kulit ke ruang kelas akuntansi. Bagi mahasiswa, pelestarian budaya tidak harus selalu dimulai dengan menjadi dalang atau penonton pertunjukan wayang. Minimal, generasi sekarang perlu mengenalinya terlebih dahulu. Wayang kulit memiliki banyak tokoh, karakter, dan properti yang justru sangat cocok digunakan dalam materi yang memiliki banyak pihak, persoalan, dan alur cerita, seperti perilaku konsumen dan produsen, model pelaku ekonomi, hingga berbagai konsep dalam akuntansi.

Ketika wayang pertama kali hadir di kelas, murid jelas kaget. Ada rasa penasaran terhadap tokoh-tokohnya, bahkan satu jam pelajaran pernah digunakan hanya untuk membangun orientasi masalah melalui cerita wayang dan murid tetap antusias mengikutinya. Setelahnya, muncul pertanyaan sederhana yang justru terasa berarti, “Pak Amar besok masih pake wayang kan?”. Pertanyaan tersebut mungkin terdengar kecil, tetapi bagi mahasiswa, ia menunjukkan bahwa pengalaman belajar tidak berhenti ketika materi selesai dibahas. Murid bahkan diminta memegang wayang ketika menjawab, seolah-olah tokoh tersebut yang sedang menyampaikan jawabannya. Salah satu murid yang sebelumnya terlihat kurang terlibat mulai menunjukkan antusiasme yang jauh lebih terbuka. Bagi mahasiswa, momen kecil seperti ini cukup untuk menunjukkan bahwa wayang bukan sekadar pemanis kelas. Ia menjadi bagian dari proses murid membangun konsep sekaligus ruang kecil untuk mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi yang mungkin sebelumnya tidak terlalu mengenalnya. Pengalaman tersebut mempertemukan pembelajaran dengan SDG 11.4 tentang perlindungan dan pelestarian warisan budaya dan alam dunia (Protect and Safeguard the World’s Cultural and Natural Heritage).

Di titik ini, wayang kulit, inklusivitas, dan pembelajaran berkualitas mulai terlihat bukan sebagai hal yang berdiri sendiri. Ketiganya bertemu pada satu pertanyaan yang lebih sederhana, tetapi justru lebih sulit dijawab. Setelah sebuah pembelajaran selesai, apa yang sebenarnya ingin ditinggalkan? Bukan hanya nilai, bukan hanya jawaban yang benar, dan bukan pula sekadar materi yang berhasil disampaikan. Ada nilai, kebiasaan, dan cara pandang yang diharapkan memiliki kesempatan untuk terus dibawa oleh murid. Kesadaran tersebut kemudian bertemu dengan cara mahasiswa memandang penggunaan sumber daya dalam pembelajaran.

Hal serupa terjadi ketika mahasiswa mencoba meminimalkan penggunaan kertas. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, presensi, LKM, dan lembar nilai dibuat berbasis digital. Bukan berarti pembelajaran benar-benar zero paper. Murid tetap memiliki hak untuk membawa buku dan mencatat ketika diperlukan. Yang diminimalkan adalah penggunaan kertas pada bagian yang berada dalam kendali mahasiswa. Praktik tersebut bukan sekadar berpindah dari kertas ke layar, tetapi juga menjadi latihan untuk bertanya apakah sesuatu benar-benar perlu digunakan atau hanya digunakan karena sudah terbiasa. Selain lebih praktis dalam pengerjaan, pengumpulan, dan penilaian, ruang digital juga memberi kesempatan bagi murid untuk lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas. Gagasan tersebut menjadi bagian dari SDG 12.5 tentang pengurangan timbulan sampah melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali (Reduce Waste Generation).

Dari berbagai pengalaman tersebut, mahasiswa mulai melihat bahwa keberlanjutan dalam pembelajaran bukan hanya tentang membuat satu kegiatan terlihat baik pada saat dilaksanakan. Ada komitmen yang lebih panjang untuk menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, memberi ruang bagi perbedaan, mengenalkan kembali budaya, serta menggunakan sumber daya secara lebih bertanggung jawab. Praktik-praktik tersebut mungkin sederhana dan belum tentu semuanya akan terus dilakukan setelah mahasiswa meninggalkan sekolah. Namun, justru di situlah makna Sustainable Learning Commitment terasa. Yang diharapkan berlanjut bukan selalu bentuk kegiatannya, melainkan nilai yang ditinggalkan dan kemungkinan bagi orang lain untuk meneruskannya dalam bentuk yang mereka anggap paling sesuai.

Dari berbagai pengalaman tersebut lahirlah ALEADYOTA sebagai gagasan yang merangkum harapan tersebut. ALEADYOTA menggambarkan cahaya kecil yang lembut dan sederhana, bukan cahaya besar yang menerangi semuanya, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa masih ada terang di tengah ruang yang luas. Begitu pula praktik kependidikan ini. Ia mungkin sederhana, mungkin juga tidak semuanya akan terus berlangsung setelah mahasiswa pergi. Namun, pembelajaran tidak selalu harus meninggalkan sesuatu yang besar. Barangkali cukup meninggalkan keberanian untuk bertanya, kesadaran untuk menjaga budaya, kebiasaan untuk menggunakan sesuatu secara bijak, dan keyakinan bahwa setiap murid berhak mendapatkan ruang untuk belajar.

Continuum Learning That Echoes Beyond the Classroom akhirnya bukan sekadar slogan. Ia menjadi harapan bahwa pembelajaran dapat memiliki kehidupan setelah jam pelajaran berakhir. Wayang mungkin terus menjadi sesuatu yang ingin dikenal. Keberanian untuk berbicara mungkin tumbuh pada pembelajaran berikutnya. Cara memandang perbedaan mungkin terbawa ke ruang lain. Kebiasaan menggunakan sesuatu seperlunya mungkin menjadi pilihan yang terus dilakukan. Tidak ada yang dapat memastikan sejauh mana semuanya akan bertahan, tetapi pendidikan memang tidak selalu bekerja dengan kepastian seperti itu.

Barangkali pendidikan memang tidak harus mengubah dunia sekaligus. Cukup meninggalkan sesuatu yang membuat orang lain ingin melanjutkannya, lalu membiarkan apa yang dimulai di ruang kelas menemukan jalannya untuk terus hidup di luar sana. (amm)

Membangun Budaya Hidup Sehat dan Aktif di SMK Negeri 1 Tempel

SMK Negeri 1 Tempel menggelar serangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) pada Rabu (09/09/26) lalu pukul 07.00 sampai 12.00 WIB. Acara ini melibatkan mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari berbagai program studi, yaitu Wyne Prastiananda dan Her Ismaya Winuring Sari (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia); Nailah Salsabila Suprapto, Aprilia Wahyuningtyas, Devina Natswa Prayoga, Nadya Vanessa Putri, Agustinus Adi Nugroho, dan Nanik Aprilia (Pendidikan Administrasi Perkantoran); Milchatunni`mah, Irsalina Sekar Pangastuti, Meysha Cahya Ariby, Ajeng Alivia Khoerunnisa, dan Siti Nurul Aini Wardanisa (Pendidikan Akuntansi); serta Zahniar Nesyah Harumningtyas dan Okta Dwi Rejeki (Pendidikan Ekonomi). Kegiatan berpusat di tiga lokasi, yakni ruang kelas masing-masing, Lapangan Jlegongan, serta Lapangan Basket dan Lapangan Upacara sekolah, dengan sasaran seluruh peserta didik SMK Negeri 1 Tempel. Pelaksanaannya merupakan kolaborasi antara panitia sekolah, ketua kelas dan seksi acara bersama mahasiswa PK. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, serta turut mendukung poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, lewat penguatan disiplin, sportivitas, dan kerja sama peserta didik.

Rangkaian acara diawali pukul 07.00 dengan tadarus dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di kelas masing-masing, dilanjutkan apel pagi, pengarahan, dan sambutan Kepala Sekolah pukul 07.30 WIB di Lapangan Jlegongan. Selanjutnya, seluruh warga sekolah mengikuti senam bersama selama satu jam, mulai pukul 07.40 hingga 08.40 WIB. Peserta didik kemudian melakukan registrasi dan persiapan untuk dua cabang lomba yang berlangsung serentak, yaitu futsal sarung dan estafet, sementara para guru berkompetisi dalam lomba tenis meja. Perlombaan berlangsung selama dua jam di lapangan basket dan lapangan upacara. Acara ditutup dengan waktu istirahat, shalat, dan makan (ishoma) pukul 11.00–11.30 WIB, sebelum peserta didik pulang pukul 12.00 WIB. Setiap sesi memiliki penanggung jawab yang jelas, mulai dari ketua kelas, seksi acara, penanggung jawab senam, hingga penanggung jawab masing-masing cabang lomba, sehingga kegiatan berjalan tertib dan terkoordinasi.

Kegiatan ini membawa manfaat bagi tiga pihak. Bagi peserta didik, senam bersama dan aktivitas olahraga meningkatkan kebugaran jasmani sekaligus menumbuhkan kesadaran hidup aktif dan sehat, sementara lomba estafet dan futsal sarung menjadi sarana menanamkan sportivitas, disiplin, kerja sama tim, tanggung jawab, dan saling menghargai antarpeserta didik dari berbagai kelas. Bagi SMK Negeri 1 Tempel, kegiatan ini memperkuat budaya sekolah yang sehat, aktif, dan positif, selaras dengan SDGs poin ke-3 dan ke-4. Sementara bagi mahasiswa PK, keterlibatan dalam pengelolaan kegiatan kesiswaan berskala besar ini menjadi pengalaman berharga untuk mengasah kemampuan koordinasi, komunikasi, dan pengelolaan dinamika acara.

Ke depan, peringatan HAORNAS diharapkan dapat terus dilaksanakan sebagai agenda tahunan sekolah, tidak sekadar seremoni, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan menanamkan kebiasaan hidup aktif dan sehat pada peserta didik. Konsistensi kegiatan semacam ini diharapkan membentuk budaya sekolah yang menjadikan kesehatan, kebersamaan, dan sportivitas sebagai bagian dari keseharian, sehingga SMK Negeri 1 Tempel dapat mencetak generasi yang unggul secara akademik, sehat jasmani, berkarakter baik, dan turut mewujudkan pembangunan berkelanjutan sesuai semangat SDGs. (tim)

Pembelajaran Pembagian Ilmu Ekonomi melalui Think-Pair-Share di Kelas X SMA Negeri 1 Kalasan

Kegiatan Praktik Kependidikan (PK) yang dilaksanakan Novita Susi Susanti, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menghadirkan uji coba pembelajaran materi Pembagian Ilmu Ekonomi dengan metode Think-Pair-Share (TPS) di SMA Negeri 1 Kalasan. Kegiatan ini dilaksanakan pada tiga kelas, yaitu kelas X-E5 pada 3 September 2026, kelas X-E7 pada 4 September 2026, dan kelas X-E6 pada 8 September 2026. Melalui kegiatan ini, peserta didik diberi kesempatan untuk memahami materi melalui proses berpikir mandiri, diskusi, dan penyampaian hasil pembahasan berdasarkan case dalam kegiatan Case Economic Challenge. Kegiatan tersebut sejalan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas yang mendukung terselenggaranya proses pembelajaran yang bermakna dan memberikan ruang bagi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan belajar.

Dalam pelaksanaannya, metode TPS diterapkan melalui tiga tahapan. Pada tahap Think, peserta didik terlebih dahulu memahami dan menganalisis kasus secara individu untuk menentukan pembagian ilmu ekonomi yang sesuai. Dalam kegiatan ini, peserta didik mengikuti tugas Case Economic Challenge yang terdiri atas enam case. Setiap case dikerjakan oleh tiga kelompok.

Selanjutnya, pada tahap Pair, peserta didik berdiskusi bersama pasangan untuk membandingkan pemikiran, menganalisis kasus lebih mendalam, serta menyusun jawaban beserta alasannya. 

Pada tahap Share, digunakan sistem spin atau putaran secara acak untuk menentukan kelompok yang akan mempresentasikan hasil diskusinya. Setiap case diwakili oleh satu kelompok yang terpilih melalui spin, sementara kelompok lain menyimak dan diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan maupun pertanyaan. Sistem ini membuat kelompok tidak mengetahui sebelumnya siapa yang akan mendapat giliran presentasi sehingga setiap kelompok perlu mempersiapkan hasil diskusinya. 

Setelah setiap presentasi, guru memberikan penguatan dan klarifikasi terhadap jawaban yang disampaikan agar peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih tepat mengenai Pembagian Ilmu Ekonomi.

Berdasarkan pengamatan selama uji coba pembelajaran, peserta didik terlihat terlibat dalam proses diskusi dan saling bertukar pemikiran bersama pasangan. Pada beberapa kelas, peserta didik juga cukup aktif memberikan tanggapan dan mengajukan pertanyaan, meskipun tingkat keterlibatan dalam menyampaikan pendapat masih beragam antarkelas. Dari sisi pemahaman materi, peserta didik mampu membedakan konsep ekonomi mikro dan ekonomi makro serta mengidentifikasi jenis pembagian ilmu ekonomi berdasarkan kasus yang diberikan. Peserta didik juga dapat menyampaikan solusi yang logis dan kreatif terhadap permasalahan ekonomi yang dibahas. Penggunaan kasus dalam pembelajaran memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menghubungkannya dengan permasalahan ekonomi yang lebih konkret.

Uji coba pembelajaran ini menjadi salah satu pengalaman dalam pelaksanaan Praktik Kependidikan sekaligus bahan evaluasi untuk pengembangan pembelajaran selanjutnya. Kegiatan ini memberikan pengalaman dalam menerapkan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir, berdiskusi, dan menyampaikan hasil pembahasan berdasarkan case dalam kegiatan Case Economic Challenge. Pengalaman ini menjadi bahan pertimbangan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran yang lebih variatif dan kontekstual, serta disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik di setiap kelas. Kegiatan tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya proses pembelajaran yang lebih bermakna dan sejalan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas. (nvt)

 

Membangun Kebiasaan Hidup Bersih Melalui Sosialisasi Cuci Tangan di SMK Muhammadiyah 1 Borobudur

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta, Nikita Aulia Zahra, melaksanakan kegiatan sosialisasi langkah cuci tangan yang benar, penempelan poster, dan hibah sabun pada Rabu, 9 September 2026. Kegiatan tersebut bertempat di kelas XI Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) SMK Muhammadiyah 1 Borobudur. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan serta mendukung SDGs ke-6 yang berfokus pada air bersih dan sanitasi layak.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya mencuci tangan dengan langkah yang baik dan benar serta membiasakan perilaku hidup bersih di lingkungan sekolah. Sosialisasi dilakukan dengan memberikan penjelasan mengenai pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun dan tahapan mencuci tangan yang benar. Setelah penyampaian materi, dilakukan penempelan poster yang berisi langkah-langkah cuci tangan yang benar dan hibah sabun yang dapat digunakan untuk mendukung penerapan kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun di lingkungan kelas. Program ini melibatkan peserta didik kelas XI MPLB sebagai sasaran sekaligus penerima manfaat dari program yang dilaksanakan. 

Kegiatan tersebut memberikan hasil berupa meningkatnya pemahaman peserta didik mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan dan melakukan cuci tangan dengan langkah yang benar dalam kehidupan sehari-hari. Penempelan poster diharapkan dapat menjadi pengingat bagi peserta didik untuk menerapkan langkah cuci tangan yang benar, sedangkan hibah sabun dapat mendukung ketersediaan sarana kebersihan di kelas. Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam mendukung SDGs ke-6, khususnya dalam meningkatkan kesadaran mengenai kebersihan dan sanitasi melalui edukasi serta penyediaan sarana pendukung kebersihan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta didik kelas XI MPLB dapat menerapkan kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun dengan langkah yang benar secara konsisten serta membiasakan perilaku hidup bersih sehingga tercipta lingkungan kelas dan sekolah yang lebih bersih, sehat, dan nyaman. (nkt)

Pages